Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul sembilan ketika Aidan sampai di rumah mewah mereka. Suasana rumah terasa sangat sepi, seperti biasanya, tetapi kali ini keheningan itu terasa lebih berat. Anisa memang lebih suka menghabiskan waktunya di dalam kamar. Aidan berjalan melewati ruang tamu. Ucapan Aidan yang sukses membuat Anisa merasa risih saat ia pulang, membuat Anisa tidak pernah lagi menunggu Aidan di sofa ruang tamu itu. Aidan langsung duduk di sofa. Tak lama kemudian, Bibik muncul dari dapur, wajahnya ramah seperti biasa, dan langsung membawakan teh hangat untuk Aidan. "Tuan Aidan mau Bibik siapkan makan malam? Ada ayam goreng favorit Tuan," tawar Bibik. Aidan menggeleng. "Tidak, Bik. Saya tadi sudah makan malam bersama Kenny sebelum pulang." Aidan kemudian membalas tanya

