๐Ÿ’œ S-E-M-B-I-L-A-N B-E-L-A-S ๐Ÿ’œ

947 Words
Dari ujung lorong Gretha berdiri. Menatap dari jauh Fattan yang berjalan keluar dari gedung apartemen dan masuk ke dalam mobilnya. Kemudian mobil itu berjalan keluar dari parkiran. Gretha menunggu pria itu pergi dari sini. Menunggu Fattan bekerja barulah setelah itu dengan langkah yang riang Gretha berjalan menuju apartemen Fattan. Seperti tadi pagi, dia mengetuk pintu beberapa kali dan akhirnya pria plus-plusnya membukakan pintu. Senyuman Gretha berukir lebar. "Fattannyaa ada, Bang?" tanyanya berbasa-basi. Padahal dia sudah tahu jelas jawabannya, bahwa Fattan sudah pergi. "Oh, Fattan," Nagendra melirik ke arah samping lorong, "baru aja pergi kerja. Ada perlu?" tanya pria itu. Gretha terdiam, mencoba berpikir keras lalu beberapa saat kemudian dia menggeleng. "Enggak sih. Cuma mau ngambil barang yang ketinggalan di dalam aja,"alibinya. Kalau ketahuan Fattan, bisa-bisanya dirinya dicap agresif dan cuma centil. Habisnya bagaimana, efek terlalu lama menjomblo jadinya ketika menemukan pria yang potensial langsung dipepet. Enggak peduli ini Abang dari sahabatnya sendiri. "Masuk aja." Nagendra membuka pintu lebih lebar. Mempersilahkan Gretha untuk masuk ke dalam. Sejujurnya Gretha enggak tahu ingin mengambil apa, tetapi begitu melihat buku catatan Fattan yang berada di meja ujung sana, dirinya langsung bergerak untuk mengambil. Beralibi kalau buku catatan ini miliknya yang ketinggalan, padahal ini milik Fattan. Saat memasukan buku catatan itu lalu dia berjalan ke arah luar. Tanpa sengaja di meja makan Nagendra sedang mencicipi beberapa makanan. "Gret, bantuin saya mau nggak?" tanya Nagendra yang tiba-tiba terdiam. Tanpa minta pun, Gretha pasti akan membantu dengan senang hati. Bahkan, jika tidak dimintai bantuan pun, sepertinya Gretha akan menawarkan dirinya untuk memberikan pertolongan. "Iya, Bang Gen," Gretha berjalan mendekati Nagendra, "bantuin apa?" tanya berusaha dengan suara selembut mungkin. "Saya sering lihat kamu me-review makanan," pendahuluannya, "kalau boleh minta tolong. Boleh nggak me-review makanan buatan saya sebelum saya jual di restauran." Bagai petir yang menyambar di siang bolong. Gretha sekaget dan sesenang itu. Mimpi apa dia bisa dimintai tolong seperti ini. Rejeki banget pokoknya. "Dibuat konten, Bang?" tanya Gretha. Bukannya berpikir negatif, tetapi setelah mengingat Rey yang hanya menumpang tenar, Gretha jadi sedikit trauma tentang itu. Takutnya Nagendra juga Seperi itu dan pikiran negatif itu seketika terbantahkan oleh gelengan kepala pria itu. "Enggak perlulah. Saya bukan youtubers, bukan influencer, bukan sejenis itu. Saya enggak perlu tampil di depan publik," ucapnya sambil menarik kursi di sebelahnya, "duduk, Gret." Gretha mengangguk lalu dia duduk di sebelah pria itu. Harum makanan memang mengunggah selera, tetapi harum dari tubuh Nagendra jauh lebih mengunggah selera. Ya, ampun. Pikiran gadis itu jadi kemana-mana. "Rencananya, saya akan buat restauran makanan Belanda di Jakarta. Saya tadi udah coba tester buat dengan resep yang sama dengan restoran saya di Belanda," pria itu melirik ke arah Gretha, "tapi mungkin lidahnya beda ya antara orang Belanda dengan Indonesia." Gretha kembali mengangguk. "Kamu cobaain ini ya," Nagendra memberikan sebuah makanan yang sepertinya berbahan dasar kentang dan ada potongan sosis di atasnya, "ini namanya stamppot. Salah satu makanan enak khas Belanda." "Boleh cobain sekarang?" "Boleh," Nagendra memberikan sendok ke gadis itu, "silahkan dimakan dan dikomentari." Gretha mengambil sesendok stamppot itu lalu memasukan ke dalam mulutnya. Dia nikmati dan merasakan cita rasanya sebelum berkomentar. "Enak sih, Bang," Nagendra menatap perempuan itu dengan lekat, menunggu kelanjutannya, "tapi menurut aku kurang asin. Mungkin kalau ditambahkan sedikit garam, bisa lebih berasa." "Oh, iya, iya. Lantas apa lagi?" "Mericanya berasa. Ayamnya berasa. Totally sih enak, cuma ya itu garamnya kurang berasa." Nagendra mengangguk lalu dia bangun dari duduknya. "Sebentar ya." Pria itu berjalan ke arah dapur lalu menyalahkan kompor listrik setelah itu sibuk dengan penggorengannya. Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan sepiring stamppot di tangannya. "Ini sudah saya tambahkan garam. Coba kamu cobain." Gretha mengambil piring itu lalu dia meloleh ke arah Nagendra. "Masih panas, Bang." Nagendra tersenyum tipis. "Iya, tunggu sebentar," dia duduk kembali di sebuah gadis itu, "atau mau saya tiupkan?" candanya. Karena tahu pria itu hanya bergurau dan ditambah lagi kalau meniup makanan tidak diperbolehkan sehingga Gretha hanya terkekeh pelan. "Saya cobain duluan ya," Nagendra mengambil stamppot itu lalu memasukkan ke dalam mulutnya, "hmm, iya sih benar. Kalau lebih terasa garamnya lebih enak." Gretha ikut merasakan stamppot itu dan ya benar, kali ini jauh lebih terasa garamnya. "Enak sih, Bang, cuma," ada jeda sebentar. "Cuma apa?" "Kurang banyak. Enak banget soalnya." Mereka tertawa bersama. "Nanti saya buatkan lagi kalau kamu suka. Oh ya, ini baru satu menu, di restoran saya nanti kira-kira ada dua puluh sampai dua puluh lima menu. Kamu komentari menu-menu saya satu per satu ya? Nanti ada bayarannya, tenang aja." Ehe. Sebenarnya tanpa dibayar pun Gretha juga mau. Bayaran kan enggak selalu dengan uang, kesenangan batin juga bagian dari bayaran. "Boleh, Bang. Boleh banget, tapi enggak usah dibayarlah. Aku senang kok nyicil-nyicipin begini. Seru aja." "Terima kasih banyak ya, Gret. Nanti kalau restoran saya sudah jadi, kamu boleh bekerja di sana." Wah, penawaran yang sangat amat menarik. "Mau! Mau!" ucap gadis itu bersemangat. Mendengar itu Nagendra tersenyum lebar. "Kalau begitu, kita lanjut ke menu yang lain ya." "Iya, Bang." Setelah itu Nagendra menyiapkan menu untuk mereka cicip berdua. Mata Gretha menatap pria itu dengan lekat. Ganteng banget sih ini cowok, asli gantengnya enggak kira-kira. "Bang, udah punya pacar belum?" tanyanya mengulang pertanyaan kemarin. Nagendra sedikit kaget lantas dia berhenti dari aktivitasnya. Senyuman tipis dia arahkan ke Gretha sambil menatap perempuan itu. "Kamu sepertinya penasaran banget ya. Dari kemarin nanya itu terus." "Habisnya belum dijawab." "Kalau enggak saya jawab?" "Ya, kaya gini. Aku nanya terus sampai di jawab." Nagendra terkekeh pelan kemudian menggeleng. "Belum punya, Gret. Saya belum punya pacar." "Ehe," Gretha menyengir lebar, "ok, Bang. Siap." "Siap apa?" tanya Nagendra sambil mengerukan kedua alisnya. Gretha gelagapan. Dia menatap ke arah piring berisi makanan. "Siap nyobain makanannya," ucapnya. Nagendra kembali terkekeh pelan lantas mereka melakukan aktivitas cicip menyicip.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD