Usaha Tak Menghianati

2013 Words
Hari yang cerah selalu didamba dambakan oleh setiap orang, sama halnya seperti sosok pembucin nama keras yang diam-diam selalu demikian tapi di mata orang lain adalah sosok yang sangat polos. Laras, panggil saja aku dengan nama Laras. Entahlah, jujur aku sendiri sering berpikir demikian. Bahkan jika pun ada yang mengetahui hanya beberapa saja yang mengetahui bahwa aku adalah sosok wanita yang bucin garis keras tanpa diketahui orang. Sahabatku sendiri, Rara dan Fani. Justru mereka sering mengataiku bodoh karena memang aku pun juga mengakuinya dibalik segala ketidak jelasan ku menunggu kepastian yang tak akan mungkin pasti juga ujungnya. Singkatnya, aku mencintai orang yang tak mungkin mencintaiku. Juga dengan aku yang selalu memikirkan orang yang tak mungkin memikirkanku, ditambah lagi dengan aku yang selalu berharap pada seseorang yang tak mungkin juga bisa ku genggam. Lebih parahnya, aku menyakiti diriku dengan sengaja dan maaf tidak mengizinkan diri sendiri untuk berusaha pergi dari itu semua. Bukankah aku memang bodoh? Yah ... Dan itu aku akui memang. Entah sampai kapan datang dengan alasan apa kelak aku akan menyudahi semua ini, yang pasti akupun juga sadar jika pada akhirnya memang yang tidak ada satu tujuan yang benar atasmu dariku. Semoga saja hati ini bisa menerima dengan lapang d**a, dengan ikhlas, dan pastinya dengan senyuman juga melepaskannya. Sosok laki-laki yang selalu terngiang-ngiang di dalam otakku, yang selalu terpikirkan tiba-tiba juga segala kenangan yang tak sengaja hadir di kehidupan nyata di masa lalu. Kenapa sampai sekarang masih saja hadir seolah tak ingin dilupakan dan tak ingin dibuang begitu saja, aku hanya bisa berusaha melupakan. Tapi urusan hasil, mungkin tak akan seinstan itu dan aku paham. Tapi aku tak mengerti juga dengan semuanya. Bukan kayak namanya cinta itu memang rasanya sangat indah kalau dipikirkan tapi ntar kan seindah yang dipikirkan jika kenyataannya tak sesuai dengan ekspektasi.  Entahlah aku sendiri bahkan tak tahu juga apa itu cinta yang sebenarnya, apa itu sebuah keinginan untuk memiliki yang sebenarnya apakah ini hanya sebuah nafsu untuk bisa memenangkan ego yang ada pada diri sendiri atau ini emang murni?  Tapi apakah mungkin jika ini benar-benar murni keberadaannya tentang sebuah keinginan untuk bisa mendapatkan sebuah kebahagiaan dari 1 sosok orang yang kenyatannya tak pernah bisa menoleh sedikit ke arah diri sendiri. Jujur ini berat bahkan memang sangat berat seolah-olah mencintai sendiri dan seolah-olah menginginkan sepihak itu rasanya lebih menyakitkan dari tidak mencintai seseorang sedikit pun di dunia ini.  Terkadang aku berfikir apakah di saat aku berpikir sedemikian rupa seperti ini apakah sosok itu menyadari atau bahkan merasakan sedikit saja secuil dari apa yang aku inginkan mungkin ya entah itu tersedak ataupun apa bahkan semoga aja gitu loh tapi kalau gitu jatuhnya jadi seperti diriku sendiri yang jahat bukan? Yah entahlah. Mungkin bisa saja dikatakan jahat, tapi biarpun demikian pula seperti ini tak terlalu jauh juga karena kenyataannya aku sendiri pun justru lebih parah dijahati oleh sosok itu.  Katanya cinta itu tak ada satu patokan sama sekali di dalamnya tapi kenyataannya pun tak sesuai dengan a statement statement atau bahkan semua hal yang sekiranya itu memang banyak terlontar dari orang-orang atau bahkan dari sebuah teori-teori percintaan mungkin yang mana itu juga seperti tak seperti biasanya dan kenyataannya. Yang katanya cinta itu mudah dan katanya cinta itu membahagiakan nyatanya aku sendiri sering tersiksa karena sebuah rasa cinta yang nyatanya bertepuk sebelah tangan ini.  3 tahun itu bukan waktu yang mudah untuk membuang semuanya saat ini, mungkin bisa saja jika sebuah hal tiba-tiba hadir di sini dan ya mungkin sebuah kenyataan yang menamparku dan membuatku sadar juga jika selama ini semua yang ku alami salah, seperti benar-benar sudah ada niatan untuk melepas bisa saja lepas begitu saja setelah itu. Jika memang susah dan tak bisa dengan mudah terlepas, mungkin aku juga tak tahu harus seberapa besar pula perjuangan ku untuk melupakan semuanya lagi tentang semua kenangan yang tak pernah disengaja hadir dan membuatku bahagia walaupun hanya satu detik atau beberapa detik saja tapi ingatan itu masih melekat jelas di otak dan seperti tersimpan begitu saja dengan rapat-rapat nya meskipun tanpa disadari oleh sang empunya lawannya saat ini. Tapi, semuanya seperti sebuah keindahan yang dipaksa buruk dalam sekejap.  Jiwa-jiwa yang ingin yang sangat berat seperti ini apakah pantas untuk mendapatkan sesuatu yang diegonya penuh? Bahkan kita pun tak menampik nya jika mungkin kita menginginkan tapi kita juga terkadang tidak bisa memaksakan juga tapi bagaimanapun itu rasanya tetaplah seperti ingin memberontak sendiri tapi tak bisa dilakukan karena kenyataan yang kenyataannya pula tak pernah sepihak dengan apa yang diinginkan.  Perihal mencintai tanpa membuktikan dan perihal menginginkan tapi tak ada usaha sama sekali mungkin akulah pemenangnya jika ada penghargaan di sini. Di sini aku sendiri memang sadar, perihal apapun itu terkadang diriku pun juga merasa ragu. Bahkan diri yang lemah ini bukannya me menyemangati diri tapi malah sering merendahkan juga dengan alasan-alasan yang dibuat-buat seolah aku pun memang tak pantas untuk siapapun.  Perihal merasakan dan perihal saling menyalahkan mungkin aku adalah pemenangnya jika ada kategori dahsyat tentang hal itu perihal cinta yang entahlah terlalu rumit untuk dibahas dan dijelaskan. Aku pernah ah semudah itu berharap pada kenyataan tentang di masa lalu yang kini sudah pergi begitu saja tanpa ada sebuah usaha dan perjuangan juga tanpa ada sebuah kata memiliki sebelum berjuang dan akhirnya pergi begitu saja melupakan semuanya dari segala hal yang pernah berputar di otak dengan tujuan yang sama. Cinta monyet? Apakah mungkin jika waktu dulu adalah waktu dimana aku merasakan cinta monyet yang sebenarnya? Kini Arga sudah tak memunculkan tanda-tanda sedikitpun untuk meng feedback ku perihal rasa ini, sedangkan dulu aku pernah berharap pada satu laki-laki juga yang kenyataannya hanya bisa kuinginkan lewat tangan tanpa bisa ku genggam lewat kenyataan dan tanpa ada sebuah usaha untuk mendekat tapi justru dengan bersusah payah malah aku usahakan untuk menjauh dari segala bayangan-bayangan tidak jelas yang sering mengintaiku juga yang sering menggagalkan fokus pikiranku saat tak sengaja waktu mempertemukanku dengannya yang kini sudah pergi entah kemana dan kini sudah tak pernah kutemui keberadaannya di hadapanku ataupun dimanapun seperti dulu yang selalu berjumpa di waktu bahkan di segala keadaan yang tanpa diduga-duga. Suatu masa di masa lalu kini sudah berpindah menjadi masa ini tapi semuanya seperti masa lalu yang kenyataannya selalu membuatku bingung atau bahkan ragu dengan satu sosok orang mungkin yang mana itu berhasil mencuri hatiku dan membuyarkan segala kefokusanku untuk terus berproses tentang apapun itu.  Percayalah, menjadi wanita baik-baik yang segala sesuatunya itu selalu dipikirkan sendiri dan segala sesuatunya itu selalu tak sejalan dengan apa yang diinginkan itu tak mudah untuk dilalui bahkan dirasakan terus menerus. Tetapi jika kenyatannya proses itu memang semenyakitkan ini, dan waktu seringkali membolak-balikkan perasaan atau bahkan kenyataan seringkali bertolak belakang dengan apa yang diinginkan mungkin aku sudah dewasa dengan semuanya tapi hati tetap saja lelah untuk terus berjalan seperti ini.  Sampai sebuah pengharapan penuh kembali ku lontarkan agar sosok yang sekarang ini semoga segera diberi kepekaan pada diriku dan jika memang sosok itu adalah penyembuh dari semuanya semoga saja dipermudah dan jika memang tidak semoga saja hati ini semakin lapang d**a untuk kembali berproses untuk melupakan walaupun masih ragu juga untuk aku lakukan! Fyuh .... Pandangan ini menatap ke arah depan sana lurus, masih sedikit termenung. Kini lagi dan lagi ku helakan nafas dengan panjangnya. "Ya Allah sampai kapan aku berharap sama sesuatu yang apa sih kayak gini. Udah nyakitin diri sendiri eh direncanakan lagi, kurang kerjaan banget ya. Tapi asli deh udah adalah enam bulan sebelum ya pokoknya enam bulan setelah kit- eh kok kita. Ya intinya adalah 6 bulanan lulus dari SMA, ketemu Arga kapan ya? Ini kayaknya pas ngambil ijazah deh kayaknya. Atau buku kenangan ya? Ah taulah lupa aku, yang pasti itu emang udah lama banget sih kalau dipikir-pikir. Hmmm lagian kamu kurang kerjaan banget sih Ras, pake segala mikirin juga kan gini jadinya. Allahu Akbar ...." Tanpa berbasa-basi lagi kini ku angkat badan ini dari kenyamanan kursi sofa di ujung kamar kesayangan. Sedikit edarkan kuedarkan pandanganku ke arah samping kanan juga kiri di sudut kamar yang lumayan besar ini. Sampai helaan nafas panjang terlontar tanpa aba-aba bersamaan dengan diriku yang sengaja menatap ke arah jam dinding di atas sana. "Ya Allah udah jam 9 aja lagi, dari tadi nggak ngapa-ngapain aja udah capek. Hadeh ... Capek duduk ini mah!" Sedetik kemudian kaki ini melangkah ke luar kamar dengan perlahan setelah sebelumnya juga sempat merenggangkan otot-otot badan yang terasa pegal ini. Klek .... "Udah keluar dek? Udah capek ya rebahannya hmmm?" Lagi dan lagi, sejujurnya Laras sudah lelah jika setiap hari harus dihadapkan dengan kalimat seperti itu. Ntah dari bundanya atau dari kakaknya, ia cukup capek. Ya dirinya sadar memang, tapi dirinya juga tak tahu harus bagaimana lagi. Ya tahu aku hanya beban keluarga saja semenjak lulus sekolah dan tak ada pekerjaan sama sekali, tak ada niatan untuk berkuliah sama halnya dengan tak ada niatan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi entah dijajaran apapun itu karena aku memang sudah sadar. Di masa yang seperti sekarang ini sangat sulit untuk meraih semuanya atau bahkan untuk mencari pekerjaan saja sungguh kesulitan. Tapi bagaimana lagi, ini bukan dirinya saja yang merasakan. Tapi semuanya pun juga merasakan, tapi aku cukup percaya diri karena dibalik semua itu pasti ada sedikit yang bisa aku banggakan meskipun kenyataannya aku memang masih bisa dicap sebagai beban keluarga. Dan meskipun kesal sering kurasakan tapi tak mengapa, karena sesalah-salahnya mereka berucap ntah itu kakak atau bunda dibalik semua itu hanya bercandaan. Karena mereka juga tahu sebesar apa perjuanganku untuk bisa keluar dari zona ini, tapi waktu mungkin memang belum berpihak padaku. Sama seperti kisah cinta ini yang mungkin tak berpihak padaku saat ini, dan entahlah aku hanya bisa memutarkan mata malas mengingatnya. Sama seperti mendengar, juga melihat respon berkelanjutan dari sosok yang ada di depanku ini. Sedetik kemudian ku putarkan mataku dengan malasnya ke arah samping sana dimana arah lain keberadaan Mas Rega di hadapanku sana yang otomatis itu membuat pandanganku juga ikut tertoleh ke samping. "Hadeuh ... Terserah kamu Mas, padahal kamu tuh tahu sendiri lho mas kalau misalkan aku juga udah capek capek banget nih buat yang ngejalanin semuanya itu yang kaya monoton aja gitu nggak ada variasinya sama sekali. Huh, capek Mas!" Kembali kuarahkan ke depan sana lagi pandanganku sampai kudapatkan sebuah senyuman dari Mas Rega, sosok laki-laki yang tak lain tak bukan adalah kakak kandungku. "Ya iya dek tahu ya udahlah nggak apa-apa nikmati aja dulu barangkali kamu emang disuruh apa ya kayak disuruh buat di rumah aja dulu gitu lagian kan masanya lagi kayak gini. Bahaya juga, kesehatan itu penting dek daripada kamu keluar-keluar eh ujung-ujungnya malah kena itu ya naudzubillahimindzalik semoga aja nggak gitu kita sekeluarga tapi kamu itu lebih baik daripada mengobati gitu loh." "Nah itu tau, ya kalau tahu makanya jangan lagi deh mas ngomong kayak gitu lagi kayak ngomong kalau misalkan udah capek bahannya baru keluar ya kayak tadi lah. Capek aku dengarnya, udahlah nggak apa-apa lagian kan juga aku selama ini kan udah berusaha ya mas ya urusan hasilkan nggak ada yang tahu gitu bakal kayak gimana ya kalau misalkan belum sesuai sama ekspektasi sih mungkin ya emang karena disuruh buat sabar lagi dan sabar terus gitu intinya." "Nah iya ...." Puk! Sebuah tepukan mendarat di bahu kananku siapa lagi jika bukan karena ulah Mas Rega yang menepuk sana seolah mengiyakan dan setuju dengan apa yang kuucapkan sampai sebuah kekehan pun dikeluarkannya jelas dari arah penglihatanku. "Ya udah ya maaf ya adikku tersayang, udah nggak apa-apa kalau misalkan sekarang masih kayak gini ya udah nikmati aja gitu barangkali kamu emang disuruh buat di rumah dulu keluar-keluar dulu ya kan memang yang pertama keadaannya lagi kayak gini ditambah lagi kalau misalnya keluar-keluar juga kan yang dikhawatirkan itu malah yang nggak gitu yang terjadi nikmati aja nggak apa-apa apa mas kan juga cuma bercanda gitu. Hadeh ... Udah sana masuk lagi ke kamar, mandi. Bau asem tuh badan, mandi dek jangan males-malesan biar kalau kamu nggak pergi pergi ya tetep mandi biar seger gitu lihatnya terus juga itu sisir dia lelah tubuhnya dalam artian tuh jadinya di jaga juga jangan karena cuma di rumah aja terus gak bersih-bersih badan nggak bersih-bersih juga en-" "Nyenyenyenye, apa sih Mas. Udah ah, iya iya iya ... Mandi nih mandi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD