Nah Kan!

2271 Words
"Ya emang harus dipikir-pikir lagi Fan ... Apa lagi kan kalau dipikir-pikir juga zaman sekarang tuh kamu tahu sendiri kan jangan sekarang tuh nyari kerja susahnya kebangetan pakai banget-banget malahan. Hampir lebih susah bahkan sama kayak nyari doi ckck. Tapi serius deh kal-" "Heh Ras!" Refleks ucapanku tertahan, pandanganku kembali menatap ke arah Rara dengan segala keterkejutannya karena memang ucapkan Rara itu yang menyangkut sukses datang tiba-tiba itu dan memang seperti itu tak mau diajak baik-baik dan marah seperti ingin mengajak tawuran seperti sekarang ini. Bahkan tak hanya aku karena kenyatannya, sosok Fani di sampingku juga menoleh dengan kagetnya. Menoleh dengan tak sukanya, karena memang jika boleh jujur ini sangat mengagetkan lahir batin. Sama sepertinya, aku justru memutar mata malas merespon hal itu. "Apaan? Ngaget-ngagetin aja, tadi aja diem-diem bae kaya mau ngerespon sama sekali sekarang malah tiba-tiba kayak gini ngaget-ngagetin. Sehat kan Ra?! Ad apaan!" gregetku penuh. Tetapi siapa sangka jika kenyataannya yang melihatku itu justru malah nyengir tak jelas seperti sekarang ini seperti apa yang dilakukan oleh Rara kau juga seperti apa yang hanya bisa kulakukan dengan segala respon berusaha sabar di sini karena memang itu semakin menyebabkan di setiap pertambahan detiknya. "Apaan malah, bukannya ngejawab malah diem diem bae kampret emang kamu tuh Ra!" "CK, gitu aja ngegasss. Lagian kamu juga aneh masa iya sih tiap mau apa namanya tiap ini tentang doi sih. Ckck, emang kenapa sih Ada apa dengan doi kita diajak nggak punya ya kali kita mau sudahlah enggak usah daripada mikirin yang penting ya emang sih kita pengen tapi kan ya gimana lagi kalau kenyataannya nggak ada yang deketin kita jadinya ya yaudahlah mau gimana lagi juga kan. Daripada kita sibuk mah Aldo atau berapa menit kita have fun aja gitu loh ya curhat ya curhat aja sayang curhat aja yuk?!" Salah tak nyambung atas apa yang diucapkan oleh Rara di setiap pertambahan kata yang terlontar dari mulutnya itu. Ini aku dengan Fany seketika seperti dibuat tergelonjak atas apa yang dihasilkan oleh Rara dari aksi dan polah tingkahnya saat ini yang dalam sekejap ulas tampak duduk seperti aku dan Fani yang sama-sama duduk sedari tadi. Kini sama halnya dengan Rara yang kini tampak penduduk di sampingku membuatku juga refleks menatap ke arah samping kiri sana di mana keberadaan Fani saat ini yang tersenyum tipis dengan gerakan kecilnya juga yang terlantar karena pandanganku yang mendapat ke arahnya dalam sekejap seperti beberapa detik yang lalu itu. Sama seperti dirinya aku pun menghela nafas panjang juga, pandanganku kini kembali menatap ke arah utara dengan sedikit malasnya. "Yaelah Ra, kita juga sebenarnya dari tadi itu lagi curhat dodol. Kita tuh lagi curhat sama pekerjaannya bukan curhat sih lebih tepatnya kayak si Fani kan pengen keluar dari kerjaan nya ya kalau misalkan dipikirkan ya ...." "Heh?! Serius pengen keluar? Asli deh Fan, kalau mau keluar dipikir-pikir dulu dan lagi deh Fan. Soalnya mau dibilang gimana juga jaman sekarang ini nyari pekerjaan lagi susah ya kan Ras?!" Mendengarnya aku hanya mengangguk penuh kemantapan tapi dengan segala kemalasannya juga merespon hal itu. Yah sebenarnya mau bagaimana lagi karena ucapanku yang terpotong oleh Rara kembali dengan dirinya juga yang beraksi seperti sangat lemot dalam sekejap karena aku yang aku lontarkan tadi juga sama seperti apa yang terlontar oleh bibir Rara saat ini. Tapi kenapa itu malah diulang-ulang kembali oleh apa yang dikatakan Rara barusan? Entahlah aku tak paham yang pasti mendengar hal itu pula bersamaan dengan diriku yang dalam sekejap pula langsung mendapati respon sebuah kekehan dari Fani yang pasti sadar betul akan apa yang diucapkan dan dipertanyakan Rara padaku. Laptop dengan segala aksi di dalamnya sana yang tadi menjadi bahan tontonan kini justru menjadi bahan acuhan kami atau bahkan Rara yang sedari tadi fokus sendiri akan hal itu. Puk! "Hee, kenapa malah diulang Bambang. Orang Laras juga tadi udah bilang gitu!" sahut Fani dengan kekehannya yang justru membuatku kembali menghelakan nafas panjang di sini di segala pandanganku juga yang masih menatap setia ke arah Rara. "Lah emang iya?!" tanyanya tak percaya, aku bahkan hanya diam saja. Sampai ... "Eh ya sorry ehehehe. Nggak tau tadi, CK! Mohon maaf ya mbak Laras hehehe nggak ngeh tadi aku!" "Helehh, nggak ngeh nggak ngeh tapi kamu tuh nyebelin tau nggak sih Ra. Makanya kalau ada temen yang lagi ngobrol-ngobrol curhat ya kayak gini tuh didengarin ya bukannya gimana-gimana kamu sama horormu itu!" Sejenak sebelum setengahnya padahal ini aku lirikkan sejenak ke arah laptop sana yang memang masih menyala penuh segala aksi horor yang tercipta di film sana tapi entah kenapa tiba-tiba juga rasanya bagiku itu terlalu biasa-biasa saja daripada sebelum-sebelumnya yang memang aku akui aku cukup histeris meresponnya. Tak selang waktu yang lama kembali a ku arahkan pandanganku ke arah Rara juga Fani secara bergantian, kini kami pun bahkan sudah tertutup penuh dengan segala kenyamanan yang ada di tempat masing-masing musik yang saling berhadapan berbentuk segitiga karena memakannya hanya bertiga ditambah lagi dengan segala hal yang ingin kompromikan setelah ini dalam sekejap kelas seperti suasana horor kembali menyejuk bahkan seperti tidak ada apa-apanya sama sekali. "Yaa mohon maaf, ehehehe. Filmnya kita pause dulu, sekarang kita jauhin dulu ya pokoknya jangan marah kita jalan dulu kita bahas ini aja dulu gitu ya?!" tanya Rara diakhir ucapannya yang hanya aku angguki tipis dengan setelahnya kembali aku tatap Fani yang jika nllej aku katakan memang seperti tidak ada semangatnya sama sekali seperti saat ini. Tanpa ada niatan menjawab sama sekali aku justru hanya terdiam disini seorang menunggu atas ucapannya akan kembali diantar oleh para habis ini karena memang yang kulihat kalimat sebelumnya seperti belum selesai ingin ia ucapkan. "Tapi nih ya kan emang serius aku nggak bohong jangan sekarang nyari kerjaan itu susah ya aku aku aku enggak nyalahin kamu juga loh kamu dulu pernah keluar gitu aja dari pekerjaanmu dulu itu nggak yaaa ...." Aku paham, aku pun mengangguk penuh. "Iyaa iyaa santaii, lagian aku berani ngomong gitu tuh juga karena aku nggak mau kalau misalkan nanti malah jadinya tuh kan iya misal kayak aku gini. Makanya tadi aku bilang aku benernya juga kemaren itu kagak tahu sumpah kalau misalkan apa namanya ini kamu bilang kayak mau keluar gitu. Tapi serius deh Fan, kamu belum keluar kan!" Ya bagaimana lagi aku bertanya seperti itu juga karena memang kenyataannya Fani itu tipikal orang yang apa-apa dikit selalu berbicara memang selalu bercerita memang tapi setelah semuanya sudah dilakukan dan itu yang membuatku sedikit greget juga sama seperti Rara saat ini sampai dengan pandangan kami pun kini mengarah ke arah Fani semua. "Apa sih ngelihatin semua!" "Ya ellah, bukannya ngelihatin atau gimana gimana itu enggak cuma ya apa ya namanya ya. Kalau misalkan kamu tuh kebanyakan tuh ya suka bilangnya tuh terakhir aja jadi kamu udah bertindak tapi malah pas tindakan kamu itu baru ngomong jadinya ya kita sama aja nggak bisa ngelarang larang juga kalau misalnya kamu udah di ini di sininya tuh dimana kamu udah keluar apa belum gitu loh ...." "Ya kan Ra?" lanjutku Rara yang itu dijawab sebuah anggukan oleh sosok itu. "Ya iya tuh tahu orang juga kebiasaan tuh ngomong dulu baru dipikir-pikir eh keluar apa kamu mah beda. Kalau kamu tuh lebih ke kebalikannya juga sih kalau dipikir-pikir gitu kayak ngomongnya tuh malah keri alias terakhiran terus udah beraksi duluan. Hadeuh ... Sumpah aku juga bingung iya tahu aku kalau dibilang tahu dunia kalian juga enggak banget karena memang aku kan langsung kuliah kalau kalian kan ya maaf banget ya sebelumnya ya itu kayak kalau aku kan kuliah kalau kalian mau langsung kerja aja gitu jadi aku kurang tahu juga kalau misalkan salah ngomong tapi emang kok aku yang dibilang sama Laras itu juga bener Fan. Di mana kalau misalkan ini tuh di pikir-pikir lagi soalnya kan ya susah susah gampang juga nyari kerjaan jangan sekarang itu jadi intinya itu aku mau banyakkan ngomong lagi lah intinya cuma mau nanya ke kamu jadi kamu gimana belum keluar kan?!" Rara yang berucap demikian dalam sekejap menatap ke arahku membuatku ikut kode-kode seolah menunggu jawaban yang akan dilontarkan oleh Fani juga tapi sampai sekarang yang ditanyain diam saja di tempat. Sebelum ada niatan untuk menjawab sama sekali, justru malah aku yang menjawab melalui kode-kode yang aku keluarkan ke arah ke arah sana ya seolah-olah berkata. 'Asli, kita lihat aja kalau misalkan Fani bener udah keluar beh greget banget aku sumpah sama dia!' Sampai dengan Rara yang seolah paham sosok itu justru mengangguk penuh dengan sekali, "Nahkan ... Udahlah sekarang jujur-jujuran aja lagian maupun kita lagi kumpul jadinya kan bisa sering cerita juga ya walaupun emang kita udah kata jalurnya juga udah kayak ngikutin takdir masing-masing tapi kalau misalkan soal cerita ataupun apa masih percaya kan sama kita? Kita nggak bakalan marah serius kita nggak bakal marah, serius deh kalau misalkan kita udah sama-sama tahu kan enak gitu paling nggak kita bisa saling asih support dukungan atau solusi gitu. Nah loh, jadi gimana. Belum kan?!" Lagi dan lagi Rara menanyakan hal itu, sosok yang tadinya sangat acuh makan seperti tak mau tahu sama sekali dengan apa yang terjadi antara aku dan Fanny karena memang sebelumnya Rara paling sibuk dengan film horor yang itu tapi kini justru mah sosok dialah yang paling seperti ingin tahu dan seperti terlalu anakan untuk segera dijawab oleh Vani seperti sekarang ini bahkan melebihi aku yang tadinya sangat greget kepadanya. Sabar, dan sabar hanya bisa aku dan Rara rasakan saat ini. Bersamaan dengan itu aku hanya bisa terdiam menatap ke arah arah yang kembali masih terlihat ingin tahu jawaban dan memang seharusnya itu segera dijawab oleh wanita tapi ternyata hanya disuruh tak perlu dijawab oleh sosok itu sampai dengan sebuah anak di sepanjang terlontar dari nya tapi bersamaan juga dengan aksinya yang semakin greget itu. "Udahlah, biarin Fani mikir dul-" "Tuh kan Laras mah gitu, tadi aja pengen tau lah sekarang nyerah!" "Woh? Bukannya nyerah ini tuh, tapi emang ada kalanya kalau misalkan kita pengen tahu atas sesuatu hal dan kami ceritakan yang ditanyain belum bisa ngejawab ya udah nggak apa-apa kita nggak boleh kita tunggu aja pasti juga kalau misalkan ini udah ini udah kalau cerita sendiri kok santai aja kali Ra!" "Hadeuhh mulai deh milai si laras kalau udah bisa kayak gini banget ya Allah ...." Mendengarnya aku hanya tersenyum tipis, pandanganku kini menatap ke arah Fani yang justru menatapku dengan Rara secara bergantian tanpa ada niatan menjawab sama sekali dengan santainya masih terdiam di tempat sana ada selalu di kenyataannya justru Rara sudah seperti mencak-mencak sendiri karena greget bukan main tapi sosok yang ditanya justru malah diam saja di tempat tapi aku tahu cinta keterdiaman nya itu sebenarnya tengah berpikir keras maka ya jika Rara berpikir aku terlalu bijak dalam sekejap. Jujur itu salah, karena aku bukannya sok bijak ataupun apa tapi aku hanya berusaha mengerti keadaan yang mana sebenarnya aku tuh juga tahu atas apa yang dirasakan oleh Fani saat ini. Dan aku juga bukan menyalahkan rangsang apa yang dia kan tadi tapi aku juga hanya bisa bersikap mengerti saja karena bagiku wajar wajar jika ra ra berkata demikian dan sedikit lebih menyakitkan atau bahkan tak sabaran mau dengar jawaban dari Fani tapi memang aku tahu jika duniaku dan juga dunia Rara itu berbeda. Dirinya langsung terjun ke dunia perkuliahan sedangkan aku dan Fani langsung terjun ke dunia yang sebenar-benarnya yang menyadarkan kami juga tentang sebuah hal dimana menjadi beban keluarga yang semakin terasakan saat ini itu sangat tidak mengenakkan. Tapi di satu sisi juga ingin bertindak ataupun berulang sesuai keinginan tapi seperti tak bisa egois dengan diri sendiri dan harus seperti dipaksa untuk berdamai dengan waktu dan keadaan. "Udah ah biarin aja kenapa sih, Lagian juga emang mood mood an banget aku tuh bijaknya. CK, jadii udah ah nggak usah bahas soal ini yang pasti itu soal Fani noh. Sumpah Devan serius aku sama kamu kamu tuh tinggal jawab iya apa enggak udah apa belum aja ya Allah serius soalnya kebangetan jadi itu gimana belum keluar kan kamu kalau udah awas aja tak timpuk kam-" "Hust, berisik kalian tuh. Iya iya belum seriusan aku tuh belum keluar udah kalian tuh gak usah ngeributin kayak gitu deh aku juga pasti bakal mikir mikir lagi kok iya kok tahu maksud kalian itu baik ya aku tahu kalau misalkan emang aku bukannya nyalahin kamu juga Rasta piye aku juga tahu aku juga nggak nyesel juga kalau bisa kayak gini tapi kalau misalkan aku udah nggak kuat banget banget emang kepikiran pengen keluar banget. Nggak masalah kan kalau misalkan aku keluar?!" Entahlah yang pasti mendengar penuturan Fani yang demikian itu sukses membuatku dan tampak saling berhadapan dengan satu sama lain untuk kesepian detiknya seolah berpikir dan memang terkejut juga karena apa yang diucapkan oleh wanita di tapi memang di sana kami pun tak bisa menampik jika mental lebih baik dari semuanya dan kesehatan mental itu lebih harus diutamakan lagi daripada banyak mengikuti hawa hawa enakan ataupun apapun itu sedangkan di satu sisi tak bisa juga memaksa diri untuk terus-terusan tetap kuat meskipun seharusnya tak kuat. Bukankah begitu?! "Fyuh ...." "Oke nggak masalah, kamu sendiri gimana Ras?!" ujar Rara yang langsung menanyakan hal itu kepadaku sontak saja kujawab anggukan pelan. "Nggak masalah, cuma ya kalau bisa jangan mundur dulu kalau bisa ya coba lagi berjuang gitu ya walaupun nggak tau juga mau sampai kapan saya pastikan kamu emang udah dipikir-pikir banget gitu loh kalau misalkan kamu masih setengah nggak niat ya mending nggak usah dulu gitu tapi kalau kamu emang udah niat banget maksudnya dalam artian kayak udah emang pengen keluar ya udah keluar aja nggak apa-apa lagian kesehatan mental kamu juga lebih penting itu lho kan. Udah nggak apa-apa, kita nggak maksa. Jadi intinya emang belum keluarkan ini?" Fani menggeleng dengan senyumannya, membuatku dan Rara dalam sekejap ber .... "Alhamdulillah ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD