"Sya, kamu kenapa?" Ibunya Arin segera mendekati Aisya, yang tiba-tiba saja menutup pintu kamar. Padahal ia diminta untuk menyeru Arin dan Fachri, karena ada tamu jauh yang datang untuk bertemu dengan mereka berdua. "I-itu … ah, Ibu. Aku tidak ingin membahasnya." Aisya mengusap dadanya. Masih shock dengan apa yang baru saja ia lihat di kamar. "Kamu juga yang salah. Kenapa pintunya nggak diketuk dulu? Ibu sudah katakan di dalam ada suami kakakmu. Mereka itu pengantin baru, jadi wajar berduaan di kamar." Sang ibu menggelengkan kepalanya. Mengibaskan tangannya agar Aisya menyingkir dari depan pintu. "Ya, aku mana menyangka, Bu. Jam segini masih begituan juga." Keluh Aisya. Mengerucutkan bibirnya. "Sewajarnya memang begitu. Tapi, ayahmu memberinya jamu yang biasa itu lo. Jadi biasalah

