“Mas bisa pergi kalau sibuk. Aku bisa sendiri.” Aira duduk menunggu namanya dipanggil tepat di depan meja resepsionis. Wajahnya menunduk dengan perasaan campur aduk.
“Dan ibu marahi aku karena gak temani kamu?”
“Tapi mungkin lama, Mas Wira harus ke tempat fitnes.”
“Gak papa, anggap saja aku mewakili Heru.”
Aira menghela nafasnya. Setelah kemarin dia diminta pergi memeriksakan diri oleh Tantri, tadi pagi mertuanya itu kembali mengungkit hingga akhirnya Aira benar-benar pergi dengan Wira yang diperintahkan menemaninya. Wira bahkan harus meninggalkan pekerjaannya demi menemani Aira.
Aira meremas tangannya gugup, lalu kembali menarik nafas panjang. Entah helaan ke berapa saking seringnya dia menghela nafas.
“Gak akan terjadi apa- apa, cuma pemeriksaan biasa.”
Aira kembali menoleh pada Wira yang kini tengah menatapnya.
Sebenarnya Aira tak mengkhawatirkan apapun, toh dia tak pernah disentuh oleh Heru. Bahkan meski dia harus punya anak dari mana sumbernya. Mungkin Wira kira dia akan mengkhawatirkan hasilnya, tapi Aira justru gelisah memikirkan hal lain.
Hari ini hari kedua Heru ke luar kota, namun pria itu belum membalas pesannya satupun, terutama pesannya tentang pemeriksaan hari ini. Apa saking sibuknya sampai tak bisa melihat ponselnya. Apa saking tak pedulinya dia terhadap Aira sampai membiarkan Aira menuruti permintaan Ibunya yang bahkan dia tahu itu tak perlu dilakukan sebab dia pun tak pernah menyentuhnya. Lalu dari mana datangnya anak itu? atau masalah di rahimnya.
“Bu Aira Hartianti?” Seorang perawat muncul dari dalam ruang praktik dokter obgyn.
“Saya.” Aira berdiri dari duduknya.
“Suaminya juga boleh masuk, untuk konsultasi lebih lanjut!” kata perawat tersebut.
Aira menoleh pada Wira begitu pun pria itu. Mendapati kesalahpahaman Aira segera menjelaskan, “Dia bukan—”
“Oke.” Belum selesai Aira bicara Wira berdiri dari duduknya. Lalu mendorong pelan punggung Aira untuk segera masuk ke dalam ruang obgyn tersebut.
“Tapi, Mas?”
Wira tak bicara dan hanya terus mendorong bahu Aira untuk segera masuk, hingga dengan terpaksa Aira menurut masuk bersama Wira.
Hal yang justru membuat Aira menjadi semakin canggung.
Begitu tiba di ruangan Aira dan Wira duduk bersebelahan di depan mereka ada seorang dokter perempuan yang tengah memeriksa data diri Aira.
“Jadi, Ibu mau memeriksa kesuburan rahim ibu?”
Aira mengangguk.
“Sudah berapa bulan menikah?”
Aira melirik Wira, “Delapan bulan, Dokter.”
“Masih awal ya. Seharusnya terlalu dini untuk memeriksakan rahim ibu. Saya lihat kalian juga masih muda. Kenapa tidak menikmati masa- masa berdua dulu? Repot loh punya anak.” Dokter itu tertawa kecil.
Aira menunduk tersenyum. Senyum miris yang menyimpan banyak kesedihan.
Andai ibu mertuanya tidak mendesaknya mungkin dia juga tidak akan melakukan ini.
Atau bahkan mendesak Heru untuk terus melakukannya. Terserah pria itu mampu atau tidak. Tapi telinga Aira rasanya sangat panas. Hingga mau tak mau Aira menuruti permintaannya.
“Tapi, gak papa. Untuk memastikan kesehatan juga kan, ya. Oh, ya, Bapaknya juga mau sekalian pemeriksaan? Agar adil dan tak saling menyalahkan?"
Aira memejamkan matanya, dia ingin ini cepat selesai, dan membuktikan pada mertuanya jika dia tidak bermasalah, dan masalah sebenarnya ada pada Heru yang tak mampu melakukannya.
“Cuma saya, Dokter.” Aira bicara sebelum Wira kembali menjawab pertanyaan yang tak seharusnya pria itu jawab.
“Baik kalau begitu kita mulai pemeriksaannya. Silakan berbaring dulu, Bu.”
Aira menyimpan tasnya lalu berbaring di ranjang pemeriksaan, sementara Wira masih duduk di tempat yang sama. Hingga suara dokter kembali mengagetkannya.
“Bapaknya bisa mendekat, biar kita lihat sama- sama.” Dokter mengenakan sarung tangan karet, dengan menatap Wira meminta pria itu lebih dekat dengan Aira.
“Gak papa, kan, ini istrinya. Jadi Bapak harus mendampingi apapun yang dilakukan. Ini juga untuk rumah tangga kalian.”
Wajah Aira memerah sementara Wira masih menatap tenang.
Lagi- lagi tanpa banyak bicara pria itu menurut dan duduk di sebelah Aira, tepat di tepi ranjang.
“Di pegang tangan ibunya ya, Pak.”
Aira mengerjapkan matanya, lalu menatap Wira yang juga nampak tertegun. “Gak papa, gak usah malu. Saya suka lihat pasangan yang harmonis.” Dokter terkekeh, namun masih sibuk dengan kegiatannya tanpa memperhatikan Wira dan Aira saling pandang dengan salah tingkah.
Wira yang pertama menguasai keadaan dengan meraih tangan Aira. Tangan kecil itu terasa dingin dan Wira tahu Aira begitu gugup, hingga tangannya meremas pelan tangan itu seolah berusaha menenangkan.
Aira menelan ludahnya kasar, menatap Wira, lalu membalas genggaman tangan Wira yang terasa hangat. Entah kenapa perasaannya terasa lebih tenang. Hingga dokter berbalik dengan alat di tangannya.
Mata Aira terpaku pada benda panjang di tangan dokter, alat yang memiliki ukuran kurang lebih 3,5 centi, dengan panjang 7 centi, alat yang sudah lebih dulu dilapisi dan diolesi cairan bening seperti jeli itu di angkat oleh tangan kanannya.
“Kakinya ditekuk ya, Bu.” Dokter menaikan kaki Aira.
“Tunggu, Dokter—” Belum sempat ucapan Aira keluar, dokter memasukan alat tersebut ke dalam miliknya.
“Akh!” Aira menjerit menancapkan kuku- kukunya di tangan Wira. Hal yang membuat dokter terkejut dan membelalakan matanya.
Melihat reaksi Aira yang kesakitan dokter menghentikan gerakannya, wajahnya pucat pasi dengan tubuh yang mulai bergetar.
“Astaga, Ibu masih pera wan!”
Aira masih meremas tangan Wira sementara Wira nampak terkejut dengan membelalakan matanya menatap Aira yang berderai air mata, wajahnya berpaling ke arah berlawanan seolah dia telah kehilangan segalanya.