“Kalau sedang bersama wanita lain, kenapa menggil aku sih!” batin Sera kesal melihat Rama bersama wanita lain. Bukan ia cemburu, tapi ia kesal saja untuk apa Rama memanggil dirinya jika sedang bersama wanita lain? Ingin membuat Sera cemburu?
“Sera?” batin Rama kaget saat melihat Sera masuk ke dalam ruangannya.
Rama melihat ke arah Felicia, ia sudah berkali-kali memperingatkan Felecia agar tak mendekatinya lagi. Tapi Felicia seakan menulikan telingganya.
“Minggir Feli,” kata Rama dengan nada dingin dan datarnya.
Rama pun berdiri untuk menyusul Sera, ia lupa bahwa tadi ia meminta Merlin untuk memanggil Sera ke ruangannya.
“Rama … kamu kok gitu sih, kan ada aku di sini,” ucap Felecia menahan kepergian Rama.
Felecia tau kalau Sera adalah istri sah Rama. Ia pun kesal saat melihat Sera lah yang menjadi istri Rama dan bukan dirinya, padahal ia sudah melakukan segala cara untuk mendekati Rama. Tetap saja tak berhasil.
Rama memejamkan matanya saat Felicia mengatakan hal itu, ia masih bersabar agar tak melukai perempuan yang ada di depannya.
“Minggir!” bentar Rama.
“Apa yang kamu lihat dari Sera, Rama? Perempuan yang enggak tau asal usul tak layak menjadi istrimu Rama! Buka matamu!” bentak Felicia, ia sangat marah saat tau Rama sudah menikah dengan Sera yang tak seberapa itu, padahal dirinya lebih segalanya dari Sera.
Rama menatap tajam ke arah Felicia, ia pun maju dan mencengkram dagu Felicia. Rama tak terima saat Felicia mengatakan hal buruk tentang istrinya. Itu sama saja Felicia merendahkanya juga.
“Jaga omonganmu Fel!” bentak Rama, sambil mencengkram dagu Felecia dengan sangat kuat.
Felecia tak hanya sekretaris Rama, tapi teman masa kuliah Rama. Dari awal kuliah Felicia sudah menyukai Rama, tapi Rama memilih untuk mengabaikan Felecia.
“Apa Rama? Aku benar kan?” Felecia menantang Rama.
“Cukup! Pergi!” perintah Rama, ia tak tahan lagi melihat wajah Felecia. Seharusnya, dari awal ia tak memperlakukan Felecia secara istimewa di hidupnya.
“Ck!” Felecia yang kesal pun memilih pergi dari hadapan Rama, ia juga marah saat Rama lebih membela Sera daripada dirinya.
“Ini semua gara-gara Sera! Awas saja kau Sera,”batin Felecia mengepalkan tangan lalu pergi dari situ.
****
“Masuk Sera!” teriak Rama dari dalam ruangannya.
Tak lama Sera pun masuk, tadi di depan ia sempat berpapasan dengan Felecia. Felecia menatap tajam ke arahnya, entah apa yang salah dari dirinya.
“Iya?” tanya Sera, saat ia telah masuk ke dalam ruangan Rama.
Sera menatap Rama yang sedang berdiri tak jauh dari meja kerjanya, entah apa yang dilakukan Rama. Rama terlihat seperti seseorang yang sedang menahan emosi.
“Duduk dulu!” ucap Rama, lalu berjalan ke sopa.
Sera mengikuti langkah Rama, dan duduk tepat di hadapan Rama. Dari sini Sera melihat apa yang dilakukan rama. Rama sedang membuka dasinya, penampilan Rama terlihat kacau, dengan baju yang kusut, dan kanjing kemeja yang terbuka di bagian atasnya.
“Aku rasa Rama memiliki hubungan dengan Felecia,” batin Sera. Beredar gosip di kantornya, kalau Rama memiliki hubungan dengan Felecia. Rama selalu bersama Felecia saat rapat, padahal sekretarisnya banyak, Rama juga selalu makan siang dengan Felecia. Felecia dan juga Vira juga sering berantem karena memperebutkan Rama.
“Langsung saja,” kata Rama memulai pembicaraan.
Sera pun tersadar dari lamunannya saat mendengar perkataan Rama.
“Ini.” Rama memberikan ksatu kartu kredit.
“Apa ini?” tanya Sera, tak mengerti apa yang ingin disampaikan Rama kepadanya.
“Kamu buta tak melihat itu benda apa hah!” Rama berbicara dengan datar, Sera tak heran lagi. Memang begitu sifat asli Rama, dengan ibunya saja Rama berbicara datar.
“Aku tau, tapi untuk apa? Kenapa memberikannya padaku,” kata Sera lagi.
“Kamu istriku sekarang, dan semua kebutuhanmu tanggung jawabku,” kata Rama lagi, menyerahkan kartu credit itu.
“Tak perlu, gajiku sudah cukup.” Sera tak mau memberatkan Rama, toh Sera bisa mendapat apapun jika berada di rumah Rama.
“Ambil saja,” seru Rama.
“Ak—“ Rama segera memotong perkataan Sera
“Tidak ada penolakan!” Rama menekankan di setiap perkataannya.
“Baiklah,” kata Sera lagi.
“Ada lagi?” tanya Sera, masih banyak perkejaan yang harus ia lakukan. Jika Rama menunda waktunya lagi, ia bisa saja lembur.
“Ini.” Rama mengeser satu buah paper bag.
“Apa ini?” tanya Sera mengambil alih paper bag yang diberi Rama.
“Makan.” Hanya itu yang diucapkan Rama.
“Huh?” Sera tak mengerti apa yang dikatakan Rama, salahkan Rama yang berbicara hanya sepatah dua patah kata saja.
Ini yang Rama benci, perempuan adalah makhluk terlelet yang pernah ia temui. Padahal ia sudah jelas mengatakan kalau itu adalah makanan untuk Sera.
“Itu makanan,” kata Rama, kali ia fokus melihat Sera. Ia tak bisa menebak watak seorang Sera, kadang perempuan itu keras kepala, kadang kala Sera menurut padanya seperti tadi.
Sera melihat isi paper bag itu, dan benar saja itu makanan.
“Peraturan pertama di rumahku, kita wajib sarapan dan makan malam bersama,” kata Rama menekankan di setiap perkataannya.
“Baiklah aku mengerti, terimakasih,” kata Sera, lalu ia pamit keluar dari ruangan Rama.
“Hmmm.” Balas Rama.
****
“Aku dengar Tuan Rama sudah menikah.”
“Iya, katanya Tuan Rama menikah dengan wanita biasa.”
“Perempuan itu sangat beruntung mendapatkan Tuan Rama.”
Begitulah kira-kira perkataan yang Sera dengar, banyak sekali yang bergosip tentang Rama. Ada banyakjuga yang cemburu dan kecewa karena Rama idola mereka sudah menikah.
“Beruntung? Aku rasa aku akan mati jik bernapas di satu ruangan yang sama dengan Rama,” batin Sera merasa miris degan hidupnya.
Baru satu hari ia menjadi istri Rama, tapi sudah banyak sekalia kata yang menyakitkan yang di ucapkan Rama. Sejauh ini Rama tak bermain fisik, itu hal yang patut ia syukuri.
“Ayo ke kantin,” ajak Elina.
“Ayo,” tukas Sera, sambil membersihkan meja kerjanya.
Mereka berdua pun berjalan ke kantin, kantin di kantor mereka terkenal enak. Makanya banyak yang makan di kantin daripada beli di luar. Suasana kantin pasti ramai di saat jam-jam istirahat, makanya mereka harus cepat-cepat agar mendapatkan meja.
“Keknya aku enggak jadi deh, ada tugas mulia dari ibu Manajer tercinta,” kata Elina, melihat notif di ponselnya.
“Ya udah, aku ke kantin dulu.” Sera memaklumi hal itu, karen ai juga sering mendapat tugas mendadak dari manajernya itu.
****
Sesampainya di kantin, Sera memilih tempat. Dan hanya satu meja yang kosong, ia pun duduk di situ.
“Aku lapar sekali,” batin Sera sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Baru suapan pertama ia dibuat kaget dengan kahadiran seseorang. Sera tau orang itu selalu makan di kantin, tapi memang ada tempat khusus untuk petinggi perusahaan. tapi pria di depannya ini memilih untuk makan semeja dengan dirinya? Apa yang akan dikatakan rekan-rekannya nanti.
“Rama!” batin Sera geram melihat Rama, duduk santai di depannya. Sedangkan beberapa pengawal dan sekretarisnya duduk di meja yang tak jauh dri mereka.
“Apa?” tanya Rama, sambil memotong steak.
Sera berusaha sabar saat Rama menanyakan hal itu, apa Rama tak sadar yang dilakukan pria itu adalah sebuah malapetaka bagi Sera.
“Maaf Tuan, saya bisa makan di meja lain,” kata Sera berdiri dari duduknya.
Ia menundukkan kepala saat mengatakan hal itu, takut melihat tatapan orang-orang yang sedang menatap ke arahnya.
Rama menatap Sera dengan pandangan bertanya, memang apa salahnya dia dan Sera makan di meja yang sama?
“Di sini saja,” ucap Rama dengan nada dingin dan datarnya.
“Saya takut menganggu anda Tuan,” kata Sera lagi, masih mencoba untuk bernegosiasi dengan Rama.
Rama kesal saat Sera mengatakan hal itu, padahal ia hanya ingin makan bersama Sera. Apa salahnya, seharunya Sera beruntung hanya Sera yang dibiarkan Rama untuk dekat dengan dirinya. Jika itu orang lain, mungkin orang itu menangis karena perkataan kejam dari Rama.
“Duduk Sera Amanda!” Rama menghentikan langkah Sera.
Sera berhenti, saat mendengar perkataan Rama yang seperti marah padanya.
“Saya bilang duduk ya duduk!” bentak Rama lagi.
Sera terkesiap mendengar perkataan Rama, ia pun memilih duduk saja di hadapan Rama. Daripada Rama tambah marah.
Hal itu tak luput dari penglihatan Rama, sungguh Sera sudah membuat moodnya buruk. Padahal tadi ia sangat senang melihat Sera di kantin. Itu artinya ia memiliki teman untuk makan siang. Kadang Rama merasa kesepian karena tak ada yang berani dekat dengannya.
“Wah, selera makanku hilang,” ucap Rama melempar sendok kea rah Sera.
Ciprikan kuah sayur mengenai wajah Sera, ia hanya bisa memejamkan mata saat Rama melakukan itu.
“Maafkan aku…” lirih Sera, Sera hampir saja menangis saat mengatakan hal itu.
“Maaf? Setelah kamu membuat selera makanku hilang?” Rama berkata dengan nada mengejek,ia merasa lucu saja dengan dirinya saat menahan Sera tadi. Seharusnya ia biarkan saja Sera pergi.
Semua orang terdiam saat melihat adengan itu, awalnya mereka berpikir Sera begitu istimewa saat Rama mendatangi meja makan Sera. Tapi setelah melihat apa yang terjadi selanjutnya, mereka menjadi takut dan khawatir dengan Sera. Sera dalam masalah besar karena telah menyinggung seorang Rama Mahendra.
“Maafkan saya …” lirih Sera lagi, sambil menundukkan kepalanya.
Rama menganggkat dagu Sera yang sedari tadi menunduk agar melihat ke arahnya.
“Jangan macam-macam dengan saya, dan kamu akan tau akibatnya!” ancam Rama, sambil membersihkan kuah yang ada di wajah Sera.
“Iya Tuan,” balas Sera, badannya bergetar hebat saat merasakan tangan Rama yang membelai pelan pipinya. Rama berhasil membuatnya takut dan tak berani melawan.
Rama pun langsung pergi dari situ, moodnya berubah buruk saat Sera tak mau makan dengannya.
“Sera dalam bahaya.”
“Bisa-bisanya Sera menolak Tuan Rama.”
Begitulah celotehan beberapa orang yang ada di sana.
“Au!” teriak beberapa orang saat ada batu yag menegenai mereka.
“Mana Tuan Rama hah!”
Terlihat beberapa orang yang tak di kenal membawa senjata tajam dan batu masuk ke dalam kantin.