BAB 2

1486 Words
(Chiara Aylin) *** Kata siapa punya kakak cowok itu membahagiakan? Kata siapa juga kalau aku beruntung dikelilingi empat kaka cowok yang perhatian dan peduli? Ayo siapa yang bilang? Kalian belum tahu aja seribet apa punya empat kakak cowo yang posesifnya minta ampun. Kalian gak tahu aja seribet apa punya empat kakak cowo yang selalu ikut campur urusan pribadi dengan alasan penajagaan. Yang bilang kaya gitu cuma orang-orang yang gak punya kakak cowok aja. Orang kaya gitu cuma orang yang punya saudara perempuan yang menurut mereka nyebelin aja. Pengen rasanya aku menantang seseorang yang bilang seperti itu untuk bertukar tubuh sehari denganku. Biar tahu rasa gimana ribetnya punya empat kakak cowok yang selalu mengkambing hitamkan menjaganya untuk mengatur semua hal dalam hidupnya. Seperti sekarang. Kenapa empat kakaku berbut untuk menjemputku ketika aku bilang akan pulang sendiri karena sedang ngambek sama Kak Bima. Belum lagi Kak Bima yang sejak tadi menghentikan motornya di sampingku. Terus membujuk agar aku pulang bareng dia. "Ayolah Chi, jangan kaya anak kecil ngambek kaya gitu." kata Kak Bima. Aku mendelik sebal. "Kan aku emang anak kecil. Kata Kak Bima kemaren aku masih balita kan? Gapapa dong aku ngambek." "Ya ampun diambil hati banget omongan itu." "Kalau gak aku ambil hati gini Kak Bima gak bakal mikir-mikir kalau aku ini udah gede. Tahun depan aku udah bisa bikin KTP tahu." Kak Bima tertawa. Seakan mengejek apa yang aku ucapkan. Tuh kan, punya kakak cowok gak ada enaknya sama sekali. Yang ada tiap hari jadi bahan ejekan. "Ayolah, sebelum ayah tahu kalau kamu gak mau pulang bareng kakak." Kak Bima masih belum menyerah membujuknya. "Kak Bastian!" aku rasanya ingin menangis saat itu juga ketika mendapati Kak Bastian lah yang pertama melipirkan motornya di depan gerbang. Semua kakakku berebut ingin menjemput, kecuali Kak Baskara karena dia sedang bertugas. Diantara kakak-kakak dan ayah, aku memang paling mengharapkan kedatangan kakak keempat ku ini. Kakak tercool yang aku punya. Mungkin Kak Bastian pengecualian dari semuanya. Karena dia berbeda dalam banyak hal dibandingkan dengan tiga kakakku yang lain. Sifatnya jauh sekali. Kak Baskara, Kak Barly, Kak Bima, punya sifat yang hampir mirip. Sama-sama punya sifat yang ngeselin. "Chi!" Haruku datang. Dia nyengir. Matanya terarah pada Kak Bastian. Alarm tanda bahaya berbunyi. Segera aku naik ke atas motor Kak Bastian. "Ayo kak jalan!" "Chi!" "Chiara!" Kak Bima dan Haruku memanggil bersamaan. Bahaya kalau sampai Haruku pindah haluan jatuh cinta sama Kak Bastian. Pokoknya Kak Bastian adalah kakak terakhir yang akan aku relakan pacaran sama perempuan. Pokoknya siapapun cewek yang nanti sama Kak Bastian gak boleh lolos tanpa screening dariku. Kak Bastian terlalu sayang sekali untuk di lepas pada perempuan tak jelas. Perempuan yang nanti jadi pacar Kak Bastian harus perempuan yang luar biasa. Tak lama HP ku berbunyi. Nama Haruku muncul di ponselnya. "Chi! Yang tadi jemput lo siapa?" tanya Haru kelewat antusias di ujung sana. Aku meringis. Meantap punggung Kak Bastian dengan tatapan miris. Aku memeluk punggungnya. Jangan sampai Haruku mengincar Kak Bastian. "Kang ojeg." jawabku. Samping helm ku menempel pada punggung Kak Bastian. "Serius?" "Serius Haru." ujarku mencoba tak terdengar mencurigakan. "Naksir lo sama tukang ojeg." "Mintain kontaknya dong." Sebelum Haru meminta yang aneh-aneh aku pun memutuskan panggilan lebih dulu. HP aku masukan ke saku seragam. Melingkarkan tangan lebih erat ke pinggang Kak Bastian. "Kenapa sih Chi?" Kak Bastian sepertinya sedikir risih dipeluk erat dari belakang olehku. Aku gak peduli. Gak akan aku lepaskan pelukan ini sampai nanti di rumah. "Chiara minta maaf kak." ujarku dengan suara dibuat seperti akan menangis. Kak Bastian terkekeh. "Minta maaf kenapa?" "Haru lihat kakak tadi dan dia kayanya suka Kak Bastian." Kak Bastian tertawa terbahak-bahak. Dia mungkin menganggap apa yang aku katakan hal yang lucu. Dia gak tahu saja sebahaya apa Haru kalau sudah suka sama seseorang. Haru tipe cewek yang ketika suka berubah jadi cewek yang obsesif. Menghalalkan segala cara untuk mencuri perhatian cowok yang disukainya. Cewek yang suka melakukan apapun. Termasuk pada Kak Bima. Sayangnya, nasibnya lagi s**l aja karena suka sama Kak Bima yang sifatnya naudzubillah kaya gitu. Meskipun begitu Haru cewek yang gampang jatuh cinta sebenarnya. Ya, gampang jatuh cinta sama cowok ganteng maksudnya. Di SMA Bumi Nusantara belum ada aja yang menurutnya lebih menarik dari Kak Bima. Ya emang dasarnya buta sih. Kak Bima yang nyebelin itu gantenngnya dari mana. "Pokoknya, hari ini aku udah nyelamatin Kak Bastian dari Haru." kataku. Kak Bastian tertawa semakin kencang. "Haru cewek yang tadi kan?" "Iya, dia yang tadi nyamperin sambil senyum kaya orang gila itu." "Ettt... ngomongnya. Anak cewek kok kaya gitu." Kak Bastian memberikan peringatan. "Pokoknya ya kak, diantara cewek yang ada di dunia ini, aku gak bakalan setuju kalau kamu sama Haru." kataku tegas. "Itu mah kamu aja yang gak mau punya kakak ipar seumuran kan?" Aku mengeratkan pelukan. "Pokoknya jangan Haru, atau jangan siapapun yang aku kenal. Kak Bastian cari aja cewek dari kampus. Jangan anak SMA." Kak Bastian tertawa lagi. Dengan Kak Bastian aku memang selalu semanja ini. Dan menurutnya kemanjaanku pada dia adalah sesuatu yang lucu. Kak Bastian selalu tertawa ketika aku manja padanya. "Tenang aja." ujar Kak Bastian. "Kakak udah punya cewek kok." "Serius?" "Hm." Kak Bastian mengangguk. "Anak kuliahan." katanya dengan penekanan. "Bukan anak SMA." Aku tertawa senang mendengarnya. Syukurlah, kalau begitu gak ada kesempatan bagi Haru untuk mendekati Kak Bastian. Gila aja Haru suka sama kakak kesayangan aku. "Oh ya kak." "Iya." "Aku mau bilang sesuatu." ujarku. Aku amat sangat yakin untuk mengatakan hal ini sama Kak Bastian. Kalau aku sebenarnya punya pacar. Bukan karena mau pamer, tapi ingin punya temen cerita aja ketika di rumah. Kak Bastian kan juga punya pacar, dia pasti faham kalau aku cerita tiba-tiba sama dia. Untuk mewujudkan hal itu, langkah pertama aku harus memberitahunya tentang hubunganku dengan Kak Farran. "Mau bilang apa?" "Aku sebenernya punya pacar." Citt.... Bunyi ban yang bergersekan dengan aspal terdengar mengerika. Kak Bastian mengerem mendadak. Untung tak sedang berada di jalan yang ramai. "Apa?" Kak bastian menoleh. "Aku punya pacar kak." Aku kicep sendiri dengan tindakan tiba-tiba Kak Bastian. Apakah semengejutkan itu pengakuanku? "Pacar kamu siapa?" Kak Bastian menyetandarkan motor, dia turun meninggalkanku yang masih duduk di jok depan. "Ada?" Kak Bastian tertawa. "Iya siapa. Namanya bukan ada kan?" "Kakak kelas." jawabku disertai senyum. Kak Bastian pasti cuma kaget karena tahu aku punya pacar. "Oh kakak kelas." Kak Bastian manggut-manggut. Tak ada reaksi marah atau apapun. "Udah berapa lama?" "Udah dua bulan kak." "Namanya siapa? Kamu suka banget yah sama dia?" Meskipun Kak Bastian gak menunjukan gelagat marah. Aku merasa perlu merahasiakan siapa pacarku darinya. Aku gak tahu apakah Kak Bastian bisa dipercaya untuk merahasiakannya dari ayah dan kakak-kakak yang lain. Lebih baik aku mencari aman saja. "Aku gak mau sebut namanya." ujarku. "Yang penting, aku suka banget sama dia. Dan dia juga suka banget sama aku." Kak Bastian menatapku lamat-lamat. Terlihat sedih dan khawatir secara bersamaan. "Dia cowok baik-baik kan?" tanyanya. Aku mengangguk. "Gak ada yang lebih baik dari dia kak." Kak Bastian diam lagi. Wajah sedih dan khawatir itu masih terlihat. "Kamu tahu kan prioritas kamu sekarang apa?" Aku mengangguk. "Jadi atlet nasional. Sekolah yang bener sampai lulus terus kuliah." Tiga hal itu gak akan pernah aku lupakan. Ternyata kekhawatiran Kak Bastian adalah takut bahwa pacaran akan membuat aku gak fokus sama apa yang ingin aku capai. "Jangan lupa sama itu ya." Kak Bastian mengusap rambutku. Aku mengangguk. "Aku jatuh cinta dalam keadaan waras kok kak." jawabku. "Kalau kamu udah siap, kenalin sama kakak ya." Aku menatap khawatir. "Gak akan kakak apa-apain kan?" "Ya enggak lah. Paling kakak tanya ini itu. Kaya kenap dia suka sama kamu?" "Dihhh... jangan!" aku menyilangkan tangan di depan d**a. "Horor banget sih tujuannya." *** Besok aku tunggu di perpus jam 10 ya :* Hanya satu baris pesan yang masuk di jam 8 itu saja sudah membuat aku gelisah sepanjang malam. Kak Farran jarang mengirim pesan. Jarang juga menelpon. Selain karena aku melarangnya sering menelpon. Dia juga katanya sering sibuk belajar. Maklum meskipun Kak Farran sudah kelas 12 namun, dia masih disibukan dengan berbagai kegiatan perlombaan. Kak Farran sedang mempersiapkan olimpiade matematika tingkat nasional. Sama seperti dia yang gak keberatan dengan syarat yang aku ajukan ketika kami pertama jadian, dimana aku akan jarang bisa bertelepon kerena punya ayah dan kakak yang super ketat. Aku juga tak keberatan jika harus menjadi nomor dua ketika dia sedang punya tujuan. Dan memenangkan olimpiade matematika adalah tujuan dia selanjutnya. Sebetulnya aku heran kenapa Kak Farran masih belajar mati-matian, padahal dia sudah sangat cerdas. Tapi disitulah, perbedaannya. Salah satu hal yang buat aku makin suka sama dia. Dia cowok yang sudah selalu punya tujuan dan orang yang selalu berusaha untuk mewujudkannya. Ah, memikirkan Kak Farran tak pernah ada habisnya. Bisa-bisa aku berakhir tak tidur semalaman. Iya kak, sampai ketemu jam 10. Love u:* Rasanya nora sekali menulis love u lengkap dengan emoticon cium di akhir pesan itu. Bodo amat lah. Lagian yang sedang jatuh cinta mana bisa membedakan mana yang norak dan mana yang enggak. Semuanya selalu tampak indah dimata. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD