Badan gue rasanya panas dingin waktu mobil Prabu berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar yang tinggi. Waktu memasuki gerbang perumahan ini, jantung gue rasanya kayak udah mau copot aja. Bayangin, ngadepin Prabu aja gue masih butuh kekuatan lebih dari pengendali air, angin, api, dan tanah. Gimana ketemu keluarga dia? Kekuatan Avatar belum tentu bisa membantu gue untuk kasus ini.
"Turun yuk!" Prabu melepas sabuk pengaman lantas keluar dari mobilnya. Sedang gue, exhale inhale sendiri dan tetap bergeming. Tapi, mau gak mau tangan gue harus membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil saat Prabu udah membukakan pintu mobil sisi gue. "Butuh bantuan?" tawarnya yang gue bales dengan senyum dan gelengan.
Kami memasuki hunian luas dan asri ini. Telapak tangan gue bahkan sudah berkeringat. Prabu menjinjing tas spunbond berisi hantaran yang gue siapin dari kost tadi. Dia lantas mengucap salam dan seketika banyak mata yang menyambut kedatangan kami.
Samar, gue mengembuskan napas. Tenang Feby, tenang. Anggep aja ini cuma main ke rumah orang. Melangkah memasuki ruang tamu, gue tersenyum canggung sambil mengucap "Selamat malam," dengan suara lirih.
Seorang wanita paruh baya yang gue yakin seyakin-yakinnya itu nyokapnya Prabu, menatap gue lekat lantas mendekat dan menyambut. Kami berkenalan setelah Prabu memperkenalkan gue sebagai orang yang sedang dekat dengan dia. Disini gue antara sreg dan gak sreg. Satu sisi, gue seneng dapet pengakuan dari cowok yang gue taksir. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang membuat gue kurang nyaman dengan sikap Prabu yang kayaknya terlalu buru-buru.
"Terimakasih. Ini banyak sekali." Mamanya Prabu kelihatan seneng banget waktu lihat mangga dan jambu yang gue bawain. "Ini jambunya yang gak ada bijinya itu, ya? Dibikin manisan enak banget. Shinta pasti suka." Dia lantas berjalan ke meja makan dan membuka semua yang gue bawa. "Mangganya juga harum. Kebetulan, bisa kita buat jus sekarang."
Reflek gue tersenyum saat melihat kalau mamanya Prabu ini tipikal yang welcome banget sama pendatang. Beliau bahkan mengucapkan banyak terimakasih saat melihat bumbu pecel. Katanya, papanya Prabu itu lagi jadi vegetarian. Bumbu pecel ini membantu dia banget untuk menyiapkan setidaknya menu sarapan suaminya.
Setelah membantu mamanya Prabu membuat jus mangga, gue berjalan dengan satu teko jus menuju taman belakang. Disana Prabu lagi sibuk kipas-kipasin sate bareng seorang pria yang gue yakin adek iparnya dia. Sedang si bumil, gue lihat lagi duduk sambil nyemil rujak mangga muda yang dibuat dari mangga yang gue bawa juga.
"Thanks ya Feb, Mangganya mengkel dan enak banget." Gue tersenyum saat Shinta mengucapkan kalimat ini. "Akhirnya Mas Prabu bawa cewek juga kesini." Dia bahkan tertawa lirih sambil tetap mencocol sambal pada potongan mangga. Tapi ..., sorot mata Shinta ke Prabu tuh dalem banget. Seakan Shinta menatap kakaknya penuh harap juga prihatin. Ah tau lah, mungkin emang ngenes sih si Prabu itu. Sudah dilangkahi, belum punya calon pula sampai saat ini.
Eh, dilangkahi? Kira-kira, jika Minara benar mendului gue nikah, apa tatapan mata dia ke gue bakal begitu juga? Aduh sorry, Feby anti dikasihani.
"Sudah matang, sayang." Suami Shinta tuh charming banget menurut gue. Dia murah senyum dan gak segan menunjukkan cintanya di depan semua orang.
Prabu juga gitu, kok. Dia bersikap ramah dan hangat selama kami makan malam. Bedanya, tidak ada kontak fisik diantara kita. Gue berbincang banyak hal remeh bareng Shinta dan mama Prabu. Mereka asyik. Sehingga rasa gugup yang tadi mendera gue, menguap tak bersisa.
"Prabu itu gak seperti Shinta yang suka benget belajar. Hamil gede gini, masih gak mau cuti kuliah S3-nya." Mama Prabu tersenyum sambil merangkul pundak putrinya. Duh, jadi kangen ibu.
"Biar cepet jadi Doktor, Ma," jawab Shinta. "Biar bisa jadi dosen ahli juga," lanjutnya dan gue melihat senyum bangga di wajah papanya Prabu.
"Kalau Febby, dulu kuliah dimana?" papanya Prabu menatap gue.
This is it! Ini saatnya gue blak-blakan membuka jati diri gue. Kalau Prabu yang katanya cuma sarjana dari UI dan menjadi pegawai tetap perusahaan pertambangan ternama di Indonesia, gimana respon keluarga Prabu jika tau bahwa gue ...
"Feby cuma lulusan SMA, Om." Gue tersenyum dan menjawab dengan enteng. Gue gak boleh minder hanya karena gue tidak punya gelar. Toh, tanpa gelar, gue bisa bekerja kan?
"SMA mana?" Ini mama Prabu yang tanya.
"Di kota kelahiran Feby. Ngawi, Jawa Timur," jawab gue bangga. "Feby anak sulung dari dua saudara. Feby dan adik Feby tidak kuliah. Kami memilih langsung bekerja usai lulus SMA. Saat usia delapan belas, Feby diterima bekerja jadi admin di sebuah institusi pendidikan bahasa inggris. Dari sana, Febby belajar bahasa inggris dan bicara secara otodidak. Sampai sekarang sudah pindah ke perusahaan percetakan sebagai marketing dan menjadi vendor Binara Mining."
Gak cuma keluarga Prabu yang mendadak hening dengan mata yang menatap gue, dengan sorot mata yang gak bisa gue baca semua. Prabu pun juga terlihat kaget dengan kenyataan bahwa pendidikan gue ternyata tidak setinggi yang dia kira.
Gue tersenyum dan melanjutkan penjelasan tentang diri gue. "Bapak Feby petani. Beliau ada sawah dan kebun. Mangga serta jambu yang Feby bawa tadi, adalah hasil kebun kami. Sedang Ibu Feby, berjualan nasi pecel di pasar. Bumbu pecel tadi, buatan Ibu Feby. Ibu ada kios dan membuka depot pecel kecil disana. Minara, adik Feby, membantu Ibu kami berjualan di pasar. Siang hari saat depot pecel sudah tutup, Nara akan membuat kue untuk dijual."
Semua masih diam. Mungkin merasa wow ada cewek sekelas ART mereka gabung makan malam. Tapi gue, Noura Febiola, gak akan pernah merasa minder hanya karena status pendidikan dan kondisi keluarga gue yang sederhana.
"Lalu ..., kenapa kamu bisa sampai Jakarta?" tanya mama Prabu dengan wajah antara penasaran dan ... kayak kena zonk prank gitu tau anaknya bawa cewek dengan kualitas super rata-rata kayak gue.
"Feby beda dengan Nara. Jika Nara lebih suka membuka usaha membuat kue dan bercocok tanam bonsai, Feby suka bekerja kantoran. Yah ... meski bukan kantor besar seperti Binara." Gue menjelaskan dengan santai sambil tetap menyesap jus mangga buatan gue tadi. "Yah ..., alhamdulillah setelah delapan tahun jadi pendatang ibu kota, Feby bisa menabung sedikit-sedikit dan mandiri."
"Pendapatan kamu jadi marketing ...," gumam Shinta dengan gestur sungkan, tetapi mata penuh penasaran. Gue tahu, pasti ada pergolakan karena tanya soal hal paling pribadi.
"Kecil, Mbak." Gue menjawab enteng. "Tapi kalau omsetnya mencapai target, Feby bahkan bisa beli mobil. Meskipun bekas," jawab gue sambil senyum sok malu-malu. "Tapi Feby bersyukur atas pencapaian Feby sejauh ini. Buat Feby, bekerja bukan hanya soal mencari Rupiah, tapi juga tentang mengembangkan dan menemukan dimana passion Feby dan menemukan banyak teman serta rekan yang asyik."
Gue melihat Prabu tersenyum menatap gue. Matanya juga teduh. Entah kenapa, gue kok jadi hangat ya lihat dia.
"Orang tua kamu mendukung?"
Gue mengangguk menjawab pertanyaan papanya Prabu. "Bapak dan Ibu demokratis tentang keinginan putrinya. Orang tua Feby hanya menekankan putri-putrinya untuk kami selalu menjaga diri. Apalagi di kota besar seperti ini."
Hening. Kayaknya mereka bener-bener amazing sama gue. Emang, gue aneh ya?
"Keluarga Feby masih kolot, sih. Maklum kami berasal dari kota kecil dengan pola pikir yang masih konservatif. Itu sebabnya, Feby juga menggenggam prinsip itu meski tinggal di kota besar."
Selesai mengucapkan itu, gue merasa suasana mendadak aneh. Anehnya lagi, keanehan itu justru berasal dari Prabu sendiri. Gue baru sadar, sejak tadi dia menatap gue dengan binar yang dalem banget. Gue bahkan gak bisa baca apa maksud dia menatap gue seperti itu.
Untungnya suami Shinta memecah keanehan yang sempet terjadi sejak gue mengucapkan tentang prinsip gue yang menjaga diri itu. Memangnya salah, ya? Entahlah. Yang penting, makan malam kami berlanjut sampai tak terasa sudah jam sembilan malam.
Gue bukan cinderella. Tapi gue males jalan berdua sama cowok sampe semalam ini. Kalo sama tim marketing EazyPrint, nongkrong sampe subuh juga gue iyain. Tapi kalau sama cowok, gue masih keingetan bapak di kampung. Gue gak mau sesuatu terjadi dan membuat bapak stress nantinya. Amit-amit.
Tepat pukul setengah sepuluh, gue minta pamit pulang. Prabu mengantar gue balik ke kost dan ... tidak ada obrolan apapun sepanjang perjalanan pulang. Asumsi gue, dia mungkin zonk waktu tau ternyata gue se-standart dan se-kampung itu. Gue juga gak tertarik untuk mencoba membuka obrolan sama dia. Entahlah, gue akui gue kagum dan suka sama dia. Tapi ..., gue juga membatasi hati gue agar terlindung dari patah hati.
"Terimakasih untuk makan malamnya. Keluarga Bapak baik banget," basa-basi gue saat mobil Prabu udah sampai depan pagar kost. "Maaf kalau tadi Feby ada salah bicara dan sikap."
Prabu mengangguk. gerakan gue yang lagi buka pintu mobil terhenti waktu Prabu memanggil nama gue. Sontak, gue menoleh ke dia dan memasang raut tanya.
"Feby, kira-kira kapan saya bisa bertemu orang tua kamu?"
Lah, kok jadi bawa-bawa ibu sama bapak gue?
*********