Bisa-bisanya

2424 Words
"Ya emang ... Asal kamu tahu ya Ras, orang-orang kaya gitu tuh sebenernya itu malah lebih gampang nggak gampang apa ya atuh perekonomian gitu loh. Jadi tuh kayak mereka udah kamu dan bisa dapetin ini sudah di lahir makanya sedikitnya tuh ya udah kebiasaan terus kebiasaannya itu kayak malah kebawa mereka tuh kayak malah berleha-leha gitu loh. Kan jadinya gini too, kalau misalkan ini jadinya tuh kita lihat dari kenyataan aja deh kan jadi kayak gimana ya kalau yang kita lihat itu ya bisa kan kita lihat semua keadaan dimana ada anak orang kaya terus dia kuliah kebanyakan yang orang tuanya yang kaya tapi anaknya itu pasti bukannya aku gimana-gimana yah. Tapi, anaknya itu pasti bodoh ya apa nggak?!" Mendengar itu jujur aku mengangguk paham, dan mengangguk mengiyakan pasal hal yang memang tampak ya jelas gitu seperti apa yang diucapkan oleh Rara barusan perihal tentang perkuliahan dan orang-orangnya walaupun tak semua demikian. Dan yang aku lihat pula Fani pun juga mengangguk, meskipun tidak boleh dikatakan juga antara aku dan dia sangat berbeda jauh dengan Rara tapi kita juga tak terlalu menutup hal-hal seperti itu yang kita tahu memang seperti itu di setiap kenyataan yang ada. "Nah terus misalkan kita nih kan kalau gitu bisa dibilang tuh kayak kita bukannya gimana sih yang bukan kelas tinggi banget gitu kata kaya ya tengah-tengah lah dan itu malah ngebuat kayak gini juga pasti kan kita mikir-mikir juga. Nah, yang jadi masalahnya itu justru ya biasanya tuh malah kita yang kaya menyayangkan hal itu nggak kaya mereka. Jadi itu jatuhnya malah kayak mereka yang kaya tapi juga kita yang kayak kerasa sayang banget gitu loh sama yang dibuat sama mereka. Maksudnya semua tingkah polah mereka yang bisa dibilang terlalu gimana juga gitu, ya kan?!" Di tempatnya, Rara masih asik dengan ceritanya. Tapi entah kenapa lamunanku justru berkata lain dan malah memikirkan hal lain pula yang entah kenapa bisa tiba-tiba hadir di otak dan pikiranku. Sampai-sampai mengesekiankan fokusku padanya dan malah tertuju pada satu arah di bawah sini dimana keberadaan karpet yang memang diduduki sedari tadi oleh kami bertiga lebih tepatnya di bagian depan sini tak jauh dari keberadaan Fani yang entah sadar atau tidak dengan apa yang aku lakukan saat ini. 'Jahat nggak sih kalau misalkan Rara lagi cerita tapi pikiranku malah tertuju di topik lain? Kaya istilahnya itu tertuju ke Arga. Huee ya Allah, kenapa rasa kangen bisa datang setiba-tiba ini sih?!' Entah sadar atau tidak, pendengaranku mulai mengabur atas apa yang dikatakan oleh Rara sedari tadi. Fokusku bahkan juga hilang di sini, sampai di keadaan aku benar-benar tak sadar jika apa yang aku lakukan ini tak sepantasnya aku gabungkan dengan keadaan dimana Rara yang sedang bercerita seperti sekarang ini. aku mencintai orang yang tak mungkin mencintaiku. Juga dengan aku yang selalu memikirkan orang yang tak mungkin memikirkanku, ditambah lagi dengan aku yang selalu berharap pada seseorang yang tak mungkin juga bisa ku genggam. Lebih parahnya, aku menyakiti diriku dengan sengaja dan maaf tidak mengizinkan diri sendiri untuk berusaha pergi dari itu semua. Bukankah aku memang bodoh? Yah ... Dan itu aku akui memang. Entah sampai kapan datang dengan alasan apa kelak aku akan menyudahi semua ini, yang pasti akupun juga sadar jika pada akhirnya memang yang tidak ada satu tujuan yang benar atasmu dariku. Semoga saja hati ini bisa menerima dengan lapang d**a, dengan ikhlas, dan pastinya dengan senyuman juga melepaskannya. Sosok laki-laki yang selalu terngiang-ngiang di dalam otakku, yang selalu terpikirkan tiba-tiba juga segala kenangan yang tak sengaja hadir di kehidupan nyata di masa lalu. Kenapa sampai sekarang masih saja hadir seolah tak ingin dilupakan dan tak ingin dibuang begitu saja, aku hanya bisa berusaha melupakan. Tapi urusan hasil, mungkin tak akan seinstan itu dan aku paham. Tapi aku tak mengerti juga dengan semuanya. Bukan kayak namanya cinta itu memang rasanya sangat indah kalau dipikirkan tapi ntar kan seindah yang dipikirkan jika kenyataannya tak sesuai dengan ekspektasi. Entahlah aku sendiri bahkan tak tahu juga apa itu cinta yang sebenarnya, apa itu sebuah keinginan untuk memiliki yang sebenarnya apakah ini hanya sebuah nafsu untuk bisa memenangkan ego yang ada pada diri sendiri atau ini emang murni? Tapi apakah mungkin jika ini benar-benar murni keberadaannya tentang sebuah keinginan untuk bisa mendapatkan sebuah kebahagiaan dari 1 sosok orang yang kenyatannya tak pernah bisa menoleh sedikit ke arah diri sendiri. Jujur ini berat bahkan memang sangat berat seolah-olah mencintai sendiri dan seolah-olah menginginkan sepihak itu rasanya lebih menyakitkan dari tidak mencintai seseorang sedikit pun di dunia ini. Terkadang aku berfikir apakah di saat aku berpikir sedemikian rupa seperti ini apakah sosok itu menyadari atau bahkan merasakan sedikit saja secuil dari apa yang aku inginkan mungkin ya entah itu tersedak ataupun apa bahkan semoga aja gitu loh tapi kalau gitu jatuhnya jadi seperti diriku sendiri yang jahat bukan? Yah entahlah. Mungkin bisa saja dikatakan jahat, tapi biarpun demikian pula seperti ini tak terlalu jauh juga karena kenyataannya aku sendiri pun justru lebih parah dijahati oleh sosok itu. Katanya cinta itu tak ada satu patokan sama sekali di dalamnya tapi kenyataannya pun tak sesuai dengan a statement statement atau bahkan semua hal yang sekiranya itu memang banyak terlontar dari orang-orang atau bahkan dari sebuah teori-teori percintaan mungkin yang mana itu juga seperti tak seperti biasanya dan kenyataannya. Yang katanya cinta itu mudah dan katanya cinta itu membahagiakan nyatanya aku sendiri sering tersiksa karena sebuah rasa cinta yang nyatanya bertepuk sebelah tangan ini. 3 tahun itu bukan waktu yang mudah untuk membuang semuanya saat ini, mungkin bisa saja jika sebuah hal tiba-tiba hadir di sini dan ya mungkin sebuah kenyataan yang menamparku dan membuatku sadar juga jika selama ini semua yang ku alami salah, seperti benar-benar sudah ada niatan untuk melepas bisa saja lepas begitu saja setelah itu. Jika memang susah dan tak bisa dengan mudah terlepas, mungkin aku juga tak tahu harus seberapa besar pula perjuangan ku untuk melupakan semuanya lagi tentang semua kenangan yang tak pernah disengaja hadir dan membuatku bahagia walaupun hanya satu detik atau beberapa detik saja tapi ingatan itu masih melekat jelas di otak dan seperti tersimpan begitu saja dengan rapat-rapat nya meskipun tanpa disadari oleh sang empunya lawannya saat ini. Tapi, semuanya seperti sebuah keindahan yang dipaksa buruk dalam sekejap. Jiwa-jiwa yang ingin yang sangat berat seperti ini apakah pantas untuk mendapatkan sesuatu yang diegonya penuh? Bahkan kita pun tak menampik nya jika mungkin kita menginginkan tapi kita juga terkadang tidak bisa memaksakan juga tapi bagaimanapun itu rasanya tetaplah seperti ingin memberontak sendiri tapi tak bisa dilakukan karena kenyataan yang kenyataannya pula tak pernah sepihak dengan apa yang diinginkan. Perihal mencintai tanpa membuktikan dan perihal menginginkan tapi tak ada usaha sama sekali mungkin akulah pemenangnya jika ada penghargaan di sini. Di sini aku sendiri memang sadar, perihal apapun itu terkadang diriku pun juga merasa ragu. Bahkan diri yang lemah ini bukannya me menyemangati diri tapi malah sering merendahkan juga dengan alasan-alasan yang dibuat-buat seolah aku pun memang tak pantas untuk siapapun. Perihal merasakan dan perihal saling menyalahkan mungkin aku adalah pemenangnya jika ada kategori dahsyat tentang hal itu perihal cinta yang entahlah terlalu rumit untuk dibahas dan dijelaskan. Aku pernah ah semudah itu berharap pada kenyataan tentang di masa lalu yang kini sudah pergi begitu saja tanpa ada sebuah usaha dan perjuangan juga tanpa ada sebuah kata memiliki sebelum berjuang dan akhirnya pergi begitu saja melupakan semuanya dari segala hal yang pernah berputar di otak dengan tujuan yang sama. Cinta monyet? Apakah mungkin jika waktu dulu adalah waktu dimana aku merasakan cinta monyet yang sebenarnya? Kini Arga sudah tak memunculkan tanda-tanda sedikitpun untuk meng feedback ku perihal rasa ini, sedangkan dulu aku pernah berharap pada satu laki-laki juga yang kenyataannya hanya bisa kuinginkan lewat tangan tanpa bisa ku genggam lewat kenyataan dan tanpa ada sebuah usaha untuk mendekat tapi justru dengan bersusah payah malah aku usahakan untuk menjauh dari segala bayangan-bayangan tidak jelas yang sering mengintaiku juga yang sering menggagalkan fokus pikiranku saat tak sengaja waktu mempertemukanku dengannya yang kini sudah pergi entah kemana dan kini sudah tak pernah kutemui keberadaannya di hadapanku ataupun dimana pun seperti dulu yang selalu berjumpa di waktu bahkan di segala keadaan yang tanpa diduga-duga. Suatu masa di masa lalu kini sudah berpindah menjadi masa ini tapi semuanya seperti masa lalu yang kenyataannya selalu membuatku bingung atau bahkan ragu dengan satu sosok orang mungkin yang mana itu berhasil mencuri hatiku dan membuyarkan segala kefokusanku untuk terus berproses tentang apapun itu. Percayalah, menjadi wanita baik-baik yang segala sesuatunya itu selalu dipikirkan sendiri dan segala sesuatunya itu selalu tak sejalan dengan apa yang diinginkan itu tak mudah untuk dilalui bahkan dirasakan terus menerus. Tetapi jika kenyatannya proses itu memang se menyakitkan ini, dan waktu seringkali membolak-balikkan perasaan atau bahkan kenyataan seringkali bertolak belakang dengan apa yang diinginkan mungkin aku sudah dewasa dengan semuanya tapi hati tetap saja lelah untuk terus berjalan seperti ini. Sampai sebuah pengharapan penuh kembali ku lontarkan agar sosok yang sekarang ini semoga segera diberi kepekaan pada diriku dan jika memang sosok itu adalah penyembuh dari semuanya semoga saja dipermudah dan jika memang tidak semoga saja hati ini semakin lapang d**a untuk kembali berproses untuk melupakan walaupun masih ragu juga untuk aku lakukan! Fyuh .... Pandangan ini menatap ke arah depan sana lurus, masih sedikit termenung. Kini lagi dan lagi ku helakan nafas dengan panjangnya. 'Yaa Allah sampai kapan aku berharap sama sesuatu yang apa sih kayak gini. Udah nyakitin diri sendiri eh direncanakan lagi, kurang kerjaan banget ya. Tapi asli deh udah adalah enam bulan sebelum ya pokoknya enam bulan setelah kit- eh kok kita. Ya intinya adalah 6 bulanan lulus dari SMA, ketemu Arga kapan ya? Ini kayaknya pas ngambil ijazah deh kayaknya. Atau buku kenangan ya? Ah taulah lupa aku, yang pasti itu emang udah lama banget sih kalau dipikir-pikir. Hmmm lagian kamu kurang kerjaan banget sih Ras, pake segala mikirin juga kan gini jadinya. Allahu Akbar ....' Tanpa berbasa-basi lagi kini ku angkat badan ini dari kenyamanan kursi sofa di ujung kamar kesayangan. Sedikit edarkan kuedarkan pandanganku ke arah samping kanan juga kiri di sudut kamar yang lumayan besar ini. Sampai helaan nafas panjang terlontar tanpa aba-aba bersamaan dengan diriku yang sengaja menatap ke arah jam dinding di atas sana. "Ya Allah udah jam 9 aja lagi, dari tadi nggak ngapa-ngapain aja udah capek. Hadeh ... Capek duduk ini mah!" Sedetik kemudian kaki ini melangkah ke luar kamar dengan perlahan setelah sebelumnya juga sempat merenggangkan otot-otot badan yang terasa pegal ini. Jujur, seringkali aku merasa lelah yang sangat lelah di sini. Lelah merasakan semuanya, lelah memikirkan semuanya lelah berharap dengan semuanya semuanya tampak melelahkan. Bahkan jika orang lain tak merasakannya mengirim balasannya karena begitu tidak sama sekali pada diriku yang memang selalu menutupi semuanya agar terlihat baik-baik saja padahal aslinya rapuh semua isi hati, otak, dan pikiran. Entahlah, ternyata menjadi dewasa itu se melelahkan ini. Jika dulu saat kecil yang ku inginkan adalah cepat-cepat dewasa, agar semuanya bisa mudah kudapatkan sendiri dan agar semuanya bisa aku paling tidak bisa aku miliki seperti yang terlihat mudah dulu dulu. Tapi kenyataannya ternyata kini semuanya berbanding terbalik 180 derajat, tak ada kata mudah dan tak ada kata yang yah sama seperti apa yang terpikirkan dulu. Semuanya seperti tak ada bentuk nyata dari semuanya yang terlihat di sini, tentang dulu yang sering mengira bahwa dewasa itu enak tentang dulu yang aku selalu mengira menjadi pribadi yang berwawasan luas di masa dewasa dan itu terbebas dari segala hal-hal yang mungkin bersangkutan dengan pendidikan tapi nyatanya semuanya salah. Jika dulu semuanya bisa aku minta dengan segala eyelanku, tapi ini semakin dewasa semakin sadar bahwa semua itu sia-sia dan tak bisa sama sekali terlalu menuntut. Lebih-lebih menuntut keadaan, bahkan memiliki 1 detik saja kebahagiaan yang datang tak terduga itu rasanya sudah menjadi anugerah tertinggi di sini. Berbeda dengan dulu, jika dulu meminta apapun harus dituruti karena tak tahu dan mungkin memang diri ini juga belum terlalu bisa mengerti keadaan. Tapi kini, justru itu untuk keadaan untuk bisa mengerti semuanya. Dewasa se menyakitkan ini ternyata. Kadang aku berpikir, bahkan lebih tepatnya juga terlalu sering. Perihal sebuah keadaan yang mana itu terlihat menyakitkan tapi diri juga tak bisa terlalu mempertontonkan hal itu yang mana di situ tuh kita kayak ngerasa malah mikirin perasaan orang lain itu daripada mikirin perasaan sendiri. Misalkan, ada masa dimana kita yang ngerasa kalau misalkan hidup in itu terlalu berat untuk di lewati sama sosok yang mana itu tuh kayak ada yang ada di diri sendiri gitu. Kayak udah nggak kuat ya udah ada di posisi yang benar-benar berat buat terus-terusan ngelakuin semuanya terus juga kayak ada di keadaan yang selalu memaksa buat biasa-biasa aja tapi kenyataannya tuh nggak bisa juga biasa-biasa aja. Tapi juga kadang-kadang itu kayak malah udah jahat tapi kita dituntut sama keadaan yang mana itu kadang juga buat diri sendiri kayak udah lah ngapain diumbar umbar biar aja diri sendiri yang rasa capek terus berasa pengen menyerah tapi nggak bisa terus berjuang tapi udah nggak kuat ya pokoknya semuanya lah. Rasanya tuh kadang kaya gila sih ternyata emangnya dewasa itu mainnya perasaan enggak cuma perihal percintaan doang, tapi kayak gini juga berat banget gitu ya ternyata. Hal-hal yang dilihatnya itu biasa aja sih sebenernya mau nggak biasa aja mungkin orang lain nilai tentang kita yang kayak sampai-sampai itu kayak kita yang malah anteng aja gitu diam di tempat yang gak ada perjuangan sama sekali nggak ada usaha sama sekali itu di situ tuh nggak tahu kalau misalkan kita terus juga sakit-sakitan buat nutupin semuanya, buat biasa-biasa aja sama semuanya biar kayak mereka melihatnya kita baik-baik aja dan emang kaya gini, seolah-olah kayak kita tuh enjoy nikmatin semuanya kita juga sebenernya menuntut keadaan juga buat sekali aja mengerti itu udah bikin bahagia banget pasti kalau misalkan ada suatu masa dimana keadaan itu mengerti diri. Dengan helaan nafas panjang telantarkan saat ini bersamaan dengan ponsel pintar ku yang kembali ku gletakkan begitu saja di samping sofa, "Yah mulai lagi kan gak jelas nya astagfirullahaladzim jadi orang enggak jelas banget sih kamu tuh Laras Laras. Kamu tuh asli deh ya Allah ribet banget sumpah kayak nggak tau ah pusing sendiri aku juga sama diriku sendiri. Laras ... Sampai kapan sih kamu terus-menerus kaya gini. Asli sih capek juga, tapi ya gimana lagi. Fyuh ... Tau ah, bingung aku. Kesel, nggak tau juga kudu gimana. Intinya capek aku sekarang, pengen rebahan aja. Males-malesan lagi sebelum kenyataan yang entah kapan beneran bisa merubah nasibku yang kek gini jadi lebih baik lagi. Aamiin ya Allah, semoga aja segera juga. Semoga aja nggak kelamaan juga, dan semoga aja emang cepet-cepet lah. Udah dalam mode capek maksimal banget kalau harus kaya gini terus. Fyuh ...'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD