[21] The Hermit

1562 Words
Beberapa jam sebelumnya . . .  Dolunay yang dikemudikan oleh Nikita berhenti di depan sebuah gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi. Tak ada seorang pun yang menyambutnya, hanya ada keheningan dan suara burung hantu yang saling bersahutan di tengah suasana gelap tempat itu. Nikita turun dari Dolunay yang ia naiki kemudian melangkahkan kakinya dan membuka gerbang itu seorang diri hingga mendapatkan ukuran yang pas agar bisa dilewati oleh Dolunay miliknya. Tangan Nikita yang baru saja selesai mendorong gerbang itu, tampak kotor akibat debu dan juga tanah yang menempel pada permukaan tanah.  Srek ! Srek ! Kedua tangan Nikita menepuk beberapa kali, berusaha menghilangkan jejak kotor yang menempel di tangannya. Merasa jauh lebih bersih daripada yang sebelumnya, Nikita pun memutar tubuhnya dan kembali ke dalam Dolunay miliknya. Satu tangannya ia gunakan untuk mendorong tuas yang membuat benda itu bergerak maju ke depan. Sama seperti sebelumnya, ketika Dolunay miliknya berhasil melewati gerbang itu, Nikita kembali turun dan menutup gerbang hitam yang tampak kotor itu. Tak ada rumah lain yang tinggal di dekat tempat Nikita berada. Yang ada hanyalah hutan dan kegelapan yang selalu menjadi teman setianya di sana. Usai menutup gerbang kembali, Nikita pun kembali masuk ke dalam Dolunay miliknya. Kemudian kembali melajukan Dolunay itu mengikuti jalan yang tertutup oleh daun - daun kering dan juga lumut. Sepanjang perjalanan, Nikita hanya terfokus pada jalanan di depan matanya, ia sama sekali tak menghiraukan kondisi gelap dan sepi di tempat itu. Sampai akhirnya, ia tiba di depan sebuah rumah. Tidak, itu bukan rumah. Dengan bentuk yang sangat besar, dan di d******i dengan cat berwarna hitam, tempat itu layak disebut sebagai istana. Namun tak seperti kebanyakan istana yang memiliki banyak prajurit dan setiap kedatangan orang yang disambut, tempat ini sangat berbeda jauh. "Selamat datang di Kerajaan Nephthys," gumam Nikita sambil melangkah dari Dolunay miliknya menuju gerbang pintu berwarna hitam yang menjulang tinggi dengan posisi tertutup. Tak seperti bagian pagar depan sana yang dibuka secara manual oleh Nikita, wanita itu kini mengulurkan tangannya. Sebuah cahaya merah senada dengan warna rambutnya tiba - tiba menyembul keluar.  Cniiittt ! Brugh ! Pintu istana yang semula tertutup tebruka lebar hanya dengan satu uluran tangan Nikita. Senyuman manis terukir di sudut bibir wanita itu. Kakinya pun kembali melangkah ke dalam, dan tepat setelah dirinya masuk, pintu yang tadi dibuka olehnya langsung kembali tertutup dan bahkan hanya meninggalkan jejak debu di sana. Nikita memejamkan matanya, mengambill napas dalam dengan kedua tangan yang ia buka lebar ke udara. Beberapa saat kemudian, lampu - lampu yang ada di dalam tempat itu menyala satu persatu. Hingga tempat yang semula gelap gulita berubah menjadi terang benderang. Nikita kembali membuka matanya perlahan, sorot matanya berubah. Warna merah pada bola matanya menjadi semakin terang dan mengkilap. Gigi taring miliknya tiba - tiba memanjang dan warna bibirnya memerah seperti buah ceri yang baru saja dipetik dari pohonnya. "Aku merindukan jati diriku yang sebenarnya!" ujar Nikita. Nikita Talfaern. Seorang wanita berusia 737 tahun yang telah hidup berdampingan manusia dan menyamar menjadi salah satu di antaranya. Tak ada yang tahu jika wanita bermata merah itu merupakan salah satu keturunan bangsa vampir yang tersisa. Ibunya merupakan seorang manusia biasa, sedangkan sang Ayah merupakan keturunan asli bangsa vampir dan seorang raja vampir bernama Krys Talfaern.  Kelahiran Nikita tentu saja membuat heboh seluruh negeri Lacoste terutama bangsa vampir yang menganggap kelahiran Nikita m*****i bangsa vampir karena memiliki seorang keturunan manusia - vampir yang akhirnya dikenal dengan nama Mongrel, sebutan Mongrel pun diberikan kepada setiap keturunan campuran antar bangsa, entah itu manusia dengan elf, atau pun elf dengan bangsa vampir.  Namun sayangnya tak pernah ada Mongrel lain yang terlahir dari bangsa manusia dan elf atau elf dan vampir. Hanya bangsa vampir saja yang pernah melintas menikahi seorang manusia. Sebetulnya Nikita adalah Mongrel kedua yang lahir, namun Mongrel pertama hilang tanpa jejak bahkan sebelum Nikita dilahirkan ke muka bumi. Sama seperti manusia, bangsa vampir pun memiliki kerajaannya sendiri. Seperti keluarga Talfaern yang memilih mendirikan istana indahnya di Kota Eyelwe. Dulu Kota ini sangat ramai dan kehidupannya seperti kota normal lainnya. Namun sejak kematian Krys dan semakin menjamur para manusia dengan ilmu sihir mereka, Kota Eyelwe pun perlahan mati dan hanya menyisakan kegelapan di dalamnya. "Selamat datang kembali di rumah anda, Ratu Nikita," ucap salah seorang pelayan wanita dengan pakaiannya yang tampak kusut dan kotor. "Halo, Emi," sapa Nikita saat melihat seorang wanita yang baru saja datang menghampirinya. Emi adalah pelayan setia Nikita yang mengurusnya sejak bayi. Wanita itu hanyalah seorang manusia biasa, namun berkat bantuan Nikita serta kesetiaan yang ditunjukan oleh Emi kepadanya, Nikita pun memberikan sebuah mantra sihir yang membuat wanita itu tetap berada di usianya yang ke 35 tahun, tak pernah menua dan tak akan pernah mati. Jika dihitung dari umur, usia Emi saat ini sudah menginjak 772 tahun. Meski Emi hanyalah seorang manusia biasa, nyatanya Nikita berhasil membuat wanita itu tetap hidup dan menjadi pelayan setianya di Kerajaan Nephthys. "Mari, Nona. Saya sudah menyiapkan air panas untuk anda," ucap Emi kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Nikita. Nikita pun melangkahkan kakinya mengikuti Emi menuju ke lantai 2 tempat dimana kamarnya berada. Sesampainya mereka di depan sebuah pintu kayu besar yang tertutup, Emi pun membukanya dengan sebuah dorongan kecil. Emi langsung melangkahkan kakinya kembali menuju sebuah kamar mandi, tempat dimana ia telah menyiapkan air panas untuk Nikita membersihkan diri. "Saya akan siapkan darah untuk anda sambil berendam, Nona," ucap Emi. "Apa itu darah segar?" tanya Nikita. Sambil menundukan kepalanya, Emi pun menjawab, "Tentu saja, Nona. Baru saja saya tadi pagi pergi untuk mendapatkan stok darah." "Bagus, kalau begitu tolong siapkan 2 kantung," titah Nikita. Emi hanya mengangguk mengerti kemudian berjalan mundur keluar dari kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi. Nikita melihat ke arah cermin yang memperlihatkan dirinya. Sambil bercermin Nikita kembali mengingat sosok Gerhard yang baru saja ia antar ke depan sebuah rumah. "Apa Ibunya benar - benar ada di sana?" gumam Nikita. Karena Nikita adalah Mongrel dan memiliki setengah darah manusia dalam tubuhnya, wajar saja jika Nikita memiliki bayangan pada cerminnya. Ibu Nikita sendiri -- Runa Talfaern adalah seorang manusia dengan ilmu sihir yang luar biasa. Bisa dibilang Runa menjadi pencetus dan penyebab para penyihir berdatangan dan menempati Eyelwe. Akibat Runa yang menguasai sihir dan mantra - mantra dengan kekuatan besar, Nikita pun terlahir dengan kemampuan sihir alami. Butuh waktu ratusan tahun bagi Nikita untuk bisa beradaptasi dengan manusia dan bahkan setiap 30 tahun sekali, Nikita akan memilih orang tua angkat untuknya dan harus mampu berperan seolah - olah Nikita adalah anak mereka. Untung saja Krys meninggalkan kekayaan yang luar biasa banyak untuk Nikita. Tak hanya itu, Nikita juga mengandalkan koneksi dari Emi yang selalu menyediakan kehidupan yang lebih layak dari ini. Seperti halnya sekarang, Emi lah yang mengurus setiap pasokan darah yang dikonsumsi oleh Nikita. Meski Nikita hanya setengah vampir, nyatanya Nikita tetap membutuhkan darah manusia. Biasanya Emi membeli darah tersebut dari pusat kesehatan yang memang menyediakan stok darah. Nikita hanya menyukai darah segar, oleh karena itu Emi setiap pagi secara khusus pergi meminta darah baru sebanyak 5 kantung untuk Nikita. Setelah melepaskan pakaian yang menempel pada tubuhnya, Nikita pun berjalan mendekati bak mandi berisikan air hangat yang telah disiapkan oleh Emi. Wanita itu langsung masuk ke dalam. Sensasi hangat yang ditimbulkan oleh air itu membuat otot pada tubuh Nikita menjadi lebih rileks dari sebelumnya. "Ah ini nyaman sekali," gumamnya dengan mata yang terpejam sambil menikmati kehangatan dari air yang membasahi tubuhnya. Sama seperti para vampir yang selalu alergi dengan sinar matahari, begitu pula dengan Nikita. Nikita masih sensitif terhadap matahari, itu sebabnya jika di hari yang sangat terik, wanita itu memilih menggunakan jubah silver miliknya untuk melindunginya dari sengatan matahari. Jika dirasa tidak terlalu terik, Nikita biasanya akan menggunakan sihirnya untuk melindungi tubuhnya dari matahari. Sambil berendam di dalam bak yang hangat, Nikita lagi - lagi terpikirkan sosok Gerhard. Manusia tampan yang menurutnya membuatnya menjadi tertarik dan bahkan ingin berusaha mendekatinya. Selama 200 tahun hidup menyamar sebagai manusia, Nikita tak pernah tertarik pada seorang manusia. Nikita bahkan lebih sering bermain layangan. Dimana ia akan menarik para pria lalu melepaskannya jika sudah merasa bosan. Namun Gerhard? Tidak seperti itu. Wajahnya yang tampan menjadi candu bagi Nikita. "Apa aku coba mendekatinya saja? Lagi pula dia hanya manusia biasa kan?" tanya Nikita kepada dirinya sendiri. Nikita tertawa pelan membayangkan bagaimana dirinya bisa jatuh cinta pada sosok Gerhard Alastair. Si pria miskin dari Desa Solandis yang berhasil merebut hatinya. "Aku penasaran bagaimana wajah Ayah dan Ibunya sampai ia memiliki wajah setampan itu," gumamnya lagi. Merasa air dalam bak mandinya semakin dingin, Nikita pun akhirnya keluar dari dalam sana dan langsung mengenakan handuk yang ada. Setelahnya, Nikita mengambil pakaian miliknya dari dalam lemari kayu yang telah usang. Tepat setelah ia mengenakan pakaiannya, Nikita pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar miliknya. Kamar itu tampak bersih meski tak pernah ia tinggali. Sejak menjadi manusia, Nikita hanya berkunjung sesekali dan tidur paling lama 2 malam di sana. Selebihnya, Emi lah yang menempati Nephthys dan membersihkan setiap sudut istana itu. Terkadang Emi akan meminta bantuan manusia lain untuk membersihkan Nephthys, dan setelahnya wanita itu akan membayarnya dengan daging domba dari Wendlyn. Di dalam daging domba itu, Nikita menambahkan mantra penghilang ingatan. Dimana manusia yang memakannya otomatis akan melupakan kejadian yang terjadi selama berada di Nephthys. Keberadaan Nikita dan Emi seolah - olah hanya menjadi misteri. Bahkan karena letak Kerajaan Nephthys yang ada di ujung Eyelwe, membuat kebanyakan orang tidak tahu jika istana itu sebenarnya ada dan masih berdiri dengan kokoh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD