Kangen serius?!

2011 Words
CTAK! Damn it, betapa terkejutnya aku dalam sekejap lantas menoleh kearah di mana keberadaan Fani dan Rara yang tidak tampak jalan-jalan kepala benar ketidakpercayaan itu jadi apa yang kau lihat dari kedua bola mataku yang memandang ke arah mereka berdua secara bergantian yang juga dibuat bingung dan bertanya-tanya penuh juga atas apa yang mereka lakukan saat ini. "Apa sih?!' tanyaku lola pada mereka yang justru malah dijawab sebuah gelengan kecil lagi dan lagi dengan senyuman ngirim pula yang mereka lancarkan saat ini dengan begitu lancarnya. "Apa ya apa ya, sumpah ya Allah kamu tuh sekarang tuh jadi kebanyakan melamun mikirin apa sih? Jujur kenapa jujur ama kita ngomong kita belum kalian berdua belum pulang gitu cerita sini. Mumpung kita lagi kumpul juga gitu loh ...." sahut Fani dengan begitu terkejutnya yang hanya kubalas sebuah kebingungan dari apa yang aku lakukan jika saat ini yang marah kamu menggaruk-garuk rambut yang tertusuk jilbab ini dengan penuh kebingungan tapi sedikit merasa. 'Lah, mereka sadar?!' sampai dengan sebuah cengiran tak jelas yang memang dalam sekejap seperti membuatku kepergok penuh atas apa yang aku ajarkan tadi dalam sekejap ulah membuatku sedikit yang tak jelas dan geleng-geleng kepala namun lagi dan lagi dibalas sebuah jitakan kecil oleh Fani dan disusul oleh Rara yang kini tampak semakin dibuat tak jelas lagi dengan diriku yang memang sudah tak jelas ini. "Apaan orang jelas-jelas ada apa-apa gitu, kamu tuh ya Ras. Sekarang tuh pinter banget boongnya ya nggak Fan?!" "Nah benerr, udah sih mana buruan cerita ada apa. Lagian kamu kalau kayak gitu tuh nggak bisa gimana ya kita juga kayak ngerasa gimana-gimana juga gitu lagi apa kamu kenapa sih dari tadi malam udah itu aja kita udah diem-diem aja ya Ra ya? Lah ini anak malah semakin kaya menjadi-jadi ujung-ujungnya kayak gini. CK ... Udahlah buruan cerita ada apa. Kalau mau kita paksa lebih lagi nih buruan cerita ada apaan ...." Nahkan, sama saja seperti apa yang aku juga mereka sudah sudah benar dibuat kesal denganku di sedangkan aku hanya bisa terkekeh kembali meresponnya nama masih kokoh dengan segala pendirianku yang seolah-olah memang memberi tahu kepada mereka bahwa aku ini tidak ada apa-apa pada kenyataannya aku sedang tidak baik-baik saja dan emang ini semuanya sudah seperti nama suku dari darah yang sukar membeku berharap lagi pada keadaan yang pernyataannya tak pernah sesuai dengan investasi dan tak pernah sesuai dengan jalan cerita yang aku buat sendiri ini. Jujur rasanya memang sangat mengcapek, tapi untuk cerita kepada mereka aku hanya takut karena hal itu mereka mengucapkan sebagai sosok wanita yang memakai tergila-gila pada sosok laki-laki yang nyatanya mereka tahu siapa orangnya tapi jika itu benar ya memang benar keberadaannya jika itu yang aku rasakan tapi entahlah rasanya sungguh memalukan jika aku terlalu terlihat demikian kepada mereka meskipun pada kenyataannya adakah juga tahu tapi bukankah itu ceritanya terlalu berlebihan juga kepadaku?! Fiuh ... Entahlah, yang pasti dari pendengaran dan juga penglihatan pada saat ini justru mereka masih juga lah ribut dan berdebat dan masih saja berarti untuk membuatku bercerita tapi aku masih paca untuk diam dan hanya menjawab dengan kecil dengan senyuman dan juga kekehan ringannya. "Sstt udah ah udah udah udah ... Ya udah iya iya nih aku jujur nih bener aku jujur. Ya emang sebenarnya tuh, gimana ya?!" ujarku dengan kalimat yang ku kenakan penuh saat ini kayak gini malah terlihat kembali menatapku dengan tatapan penuh tanya itu. Sampai sebuah helaan nafas panjang pun aku lontarkan saat ini, "Fyuh ... Ya udah iya iya emang aku jujur nih ya sebelumnya sampai berupa ma aku sama Rara belum mau pulang dan emang masih lumayan lama juga intinya itu karena kalian maksa aku bercerita jadinya ya ya sabar ya habis ini aku ceritain tapi maaf ya kalau misalkan ada kata-kataku atau memang dari apa yang aku ucapkan nanti itu malah buat kalian berpikir kalau aku gimana-gimana juga tapi serius deh sebenarnya aku juga bingung sama diri aku sendiri gitu aku tuh bilang kalau misalkan ini tuh yang terlalu berlebihan juga mungkin iya tapi aku juga nggak tahu udah gimana juga buat responnya terus juga kalau misalkan ini tuh terlalu gimana-gimana juga aku cuma mau bil-" CTUK! Damn it, 1 jitakan mendarat di keningku dengan begitu kerasnya sampai ucapanku belum terpotong dengan begitu refleksnya. Siapa lagi jika bukan karena ulah Rara yang sampai greget seperti sekarang ini nama malah aku jawab dengan segala kepolosanku yang terlihat biasa-biasa saja padahal kenyataannya aku sendiri juga bertanya-tanya atas aksi heroiknya saat ini. Sampai sebuah pertanyaan diskusi lebih dulu digambarkan oleh Fani atas apa yang dilakukan oleh Rara tadi yang memang itu juga membuat Fani terlihat terkejut juga di sini karena aksinya, bahkan tak hanya aku yang terkejut nyatanya Fani pun sama bukan? Ini pertanyaan yang terlontar itu justru membuat Rara menghelakan nafas panjang dengan pandangannya menatap ke arahku yang sampai sekarang masih sibuk bertanya-tanya juga. "CK! Kenapa sih ah, lagian Laras juga nih kelamaan. Nggak tau ditunggu kali ah ini anak, main lama-lama segala. Udah buruan apaan, cerita nggak sebelum aku juga orang masa aku bohong kamu ke rawa-rawa sana buruan!" "Sadis!" sinisku yang dihadiahi sebuah tatapan mata tajam dari Rara, bahkan hanya Rara karena kenyataannya Fani pun juga menatap ke arahku tapi kali ini dengan tatapan yang berbeda dengan sosok yang saat ini tampak kesal itu. Fanny justru geleng geleng kepala melangkah ke arahku dengan segelas tadi sebelum setengahnya kembali menatap ke arah Rara. "Ya iyaa bener, cuma yang gak ngaget-ngagetin gitu juga dodol. Aku aja kaget apalagi yang dijitakin noh, kaget nggak Ras?!" tanyanya diakhir kalimat dengan pandangannya yang sukses bertanya kembali yang justru aku jawab dengan sebuah gelengan kepala dan cengiran tak berdosa di sini. "Tau dah ah nyebelin lu berdua!" sahut Rara gemas, seringkali satu sisi akuarium Fani hanya bisa terkekeh di tempat. "Ya udah iya iya maaf deh ya Allah gitu aja marah, aku cerita udah jangan cemberut gitu habis ini kita deh. Nggak basa-basi lagi wkwkwk, suruh cerita nggak nih? Nggak usah marah ...." "Iya iya iya nggak marah nih loh asalkan buruan apaan cerita kamu mah kelamaan basa-basinya Ras, buruan ada apaa gitu loh sayangku ... Cintaku ...." "Eheheheu, sabarr ... Tapi janji ya kalian jangan mikir kalau misalkan aku terlalu berlebihan juga tapi emang kalau dipikir-pikir kayak gitu sih tapi jangan lupa juga bilangnya kan jadi malu sendiri akunya ...." "Hisss, ini lama-lama aku jadi aku jengkel sama kamu kaya si Rara tadi. Udah buruan apaan, lama bener ...." Pendengarnya refleks aku menoleh ke arah Fani yang kini gantian berucap demikian seperti apa yang diucapkan oleh Rara beberapa menit yang lalu dengan sang empunya nama juga kini tampak bersamaan dengan ku menatap ke arrah Fani dengan tatapan yang berbeda jelas dengan apa yang aku rasakan saat ini kepadanya. "Kan, dibilang ini anak tuh sekarang kebanyakan basa-basinya. Dia sendiri yang bilang nggak boleh tudepoin tapi emang itu tapi kan udah lah itu kita aja gitu gimana kalau misalkan kita nanti yang merespon ucapanmu dengan basa-basi udahlah Fan nanti kita balik aja. Nanti gantian kita yang basa-basi biar Laras sendiri yang pusing dan kesel ya nggak Fan? Biar aja nanti kita basa-basi, kita puyeng-puyeng in dulu aja cara kita merespon biar Laras yang capek sama kita yang basa-basi. Oke nggak?!" "Dih ngaco, ya orang aku lagi mau ngomong malah dipotong-potong terus sabar kenapa sih ya Allah. Sabar sayang sabar sabar ... Orang sabar disayang pac-" "Hishh, udah udah udah udah. Kali ini aku setuju sama apa yang diucapkan sama Rara tadi, kamu kelamaan Ras ... buruan apaan keburu kita lumutan tahu dengernya apa yang kamu omongin dan kayak gini kalau misalkan ujung-ujungnya cuma nggak jadi beuh kita adu jotos sampai habis aja nih Ra si Larasnya. setuju nggak?!', "Setujulah." "Dih jahat bener punya temen, gak punya temen juga gimana ya iya nih aku cerita, jadi tuh jujur ya pokoknya kalian diam dulu jangan marah-marah lagi ini aku cerita nih langsung to the point pokoknya kalian asalkan itu jangan motong ucapan itu pasti bakal lancar jaya selancar jalanan yang nggak tahu dimana lah pokoknya yang lagi sepi itu yang ada dibilang yang lagi rame lalu lintasnya lancar gitulah. Jadi aku cuma ngomong kalau misalkan sebenarnya tuh aku kangen seseorang, serius." Dan kini lihatlah apa yang mereka respon kan atas apa yang sudah aku ucapkan beberapa detik yang lalu itu yang justru malah ingin sekali membuatku merutuki segala apa yang aku ucapkan karena memang aku kini justru malah merasa terlalu to the point kepada mereka yang kenyataannya justru dari apa yang aku lihat sekarang tampak saling beradu pandang dengan keterkejutan dan ya mungkin memang bingung juga atas apa ya aku maksud dan apa yang aku maksud atas sosok itu. Yah, karena memang kenyatannya pasti mereka juga bingung siapa sosok itu. Kenapa? Karena diantara kita memang tak ada yang sedang dekat dengan siapapun dari yang mereka dan kami tahu satu sama lain dan otomatis jika aku berkata hal seperti itu jelaslah jika mereka bingung karena memang yang telah kami sebelumnya tak pernah ada yang ditutup-tutupi dan jika memang ada di antara kami yang memang benar-benar sedang didekati atau mendekati seseorang diantara kamu juga akan saling bercerita dan ini kan terlalu membuat mereka juga bingung atas sosial apa yang dimaksud olehku. Entahlah boleh percaya ataupun tidak tapi saat ini jadi apa yang aku lihat kini mereka masih tampak bingung dan diam dengan segera tetapkan yang sering mereka lontarkan saat ini tanpa ada respon sedikitpun dari apa yang aku ucapkan tentang sebuah tindakan atau sebuah kata yang memang mereka berikan untukku yang pasti sekarang ini mereka terlihat hanya saling berpandangan dan menatapku hal tersebut ke dalam lagi dan seperti itu untuk kesekian kalinya udah sampai ke beberapa detik ke depan dengan segala kediaman juga tanpa adanya contoh respon ucapanku saat ini yang justru itu membuatku berpikir dan malah makin merutuki atas apa yang aku ucapkan itu. Mata ini aku pejamkan sejenak, bersamaan dengan aksiku yang kini tampak mengalihkan pandanganku seketika ke arah samping yang mana itu juga berlainan arah dengan apa yang menjadi keberadaan mereka berdua saat ini itu membuatku sedikit berusaha tenang tapi nyatanya tak bisa juga aku menenangkan diri ini sampai sebuah tepukan di bahu kiriku di mana keberadaan mereka saat ini lantas mengagetkanku dan membuatku terlonjak kaget di tempat hingga sedetik kemudian aku kembali menatap kearah mereka berdua dengan cengiran tak jelasnya. "Apaan dih wkwk, kalian tuh lebay tahu nggak ada yang aku kangenin. Lagian kan aku nggak dekat sama siapa-siapa jadi ya santai aja kan kita nge-prank gitu loh wkwkwk paham nggak?!" 'Tapi boong, lagi kangen seseorang tapi kabarin kalian kayak gitu ya udahlah aku bilang aja ke prank bagian kalian juga nggak bakal percaya yang pasti kalau misalkan percaya pun agak gimana juga. Daripada menjadi masalah karena emang aku nggak deket sama siapa-siapa kecuali gebetan dulu yang masih bertahan. Ckck, gatau dah!' lanjutku dalam hati. Seraya pandanganku yang menatap ke arah mereka dengan sedikit was-was nya. "Buset boong aja lu, lagi kangen sama siapa ya Allah. Ini nih fun sekarang Laras begini selain nambah basa-basi mulu orangnya bercandaan yang berlebihan udah gitu sekarang bikin kita kepo kepo malah dijatuhin bilang prank. Kurang asem nggak tuh? Pengen banget asli dia pulangnya agak jauh jauh dari harapan kita kan nyebelin banget sumpah sekarang. CK, kamu tuh kesal juga nggak si Fani ya Allah, gemes aku HISH!" Mendengar itu hanya terkekeh, berbeda dengan sosok yang tengah diajak bicara oleh yang kini justru tampak memijat-mijat kepalanya seolah dibuat pusing olehku tapi aku ndak tahu Yang jelas gini aku hanya masih bisa terkekeh-kekeh di tempat meskipun aslinya aku sendiri juga tak bisa membohongi diri kau sendiri jika sejujurnya aku ingin jujur pada mereka tapi ada satu ketakutan yang membuatku justru malah berkata demikian agar tak kembali ditanyakan oleh mereka itu harapanku dan ternyata gini malah semakin membuat mereka kepo dan ujung-ujungnya kesal sendiri seperti sekarang ini. Dengan nafas panjang kulontarkan saat ini dengan begitu beratnya aku lontarkan sebuah kalimat, "sabar sabar tenang jangan marah-marah mulu nanti cepet tua. Hidupkan kudu dibercandain dikit, jangan serius-serius lah nanti tegang wkwkwk." "Tegang palamu botak, nggak usah bilang gitu juga kalau ada orang digituin greget buset! Maumu apaan ya Allah ... Kesel aing, serius Napa!" 'Lah ini udah serius!'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD