Memang Aku Ini Gila!

2023 Words
Mendengar apa yang dilakukan oleh Rara tiba-tiba itu, entah kenapa rasanya ingin kesal tapi aku juga sadar diri dan tahu jika hal itu pun enggak mungkin aku lakukan karena memang kenyataannya seperti itu sampai sebuah pernyataan keluar dari mulutku berupa. "Ya emang aku gila!" refleksku yang justru malah dihadiahi sebuah pelukan erat oleh karena terjadi dari arah samping sini. "Heyy, ya Allah aku tuh bercanda anta seriusan enggak maksudnya itu nggak gitu loh sayangku jangan marah ya jangan marah serius nih kamu marah ya sama aku ya karena aku ngatain kamu gila ya?!" sahutnya penuh kekhawatiran dan takut. Entahlah apa yang ada dipikiran Rara saat ini, padahal aku yang demikian sampai seperti ini itu juga karena aku sadar bukan karena marah ataupun apa dengan apa yang dilontarkan olehnya tadi karena refleks. Karena jujur aku akui juga aku memang kenyataannya seperti sudah dibuat di atas apa yang dihadirkan oleh pernyataan tentang jalan hidupku ya sepertinya terlalu dirumitkan oleh persoalan cinta yang tak pasti ini pada kenyataannya hidup ini pun tak selamanya tentang hal itu. Entahlah, ini lucu tapi lucu yang tak bisa ditertawakan melainkan hanya sebuah kelucuan yang hanya bisa ditangisi karena memang kenyataannya aku sendiri pun sadar akan hal itu secara penuh padahal tak seharusnya juga aku seperti itu tapi entah lah diri ini sudah terlalu diberi penyakit apa entah tak tahu yang sampai apa-apanya itu terlalu dirumitkan seperti ini. Jika dikatakan capek ataupun tidak jelas aku sangat capek dengan hari ini tapi mau bagaimana lagi, hidup tetaplah hidup yang kenyataannya harus dilalui dan dilewati entah itu perihal cinta ataupun tidak pada kenyataannya aku pun sedang membutuhkan hal lain yang lebih penting yaitu pekerjaan tapi jika kedua-duanya gagal karena aku merasa semakin gila sendiri? Lamunanku yang tak seberapa itupun terbuyar dalam sekejap, saat sebuah tepukan penuh udara di bahuku dengan seorang gadis yang masih dengan hebohnya berpeluk-pelukan padaku dengan segala aksi-aksinya yang seolah-olah dirinya meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan pada kenyataannya dirinya sendiri tak salah apa-apa sebagai apa yang dilakukan oleh Rara saat ini. Dengan segera pula aku jauh kan tangan itu dari badanku dan aku sedikit jauhkan pola badan itu dari diriku yang kenyataannya terlalu ditempeli olehnya. "Apa sih Rara ya Allah, udah sih nggak apa-apa aku tuh lagian kayak gitu juga bukan karena marah ataupun apa itu nggak. percaya deh udahan ini kayaknya ada pelukannya udahan ih. Geli atuh woy pinggangku ...." DAMN IT, bagaimana lagi jika kenyataannya sebuah pelukan itu tak kunjung dilepaskan oleh Rara hal itu justru sukses membuatku semakin greget untuk berusaha melepaskan nya namun masih saja tak bisa aku lakukan sampai sebuah cubitan pun aku layangkan kepada sosok itu yang sontak menjerit sempurna yang sukses hal itu membuatku terkejut bukan main juga karena telingaku yang seketika terasa pengang. "Woy, begini juga kali ceritanya ya Allah gusti Masya Allah. Iya iyaa ya Allah, biarpun kamu mau salah ke atau enggak tapi begitu kamu nggak salah tapi kalau kamu kayak gini ya udahlah kalau misalkan maksa. Iya iya iyaa nggak apa-apa, tak maafiin udah diem lepas!" Dan yah benar saja, selesainya aku berkata demikian Rara benar-benar melepaskan pelukannya kepadaku yang sebelumnya sangat sangat itu kini pun longgar penuh hingga pelukan itu pun lepas secara sukses. Helaan nafas panjang terlontar dariku, sampai tak sengaja pandanganku mendapati Fani yang kini tampak geleng-geleng kepala di sana yang mana itu juga sukses membuatku berpikir dan teringat jika saat itu juga ada yang heboh beberapa detik yang lalu itu. "Nah gitu dong, bodo amat deh kamu mau bilang beneran gitu maksudnya kayak beneran emang tadi nggak marah ataupun enggak yang penting aku udah minta maaf udah lah nantinya yang itu aku udah lega refleks Ras. Serius deh, nggak sengaja aku tuh kayak tadi nyeletuk kaya gitu ehehehe. Maafin yahh," lagi dia berkata demikian yang kembali membuatku menghilangkan nafas panjang di sini dengan segala berat hatinya merespon jawaban 'Iya' kepadanya. "Berisik deh Ra, udah udah udah udah berpelukan yang kayak Teletubbies nya udahan. Orang Laras cerita kan pengen dikasih saran atau apa malah dipeluk-peluk gitu. CK, iya tahu aku kalau misalkan kaget aku juga kaya gitu tapi ya enggak gitu juga kali Ra ya Allah ... jiwa-jiwa bar-barmu tuh seketika keluar tauuu ...." sahut Fani penuh yang kusadari segala keterdiamannya tadi. Rara mengerucutkan bibirnya beberapa senti ke depan mendengar apa yang terlontar oleh Fanny itu, iya aku tahu juga salah tapi tidak apa-apa juga sih walaupun emang kenyataannya apa yang diucapkan oleh Fani itu juga benar. Tapi untuk kasus ini aku hanya bisa terkekeh lagi dan lagi merespon hal kecil yang tengah terjadi pada kami saat ini itu. "Hish ya udahlah, iya iya maaf ya Allah jadi enggak jadi kan kita malah eh kok kita aku malah merusak suasana ya Allah maaf maaf. Lagian gimana ya ibarat kata tuh kayak yang ngagetin juga lah Laras tiba-tiba bilang kayak gitu ya orang nggak papa sih kita juga nggak apa-apa kita juga kayak enggak masalah juga gitu kalau misalnya kamu mau berjuang ya Monggo silakan tapi kalau misalkan ibarat kata tuh kayak semuanya itu mah jadi sia-sia yang kaya kalau bisa dibilang juga kamu harapkan sesuatu yang tak pasti kalau kan bukannya aku malah buat kamu member ataupun apa ya ras tapi kalau misalkan emang itu sesuatu yang malah buat kamu jadi punya penyakit hati mending mundur tak kira bisa kan itu memang kayak Tuhan itu ngasih jalan buat kamu berharap sama dia terus kayak kamu juga dikasih kesempatan sama Tuhan ya oke nggak masalah itu juga kan nggak ada yang tahu jalan takdir hidup seseorang itu kayak gimana. Jadi ya kalau misalkan itu emang suatu saat tiba-tiba emang kalau misalkan dibilang kan emang sekarang kamu nggak pernah deket tuh ya kayak sedekat apapun kamu sama dia terus kayak saling chattingan ataupun sekontak itu kan jarang ya aku bukannya mempertohok kenyataan itu atau apa itu yang sekiranya kayak malah menjerumuskan ke hal-hal yang kayak punya tujuan kamu sama dia itu atuh bukan kayak gitu ya. Aku di sini cuma ngasih tau aja jangan sampai kamu juga kayak aku gitu loh mah jadi selalu ngarepin si doi tapi kenyataannya doi juga nggak ini. Eh tapi kalau dipikir-pikir, kok kisah kita sama aja yah?!" tanya Rara di akhir ucapannya sana yang sukses itu sedikit membuatku tenang waktu-waktu sebelumnya tapi ini justru membuatku sedikit gusar karena sebuah tepukan yang memang bukan untukku tapi untuk Rara yang dikeluarkan oleh funny saat ini sukses membuatku terdongak dan malah menatap ke arah sosok itu dengan segala kepanikannya. "Husss, kita bahas soal ini dulu lah ... Jangan bahas lainnya dulu, ya emang kalau dipikir-pikir emang kita tuh ceritanya sama aja cuman ya udah lah kan di sini tuh kita bahas tentang Laras gitu loh sebisanya ya kita tuh ngasih solusi atau saran kalau bisa ya ngebantu gimana caranya biar dekat pokoknya gimana baiknya aja lah. Kita juga nggak tahu kedepannya bakal kayak gimana terus juga kita kan cuma bisa berusaha juga gitu loh udah nggak usah dibahas lagi kita mah gampang kalau saling curhat kan udah biasa naik kita sekarang saja tentang si Arga. Paham mbak Rara?!", Penuh penekanan namun sangat tegas aku rasakan penuh dari segala kalimat yang terlontar dari mulut Ani beberapa detik yang lalu itu. Sampai sebuah senyuman tipis aku lontarkan dari arah dua sudut bibirku yang tertarik ini. Aku tahu dan aku paham atas apa yang dimasukkan oleh kalimat yang terlontarkan Fani barusan, ya memang terkadang mungkin pertemanan itu seperti ini yang ibarat kata seperti jika ada 1 orang yang bercerita terkadang jiwa-jiwa lain yang ingin bercerita itu pun melonjak drastis tapi aku senang dengan mereka malahan. Tapi mau bagaimanapun jika memang sudah begini memang terlalu sulit juga untuk dihilangkan pakan seperti kebiasaan tapi memang untuk kali ini sedikit aku acungi jempol sikap Fani saat ini, aku memang menginginkan sebuah solusi atau pun apa gitu lah yang intinya tuh membuat hatiku tenang gitu. Bukankah jika kenyataannya tiba-tiba Rara kembali malah menceritakan tentang kisah cintanya bukan itu mah sama saja mengusir segala cerita aku dan menggantikan dengan ceritanya? Aku bukannya tak ikhlas akan hal itu tapi aku hanya berusaha tidak munafik atas keadaan jika kenyataannya jika hal itu terjadi pula kakak salah mungkin akan hadir diantara diriku saat ini. Tapi untungnya saja hal itu ditepis jauh oleh sikap Fani yang dewasa itu, yang justru malah kembali ku dapati sebuah permintaan maaf dari sosok Rara saat ini yang justru membuatku kembali tersenyum dan menggeleng dengan serius. "Apa sih ah, kamu tuh minta maaf terus dia kayak lebaran aja minta maaf terus kamu tuh minta maaf terus udah kayak lebaran aja kerjaannya minta maaf terus dari tadi capek aku dengernya. Iya iya Masya Allah nggak apa-apa kamu tuh ih gemes aku lama-lama udah lah nggak usah bahas lagi ya udahlah nggak apa-apa lagian juga nggak penting udah nggak papa ini kita pulang aja yuk enggak usah dibahas lagi persoalan ini daripada malah pusing. Lagian aku juga kayaknya yang terlalu ngarep sama keadaan. Ya udah nggak usah dibahas lagi aku tahu kok kalian pasti juga capek dengernya aku yang kayak gini terus yang seolah-olah berharap pada sesuatu hal tetapi pada kenyataannya sesuatu itu tak pernah bisa aku genggam. Yang mungkin malah kenyataannya hanya bisa aku angan-angan kan saja tak bisa aku miliki secara penuh, bukan sesuatu keadaan yang memang kenyataannya bisa aku genggam dengan erat dan aku banggakan karena sebuah kenyataan yang seperti emang mengizinkan aku dengannya bersatu tapi kan semuanya mungkin mustahil gitu loh. Itu sangat-sangat impossible banget di sini, udah udah nggak usah dibahas lagi aku tahu kalian capek aku tahu kalian udah mulai males aku tahu dah kalian mulai greget sama aku juga. Ehehehe, maaf deh aku yang tiba-tiba bersikap kayak gini yang memang kayak tiba-tiba juga malah cerita panjang lebar kalau misalkan aku masih berharap sama dia. Aku minta maaf deh ya kawan-kawanku yang cantik ini." Memang, semakin detik semakin detik pertambahan sadar dan semakin baik juga kepada mereka karena terlalu berlebihan seperti itu lagi dan lagi. Sebuah tepukan tidak hadir di bahu kanan yang juga kirim ke siapa lagi jika bukan karena ulah Fani juga Rara yang seketika pula membuatku menoleh sudah berada di samping kanan dan kiriku saat ini. "Uuuututututu, aku tuh sayang banget sama kamu eh maksudnya kita tuh sayang banget sama kamu Ras ... Kita nggak bakal support kamu dalam keadaan apapun. Kita kita juga bilang kayak gitu sama kita-kita juga nggak nyalahin kamu atau apa karena ternyata hanya di sini tuh keadaan yang salah. Tapi ya bukannya nggak ada juga sih tapi kita cuma berusaha aja buat realistis tapi kalau misalkan kayak gini kan jadi kesannya tuh gimana gitu. Udah nggak apa-apa, keep kalem oke baby?!" Grep! Aku terkejut, tiba-tiba dari arah kanan dan kiri sana mereka berdua tampak memelukku erat. Rara yang baru saja berbicara panjang lebar seperti itu usaha kreatif dan berusaha untuk membuat percaya bahwa memang kenyataannya itu bukan salahku itu juga memang sukses membuatku tersenyum kepada segala aksi dan ucapannya. Sama halnya seperti apa yang terlantarkan oleh Fanny baru saja, dirinya juga memelukku erat sama seperti apa yang dilakukan oleh Rara sukses membuatku semakin rendah oleh keadaan yang seperti membuatku tiba-tiba tersihir hilangkan segala pikiran pikiran tak jelas kau tadi seperti terucap begitu saja oleh angin sampai sebuah ucapan kembali kudengar dari pendengaran ini secara jelas yang berbunyi. "Kita tau kamu selama ini memang sayang sama dia itu murni Ras dari hatimu, kita tahu kita tahu kalau misal kamu memang benar-benar sayang sama dia. Sebenarnya mah dari dulu tapi kita cuma memang sengaja diem aja. Kita tuh memang tahu, kalau kamu tuh emang sayang sama dia bahkan sampai sekarang pun itu tuh masih terlihat jelas dari sekarang kamu dan segala apa ya kayak sifat kamu menceritakan hal itu tuh kayak memperlihatkan kalau kamu sayang sama dia gitu loh. Dan itu tuh bukan karena sebuah obsesi apapun apa seperti apa yang kamu ucapkan tadi, itu tuh bukan karena kamu gila karena dijodohkan dulu sampai sekarang jadi kayak gini nggak. Kita tau mana yang tulus mana yang enggak, kita tau mana yang dari hati atau emang dari mulut saja. Kita tuh paham kita ngerti tapi tenang aja kita bakal support kamu pokoknya dalam segala hal. Asalkan kamu cerita oke? Dikit-dikit jangan dipendam sayang ... Itu nggak bagus hmmm ... Janji oke?!'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD