PERASAAN tidak enak menyergap ke dalam diri Victor secara tiba-tiba. Konsentrasinya membaca laporan perkembangan proyek mendadak buyar tergantikan rasa gelisah yang muncul tanpa sebab. “Apa yang terjadi?” gumam Victor. Victor sedang di ruangan khusus yang Dimitri fasilitasi untuknya di perusahaan, lelaki itu bangkit dari kursinya kemudian melangkah ke jendela besar. Berada di ketinggian lantai sepuluh membuat Victor dapat leluasa melihat pemandangan ibu kota. Papan reklame yang mengiklankan wajah calon penerus Raja Spanyol alias Romeo Felipe Adalwine—kakaknya mendadak mengingatkan Victor bahwa sudah satu minggu pas ia tidak pulang ke rumah. Brakk. Pintu ruangannya terbuka kasar dan muncul Dimitri di sana sembari memanggilnya panik. “Vic!” Victor menoleh dengan satu alis terangkat. “A

