k****a berkali-kali isi pesan chat dari Rara di awal-awal tadi, mungkin jika habis pikir bisa 2 sampai 3 kali juga dengan otakku pula yang dalam sekejap tampak berpikir penuh tentang semuanya tadi. Persamaan dengan kedua kakiku yang ku selonjorkan begitu saja di sofa samping tanah yang memang satu tempat dengan keberadaanku yang sedari tadi mendudukinya itu.
Seolah mencari kenyamanan, badan yang tadinya menatap ke arah depan kini menatap ke arah samping dengan diriku yang penuh juga tampak merebah di sofa panjang ini mencari kenyamanan dan ketentraman lagi di tengah kesunyian rumah yang nyatanya entah bunda atau pun mas Rega pun tidak terlihat sama sekali sedari tadi.
"Tapi kalau dibilang salah kayaknya juga enggak lah, ya semoga aja emang gak salah sih soalnya tadi kan Rara bilangnya kaya gitu ya. Jadi kalau misalkan aku juga balesnya kaya gini ...."
Kembali, dengan penuh fokus karena aku juga dari tadi masih menatap ke arah layar ponsel yang sedari tadi ku genggam. Ditambah lagi memang, zona malasku membalas chat kini sudah berubah dan dalam artian sudah tak semalas awal-awal tadi meresponnya. Kini jari-jari di tanganku perlahan-lahan masih menyekrol ke bawah setelah membaca kembali atas semua yang ku balas kan juga untuk Rara dan semua yang berada di dalam room chatku dengannya dalam keadaan yang diriku pula merebahkan penuh badan ini ke atas sofa, memenuhinya, bahkan membuat beberapa bantal di sana jatuh ke keramik. Semuanya tampak begitu saja jatuh tapi tak aku hiraukan sama sekali karena aksiku yang memang sedikit ku sadari itu, tapi disatu sisi aku pun masih peka dan menyadari jika di seberang sana Rara juga masih mengetik penuh entah kalimat apa lagi yang akan dituliskan untukku setelah ini yang pada intinya aku tuliskan kalimat yang berbunyi ....
Ra, kita emang nggak tahu bakal kayak gimana ke depannya dan bakal kayak berhasil apa nggak segala usaha yang udah kita lakuin sama ini tapi ya emang bener apa salahnya kita berusaha gitu kan tanggalnya tuh kita pernah berusaha dan selamanya kita tuh pernah berpositif thinking kalau misalkan usaha kita itu bakal berhasil dan bakal ya istilahnya tuh juga bakal bisa buat kita move on juga dari seseorang yang pernah kita harus pun atau bahkan dari seseorang yang kenyataannya itu emang pernah kita inginkan. Dan lebih parahnya lagi juga move on itu tidak semudah bilangnya. Walaupun ujung-ujungnya takdir juga tidak ada yang tahu, nasib orang tidak akan ada yang bisa menebak. Dan jalan cerita orang tidak bisa dibuat-buat seenaknya juga, kenyatannya takdir memanglah takdir. Apalagi pas kita menginginkan sesuatu hal yang memang sangat ingin dicapai, tapi jika takdir, alam, kenyataan, dan sang pencipta tak mengizinkannya juga semua seperti akan sama saja diujung ceritanya nanti. Ada satu hal yang dimana itu mudah dilakukan, tapi juga akan sulit untuk ditaklukkan.
Dunia memang bercanda, dan sering membercandai. Walaupun perihal hati semua memang selalu bercanda jika tak kunjung ada feedback di dalamnya. Tapi urusan hati juga tak bisa dibuat main-main, kita bisa saja egois tapi kita juga tak bisa munafik jika kita juga tak akan kuat jika terus-menerus seperti itu. Akan ada masa dimana kita benar-benar lelah, dan di masa itu pula kita benar-benar ingin berpasrah diri tapi semuanya tak bisa juga dengan gampangnya dilupakan. Bahkan aku sendiri juga bingung kadang, yang intinya jujur jika boleh aku katakan kembali. Move on itu memang harus di dasarkan pada diri sendiri yang dari lubuk hati paling dalam kita tanamkan. Tapi bagaimana lagi, jika nyatanya sering kali kita ingin demikian tapi takdir dan jalqn cerita justru sudah membuat skenarionya sendiri yang amat sangat syahdu itu akankah bisa kita menolak? Tentu tidak. Karena yang berkesan itu justru yang seperti ini, berkesan tapi sulit untuk dilupakan. Dan sangat bermakna tapi juga menyiksa jiwa dan raga, seperti ingin membuang tapi kasihan pada diri sendiri. Tetapi ingin mempertahankan juga sebenarnya sama saja hanya akan melukai diri sendiri. Tapi untuk mundur juga rasanya tak terlalu mungkin bisa dilakukan, sedangkan di sisi lqin semuanya sudah jelas-jelas tertanam pada diri walaupun terus menerus juga tanpa henti tersakiti sendiri oleh harapan yang tak pasti ini.
Klunting ... Klunting ... Klunting ....
Damn it, dalam sekejap pandanganku terbuyar penuh. Refleks aku dongakkan pandangan ini ke atas sebelum setelahnya kembali menatap ke arah dimana keberadaan ponsel pintar ini.
Sampai dipaling ujung room chat tadi, tiba-tiba pula dua pesan dari Rara kembali menyahut membalas pesanku yang tadi ku balaskan untuknya. Menggeser bagian terakhir tadi menjadi pesan Rara yang menjadi akhirnya. Sontak saja isi pesan itu k*****a segera karena memang sudah kebaca juga, tapi dengan jelas di pandanganku sana. Sosok itu masih tampak mengetik hingga sebuah helaan nafas panjang berhasil aku lontarkan saat ini namun segera aku tepis karena didetik setelahnya aku sudah kembali membaca kelanjutan dari pesannya itu tadi.
'Iya tau Laras ... Aku paham sama yang kamu maksud juga ... Santai aja, lagian aku juga nggak bakal marah kok santai aja besok mau sama kamu kamu kasih tamparan tampangnya kayak gini tu kan niatnya juga biar aku sendiri sadar gitu loh nggak ada yang nyakitin sama sekali jadi kata-katanya kok Ras. Santai aja, pokoknya selagi aku belum sadar ya kasih aja tamparan-tamparan terus. Nggak apa-apa, it's okey. Santai aja oke, but emang bener apa yang kamu bilang juga dari awal. Tapi kayaknya emang aku tuh juga kaya hobi banget ya Ras, nyari penyakit buat diri sendiri. Contohnya ya kaya gini, misalkan ya misalkan udah tau bakal nyakitin diri sendiri eh malah dilanjut terus. Salah satunya stalking, terus ini itu itu. Fyuh ... Capek juga tau ishhh tapi pusing juga. Tau ah LARASSSS HUEEE GIMANA INI, INTINYA AKU GAGAL MOVE ON HUE ... TERUS GIMANA MASYA ALLAH ALLAHU AKBAR SUBHANALLAH ....'
Melihat itu keningku mengerjit sempurna, sampai sebuah gelengan tipis tiba-tiba terlontarkan dari diri yang juga refleks menatap ke samping ini menyadari arti kalimat itu.
Detik setelahnya kulihat sebuah reply an dari kalimat. ''Gini loh gini kan kamu kan katanya pengen move on ya nah karena kan gimana ya move on itu kan nggak segampang kayak yang kita pengen ini itu nggak segampang kayak apa yang kita omongin juga gitu kan. Kamu tahu sendiri kan Ra! Kalau misalkan kita tuh baru aja dibuat kayak gimana ya pengen dekat terus ujung-ujungnya jadi berharap ya istilahnya kayak pengen sama seseorang dan itu kayak buat kita emang udah jatuh cinta banget gitu istilahnya tapi di satu sisi kita juga nggak bisa melawan takdir juga kita kayak pengen nelpon tapi nggak bisa ya itu sebenarnya sih berbalik pada diri kita juga Ra. Kayak misalkan ya gini deh, kadang apa yang kita pikirkan itu juga bisa jadi penghambat kita kayak bisa sukses untuk ngelakuin sesuatu hal yang bisa kalau di sini tempatnya to move on gitu. Paham nggak? Tapi juga di sisi lain kita juga harus semangat juga buat diri sendiri katanya pengen makan harusnya tuh kayak oke berarti aku harus move on bener-bener kudu mohon dan benar-benar harus ingat ingat jeleknya dia semua yang tentang jelek jeleknya dia lah pokoknya itu. tapi ya bisa di sisi jangan terus malah udah tapi tuh dia ganteng tapi itu dia ini tapi tuh dia itu jangan kebanyakan tapi jadi itu keratin pada diri kita juga kali kan kita udah mantap buat lupain ya udah jangan ada alasan tapi di samping itu semua gitu yang gitu mah lambat kita jadi kayak gini sendiri-sendiri kan kamu juga aku juga bingung ....'
'Asli deh Ra! Aku juga bingung kadang, sering juga deng. Tapi ya nggak sering-sering amat, yang intinya tuh gini kalau misalkan ya kalau misalkan kamu nanya apa atau pengen cara move on gitu pengen tahu dari aku kan kamu kalau aku tuh enggak mau juga enggak suhu di bidang kayak gini tapi juga kamu tahu sendiri kan kalau aku ngeluarin apa gitu pasti kan ya atas dasar kayak biasanya juga aku nasehatin kamu soalnya aku nggak pernah tapi aku juga mau like jadi aku tuh juga tahu sedikit sedikit gitu tapi itu bukan berarti kalau misalkan aku tuh terus pacarnya banget itu juga nggak jadi kalau misalkan ada kata-kataku yang salah sebelumnya aku minta maaf juga ya Ra. Karena kamu kan tahu sendiri kita tuh juga maksudnya sama aja gitu aku nggak mau bahas yang nasibku enggak cuma kayak kadang aku juga bingung kudu gimana makanya kalau kamu nanya gitu ya kalau dari jawabanku sendiri sih aku lebih milih dan lebih nyuruh kamu buat kayak mantepin diri kamu sendiri dulu gitu kalau misalkan emang bener-bener udah mantap, dalam artian emang mantap pengen move on dari doi ya udah gas gak usah pakai mikir-mikir lagi nggak usah kebanyakan tapi kamu buktiin aja lihat tingkah lagu kamu yang dalam artian itu kamu buktikan lewat tindakan kamu gitu ya?!'
Yang berbunyi, 'IYAA TAUU TAPI ITU SEMUA SUSAH!! MOVE ON ITU SUSAH SAYANG ....'
Kampret emang, sini ngetik panjang lebar sononya malah singkat padat dan sangat ngegas kaya gini. CK! untung temen, coba kalau bukan. Beuhh udah pengen nyubit tuh ginjal aja rasanya!
"DAN YAH EMANG SUSAH ... Sialan banget nih anak, aku udah ngetik panjang lebar bisa-bisanya dia malah bales singkat padat dan sangat jelas gitu. Mana saking padat dan jelasnya sampai menohok gitu lagi, ck! Ceritanya ini mah lagi nyindir diri sendiri juga. Ya orang lah gimana juga gitu kalau kenyataannya kan emang yahh, apa yang dibilang sama Rara tuh hampir 11-12 juga sama yang ada pada diri sendiri gitu intinya. Hadeh ... seketika jiwa jiwa mengtidak percaya dirianku pun melonjak drastis ini mah!"