Ya Semoga Saja

1114 Words
"Ih bukannya bunda tahu, ya orang juga nggak sengaja dibilang aku ngagetin. Hishh bunda aja tuh yang lebay hiyahiyahiya ...." Entahlah, jika boleh dikatakan aku ini adalah anak yang sangat penting dalam sekejap yang bisa-bisanya baru saja anteng diam tak berkutik apapun tapi dalam sekejap justru mengeluarkan segala sikap barbarnya seperti sekarang ini seperti apa yang aku lakukan dan seperti responku yang dalam sekejap kembali menatap ke arah bunda dengan wajah-wajah tak bersalahku. "Atuh Laras juga nggak sengaja bunda Masya Allah ... nah kalau misalkan Bunda kaget itu tandanya bunda sendiri yang lagi fokus nonton sinetronnya ... bunda yang terlalu semangat bu-eh engga deng. Maksudnya itu bunda yang terlalu fokus sama nonton tv jadi aku bergerak sedikit aja bunda kaget. Gitu loh, paham kan Bund?!", Damn it, bisa-bisanya aku berkata demikian kepada sosok yang malahirkanku dulu. Bahkan menyadari hal itu apa hanya bisa meringis sendiri disini seraya mendapati dan menyadari secara penuh segala respon gelengan yang dilontarkan oleh bunda di sampingku dengan tangan kanannya juga yang kini tampak masih aktif mengelus-elus dadanya yang seolah-olah memang memperlihatkan bahwa dirinya benar-benar kaget. Berbeda denganku yang justru kini kembali beraksi dengan segala hal yang notabennya bertolak belakang atas apa yang aku lakukan beberapa detik yang lalu itu dan atas sebuah kalimat yang membuatku berhenti lah kan malah menatap ke arah bunda dengan segala rasa tak bersalah seperti sekarang ini. "Maaf atuh lah bund, hehehe. Maaf ya Bun kalau misalnya ngagetin-ngagetin ... ya walaupun Laras juga nggak sengaja sih bund, tapi ya intinya sama aja sih maaf ya Bun hehehe ...." Tak tega lah jelas aku menatapnya, bukan karena sebuah belah kasihan ataupun apa menatap bunda yang benar-benar seperti terkejut dan mendalami karakter sinopsis yang sebenar-benarnya terjadi di dunia ini dan alur cerita yang emang real ini. Tetapi memang sedikit banyaknya aku teringat jika bunda adalah sosok orang yang tidak bisa di kagetin sedikit pun entah itu kecil ataupun besar. Sebuah pelukan erat kan aku antarkan ke arahnya bersamaan dengan dirinya yang dalam sekejap tampak menjitak keningku dengan tipis tapi tetap terasa walaupun tidak parah tapi aku tahu sendiri jika itu adalah sebuah bentuk kejengkelannya atas aksi yang tak sengaja aku lakukan itu. "Sakit loh Bun, ih bunda mah ...." rengekku padanya yang yang didetik setelahnya justru pelukanku itu dibalas penuh oleh bunda. Dielusnya penuh, bahkan dalam sekejap aku kembali seperti kembali menjadi bayi yang dipeluk oleh siapapun dan dengan begitu eratnya dengan segala kenyamanannya dan juga dengan segala hal yang di respon kan bunda terhadapku seperti sekarang ini. "Kamu itu, ya makanya kalau apa-apa kok itu biasa aja dong Mbak ... kalau kamu sendiri mah terserah kamu mau ngapain aja bunda juga udah lah terserah. Tapi kalau sama bunda Kan tahu sendiri bunda tuh orangnya kagetan, ya walaupun disengaja ataupun nggak bunda juga nggak tahu tapi kan ya intinya lu jangan nagih-nagih bunda juga dong ... kena jitak kan jadinya malahan sama Bunda. Hmmm, nakal sih kamu. Tahu kalau bundanya kagetan masih aja dikaget kagetin, udah sini mana masih sakit nggak mbak? Lain kali nggak usah ngajak ngagetin bunda lagi ntar kena sasaran bunda kamu tambah malah berubah lagi untung aja ini langsung bunda elus-elus nih. Coba kalau engga merah pasti itu jidatmu mbak!" Yah memang seperti inilah sosok bunda kepadaku, mau sebegitu marah ataupun sebegitu kesalnya kepada-ku pasti ujung-ujungnya aku adalah anak perempuan yang seolah-olah sering dimanja olehnya tapi juga seringkali juga dianggap seperti sepele olehnya walaupun mungkin itu hanya pikir aku saja dan segala overthinking yang selalu mencintaiku tapi memang begitulah kenyataan yang sering aku rasakan di sini. Helaan nafas panjang pun aku lontarkan, dalam sekejap aku yang ingin bangkit dari pelukan itu yang menyadarkanku seolah-olah aku ini seperti anak kecil yang tak menerus dewasa aku pun sedikit mengedarkan pelukanku itu dan dengan begitu sengajanya tapi entah lah bunda tetaplah bunda yang sulit sekali untuk melepaskan sesuatu hal yang baginya itu sangat disayangi mungkin? Karena bagaimanapun juga terlihat dari aksinya yang menahan melepaskan pelukan bunda ditambah lagi dengan badanku yang seolah-olah sudah menolak kembali untuk diberi pelukan yang entah itu memang sebuah pertanda jika bunda sayang kepadaku tetapi sama saja jika pada kenyataannya justru semakin membuatku geli di sini. Rasanya ingin sekali cepat-cepat menyudahi semuanya tapi sangatlah susah. Sampai dengan segala rasa beratnya aku pun mencubit dengan gemas pinggang bunda walaupun tak sebenar-benarnya mencubit karena kau sendiri tau batasannya antara orang tua dan anak yang dalam sekejap juga siapa sangka jika kau kan ini kembali terlepaskan setelah aku berkata. "Eh iya, ngomong-ngomong gimana tadi interview-nya Mbak? Lancar aja kan hmmm?!" ujarnya setelah pasrah menyadari aku yang kini sudah terbebas penuh dari pelukannya. Hingga aku yang mendengar itu pun pandanganku dalam sekejap menatap ke arah keberadaan bunda yang penuh menatapku, setelah diriku juga yang baru saja membenarkan posisi dudukku mencari kenyamanan lagi di sofa empuk ini. "Ya enggak gimana-gimana bunda yang intinya ya kayak gitu, interview-nya itu ya kayak interview yang kemarin-kemarin Laras lakuin ya pokoknya kayak gitu ditanyain gitu. Kan namanya juga interview kan pasti ditanya ya dijawab itu aku ya pokoknya mah laras mah enggak gimana-gimana juga apa istilahnya kayak Laras ditanya yang arah jawab seadanya gitu, Laras mah jawabnya juga jujur kok bun santai aja jadi kalau misalkan ada satu pertanyaan nih siapa yang di mana itu tuh Laras merasa nggak mau ah masa iya Laras bilang nggak bilang gini gitu daripada nanti malah pas gak taunya Laras bohong pas interview biar keterima kerja eh pas kerja di terima beneran bingung mau lokasinya gimana kan malah jadi Laras sendiri yang repot yang jujur di awal daripada bingung di akhir gitu loh Bund. Iya kan?!" "Heem ...." "Eh?!" kagetku sedikit tak terkontrol saat jari telunjuk bunda kembali mengetuk jidatku dengan pelan memang tapi lumayan terasa dan mengejutkanku sampai sedikit mengeluarkan suara seperti beberapa detik yang lalu itu. "Ya emang konsepnya tuh kayak gitu mbak, mau kayak gimanapun ceritanya juga yang enggak jujur dari awal tuh pasti malah keteteran di akhir. Bunda suka pemikiran kamu mbak, bunda tahu kamu emang butuh pekerjaan itu tapi kamu nggak mau bermain curang bunda suka kamu. Karena memang bener apa apa itu yang terlalu egois kali itu enggak baik dan apa-apa yang terlalu dilebih-lebihkan itu juga nggak baik, bangga mbak bunda sama kamu. Mau bagaimanapun hasilnya nanti udah kamu serahin aja sama yang kuasa, ya kalau bunda mah juga doanya semoga kamu keringat tapi semua itu juga tergantung kehendak-Nya juga kan. Karena sebaik-baiknya takdir itu adalah yang berasal dari-Nya, sebaik-baiknya keputusan adalah karena ridho Allah juga gitu loh mbak. Kamu tenang aja karena kalau misalkan itu yang menjadi rezeki kamu pasti ya gak jadi hak kamu enggak akan kemana-mana, keep strong ya Mbak. Apapun hasilnya nanti serahin sama yang di atas. Karena dzatnya lebih tau yang terbaik untuk hambanya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD