Pagi itu, Anisa bangun dengan tekad baru. Wajahnya yang sembap semalam telah digantikan oleh topeng profesionalisme yang dingin dan tanpa emosi. Anisa langsung membentengi dirinya dengan kedinginan. Anisa memutuskan untuk mengokohkan batas dengan urusan finansial. Ia ingat uang yang dikeluarkan dari rumah sakit saat sakit pertamanya, yang dulu pernah diminta Aidan untuk diganti. Kini, ia memasukkan semua biaya itu, ditambah biaya perawatannya di Bali. Anisa segera mempersiapkan uang itu di amplop coklat dan memastikan jumlahnya lebih dari yang dibutuhkan, sengaja untuk digenapkan. Saat Anisa turun dari tangga, ia sudah mengenakan pakaian kerja yang rapi. Ia tidak melihat kearah Aidan sama sekali yang sedang duduk di meja makan, membaca koran bisnisnya. Aidan yang menyadari kehadiran

