BAB 11

1211 Words
(Chiara Aylin) Aku berjalan lesu di belakang Kak Bima. Mana bisa aku bisa punya semangat setelah apa yang terjadi semalam. “Chi.” Panggil Kak Bima yang sudah sampai di depan pintu ruang guru. Dia urung masuk karena melihat aku yang tak bersemangat sejak tadi. “Ya.” Aku menatapnya sedih. “Semangat dong!” Kak Bima mengepalkan tangannya. Memberi semangat ala-ala. Yang gak cocok sama sekali dengan mukanya dan juga tubuhnya yang tinggi besar. “Ya…” balasku sangat lesu. Kemudian melanjutkan langkah menuju kelas. Di depan ruang guru Kak Bima sepertinya masih melihat aku. Hap. Sebuah tangan menarikku ke bawah undakan tangga kelas 12 IPA. Sempat takut dengan orang yang tiba-tiba tidak sopan menarik orang sembarangan ke bawah undakan tangga. Namun, saat melihat orang itu adalah Kak Farran seketika senyumku mengembang. “Kamu kenapa?” tanyanya. Sadar bahwa keberadaanku dan Kak Farran mungkin saja diketahui orang lain aku segera celingukan dengan panik. Tangga ini tak jauh dari ruang guru. Bagaimana kalau Kak Bima lihat. Orang lain yang lihat pun akan bahaya sekali. “Kita jagain, Chi.” Kak Kaline muncul lebih dulu. Tersenyum jahil ke arahku. Kemudian Kak Jonathan muncul dari sebelahnya. Menatak Kak Farran malas. “Cowok lo buat gue ngerasa kaya lagi jagain orang lagi maksiat.” “s****n lo.” Umpat Kak Farran. Dia tertawa. “Jagain aja kenapa?” “Iya iya… demi richeese nabati se kardus gue rela.” Balas Kak Jonathan ogah. “Tenang ya.” Kak Farran memang selalu mengerti ketakutanku. “Aku cuma gak bisa nahan.” “Maksudnya?” Kak Farran nyengir. “Kangen.” Kak Jonathan dan Kak Kaline yang mendengarnya muntah bohongan. Senyumku yang sudah tersenyum lebar pun tertawa mendengar ejekan Kak Jonathan untuk Kak Farran. “Bucin parah.” Aku tertawa. Kak Farran lucu sekali. Cowok satu ini memang gak bisa ditebak. Kemarin tanpa pikir panjang dia datang ke kelas. Hal yang sangat membahayakan dirinya sendiri sebetulnya. Karena apa yang dilakukannya itu bisa mengundang gosip. Jangan sampai aku dan Kak Farran digosipkan oleh orang-orang. Bahaya. Anehnya, aku suka dengan apa yang dilakukannya kemarin. Mendadak aku malu membayangkan apa yang Kak Farran lakukan. Bayangan ketika Kak Farran menarik tanganku dan memeluku membuat pipiku memanas. Kak Farran yang senyum-senyum melihatku menunjukan kalau wajahku gak baik-baik aja sekarang. “Lucu.” Gumamnya sambil tersenyum. Mata seorang protagonist itu menatapku dengan hangat. Aku menahan napas. “Aku harus ke kelas.” Ujarku setelah berhasil menyadarkan diri bahwa berlama-lama dengan Kak Farran gak baik untuk Kesehatan jantungku. “Aku gak mau mati muda kak.” “Ha?” dia menatapku tak mengerti. “Aku bisa jantungan kalau lama-lama sama kamu.” Kak Farran terkekeh. “Ada-ada aja sih. Gak bakalan kok.” “Bisa tahu kak.” Aku memegangi dadaku. “Bisa denger gak? Detaknya cepet banget nih.” Cowok itu bukannya menanggapi dengan serius malah tertawa. Tangannya bergerak mengacak-ngacak rambutku. Adegan ini selalu tampak romantis dalam bayanganku saat aku membaca novel-novel remaja. Nyatanya memang seromantis itu. Perlakuan gemas ini berhasil membangkitkan sesuatu dalam perutku. Ya. Kupu-kupu. Rasanya mereka kembali berterbangan di dalam sana. Menggelikan sekaligus menyenangkan. “Nanti ketemu di perpus ya. Ada yang mau aku kasih sama kamu.” Tak butuh lama buatku mengangguk. “Aku juga mau cerita.” “Tentang apa?” “Tentang Kak Barly.” *** “Ru.” Aku menatap Haru yang masih duduk di mejanya. Aku dan yang lainnya sudah berganti dengan seragam olahraga. “Kok gak ganti.” “Gue gak ikut olahraga.” Jawab Haru lalu menenggelamkan kepalanya di tasnya yang dia letakan di atas meja. Aku mendekat padanya khawatir. “Lo sakit?” tanyaku kemudian menyentuh keningnya dengan punggung tanganku. “Enggak. Gue gak sakit.” Jawaban Haru membuatku curiga. “Gue gak suka lagi pelajaran olahraga.” Aku semakin curiga padanya. “Kenapa nih?” Aku duduk disampingnya. Yang lainnya satu persatu keluar dari kelas, menuju lapangan olahraga. Hanya tinggal aku dan Haru di kelas. “Pokoknya gue gak suka lagi pelajaran olahraga.” Jawabnya ketus. Punggungnya bahkan sampai naik karena dia menghela napas dan menghembuskannya dengan suara nyaring. Kalau dipikir-pikir, akhir-akhir ini Haru gak pernah lagi membicarakan tentang Kak Bima. Padahal sebelumnya dia selalu menceritakan kakaku yang galak itu disetiap kesempatan. Melihat Kak Bima keluar dari ruang guru pun dia bilang kaya lihat model lagi jalan di catwalk. Menyilaukan. Biasanya Haru juga menunggu di parkiran setiap pagi, cuma untuk melihat Kak Bima pagi-pagi. Akhir-akhir ini aku sadar kalau Haru gak melakukan semua itu. “Karena Kak Bima?” Tebaku. Benar saja. Aku menyebut namanya saja membuat dia seketika menegakan punggungnya. Menatapku dengan marah. Aku balas menatapnya tak terima. Enak saja dia menatapku seperti itu, seolah dia menyalahkan aku. “Ngeselin, sok ganteng, sok keren, sok iyeh… Mulai sekarang dia bakal jadi cowok terakhir yang akan gue lirik.” Ucapan pedas Haru yang berapi-api buatku semakin curiga. Pasti ada sesuatu yang luar biasa terjadi. “Kak Bima lakuin apa ke lo sih, Ru?” “Masa dia nolak gue, Chi. Gue kurang apa coba. Udah cantik dan sedang dalam perjalanan jadi siswi pinter di Bumi Nusantara. Dia nolak gue karena gue masih anak kecil dong. Apaan coba? Kesel gue, Chi. Malah dia nyeramahin gue. Katanya anak kecil jangan pacarana. Halahh… pokoknya mulai detik ini gue benci sama dia.” “Tunggu!” potongku. Dari sekian banyak kata yang keluar dari mulut Haru barusan hanya satu hal yang membuat aku mati kutu. “Lo nembak kakak gue?” tanyaku tak percaya. “Iya.” Jawab Haru dia lalu menenggelamkan lagi kepala pada tasnya. “Gue suka banget sama dia makanya gue inisiatif nembak dia duluan.” “Dan kakak gue yang b**o itu nolak lo?” “Iya kakak b**o lo nolak gue.” Haru berteriak kesal. Dia mengangkat wajahnya. Menatapku dengan tatapan serius yang malah terlihat mengerikan. “Mulai saat ini lo punya temen buat merangin si b**o itu.” Aku meringis. Masalahnya, aku juga ingin mengatai Haru b**o juga. Tapi urung melihat wajahnya yang seolah siap menantang semua orang terkuat di muka bumi ini. Tampangnya kaya mau nantang ajudan presiden. Ayo, lawan gue! *** Aku menceritakan tentang Haru pada Kak Farran saat kami bertemu di perpustakaan. Meja di pojok dekat rak paling belakang, meja F dan G menjadi tempat kami duduk. Aku duduk disampingnya. Dia gak mendekatkan kursinya, dan aku pun sama. Takut ketahuan. Meskipun perpus selalu sepi, tak menjamin mereka aman. “Salut tapi Haru berani nembak Pak Bima.” “Dan aku juga seneng karena akhirnya Haru bisa sadar.” Kami bicara bisik-bisik. Sambil pura-pura baca buku masing-masing. “Pak Bima kelihatannya gak seburuk itu padahal. Kecuali sikap posesif dia sama kamu sih.” “Kamu ngomong gitu karena gak kenal Kak Bima. Di aitu super duper nyebelin. Lebih nyebelin dari Dora.” “Dora?” “Hm.” Aku mengangguk. “Dimanakah letak sungai?” aku menirukan cara bertanya Dora. Kak Farran terkekeh. “Padahal sungai ada di belakang punggung dia. Nyebelin.” “Tadi katanya kamu mau cerita?” tanya Kak Farran, membuat aku ingat. Aku bukan mau menceritakan tentang Haru. “Iya.” Aku menghembuskan napas. “Kenapa?” Dia menoleh. Meletakan bukunya. Aku pun ikut meletakan bukuku. Dia tahu ada sesuatu yang gak beres dari cara bicaraku. “Tentang Kak Barly.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD