Reno tampak pulang dengan lesu, setelah seharian mencari ke sana-ke sini dirinya tidak juga menemukan gadis sesuai kriteria yang bosnya inginkan. Justru dirinya mendapat pekerjaan buat Mela. Bahkan Sovi hanya sebentar menemaninya karena wanita itu harus masuk kerja.
"Mel, mela," panggil Reno ketika masuk ke rumah.
Tidak lama kemudian Mela datang sambil menyahuti, "Saya Mas, ada apa?"
"Mas bawa belanjaan dan ada kabar baik buatmu," ujar Reno sambil menyerahkan bawaannya ke tangan Mela.
Mendengar itu Mela tampak tersenyum dan menebak, "Ada lowongan buat saya ya Mas?"
Reno menjawab dengan anggukan, "Kamu akan kerja jadi--"
Trit ... trit...!
Tiba-tiba ponsel Reno berdering, pria itu tampak terbelalak ketika melihat nama yang menghubunginya.
"Bos Kevin," lirih Reno yang tidak menyangka bosnya sudah pulang dari luar negeri. "Sebentar aku terima telepon dulu," ujarnya sambil menjauh.
[Halo Bos, kapan sampai?] sapa Reno membuka pembicaraan.
[Persiapkan gadis itu dengan baik!] seru Bos Kevin dari seberang sana.
[Maaf Bos, gadis yang mana ya? Saya belum dapat,] tanya Reno pura-pura tidak tahu.
[Jangan main-main denganku! atau pengawal ku akan datang ke rumahmu untuk membawanya!] gertak Bos Kevin yang disertai dengan ancaman dan panggilan itu pun terputus.
"Sial, dari mana Bos Kevin tahu soal Mela?" umpat Reno sambil berpikir. Ia kemudian menghampiri gadis itu yang sedang menata belanjaan di dalam kulkas. "Mel, tadi siang ada yang datang ke rumah?" tanya pria itu dengan serius.
Sambil mengangguk Mela pun menjawab, "Ada Mas, seorang pria ...." Gadis itu menceritakan tamu misterius yang tiba-tiba datang dan pergi.
Dari ciri-ciri yang disebutkan oleh Mela, Reno yakin sekali jika pria itu adalah bosnya, Kevin, "Terus dia bilang apa?" tanya Reno ingin tahu.
"Pria itu tanya, siapa Mela. Terus saya jawab pacarnya Mas Reno," sahut gadis itu dengan jujur.
"Gawat," lirih Reno sambil menepuk jidatnya.
Reno tidak mengerti kenapa Bos Kevin menginginkan Mela. Padahal gadis itu sudah bilang pacarnya. Reno segera menghubungi Sovi, tetapi tidak aktif. Ia kemudian menjauh lagi dari Mela dan menelepon seseorang.
[Halo Jo, ada Bos Kevin di klub?] tanya Reno dengan penasaran.
[Tadi ada, habis ditemani minum sama Sovi. Sekarang mereka sudah pergi, kencan kali,] jawab Jo memberitahu.
[Oke, thanks Bro,] ucap Reno sambil mematikan panggilannya.
Reno terlihat geram, pasti Sovi sudah memberitahu siapa mela sebenarnya. Semua rencananya berantakan, mau tidak mau ia harus menuruti keinginan Kevin atau jika menolak dirinya bisa bonyok dan jadi kere mendadak. Pria itu sekarang mengerti kenapa Kevin ngotot menginginkan Mela.
"Awas lu Sov, tunggu pembalasan gue!" lirih Reno sambil menuju ke kamar untuk memikirkan apa yang harus dilakukannya terhadap Mela.
Reno terlihat gusar memikirkan keinginan Bos Kevin. Jika menolak dirinya akan kehilangan pekerjaan. Ia adalah tulang punggung keluarganya di kampung. Belum lagi angsuran rumah, mobil yang harus dilunasi. Mau tidak mau Reno harus menyerahkan Mela, meskipun hatinya tidak tega.
"Maafkan aku Mela," lirih Reno dengan terpaksa karena merasa bernasib sama dengan gadis itu.
Setelah membersihkan diri, Reno kemudian menuju ke meja makan dan mulai menyantap masakan yang disajikan oleh Mela.
"Mela, kamu sudah makan?" tanya Reno sambil mengambil nasi, kornet rol serta tumis kangkung.
"Sudah tadi, oh ya soal lowongan yang tadi Mas Reno bilang. Kapan saya bisa mulai bekerja?" jawab Mela sambil bertanya.
"Pria yang datang tadi siang adalah bosku. Dia mau menawarkan kamu pekerjaan dan akan menginterview langsung," sahut Reno menjelaskan garis besarnya saja. Sebenarnya sih bukan itu, tetapi ia tidak mau membuat Mela jadi bingung.
Mela tampak mendengarkan dengan saksama. Ia tidak percaya akan mendapat pekerjaan dari bos setampan itu. Gadis itu pun semakin penasaran dibuatnya.
"Kira-kira bos Mas, menawari saya kerja jadi apa?" tanya Mela kembali. Terlihat kecurigaan yang terpancar dari sorot matanya sambil menatap ke arah Reno.
Setelah menelan makanannya, Reno kemudian menjawab, "Tidak tahu, tapi kamu jangan salah paham! Bos Kevin baik kok dan punya banyak perusahaan. Besok kamu temui dia, sayang kalau tidak ambil. Susah loh cari kerja di Jakarta," sarannya kemudian.
"Oke ... saya mau Mas," sahut Mela dengan antusiasnya.
Setelah makan malam, Reno langsung masuk ke kamar untuk beristirahat. Namun, ia belum juga dapat memejamkan matanya. Entah mengapa pria itu tidak rela menyerahkan Mela kepada bosnya, meskipun Kevin sangat mapan sekali. Pria itu takut Mela akan terluka suatu hari nanti.
***
Sebelum azan subuh Mela sudah bangun. Ia terlihat sangat bersemangat sekali hari ini. Setelah melakukan salat dua rakaat, gadis itu segera memasak membuat sarapan.
Reno memang tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga. Akan tetapi, dapur dan kamar mandinya lengkap dengan perabotan yang memudahkan semuanya. Itung-itung nabung jika nanti sudah punya istri.
Hari ini Reno bangun lebih awal. Kepulangan bosnya yang mendadak membuatnya harus siap siaga kapan saja. Pria itu adalah asisten pribadi Kevin, hampir setiap hari waktunya habis melayani pria tajir itu.
Setelah sarapan bersama dengan Mela, Reno mengajak gadis itu ke suatu tempat. Tentu ia akan merubah penampilan Mela sebelum bertemu dengan Bos Kevin.
"Kita mau ke mana Mas?" tanya Mela ingin tahu.
"Ke salon, tetapi sebelumnya kita shopping dulu ya! Kamu perlu pakaian yang baru," sahut Reno yang dijawab anggukan oleh Mela.
Reno kemudian mengajak Mela ke salah mall terbesar di Jakarta. Ia membelikan gadis itu dress, sepatu dan ponsel.
"Mas membelikan aku banyak barang hari ini. Nanti kalau sudah gajian saya ganti ya!" ujar Mela yang dijawab anggukan oleh Reno.
Mela sangat percaya dengan apa yang telah Reno katakan. Ia merasa ini adalah keberuntungan buatnya. Niat hati ingin kerja jadi pramuniaga, tetapi justru mendapat tawaran dari seorang Bos besar.
Jujur jauh di dasar lubuk hati Reno merasa miris. Ketika melihat sorot mata dan senyum Mela yang penuh dengan asa. Namun, dirinya pun tidak berdaya untuk membantu gadis itu dalam menggapai cita-citanya.
Setelah puas berbelanja, Reno mengajak Mela ke salah satu salon. Seorang perias segera make over wajah Mela yang masih polos alami. Setelah sejam kemudian, perawatan kecantikan itu selesai. Mela segera memakai dress yang tadi dibelinya.
"Mas Reno," panggil Mela dengan penampilan terbarunya.
Reno tampak tercengang melihat Mela yang pangling. Jujur gadis itu terlihat sangat cantik sekali dengan dress di bawah lutut dan riasan wajah yang terlihat soft natural.
"Beautiful," lirih Reno tanpa berkedip sedikit pun. Hampir saja air liurnya jatuh ngeces.
Setelah membayar jasa salon, Reno segera mengajak gadis itu ke suatu tempat untuk menemui Kevin. Sementara itu Mela terlihat grogi karena ini pengalaman pertamanya mendapat pekerjaan di Jakarta.
"Mas Reno, saya takut," ucap Mela yang tampak gemetar.
Reno menggenggam tangan Mela dan berseru, "Jangan takut, Mas akan selalu ada di sampingmu!"
Mendengar itu Mela sedikit lebih tenang. Ia yakin jika Reno akan selalu menjaganya. Mobil yang dikemudikan pria itu terus meluncur ke utara Jakarta. Kemudian berbelok ke Pantai Indah Kapuk dan memasuki salah satu rumah berlantai dua yang cukup mewah.
"Sudah sampai, ingat kamu jangan tegang! Interview itu hanya sebentar," pesan Reno sebelum turun dari mobil.
"Iya Mas," sahut Mela tanda mengerti.
Reno kemudian mengajak Mela memasuki rumah mewah itu. Mereka langsung mengikuti pengawal yang mengarahkan ke salah satu ruangan. Di mana seorang lelaki tengah berdiri di atas balkon sambil membelakangi.
"Tuan, Reno sudah datang," ujar pengawal itu memberitahu.
"Tinggalkan kami!" seru pria itu tanpa menoleh.
Reno segera berbisik kepada Mela, "Tenanglah, Bos Kevin akan memberikan pekerjaan kepadamu secara langsung!" Kemudian ia dan pengawal itu segera meninggalkan Mela.
Kevin kemudian berbalik dan menatap Mela dengan dingin. Tanpa ekspresi ia melihat penampilan gadis itu yang menurutnya good looking. Sementara itu Mela pun terkesima melihat Kevin sambil tersenyum ramah.
"Duduk!" seru Kevin yang segera menghempaskan pantatnya di sofa tanpa melepas Mela dari pandangannya.
Mela terlihat grogi duduk berdua dengan pria setampan Kevin di ruangan yang sepi ini. Ia takut kalau pria itu berbuat jahat dan ingin memperkosanya.
"Santai saja! Aku hanya ingin menawarkan mu pekerjaan," seru Kevin ketika melihat ketegangan di wajah Mela
"Sebenarnya Bapak mau menawarkan pekerjaan apa buat saya?" tanya Mela memberanikan diri.
"Jadi istri sementara," jawab Kevin dengan serius.
Mela tampak tercengang mendengarnya. Ia tidak menyangka akan mendapat tawaran kerja seperti itu. Dirinya pun berpikir istri sementara sama saja dengan kawin kontrak. Kalau cuma nikah sirih buat apa jauh-jauh merantau ke Jakarta di kampungnya juga banyak.
"Kamu jangan takut! Selama menjadi istriku setahun. Semua kebutuhanmu akan tercukupi dan mendapat jatah bulanan. Akan tetapi, kamu tidak boleh mengatakan kepada siapa pun tentang status pernikahan kita. Selain itu jangan menuntut apa pun atau mencampuri urusanku!" tutur Kevin menjelaskan.
Mela memang gadis lugu, tetapi dia mengerti akan sakralnya suatu pernikahan. Ia kemudian memberikan pendapatnya, "Jadi maksud Bapak kita kawin kontrak? Itu tidak boleh dalam agama."
Kevin tampak tersenyum simpul mendengarnya. Ia salut dengan keberanian Mela. Dengan tetap tenang pria itu pun menjawab, "Kita menikah secara resmi, tetapi dengan perjanjian yang kusebutkan tadi."
"Pasti banyak wanita di kota ini yang mau menikah dengan Bapak. Kenapa harus sama saya?" tanya Mela yang tidak mengerti jalan pikiran Kevin.
"Karena kita saling membutuhkan," jawab Kevin dengan singkat. "Saya perlu istri dan kamu butuh uang bukan?" jelasnya kemudian.
Gadis itu terdiam dan menyadari dirinya telah dimanfaatkan, meskipun apa yang dikatakan pria itu benar adanya. Namun, apa pun alasannya ia tetap tidak mau menerima tawaran itu. Pernikahan macam apa tanpa didasari cinta dan tidak saling mengenal. Ada batas waktunya lagi.
"Saya mau ketemu sama Mas Reno," pinta Mela dengan tegas.
Tanpa berkata lagi Kevin segera berdiri dan meninggalkan Mela. Ia kemudian ke luar dari ruangan itu dan menemui Reno yang sedang menunggu.
"Aku tidak mau tahu, gadis itu harus menikah denganku. Temuilah dia!" seru Kevin yang sudah merasa cocok dengan Mela untuk jadi istri sementaranya.
"Baik Bos, kalau saya berhasil membujuknya. Tolong jangan sakiti Mela. Dia gadis yang baik," sahut Reno dengan berpesan.
"Jangan mengajariku!" sahut Kevin datar.
Reno kemudian menemui Mela untuk menyakinkan gadis itu agar mau menikah dengan Kevin.
Melihat kedatangan Reno, Mela segera berdiri, "Mas Reno, saya tidak mau menikah dengan pria itu," ujarnya menolak tawaran Kevin.
Reno segera mengajak Mela duduk dan memberikan pendapatnya, "Bos Kevin itu masih single. Kamu tidak akan rugi menikah dengannya. Anggap saja sedang kontrak kerja. Setahun itu tidak lama Mela, kamu akan tinggal di rumah ini dan semua kebutuhanmu akan tercukupi. Selain itu kamu akan mendapat jatah bulanan. Dari uang itu kamu bisa menyekolahkan kedua adikmu di kampung."
Mela tampak memikirkan saran dari Reno, tetapi gadis itu takut kalau Kevin mencelakainya. "Saya takut Mas," ungkapnya dengan jujur.
"Bos Kevin itu bukan psikopat, mas jamin itu. Dia sebenarnya baik dan sedang ditekan oleh keluarganya untuk menikah. Kalau kamu takut bilang saja kepadanya ...." Reno membisikan sesuatu ke telinga Mela.
Mendengar saran dari Reno, keteguhan hati Mela pun goyah. Jujur ia tidak mau menikah dengan cara seperti ini, tetapi dirinya juga tidak menampik butuh uang untuk bertahan hidup dan menyekolahkan kedua adiknya.
Gadis itu pun berpikir daripada nikah sama juragan Karta jadi istri ke empat. Paling cuma dikasih makan saja, terus punya anak. Mendiang kawin sama Bos Kevin, meskipun istri sementara. Sudah ganteng, tajir masih single dan macho lagi. Selain itu setelah pisah nanti dirinya akan jadi janda kembang.
"Baiklah saya mau, tetapi Mas yang bilang ya!" Akhirnya Mela menerima tawaran Kevin untuk jadi istri sementara.
Reno segera menemui Bos Kevin kembali, "Mela menerima tawaran itu, asalkan Bos tidak menyentuhnya selama pernikahan," ujar Reno dengan serius.
"Oke," sahut Kevin sambil tersenyum senang.
Pria itu juga tidak keberatan atas syarat yang diajukan oleh Mela. Lagi pula mana level dirinya bercinta dengan gadis kampung. Ia kemudian menyuruh Reno untuk segera mengurus pernikahannya.
"Cepat kamu atur semuanya!" seru Bos Kevin dengan serius.
Reno meminta waktu karena harus membuatkan identitas Mela yang hilang dahulu. "Saya minta waktu dua Minggu Bos."
"No, aku beri seminggu," ujar Kevin yang ingin secepatnya melakukan pernikahan dengan Mela.
Terpaksa Reno memeras otaknya untuk memikirkan apa saja yang harus ia lakukan. Mau tidak mau dirinya harus main belakang agar tugas itu rampung dalam waktu seminggu.
Kevin juga meminta Mela mulai hari ini untuk tinggal di rumahnya. Pria itu tidak mau terjadi sesuatu yang bisa membuat pernikahan itu batal, entah karena apa.
"Kamu jangan takut! Mas ini asisten pribadi Bos Kevin jadi akan sering ke sini. Anggap saja kamu sedang kerja di rumah ini!" pesan Reno yang membuat Mela terlihat sedikit lebih tenang.
"Iya Mas," jawab Mela dengan patuh.
Reno segera mengantar Mela ke salah satu kamar yang cukup besar. Setelah itu ia pergi bersama Kevin entah ke mana. Akankah Mela benar-benar menjelma menjadi seorang Tuan Putri?
BERSAMBUNG