Bangkit

1056 Words
"Sudah, pakai saja dulu uang Ikbal. Nanti, kamu ganti kalau sudah ngurus di Bank," ucap Ibu ketika melihatku kebingungan. Pagi itu, aku sudah benar-benar tak punya pilihan lain. Aku harus segera pulang dan mencari tahu siapa yang berani memblokir ATM milikku. Lagipula, semua itu harusnya atas izinku. Siapapun tidak berhak atas apa yang sudah menjadi milikku. Bahkan, tabungan itu adalah uang yang aku hasilkan saat aku belum menikah dengan Mas Angga. Ditambah, uang dari hasil menjual tanah setelah bapak meninggal. Aku simpan dengan sangat hati-hati, karena aku tak ingin masa tua ibu terlunta-lunta. Aku berjalan bersama ibu ke ruang administrasi, setelah itu aku membayar semua tagihan dengan kartu kredit milik Mas Ikbal. Aku pulang bersama ibu menggunakan taksi online, beruntung ibu masih menyimpan uang di dalam dompetnya. Sehingga aku tidak benar-benar kehabisan uang. Sampai di rumah, aku benar-benar terkejut saat melihat kamarku berantakan, laci tempat penyimpanan surat-surat penting benar-benar telah di buka paksa oleh seseorang yang sudah pasti Mas Angga pelakunya. Benar seperti dugaanku, buku tabunganku raib, tak ada didalam laci beserta kartu keluarga dan buku nikah milikku. Ya Allah, tega sekali Mas Angga melakukan semua ini. Hari ini, aku tidak mungkin langsung ke Bank. Mungkin, esok baru aku bisa pergi ke Bank. Aku tak ingin kondisiku kembali drop jika memaksakan diri ke bank hari ini. ______ "Bu, aku ke Bank ya," pamitku pagi itu. Sengaja, aku pergi pagi-pagi agar tidak terlalu lama mengantri di Bank. "Sendiri aja Lu?" tanya ibu. "Iya, ga apa-apa kok Bu. Ibu istirahat aja ya," ucapku. Setelah mendapatkan izin dari ibu kandungku. Aku segera pergi menggunakan ojek online ke Bank yang tidak terlalu jauh dari rumah orangtuaku. Sepintas, mataku melihat rumah yang menjadi tempat tinggalku dengan Mas Angga selama tiga tahun kami menikah. Rumah itu nampak sepi, seperti tak ada kehidupan di sana. Beberapa menit berlalu, aku sampai di sebuah bank dengan pelayanan terbaik. Aku bersyukur, tak banyak antrian disini. Namun, aku tetap harus menanyakan tentang semuanya. Kenapa bisa, seseorang memblokir akses ATM ku. Aku katakan semua keluhan pada seorang wanita di meja customer servis. Ia tersenyum ramah sembari memintaku menunggu sejenak. "Maaf atas kelalaian kami, tapi disini Bapak Angga Putra melaporkan kehilangan ATM dengan nama Lucia Safira, tepatnya empat hari lalu. Beliau membawa beberapa bukti kartu keluarga, surat kehilangan dari polsek, surat kuasa dengan tanda tangan di atas materai dan juga surat keterangan dokter yang menyatakan Ibu memang tengah di rawat di rumah sakit sebagai alasan jika ibu tidak bisa mengurus sendiri kehilangan ATM tersebut. Sebelumnya beliau ingin mengambil semua jumlah uang yang ada di tabungan ibu, tapi kami memberikan saran untuk blokir saja. Karena itu prosedur yang di lakukan jika terdapat laporan kehilangan kartu ATM," jelas customer servis tersebut. "Tapi, bukankah jika memblokir ATM harus konfirmasi ke saya dulu?" tanyaku masih berusaha tak percaya. "Sudah kami lakukan, itu mengapa kami memilih blokir karena memang tidak ada konfirmasi dari pemilik ATM tersebut," ungkapnya. Aku benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Mas Angga, bisa-bisanya ia ingin mengambil semua uang di dalam ATM milikku. Bukankah seharusnya ia yang bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan? Dasar, lelaki tak tahu diri! Aku benar-benar marah pada pria yang pernah berstatus sebagai suamiku. Dengan semua usaha, akhirnya aku berhasil membuka kembali tabungan dan ATM milikku. Aku ambil kartu nama milik Mas Ikbal yang ternyata berikan pada ibu dan baru ibu berikan sebelum aku pergi ke Bank tadi. "Hallo, Mas ini Lulu, bisakah kita bertemu? Aku ingin balikin kartu dan uang yang sempat aku pinjam," ucapku melalui sambungan telepon. "Baiklah, ke Cafe Bintang ya," jawab Ikbal. Aku harus tahu diri dengan kebaikan yang sudah diberikan oleh Mas Ikbal, setidaknya aku harus bisa mengucapkan terima kasih dan tidak mengulur waktu untuk menahan kartu kreditnya dalam dompetku. Dalam perjalanan ke Cafe, aku kembali mengingat apa yang terjadi padaku bertubi-tubi, semua memang sangat menyakitkan. Namun, setidaknya aku tahu siapa sebenarnya pria yang aku nikahi. Ia mungkin berpikir bisa main-main denganku. Kamu salah Mas! Kamu tidak akan pernah bisa seenaknya padaku. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu menyesal seumur hidupmu! "Ini kartu kredit kamu, dan ini uang yang aku pakai untuk biaya di rumah sakit kemarin." Aku menyodorkan kartu kredit dengan sejumlah uang di dalam amplop coklat, "Terima kasih ya Mas, kamu sudah membantuku. Kalau tidak ada bantuanmu, aku mungkin masih tertahan di rumah sakit," ucapku. Mas Ikbal mengambil kartu kredit miliknya, tapi ia menggeser amplop coklat berisi uang yang aku berikan. "Aku ikhlas memberikan bantuan, pakailah uang ini untuk membangun kembali hidupmu," ucap Mas Ikbal. Aku menggeleng, "Tidak Mas, aku tidak mau berhutang budi. Rasanya, semuanya sudah cukup, kamu mau membantu saya dan ibu saja itu sudah membuat saya sangat bersyukur dan berterima kasih," ucapku. "Lu, percayalah tidak baik menolak rejeki. Jika bukan kamu yang membutuhkan, mungkin ibu kamu akan membutuhkannya." Akhirnya aku kalah dalam perdebatan dengan Mas Ikbal. Aku menyerah dan memasukan kembali amplop coklat berisi uang yang sudah aku siapkan. "Lu, rencana kamu kedepannya gimana sama Angga?" tanya Mas Ikbal. "Ya cerai lah Mas, apa lagi!" ketusku. Aku memang sensitif setiap kali mendengar nama Mas Angga. Ia benar-benar pria yang telah menghancurkan semua harapanku. "Minggu depan, datanglah ke acara pertunanganku," ucap Mas Ikbal. Aku terkejut, setelah ia melihat semua video tersebut. Namun, Mas Ikbal masih mau melanjutkan hubungannya dengan Diva? "Sama Diva?" tanyaku tak percaya. Mas Ikbal mengangguk, "Kenapa?" tanyanya balik. "Ga apa-apa kok, aneh aja," tukasku. "Kamu jangan berpikir kalau aku akan benar-benar menikahi wanita itu Lu, bukankah apa yang mereka tabur itulah yang akan mereka tuai nantinya? Karena itu, datanglah. Dadan yang cantik, supaya kita bisa sama-sama memberi pelajaran untuk mereka berdua," ucap Mas Ikbal sembari tersenyum licik. Aah, sepertinya ia sudah merencanakan sesuatu yang besar untuk membalas dendam pada Mas Angga dan Diva. Aku tersenyum menanggapi apa yang di katakan oleh Mas Ikbal. Setidaknya aku memiliki bala bantuan untuk membalaskan dendam dalam hatiku untuk Mas Angga. Aku memang berusaha untuk baik-baik saja, tapi bukan berarti aku tidak merasakan sakit dalam hatiku. Bagaimanapun, aku tetap merasakan kecewa dan luka. Kini, giliran aku yang akan membuat perhitungan dengan Mas Angga dan Diva. Aku benar-benar tak sabar untuk menunggu hari dimana pembalasan itu berlangsung. "Yaudah, aku pamit ya. Sampai ketemu Minggu depan," pamitku. "Kamu mau kemana?" tanya Mas Ikbal. "Ke pengadilan agama, semakin cepat semakin baik lah. Gak mau nunggu lebih lama buat lepas dari laki-laki kayak Angga," jelasku. "Ok, yuk!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD