Pagi di Portofino menyapa dengan cahaya matahari lembut yang menelusup pelan melalui tirai renda. Udara sejuk yang membawa aroma laut dan bunga mawar menyelinap masuk ke dalam kamar, membelai kulit Aveline yang masih terbungkus selimut tipis berwarna krem. Ia perlahan membuka matanya, mencari kehangatan yang biasanya menyambutnya setiap pagi. Namun ranjang di sebelahnya kosong. Tidak ada Dominic di sana Aveline pun mengernyitkan dahinya bingung. Tapi sebelum ia sempat bangkit dari tempat tidur, matanya menangkap sesuatu yang membuatnya tersenyum. Tepat di meja kecil di depan sofa, berderet rapi aneka makanan dan pastry yang disusun dengan cantik di atas piring-piring porselen putih dengan pinggiran emas. Di tengahnya, berdiri anggun sebuah vas kristal tinggi berisi bunga mawar kuni

