BAB 18

1732 Words
(Chiara Aylin) Rasa cemburu itu menarik aku melakukan hal yang tak seharusnya. Keberanian yang terlalu nekad sebenernya. Bilang ke ayah pengen punya pacar itu artinya aku harus siap di pantau lebih giat lagi oleh Ayah. Aku cuma remaja gadis biasa yang pengen punya pacar dan kenangan manis di masa-masa putih abu-abu. Masa yang selalu orang kenang-kenang sampai tua. Pengen tahu aja gimana rasanya pacaran sama seseorang dan diketahui banyak orang. Artinya, aku gak perlu sembunyi-sembunyi diperpus tiap mau ketemuan sama Kak Farran. Ya dimanapun bisa ketemu. Kemarin langkahku memang salah banget. Alhasil tadi pagi ayah menegaskan ke Kak Bima kalau mulai sekarang dia yang akan antar jemput aku. “Bim…” ujar Ayah di meja makan. Dia menurunkan kaca mata bacanya serta meletakan koran yang setiap pagi menemaninya sarapan. Dimeja makan yang hanya tak dihadiri Kak Baskara bukan hanya Kak Bima aja yang menoleh. Melainkan aku, Kak Bastian, Kak Barly, dan tentunya orang yang dipanggil ayah. Semuanya menoleh. Bahkan aku rasa ikan di akuarium kecil samping meja makan juga ikut menoleh. Yang lainnya bingung dengan panggilan tiba-tiba ayah, sementara aku waspada. Ayah jarang sekali bicara di meja makan, apalagi ketika sarapan. Dan ini kayanya pertanda buruk. “Iya?” ada penasaran di nada bicaranya. Ayah tersenyum tipis. “Mulai sekarang ayah yang antar jemput Chiara.” Kak Bima mengerjap lalu menatap aku yang menadak kaku di tempat. Kak Bastian pun menatapku dengan tatapan seolah tanya Kamu lakuin kesalahan apa sama ayah? Hanya Kak Barly yang tidak peduli. Oh iya, jangan lupakan kalau aku dan Kak Barly masih perang dingin gara-gara dia bilang aku ikut campur urusannya. Dan juga gara-gara dia bilang aku gak seharusnya ada. Kak Barly memang orang yang rumit amat sangat rumit, masalah apapun kadang terlihat besar dimata dia. Ya… biarin aja lah, dia putus atau enggak sama Kak Renata bukan urusan aku. Aku tahu kenapa ayah tiba-tiba bilang seperti itu. Aturan sebelumnya Kak Bima yang antar jemput aku karena barengan sama dia. Ayah yang bilang gitu. Tapi sekarang… Inilah kenapa aku semalam merutuki keberanian nekadku yang minta izin pacaran. Sebelum bilang pun ayah selalu menarik tanda seru kalau aku gak boleh pacaran. Kak Bima menatapku seolah bilang Tahu rasa lo. Dan aku makin bulat untuk memusuhi Kak Bima mulai detik ini. Karena ini terjadi ada sangkut pautnya sama dia. Dia yang ngadu ke ayah tentang keinginan aku. Dan aku pun malah bilang ke ayah. Ah… sama-sama salah sih sebenernya. Kalau aja semalem aku bilang Kak Bima bohong, mungkin ayah akan percaya dan hari ini aku masih berangkat bareng Kak Bima. Namun, aku gak bisa diam aja pasrah dengan keputusan yang lagi-lagi sepihak ini. “Gak ada bantahan!” baru saja aku hendak membantah ayah sudah lebih dulu besuara. Telunjuknya juga terangkat tanda kalau dia bener-bener gak mau ada yang menolak keputusannya. Aku menghela napas. “Emang ayah gak sibuk, emang gak repot juga harus antar jemput aku tiap hari. Biar aku sama Kak Bima aja ayah.” Meskipun ayah udah sebegitu tegas, aku tetap membujuknya. Ayah menggeleng. “Ayah bisa antar jemput kamu.” Lanjut ayah dengan suara yang tak kalah tegas dari sebelumnya. “Tapi aku gak mau!” entahlah, aku gak bisa mikir. Hanya berterus terang aja. “Aku gak mau diantar jemput sama ayah tiap hari. Mana ada sih anak SMA yang diantar jemput sama ayahnya. Gak ada ayah. Malahan temen-temen sekelas aku pada berangkat sendiri. Bawa kendaraan sendiri.” “Maksud kamu ayah harus beliin kamu motor dan biarin kamu deket sama bahaya tiap berangkat sama pulang sekolah.” Oke, ayah terlalu lebay memang. “Aku gak minta ayah beliin motor dan biar aku berangkat sendiri. Aku cuma gak mau dianter jemput ayah. Biar Kak Bima aja. Selama ini kan gitu.” “Karena itu…” potong ayah. “Karena nyatanya dengan berangkat bareng sama Kak Bima aja kamu udah berani bohong dan malah pulang sama orang gak dikenal.” Deg! Maksudnya? “Siapa cowok yang waktu itu?” pertanyaan ayah buat aku lagi-lagi gak bisa bergerak. Darimana ayah tahu kalau beberapa hari yang lalu aku diantar pulang orang lain. Maksudnya diantar pulang Kak Farran. Gak ada siapapun di rumah waktu itu. Bahkan satpam yang berjaga di depan pun gak lihat Kak Farran. Karena aku memang minta dia berhenti agak jauh dari rumah. Sebab aku tahu semua orang di rumah ini termasuk satpam dan asisten rumah tangga disini dibayar ekstra untuk menjaga aku. Menjaga yang sama artinya dengan memata-matai aku. Kakak-kakakku pun kelihatan kaget mendengar kalau aku pernah diantar cowok. Hujanan tatapan itu buat aku gak bisa berkata-kata. Mereka menyudutkan aku seolah aku melakukan kesalahan yang amat fatal. Gak termaafkan. “Itu temen aku ayah.” Sepertinya aku harus mengatakan alasan paling masuk akal seperti yang pernah diajarkan Kak Farran. “Waktu itu kan Kak Bima gak bisa pulang bareng. Aku juga gak berani minta Kak Bastian buat jemput karena dia mau ujian. Aku udah minta Kak Barly juga tapi dia nolak.” “Nyalahin gue?” tanya Kak Barly. Dia menatap ayah. “Waktu itu gue lagi meeting makanya gak bisa jemput.” Mataku menyipit, apa aku harus percaya? “Ya.. terserah mau percaya atau enggak. Bocah kaya lo mana tahu dunia kerja.” Ujar Kak Barly seolah dia tahu apa yang aku pikirkan. Dan lagi-lagi dia selalu mengakhirinya dengan mengejek aku. Aku mengabaikan perkataan sinis Kak Barly, beralih pada ayah. “Ayah juga kan lagi di luar kota. Tadinya aku mau naik ojek online aja. Tapi kan ayah gak pernah izinin, karena bahaya. Yaudah, aku ikut dia aja karena rumahnya searah.” “Terus ayah akan percaya?” tanya ayah semakin berusaha membuat aku terpojok. “Aku gak bohong ayah.” Memang ada kebohongannya, tapi yang aku bilang panjang lebar itu gak sepenuhnya bohong. Kecuali bagian rumah Kak Farran searah itu yang kebohongannya. “Ayah akan cari tahu siapa cowok yang waktu itu anter kamu.” “AYAH!!!” aku berdiri dari duduk menatap ayah penuh permohonan. “Mau ngapain sih? Jangan buat aku malu dong sama temen aku. Udah baik aku dianter pulang.” Ayah diam menatapku. Kakak-kakak yang lain menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. “Oke.” Ayah menghela napas. “Ayah gak akan cari tahu siapa cowok yang anter kamu pulang tapi…” Aku mengernyit. “Tapi… mulai sekarang ayah yang anter jemput kamu ke sekolah begitu juga ke tempat latihan.” *** “Kayanya kita gak bisa ketemu dulu deh beberapa hari ini.” Ujarku pada Kak Farran yang berdiri di rak seberang. Kami bicara sambil menatap wajah satu sama lain dari antara sela-sela buku. “Kenapa?” Kak Farran mengambil sebagian besar buku membuat lubang yang lebih besar. Sehingga aku bisa menatap wajahnya yang penuh tanda tanya. “Ayah tahu aku pernah dianter cowok pulang.” Jawabku jujur, kemudian menghela napas karena aku harus memberi tahu dia berita buruknya. “Dan ayah pengen cari tahu siapa yang anter aku.” Kak Farran diam. Entah sedang berpikir atau terlalu kaget dengan apa yang aku bilang. “Sebenernya aku udah kasih penawaran sama ayah.” “Penawaran apa?” “Aku izinin dia anter jemput aku tiap hari asal jangan cari tahu siapa teman yang anter aku waktu itu.” Kak Farran mengusap wajah. “Terus? Ayah kamu setuju?” Aku mengangguk. “Tapi aku gak yakin sebenernya.” Kening Kak Farran mengernyit membuat alisnya hampir menyatu. “Karena kalau bukan ayah yang cari tahu pun aku gak jamin orang lain kaya gitu juga.” “Pak Bima?” tanyanya. “Iya.” Aku menghela napas. “Pokoknya beberapa hari ini kita gak bisa ketemu dulu kak.” Aku menatapnya sedih. Permintaanku artinya aku harus tahan kangen sama dia. Ketemu di koridor pun sepertinya aku dan Kak Farran harus saling nahan diri untuk gak bertegur sapa. Mendadak jadi orang asing. Dan aku gak tahu apa aku bisa tahan gak ketemu dia di perpus kaya sekarang. Aku benar-benar dipantau sekarang. “Jadi ini gara-gara aku ya?” gumam Kak Farran. Aku menggeleng cepat. “Bukan salah kamu Kak.” “Ya… kan aku yang minta anter kamu pulang waktu itu.” Aku menggeleng lagi. “Apa aku terus terang aja sama Pak Bima atau perlu ayah kamu kalau aku yang anter kamu pulang. Biar mereka gak penasaran terus siapa cowok itu.” Tawar Kak Farran. Aku menggeleng lebih tegas. Kupikir kalau Kak Farran menunjukan diri sekarang ke hadapan Kak Bima atau yang lebih parah ayah akan membuat suasana makin runyam. Dia gak tahu permintaan apa yang aku bilang ke ayah semalam. Keterus terangannya justru kupikir malah buat ayah tahu kalau aku punya pacar. Ya.. itu cowok yang dateng terus terang anter aku ini. “Kenapa?” dia terlihat heran. “Aku gak bisa gak ketemu sama kamu.” Sadar Chiara! Disaat genting kaya gini aku malah salah tingkah karena ucapan Kak Farran. “Akupun gak bisa nahan diri gak ketemu sama kamu Kak. Tapi mau gimana lagi, kita tahan dulu sesaat ya.” “Sampai ayah kamu lupa atau nyerah nyari tahu siapa cowok yang waktu itu anter kamu pulang?” Aku mengangguk tanpa ragu. “Oke, jadi untuk saat ini kita gak ketemu dulu dan aku sembunyi biar gak dicurigaan ayah sama kakak kamu?” Aku mengangguk. “Iya kak.” “Oke.” Dia diam tampak berpikir. “Kalau Jonathan atau Kaline yang nyamperin kamu boleh kan?” “Ha?” Kak Farran cuma tersenyum, senyum yang kelihatan amat misterius sebenernya. Sayangnya aku gak tahu apa yang ada di pikiran dia. *** “Ayo pulang.” Aku menghampiri ayah yang sudah berdiri di samping mobilnya. Aku sudah membuka pintu mobil namun ayah masih berdiri disamping mobil. Tampak celingukan. Aku tahu, meksipun dia bilang gak akan nyari tahu, tapi dia sebenernya melakukannya diam-diam. “Ayah!” aku berkata lebih keras. Ayah menoleh. “Ayo, aku harus ke tempat latihan.” Ayah pun masuk ke balik kemudi. Melihat aku yang tengah siap dijok sampingnya. “Lain kali kalau gak ada yang bisa jemput kamu telepon satpam di rumah aja. Jangan ngerepotin orang buat anter kamu.” Aku memutar mata. “Iya. Lagian waktu itu gak kepikiran juga mau telepon siapa selain ayah sama kakak-kakak.” Aku tersenyum, walaupun ayah berusaha keras, aku yakin dia gak bakalan sampai tahu kalau aku dianter Kak Farran. Omongan dia bisa aku pegang. Yang aku inginkan saat ini hanya sebuah kebetulan. Ya. Kebetulan. Aku gak pengen ayah dan Kak Farran bertemu lewat kebetulan itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD