18 tahun kemudian . . .
Semenjak berubahnya Sagira menjadi sebuah patung batu yang ditemukan di halaman rumahnya, terlebih tampak memohon kepada seseorang, Gerhard pun tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang Ibu. Meski begitu, orang - orang di sekitar Gerhard tampak mencintai Gerhard tanpa terkecuali.
Sejak usianya yang ke 17 tahun, Gerhard sudah banyak membantu pekerjaan William yang seringkali sakit akibat kelelahan bekerja. Memang benar, usia William sudah menginjak usia renta dan bahkan seharusnya pria itu sudah berhenti bekerja sejak Gerhard berusia 10 tahun. Tapi karena Gerhard hanya memiliki sang Ayah dan uang pun hanya diperoleh dari 1 celah saja, yakni Ayahnya alhasil William sering memaksakan diri untuk bekerja.
Sampai akhirnya pada usia Gerhard yang ke 20 tahun, sang Ayah resmi berhenti bekerja dan pekerjaannya diambil alih oleh Nico. Sedangkan Gerhard tetap menjadi penambang bias dan memulai pekerjaannya dari bawah, alih - alih mengambil posisi pekerjaan sang Ayah yang bisa dibilang jauh lebih bagus, lebih baik dan mempunyai bayaran yang lebih besar dari pada penambang biasa.
Ting !
Ting !
Ting !
Sudah 5 jam berlalu sejak jam terakhir beristirahat, dan Gerhard masih memalu batu - batu untuk mencari bahan bumi yang akan dikumpulkan. Sebenarnya setiap kali Gerhard bekerja, hasil yang ia peroleh lebih dari seharusnya. Setiap orang minimal harus mengumpulkan 1 kg tambang batu bara, sedangkan Gerhard bisa memperoleh hingga 4 kg.
Bukan tanpa alasan Gerhard melakukan itu, tentu saja itu karena Gerhard menginginkan gaji lebih. Dia menganggap di usianya yang muda, seharusnya ia bisa memperoleh segala sesuatunya lebih banyak. Terlebih para penambang di sana terbilang sudah cukup tua dengan rata - rata usia mereka 30 sampai 40 tahun ke atas.
"Sudah cukup bekerjamu hari ini, Gerhard," ujar salah seorang pria yang sedang terduduk tak jauh dari tempat Gerhard menambang.
Gerhard menoleh dan tersenyum menatap pria itu, bukannya berhenti, Gerhard justru tetap mengadukan palunya dengan tanah dan mencari batu bara di dalam sana, "Tidak apa, aku masih bersemangat," ujar Gerhard.
Pria itu hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari duduknya, berjalan mendekati Gerhard dan menepuk bahu Gerhard sebelum akhirnya pergi meninggalkan Gerhard.
Kini hanya tersisa Gerhard seorang diri yang menambang di lorong itu. Karena berada di lorong juga, membuat Gerhard menjadi tidak tahu apakah di luar sana sudah cukup gelap atau justru masih terang dengan kehadiran matahari.
Merasa bahunya sudah lelah dan tangan yang ia gunakan sudah kebas, barulah Gerhard berhenti dan duduk sejenak. Sambil mengusap peluh keringatnya, Gerhard menatap langit - langit lorong tanah tempat ia bekerja.
"Ternyata aku sudah terbiasa bekerja di sini," gumam Gerhard.
"Gerhard!"
Tiba - tiba terdengar suara teriakan seseorang dari luar terowongan itu dan membuat Gerhard tersentak akibat suaranya yang nyaring dan menggema. Gerhard bisa menebak jika itu adalah suara Nico.
Karena Nico bekerja menggantikan posisi Ayahnya, otomatis Gerhard selalu berada dalam pengawasan Nico tanpa terkecuali. Jika bukan karena Nico, mungkin Gerhard akan selalu pulang larut dan lembur demi bekerja.
Gerhard pun berdiri dan membalas teriakan Nico yang memanggilnya, "Iya, aku segera datang!" balas Gerhard sambil berteriak.
Dengan wajah tersenyum bahagia meski peluh keringat membasahi wajah dan bahkan pakaian yang ia gunakan, Gerhard pun melangkah keluar dari terowongan itu sambil mendorong gerobak berisikan batu bara yang sudah ia peroleh keluar dari terowongan.
Benar saja, setibanya di luar terowongan, Gerhard langsung bertemu dengan Nico yang sudah berkacak pinggang karena menunggu Gerhard. Gerhard meletakkan gerobaknya ke tempat penimbangan, lalu memasukan semua hasil tambangannya dan menuliskan namanya.
"5 kg? Aku rasa lama - lama kau bisa memperoleh 10 kg dalam satu hari," sahut Nico sambil menyilangkan tangannya di depan d**a menatap timbangan yang menunjukan angka 5 kg.
Gerhard hanya tersenyum sambil menyeka keringatnya, "Sebenarnya itu targetku. Tapi cukup sulit. Mengingat baru 5 kg saja, hari sudah berubah menjadi gelap. Mungkin jika 10 kg, hari akan berubah lagi menjadi pagi," ujar Gerhard.
"Ayahmu pasti akan marah padaku jika kau sampai tidak pulang karena bekerja," balas Nico sambil menggelengkan kepalanya.
Hingga detik ini, Nico dan Laura tidak memiliki anak. Sebenarnya mereka berbohong kepada Sagira dan William kala itu yang mengatakan dirinya memutuskan menunda anak dan ingin menikmati waktu berdua. Rupanya Laura memiliki penyakit lain yang menyebabkan dirinya sulit memiliki keturunan. Karena itu, Nico dan Laura menganggap Gerhard sebagai anak mereka sendiri.
"Kalau begitu ayo kita pulang, hari sudah semakin larut," ajak Nico.
Gerhard menyusul Nico yang telah berjalan lebih dulu dan tertawa. Sepanjang perjalanan menuju rumah mereka, mereka terus bercengkarama dan tertawa. Tak jarang, Nico juga sering menyindir Gerhard kecil yang menurutnya lebih tampan dibandingkan dengan Gerhard dewasa.
Setelah berjalan selama 20 menit, akhirnya mereka tiba di depan rumah mereka masing - masing. "Terima kasih banyak, Om. Jika Om Nico tidak memanggilku, mungkin aku akan tetap bekerja sampai pagi," ujar Gerhard.
Nico mengacak rambut Gerhard asal, "Jika kau masih bekerja sampai lupa diri, aku pastikan kau menggunakan bom waktu di tangan yang akan meledak jika tidak selesai bekerja," balas Nico.
Gerhard hanya tertawa dan akhirnya mereka berpisah dengan masuk ke rumah mereka masing - masing untuk beristirahat dan kembali bekerja besok. Setibanya di depan rumah, Gerhard sempat merasa ada yang aneh, karena pintu rumahnya terbuka dan lampu ruang tamunya menyala.
Tok ! Tok ! Tok !
Gerhard pun mengetuk pintu sebelum akhirnya masuk ke dalam rumahnya. Dan benar saja, ada 2 orang tamu dengan pakaian rapi di ruang tamu rumahnya. Gerhard juga bisa melihat sosok William yang baru saja datang dengan 2 gelas cangkir untuk kedua orang itu.
"Sudah pulang, Nak?" sapa William saat melihat Gerhard yang berdiri di ambang pintu.
Gerhard hanya menganggukan kepalanya tanpa menjawab. Ini adalah pertama kali baginya melihat 2 orang tamu yang datang ke rumah mereka selain Nico, Laura dan Melior. Biasanya hanya 3 orang itu saja yang bertamu ke rumahnya. Namun kali ini berbeda, tamu yang datang berpakaian rapi seolah - olah mereka bekerja di perkotaan.
Kedua orang itu tampak berdiri dan menyapa Gerhard yang baru saja pulang, sebenarnya salah satu dari pria itu hendak memeluk Gerhard, tapi Gerhard menolak dengan alasan tubuhnya bau keringat karena baru saja selesai bekerja.
"Mungkin sebaiknya aku mandi dulu supaya lebih enak," ujar Gerhard.
"Boleh. Kami akan menunggu," ujar salah seorang pria lain dan tersenyum kepadanya.
Gerhard merasa canggung melihat orang kota yang datang ke rumahnya dan bahkan rela menunggu Gerhard mandi. Tak lama setelah Gerhard berkata demikian, Gerhard langsung pergi menuju kamar mandi dan membilas dirinya. Tak lupa, pria itu juga menyingkirkan keringat yang berada di atas kepalanya.
Usai membilas diri, Gerhard menuju ke kamarnya untuk mengambil beberapa pakaian baru, karena tentu saja ia tak ingin membuat para tamu di rumahnhya merasa tidak nyaman. Setelahnya, barulah Gerhard kembali dengan penampilan yang lebih segar dan segera mengambil duduk di samping William.
Gerhard bisa melihat beberapa kertas yang ada di atas meja dan menatap kedua orang itu, kemudian menatap sang Ayah dengan tanda tanya. Begitu pula dengan William yang ikut menatap Gerhard.
"Ayah mau menjual rumah ini?" tanya Gerhard yang langsung berspekulasi jika William ingin menjual rumah yang mereka tinggal.
Kedua orang di sana langsung gelagapan mendengar ucapan Gerhard yang salah mengartikan tujuan mereka datang ke rumah Gerhard.
"Tentu saja tidak. Mereka datang kemari ingin menemuimu," ujar William.
Gerhard pun menatap kedua orang itu secara bergantian dan satu orang yang tadi ingin memeluknya tampak menyodorkan kertas itu ke hadapan Gerhard. Tangan Gerhard mengambil kertas yang diberikan kepadanya dan membaca isinya.
William dan kedua orang itu hanya menatap Gerhard, menunggu reaksi yang muncul dari wajah pria berusia 25 tahun itu. Sampai akhirnya Gerhard selesai membaca dan menurunkan kertas yang tadi menutupi wajahnya dan menatap 3 pria lain yang ada di ruangan itu secara bergantian.
"Benarkah ini?" tanya Gerhard.
William hanya menganggukan kepalanya.
"Tuan Gerhard Alastair, anda selama ini menjadi salah satu penduduk Adarlan yang berhak mendapatkan beasiswa untuk meneruskan pendidikan anda. Seluruh pendidikan anda akan ditanggung oleh pemerintah," ucap salah seorang pria berseragam itu.
Gerhard mengerenyitkan dahinya saat apa yang ia baca baru saja diucapkan kembali oleh pria berseragam itu. Di Lacoste memang ada beberapa tingkatan pendidikan, yang paling bawah biasanya dimulai dari anak berusia 7 tahun sampai dengan 17 tahun yang disebut dengan Afsin, di pendidikan awal mereka akan dilatih untuk membaca dan menulis bahkan beberapa tugasnya menyuruh mereka untuk membuat berita dan karangan tulisan.
Namun di usianya yang ke 7 tahun, Gerhard sudah bisa membaca dengan lancar dan menulis dengan lihai. Itu pula yang menyebabkan Gerhard tidak didaftarkan ke Afsin selain karena William dan Sagira tak memiliki uang yang cukup untuk membiayai pendidikan Gerhard. Sedangkan di usia 18 sampai 24 tahun ada jenjang pendidikan Marjorie yang mengajarkan mereka bagaimana caranya beretika dan memperoleh pekerjaan.
Di saat orang - orang seusia Gerhard sibuk bersekolah, Gerhard justru sudah mendapatkan pekerjaannya sebagai penambang. Dan barulah di usia jenjang 25 tahun ke atas, terdapat pendidikan Lorillis yang mengajarkan mereka untuk mengenal Lacoste. Sebenarnya Gerhard tak membutuhkan itu, terlebih Gerhard sudah mendapatkan semua informasi mengenai Lacoste dari buku yang ia baca sejak 19 tahun yang lalu.
"Aku rasa tidak perlu, aku sudah tahu semuanya," ucap Gerhard menolak tawarannya.
Kedua pria berseragam itu kebingungan, mereka menatap William dengan tatapan memohon. Terlebih, orang meminta Gerhard untuk masuk ke Lorillis adalah Aldrich, sang ketua Lorillis untuk di Adarlan.
"Nak, coba kau pikirkan baik - baik. Masa depanmu akan cerah jika setidaknya memiliki sertifikat pendidikan," ujar William dengan tatapan sendunya.
"Tapi, Ayah. Jika aku bekerja, siapa yang akan merawat Ayah? Terlebih tak ada yang bisa menjadi tulang punggung di rumah ini," ujar Gerhard.
Lalu salah seorang pria berseragam itu memberikan amplop berwarna coklat kepada Gerhard, "Tuan Aldrich menyiapkan uang sebanyak 1.000.000 wyon untuk menghidupi keluarga Alastair. Uang ini lebih dari cukup dan bisa menutupi biaya kehidupan Gerhard sampai 3 tahun ke depan," ucapnya.
Gerhard tersentak mendengar jumlah angka fantastis dari yang diberikan. Padahal dalam satu hari, Gerhard dan William hanya membutuhkan 50 wyon dan tak pernah lebih dari 100 wyon. Yang artinya, uang 1000.000 wyon, adalah lebih dari cukup.
"Karena Gerhard harus bolak balik ke kota, pasti akan membutuhkan biaya lebih, jadi seetengahnya bisa mencukupi untuk kebutuhanmu selama mengemban pendidikan di Lorillis," ujar mereka.
Gerhard menatap ke arah William dan bisa melihat Ayahnya yang menganggukan kepalanya.
"Pergilah, Nak. Selama ini kau tak pernah mendapat pendidikan apapun karena kami miskin. Lebih baik aku melepasmu sekarang agar kau bisa mendapatkan kehidupan yang layak," ujar William.
Mendengar ucapan William yang meminta Gerhard menerima tawaran untuk masuk ke Lorillis alhasil Gerhard menyetujui permintaan sang Ayah. Dan kedua orang yang datang menyampaikan berita ke Gerhard pun turut senang karena pria yang selama ini menjadi bahan pembicaraan di Lorillis terutama Aldrich yang selalu menginginkan Gerhard masuk ke tempatnya, akhrinya bisa terwujud dan segera terlaksanakan.