Semangatlah Pokoknya Buat Semua Hal, Oke?!

1036 Words
"Teruntuk diri yang selalu menyalahkan keadaan dan kenyataan, percayalah kawan jika semua ini memang sudah jalannya harus dilewati. Aku tak tahu kehadiranmu ini untuk kembali menorehkan luka seperti sosok yang sebelumnya datang sebelummu atau bahkan engkau adalah penyembuh dari semua hal dan engkau adalah sebaik-baiknya orang yang mampu menerimaku apa adanya ditambah lagi engkau adalah sosok orang yang mungkin akan bisa menerimaku dengan setulus hati tanpa maksud buruk yang berujung meninggalkan yang kutakutkan dan yang sangat membuatku hancur berkali-kali perihal masalah percintaan seperti saat ini. Aku tak tahu akan berujung apa kembali pertemuanku dengan mu yang sangat tidak disengaja ini, aku tak paham bahkan aku tak mengerti juga maksud alam dan maksud takdir dari skenario yang tercipta oleh semesta sampai mempertemukan kita dengan cara yang lucu atau bahkan terlalu absurd jika harus dibahas seperti ini. Bolehkah aku berharap padamu? Sama seperti pengharapanku pada sosok sosok sebelummu yang kenyataannya justru pergi begitu saja, semoga tidak denganmu yah. Karena aku sudah kau buat lebih yakin oleh aksimu. Inginku memilikimu seutuhnya, inginku tak kau lukai meskipun secuil saja, dan inginku selalu kau sebut dalam doamu meskipun aku tak tahu bagaimana hatimu yang sebenarnya. Kucoba jalani semuanya dengan perlahan, karena aku yakin apa yang menjadi milikku akan tetap menjadi milikku tanpa diusik oleh seseorang sekalipun. **** Mendengar apa yang diucapkan oleh para barisan itu dan segala aksi yang terlontar dari nya juga segala hal yang aku bukan untukmu yaitu dengan sekejap aku tampak menggeleng-gelengkan kepala penuh ketidakpercayaan atas apa yang kamu lakukan saat ini di beberapa detik yang lalu itu juga. "Tetapi ya kalau misalkan dipikir-pikir tadi itu kamu tahu enggak lah masa iya kan tadi kan aku kan berangkatnya jam 8 ya terus tuh kan. Eh aku cerita nggak apa-apa nih?!" Reflek aku yang seolah menanyakan hal itu dan salah juga mengizinkan diri untuk berbicara kepadanya itu dewasa kita justru malah dia dia sebuah jitakan keras di kepalaku siapa lagi kalau bukan karena ulah Rara. "Nggak usah banyak cincong, ya udah iya ya cerita aja ya Allah gusti tapi aku dengerin kok santai aja. Kalau nggak dengerin paling juga cuma tinggal masuk atau ngapain gitu, udah sok atuh buruan cerita ada apa tadi kenapa?!" Seolah berusaha mencari keseriusannya atas apa yang diucapkan oleh Rara saat ini, aku justru dengan seriusnya ini tampak menatap lekat-lekat manik mata Rara yang berusaha seseorang mencari segala hal yang memang serius ya ucapkan itu. Yah bukannya apa-apa hanya saja Rara ini orangnya sedikit biasanya berkata iya tapi kenyataannya sedikit greget dan merasa hal yang juga dan dukanya aku berpikir buruk hanya saja memang Rara adalah orang yang apa apa itu tergantung dengan mood nya. Saat mood-nya baik pasti dia akan melakukan dengan sangat-sangat pada saat mood nya jelek sama saja semuanya hanya seperti angin berlalu yang tak pernah digubris walaupun aku juga bukannya ber negatif thinking tapi memang begitulah keadaan dan kenyataan. Sampai aksiku yang demikian justru aku justru dihadiahi sebuah jentikkan penuh di keningku ini siapa lagi jika bukan karena ulah Rara yang kini tampak geleng-geleng percaya dengan helaan nafas wajahnya yang dilontarkan juga saat ini. "Nggak usah ngada-ngada nggak usah marah lah nyari kesempitan apa saja apa itu buat enggak jadi cerita lama-lama aku tembok di muka kamu Ras. Udahlah kamu kalau mau cerita ya cerita aja Allahu akbar lagian aku juga nggak bakal ngelarang kok, udah yuk baby cerita yak. Ada apaan dodol!" "CK! iya-iya lagian kan bukannya aku gimana-gimana cuma kan ya kalau misalkan kamu merasa keganggu kan jadinya malah aku yang enggak enak juga gitulah paham kan heh?!" "Hmmm, iya iya iya aku paham pakai banget banget banget dan banget. Tapi ya udahlah buruan cerita Ada apaan sayangku cintaku muah!' lanjut Rara dengan aksinya yang tidak tampak monyong monyong kali bibirnya itu seolah ingin mencium ku tapi entahlah rasanya itu terlalu menjijikkan yang justru malah membuatku bergidik ngeri sendiri dan sukses membuatku sedikit memundurkan tempat dudukku juga dengan segala asik goyang dalam sekejap pula tampak berusaha menghilangkan pikiran pikiran aneh yang ada di otakku saat ini. Dengan tangan kananku pun dalam sekejap tempat mendorong Rara agar sedikit mundur dari apa yang ia kerjakan saat ini, "Hish geli Ra. ingatlah kita tuh sama-sama cewek ya kalau kayak gitu ih ngeri banget ya Allah Ra. Nggak usah ngada-ngada deh Ra, perasaan aku yang kakean polah ya? wkwk ya udah ya ya jadinya gimana boleh enggak nih aku cerita. Kalau nggak boleh nggak papa kan bisa kan beli aku cerita jadi ininya gimana sekarang ini?!" CTUK! Damn it, yang benar saja bukannya menjawab Fani di sini malah menjentikkan kembali jari-jarinya itu ke arah keningku dengan begitu kerasnya sampai berbunyi itu hingga aku yang sadar penuh ini juga hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sedikit kekesalannya aku tahan tahan juga walaupun kenyataannya aku sendiri juga nggak terlalu parah entah kenapa diri terlalu demikian saat ini. "Lama-lama aku timpuk juga kamu Ra mana segala jitak-jitakin lagi," kesalku bukan main. Aku arahkan pandanganku ke arah Rara dengan segala kesinisan yang aku lontarkan juga di sini secara tiba-tiba. sejujurnya bukan tiba-tiba juga karena kenyataannya ini semua adalah bentuk refleks dariku mendapati hal itu. Yah, karena mau bagaimana lagi jika pada kenyataannya aku sering dibuat kesal atau bahkan sering dibuat jengkel oleh sosok itu yang entahlah rasanya itu ingin seperti sekarang ini terus menerus. Yah bukannya apa-apa, hanya saja gemas saja untuk menjelaskannya. Terlebih jika sosok itu terlalu sering main tangan seperti sekarang ini, yang pasti aku yang memberikan respon demikian kepada Rara dalam sekejap juga justru malah dihadiahi sebuah kekehan penuh darinya dengan cengiran yang juga ia lontarkan dan juga dengan segala hal yang dalam sekejap malah semakin membuatku kesal saat ini. Sejujurnya ini tak pantas untuk dibicarakan terus menerus tapi rasanya gemas tetaplah gemas, sampai dengan sebuah nyinyiran aku layangkan penuh tanpa suara dan hanya aku lakukan dengan gerakan saja kepadanya saat ini. Jujur aku sudah sangat muak saat ini yang telah rasanya tuh gemes gemes gimana juga tapi tak begini juga aku kembalikan semuanya kepada Rara sedangkan disatu sisi aku ingin menjadi wanita kalem walaupun susah. Hingga saat ini hanya bisa berusaha sabar sabar dan terus bersabar aku lakukan, aku lontarkan helaan nafas panjang dengan begitu beratnya saat ini yang justru dihadiahi sebuah pelukan erat dari arah samping siapa lagi jika bukan karena ulah Rara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD