Ketenangan yang Menyesatkan

1624 Words
Arman terbangun dari tidurnya dengan perasaan segar yang sangat jarang dirasakannya. Selama beberapa minggu terakhir, tidur nyenyak adalah hal yang langka. Mimpi buruk yang biasanya menghantui tidur malamnya tidak datang kali ini. Ia merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku, memperlihatkan d**a bidang dan perut rata yang berkilauan karena cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela. Dengan cepat, Arman bersiap-siap untuk hari yang panjang. Saat ia menuruni tangga, Bima sudah menunggu di depan rumah dengan mobil yang siap membawanya ke kantor. Arman hanya mengangguk singkat, lalu masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, ia menerima jadwal hari itu dari sekretarisnya. "Pagi ini, Anda memiliki rapat dengan tim dekorasi untuk persiapan ulang tahun perusahaan," kata Bima. Setibanya di kantor, Arman langsung menuju ruang rapat. Semua orang di sana segera menghentikan obrolan mereka dan duduk tegap, menyadari kehadiran bos besar. Arman memulai rapat dengan menilai presentasi dari tim dekorasi. "Tidak." geramnya dengan nada dingin. "Ini dibawah standar saya. Kalian punya waktu satu minggu untuk memperbaiki ini." Semua orang terdiam, merasa tegang di bawah tatapan tajam Arman. "Saya ingin sesuatu yang memukau, yang mencerminkan kejayaan perusahaan ini. Jika tidak bisa, cari pekerjaan lain," tambahnya dengan nada mengancam sambil keluar dari ruang rapat. Setelah rapat selesai, Arman kembali ke ruang kantornya. Di sana, Clara sudah menunggunya dengan berkas-berkas laporan pemasaran perusahaan. Clara, dengan blus sutra merah dan leher V yang dalam sehingga memperlihatkan sedikit belahan dadanya, berdiri dan tersenyum lembut saat Arman masuk. "Selamat siang, Pak Arman," sapa Clara dengan nada yang penuh percaya diri. "Saya punya laporan pemasaran yang ingin saya bahas dengan Anda." Arman mengangguk dan duduk di kursinya. "Baik, Clara. Mari kita lihat laporannya." Clara berjalan mendekat, menyodorkan berkas tersebut sambil menjaga kontak mata dengan Arman. Arman merasakan gerak-gerik Clara, namun memutuskan untuk mengabaikannya. Clara duduk di tepi meja Arman, membuat jarak antara mereka sangat dekat. Rok pensil hitam yang dikenakannya jatuh tepat di atas lutut, membalut pinggul dan paha Clara dengan sempurna. Bibirnya yang merah dan penuh tampak begitu menggoda, memancarkan daya tarik yang sulit diabaikan. "Pak Arman," Clara berbisik dengan nada yang tenang dan tegas, "saya berharap laporan ini bisa memuaskan Anda." Arman mendongak, menatap mata Clara dengan tajam. "Clara, saya harap kita bisa menjaga profesionalisme di kantor ini. Jika ada yang perlu didiskusikan tentang laporan ini, mari kita bahas dengan cepat dan jelas." Clara tersenyum, tetapi Arman bisa melihat kilatan kegembiraan di matanya. Ia merapatkan tubuhnya ke kursi Arman, sehingga lututnya menyentuh kaki Arman. "Oh, tentu saja, Pak Arman," katanya dengan nada menggoda sambil menaruh tangannya di bahu Arman. Jari-jari Clara yang ramping dan halus perlahan menelusuri bahu Arman, turun ke d**a, memberikan sentuhan yang membuat napas Arman sejenak tertahan. Arman bisa merasakan kehangatan tubuh Clara yang begitu dekat dengan dirinya. Arman berdiri, membuat Clara mundur beberapa langkah. "Jika tidak ada hal lain yang perlu dibahas, saya harus ke tempat lain." Clara, dengan senyum sinis yang masih menghiasi bibirnya, mendekati Arman lebih dekat, hampir membuat tubuh mereka saling bersentuhan. Jemarinya yang halus menyisir rambut Arman dengan gerakan lambat, menciptakan jarak yang semakin tipis di antara mereka. "Arman, kamu tahu kan, cepat atau lambat kita akan menikah juga. Jadi, mengapa tidak mulai saling mengenal dari sekarang? Kamu tidak akan bisa kabur selamanya." Ia mendekatkan wajahnya, sehingga bibirnya yang merah merona hampir menyentuh telinga Arman. Dengan gerakan yang cepat, Arman menggenggam tangan Clara dengan sangat erat, membuat wanita itu terkesiap kaget. Mata mereka bertemu, dan Clara bisa melihat kilatan amarah dan frustrasi yang mendidih di balik tatapan tajam Arman. Jarak di antara mereka yang semakin kecil membuat intensitas suasana semakin memanas. Arman menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Clara, dan dengan suara rendah dan berbahaya, ia berdesis, "Jangan mencoba hal seperti itu lagi." Clara merasakan napas hangat Arman di lehernya, membuat bulu kuduknya berdiri. Genggaman tangan Arman yang kuat menunjukkan betapa seriusnya ia dengan peringatannya. Arman melepaskan genggamannya, masih dengan ekspresi dingin dan tajam, lalu menatap Clara dengan intensitas yang membuatnya merasa terpojok. Arman menghela napas dalam-dalam, berusaha meredakan kemarahan yang masih menggelegak di dalam dirinya. "Saya akan keluar sejenak. Jika ada hal lain yang perlu dibahas, kita bisa melakukannya nanti." Ia kemudian berbalik, meninggalkan Clara yang masih menatapnya dengan dingin. Setibanya di lobi, Bima sudah menunggu di depan pintu dengan mobil siap berangkat. Arman masuk ke dalam mobil dan segera memberi instruksi kepada Bima. "Kita ke pabrik dulu. Aku ingin mengecek keadaan disana," katanya singkat. Mobil melaju keluar dari area kantor, dan Arman berusaha memfokuskan pikirannya pada pekerjaan. Namun, perasaan tak nyaman dari interaksinya dengan Clara masih berbekas. Saat mobil melewati jalan yang familiar, Arman tiba-tiba menyadari bahwa mereka sedang mendekati toko bunga Maya. "Bima, berhenti di sini sebentar," katanya, suaranya tegas namun tak beremosi. Bima mengangguk dan segera menghentikan mobil di depan toko bunga Maya. Arman keluar dari mobil, berdiri sejenak di depan toko. Ia bisa melihat Maya sedang sibuk di dalam, melayani pelanggan dengan senyum ramah di wajahnya. Ia sedang mencoba membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri. Dengan langkah mantap, Arman masuk ke dalam toko bunga. Maya yang melihat kedatangannya, menunjukkan ekspresi terkejut sesaat, namun segera mengubahnya menjadi senyum profesional. Arman melangkah masuk ke dalam toko bunga Maya tanpa menghiraukan sapaan Maya. Matanya langsung menyapu seluruh ruangan, menilai setiap sudut dengan kritis. Bangunan yang sederhana namun bersih itu membuatnya sedikit mengernyit. Ia melangkah lebih dalam, memperhatikan setiap bunga yang dipajang dengan cermat. Maya, yang merasa bingung dengan kehadiran Arman, akhirnya mendekat. "Selamat pagi, ada yang khusus Anda cari hari ini?" tanya Maya mencoba memahami maksud kedatangannya, yang tidak dihiraukan Arman. Arman menggumamkan kritikan pada setiap aspek yang dilihatnya. "Tata letak yang buruk... pencahayaan yang kurang... variasi bunga yang tidak konsisten..." suaranya terdengar pelan namun tajam, membuat Maya yang berada tak jauh darinya merasa semakin terganggu. Maya, yang tadinya masih bisa mengendalikan diri, merasa kesabarannya mulai habis. Tatapan tajam Arman yang terus menerus menilai dan kritikan yang keluar dari bibirnya membuat suasana hatinya memburuk. "Sebenarnya, apa tujuan Anda datang ke sini? Jika ada yang tidak sesuai, kami bisa mencoba memperbaikinya. Tapi tolong, beri kami kesempatan untuk menjelaskan," suara Maya terdengar sedikit gemetar namun tetap tegas. Arman melangkah lebih dekat ke Maya, mengacuhkan pertanyaannya, dan menatapnya dengan tajam. "Apakah ada sesuatu yang kamu taruh di toko ini? Aromaterapi, mungkin? Atau ada hal lain yang kamu lakukan untuk membuat pengunjung merasa tenang?" Maya mengerutkan kening, bingung dengan pertanyaan Arman. "Saya hanya menata bunga-bunga yang masih segar di dalam toko ini. Tidak ada aromaterapi atau hal lain yang saya tambahkan. Hanya bunga-bunga segar." Arman menggelengkan kepala, jelas tidak puas dengan jawaban itu. "Aku sering menerima bunga segar yang jauh lebih mahal dari ini, tapi tidak ada yang membuatku merasa setenang ketika berada di sini," gumamnya, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Saya merasa Anda tidak hanya sekadar ingin melihat-lihat. Apakah ada sesuatu yang bisa saya bantu?" tanya Maya kembali dengan nada sedikit memaksa. Arman menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Maya, mendekatinya perlahan. "Kenapa kamu terus bertanya? Apakah kamu memperlakukan semua pelanggan seperti ini?" Emosi dari interaksinya dengan Clara masih membara di dalam dirinya, membuat langkahnya penuh tekanan. Ia memepet Maya ke dinding, kedua tangannya menahan di kedua sisi tubuh Maya, memerangkapnya tanpa memberi ruang untuk mundur. Maya terkesiap, matanya terbuka lebar melihat kedekatan yang tiba-tiba. Napasnya terasa semakin cepat. Mata Arman yang tajam berwarna coklat terang menatap Maya dalam-dalam. Mata dengan sorot yang keras dan tajam, menyimpan lautan emosi yang tak terungkapkan. Pandangan Maya turun ke bibirnya. Bibir itu tampak kuat, namun memiliki kelembutan yang tersembunyi. Setiap gerakan bibirnya saat berbicara menarik perhatian, seolah kata-kata yang keluar dari bibir itu memiliki bobot yang tak bisa diabaikan. "Apa yang—" suara Maya terhenti ketika wajah Arman semakin mendekati wajahnya. "Aku ingin tahu," desis Arman, bibirnya hampir menyentuh telinga Maya, suaranya rendah dan dalam. "Apa yang membuat tempat ini berbeda? Apa yang membuatku merasa tenang di sini?" Maya berusaha menenangkan dirinya, meskipun hatinya berdebar kencang. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Arman yang begitu dekat. "Saya tidak tahu. Mungkin karena bunga-bunga ini dirawat dengan cinta dan ketulusan." Arman mengeluarkan senyum mengejek, tatapannya masih tak lepas dari Maya. "Mungkin," gumamnya. "kamu hanya tidak mau memberitahuku. Aku akan cari tahu sendiri." Arman menatap Maya dengan intens, tapi sebelum Maya bisa berkata lebih lanjut, pintu toko tiba-tiba terbuka dengan keras. Seorang pria paruh baya masuk dengan wajah marah. "Ini tidak bisa dibiarkan! Karangan bunga yang saya pesan untuk acara pernikahan datang terlambat! Ini benar-benar tidak profesional!" Maya terkejut, ia mendorong badan Arman dengan panik dan segera mendekati pelanggan yang marah. “Maaf, Pak. Saya akan segera menyelesaikan masalah ini. Tolong berikan saya beberapa menit." Arman merapikan pakaiannya, mengamati dengan dingin. "Sepertinya toko bunga ini tidak begitu bisa diandalkan, ya?" komentar Arman dengan nada sarkastis, membuat Maya semakin gugup. Pria itu terus mengomel. Maya mencoba menenangkannya, tetapi ketegangan semakin meningkat. Saat Maya berusaha mengambil vas bunga di dekatnya, tangannya yang gemetar membuat vas itu hampir jatuh. Dengan refleks cepat, Arman menangkap vas tersebut dan menaruhnya kembali dengan santai. "Kamu harus lebih berhati-hati," kata Arman dengan nada dingin. "Jika kamu tidak bisa menangani satu pelanggan saja, bagaimana kamu bisa menangani acara besar?" Maya masih berusaha menenangkan pelanggan yang marah. "Maaf, Pak. Saya akan memperbaiki ini. Tolong beri saya waktu." Arman menatapnya tajam, tak terbiasa tidak dihiraukan. Namun, sebelum ia bisa mengatakan apa-apa lagi, Maya menoleh kepadanya, mendesaknya, "Tolong, bisa Anda pergi sekarang? Saya perlu menyelesaikan ini." Arman terkejut, biasanya dia yang mengusir orang untuk keluar dari ruangannya. Ia menatap Maya. Mata Maya yang besar dan berwarna cokelat tampak berkaca-kaca, pipinya yang lembut terlihat sedikit menggembung, memperlihatkan kerentanannya. Bibirnya yang penuh dan lembut tampak sedikit gemetar, menandakan usahanya menahan tangis. Arman tak bisa mengalihkan pandangannya dari bibir Maya, seperti ada hasrat yang aneh, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tersadar, menganggukkan kepalanya tanpa emosi, kemudian pergi meninggalkan toko bunga tanpa kata-kata. Ekspresinya tidak dapat dibaca.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD