Ruang Makan
Kerajaan Nephthys, Kota Eyelwe
*
Emi tak berani berkomentar, ia bisa melihat mata Nikita yang berkaca - kaca. Setiap kali Nikita mengingat kenangan masa lalunya bersama sang kekasih, mata Nikita selalu berubah. Manusia biasa pun bisa merasakan emosi seseorang yang kehilangan, terlebih Nikita membunuh kekasihnya sendiri dan kekasihnya mati di tangannya.
"Tapi percuma saja aku menyesal, dia tak akan kembali. Dia sudah mati dan tidak ada bangsa Noblesse lain di Lacoste," tambah Nikita, kemudian kembali melanjutkan menyantap daging asap buatan Emi yang ada di hadapannya.
Emi menatap iba ke arah Nikita. Sontak, sebuah ingatan terlintas dalam benaknya. Dimana saat itu ia masih mengingat dengan jelas Nikita yang meronta - ronta dan menangis sepanjang hari karena menyesal telah merenggut nyawa sang kekasih.
600 tahun yang lalu, Nikita pernah memiliki seorang kekasih. Pria itu berasal dari bangsa Noblesse yang bahkan keberadaannya kurang dari 5. Pria itu sangat tampan dan selalu membuat Nikita berdebar - debar setiap kali melihat sorot matanya yang berwarna biru. Tak hanya itu, pria itu juga memperlakukan Nikita dengan baik, membuat Nikita yang pernah kehilangan kedua orang tuanya kembali merasakan kehangatan.
Namun, karena suatu masalah, Nikita membunuh kekasihnya dengan tangannya sendiri. Bahkan tubuh sang kekasih yang berlumuran darah pun didekap olehnya. Nikita menyesal karena ia harus kehilangan kekasihnya yang paling ia cintai. Karena dibutakan oleh amarah dan kebencian, Nikita sampai hilang kendali dan membunuh kekasihnya.
Memori itu selalu melekat di ingatan Nikita. Butuh ratusan tahun bagi Nikita untuk menyembuhkan luka itu dan menguburnya hingga dalam. Karena rasa kesepian yang kembali datang, Nikita mempelajari ilmu sihir milik Ibunya dan berhasil membuat seorang Noblesse imitasi yaitu Emi.
Noblesse memiliki bentuk paling mirip dengan manusia. Jika bangsa elf memiliki telinga panjang dan bangsa vampir memiliki taring, maka bangsa noblesse memiliki rambut putih dan panjang. Rambutnya sangat halus dan bahkan daun yang jatuh akan cepat turun dari atas rambutnya. Tak seperti bangsa elf dan bangsa vampire yang memiliki banyak pasukan dan keturunan.
Bangsa noblesse justru hanya terdiri dari 1 keluarga kecil. Dan seorang Noblesse hanya bisa memiliki 1 anak. Kekasihnya menjadi seorang noblesse terakhir, dan dengan dibunuhnya sang noblesse maka bangsa Noblesse sudah benar - benar habis dari Lacoste. Akibat mulai menjamurnya bangsa manusia, perlahan bangsa elf dan vampir pun ikut tersingkir hingga ketika ratusan tahun berlalu, Lacoste hanya diisi dengan para manusia yang bahkan tak memiliki kekuatan sihir dalam darahnya.
Karena ketamakan manusia pula yang pernah mengetahui jika Lacoste pernah menjadi tempat tinggal bagi bangsa dengan kekuatan sihir alami, manusia mulai mempelajari sihir kuno yang dipergunakan manusia lama untuk beradaptasi dengan lingkungannya di Lacoste, atau lebih tepatnya agar tidak dipandang rendah oleh mereka yang memiliki sihir alami dalam darahnya.
Dan Kota Eyelwe menjadi pusatnya. Karena kota ini dulunya diisi oleh bangsa vampir yang mempekerjakan manusia, akhirnya satu persatu manusia mempelajari ilmu sihir yang membuat kota itu memiliki ratusan bahkan ribuan penyihir. Kota Eyelwe juga diasingkan dan bahkan sempat dihapus dari daftar kota yang masih hidup. Tak heran jika ada orang yang mengaku dari kota ini, sudah pasti akan menjadi perbincangan atau paling buruknya diusir dari tempat kota ia singgah.
"Terima kasih banyak atas makan siangnya, Emi. Maaf aku tidak bisa berlama - lama karena aku harus kembali ke Adarlan," ujar Nikita sembari meletakkan pisau dan garpu miliknya ke atas piring yang telah kosong.
"Apakah anda kembali masuk ke akademi, Nona?" tanya Emi.
"Benar. Ini sudah kali yang ke 6 aku masuk Lorillis. Aku selalu merasa bosan. Ternyata menjadi abadi juga tidak enak. Bagaimana bisa kau bersyukur menjadi abadi?"
"Saya bersyukur menjadi abadi karena bisa melayani anda, Nona. Jika anda tiada, mungkin saya akan segera menyusul anda," jawab Emi.
Nikita hanya menyunggingkan senyumannya, ia tak menjawab. Setelah selesai membersihkan diri, mengisi kekuatan tubuhnya dengan darah serta menyantap daging dalam jumlah banyak, akhirnya Nikita pun keluar dari istananya.
Wanita itu menyadari perkebunan Nephthys yang dulu pernah cantik dan dihiasi oleh bunga kini menghilang. Perkebunan cantik itu juga pada awalnya dibuat oleh Ibunya yang menyukai tanaman. Setelah kepergian sang Ibu dan tak ada lagi tukang kebun, kebun di halaman istana berubah menjadi seperti hutan mati.
Rumput tinggi dan bahkan dedaunan kering memenuhi halaman. Nikita menghela napasnya menyadari perbedaan yang sangat jauh antara dulu dan sekarang. Tapi karena tak mau terlarut kembali dalam kesedihannya, Nikita pun hanya melangkahkan kakinya dan meninggalkan tempat itu.
"Tak ada gunanya aku bersedih. Semuanya sudah berlalu dan berakhir sejak 600 tahun yang lalu," gumamnya.
Nikita melangkahkan kakinya memasuki Dolunay miliknya, kemudian mulai menyalakan mesin kendaraan itu.
"Nona!" pekik Emi yang tiba - tiba muncul dan keluar dari pintu istana.
Nikita menoleh dan melihat Emi yang berlarian ke arahnya.
Sesampainya di hadapan Nikita, Nikita bisa merasakan napas Emi yang tersengal - sengal.
"Ada apa, Emi?" tanya Nikita.
"Sa - saya. Anu!"
Napas Emi masih terdengar memburu, sedangkan Nikita sudah menaikkan sebelah alisnya dan menunggu kata yang keluar dari dalam mulut Emi.
Emi mengulurkan tangannya dan memberikan sebuah tas berwarna cokelat kepada Nikita.
"Apa ini?" tanya Nikita.
Nikita mengambilnya dan melihat isinya. Itu adalah beberapa botol juice buah strawberry dan juga beberapa kantung es batu di dalamnya. Nikita menatap Emi kebingungan, padahal Emi tahu jika Nikita bahkan tidak bisa memakan buah dan sayuran.
"Apa maksudnya ini?"
"I - itu--"
Emi berusaha mengatur napasnya sambil menunduk dan memegangi dadanya. Setelah merasa lebih baik, barulah Emi melanjutkan pembicaraannya kepada Nikita.
"Aku memindahkan beberapa minuman Nona ke dalam sana. Aku khawatir jika Nona terlalu lama tidak kembali dan tidak meminum darah, tubuh Nona akan lemas. Semua darah itu darah segar, jika anda menyimpannya dengan es batu, pasti akan tetap segar sampai 1 bulan ke depan," tambah Emi.
Beberapa waktu lalu Nikita memang tak pernah kembali ke Eyelwe bahkan sampai 5 bulan. Tentu saja hal itu membuat Emi khawatir, dan benar saja. Setelah Emi memaksakan diri pergi ke Wendlyn, ia menemukan Nikita yang sekarat akibat tidak meminum darah. Walau Nikita seorang vampir, sejujurnya Nikita tak pernah berniat meminum langsung darah manusia, meskipun ia tahu bagaimana cara meminum darah manusia secara langsung.
"Terima kasih banyak," ucap Nikita kemudian memeluk Emi hingga wanita itu membelalakan matanya.
"Aku akan meminumnya sampai habis," tambah Nikita.
Nikita melepas pelukan Emi dan bisa melihat Emi yang tersenyum senang mendapat pelukan darinya.
"Kalau begitu aku jalan dulu. Aku akan kembali lagi kemari. Jika kau ingin pergi ke Wendlyn atau Adarlan, kau bisa menggunakan stok keuangan," ujar Nikita.
Bisa dibilang Nikita beruntung karena hingga detik ini, wanita itu tak perlu memikirkan bagaimana caranya mencari uang. Krys meninggalkan begitu banyak harta di ruang bawah tanah. Tak hanya emas, namun dari berlian, ruby dan silver pun ada di dalam sana. Mungkin harta itu cukup hingga ribuan tahun ke depan.
Tak hanya itu saja, Ibunya yang seorang penyihir berhasil membuat perkebunan bunga kristal di ruang bawah tanah. Bunga itu selalu menghasilkan bebatuan cantik yang bisa dijual oleh Emi.
"Baik Nona, saya akan mengingat pesan anda. Tetap jaga kesehatan anda, Nona," ujar Emi.
Nikita terkekeh, "Terima kasih banyak."
Nikita pun memindahkan tas berisikan jus stroberi itu ke kursi belakang kemudian melajukan Dolunay miliknya. Tepat setelah ia keluar dari gerbang istananya, Nikita pun kembali teringat dengan Gerhard yang mungkin saja belum pulang dari rumah tadi.
"Apa dia masih di sana?" gumam Nikita pada dirinya sendiri.
Dolunay yang dikendarai oleh Nikita pun berbelok ke arah rumah dimana Gerhard berada. Setelah tiba di depan rumah yang tampak tak berpenghuni itu, Nikita pun memarkirkan mobilnya.
"Sepertinya dia masih lama," ujarnya.
Satu tangannya terulur dan tiba - tiba sebuah cahaya berwarna merah keluar dari ujung jarinya dan langsung masuk ke dalam tanah yang berada tepat di bawah pagar rumah itu.
Nikita melipat kedua tangannya kemudian memejamkan matanya sambil menunggu Gerhard yang keluar, "Bangunkan aku jika Gerhard keluar dari sana," ujarnya dengan matanya yang terpejam.