Berhenti disitu. Ayah saja yang jalan kesana," perintah Jendral Dedi pada wanita paruh baya itu. Wanita itu terkikik tapi tidak menghentikan langkahnya.
"Jangan suruh aku berhenti. Rindu ini terlalu nakal untuk menuruti perintahmu," balas si wanita sambil meraih tangan Jendral Dedi lalu menciumnya takzim.
Jendral Dedi tertawa. Hanya ada dua manusia yang berani membantah perintahnya. Peringkat kedua dimiliki gadis manis yang asyik menyantap kentang goreng dibangkunya, sedang peringkat pertama tentu milik wanita ini. Mayang Winata, wanita yang berhasil membuatnya luluh.
"Kok nggak sambut Ayah?" Jendral Dedi bertanya pada putrinya.
Gadis itu mendongak, "habisnya Ayah sama Bunda malu-maluin. Berasa sinetron bucin, jadi aku pura-pura nggak kenal."
Jawaban itu dihadiahi tawa kedua orang tuanya. Tangan Jendral Dedi tergerak menyentil pelan kening anaknya.
"Kamu itu makin pintar aja mulutnya," Jendral Dedi mengusap surai legam putrinya "padahal dulu waktu kecil bisanya cuma nangis doang," ejeknya kemudian.
"Itu berapa tahun yang lalu, Yah? Anakmu ini sekarang malah udah punya gebetan loh," sahut Mayang ikut menggoda putrinya.
Gadis itu mendengkus. Kesal ketika ayahnya mulai membahas masa lalu, lalu Bundanya yang ikut-ikutan mengompori. Ia tidak pernah menang dalam adu pendapat karena ayah dan bundanya yang selalu satu kubu.
. Mengabaikan godaan orangtuanya, gadis itu mulai mencari pengalih perhatian. Sesuatu yang akan membawanya keluar dari godaan Ayah yang akan semakin menjadi.
Seperti dewa penyelamat, seorang pria muncul dan mengambil atensi sang ayah yang mulai mengisahkan tentang Kirana dan kebiasaan mandi hujannya.
"Oh, iya. Ayah mau mengenalkan seseorang. Ini Dena, keponakan jauh Ayah. Mulai hari ini Dena akan tinggal bersama kita."
Dena tersenyum kecil, ia lantas mencium takzim tangan Mayang sebelum ikut bergabung di kursi samping Kirana. Sebelumnya Mayang memang sudah diberi tahu akan kehadiran mata-mata yang menyamar ini, sehingga Mayang bisa menyesuaikan diri dengan drama ponakan jauh ini.
Kirana tidak banyak bereaksi, ia hanya meraih tangan Dena lalu menciumnya takzim, sebatas kesopanan karena Dena lebih dewasa darinya. Dena merasa ada yang aneh, ketenangan yang dimiliki Kirana ini terasa begitu menghanyutkan hingga ia tidak bisa menebak isi kepala gadis itu. Jauh berbeda dengan gadis periang yang beberapa saat lalu mendegus kesal karena ledekan orangtuanya. Ia sempat mendengar gadis ini membalas ledekan ayahnya, tapi kini orang yang sama tengah bertingkah manis dengan es krim di tangannya.
Ia menduga ini karena Kirana merasa belum nyaman dengannya, wajar mengingat ini adalah pertemuan pertama mereka.
Selama sesi makan siang itu, Dena sesekali melirik Kirana. Mencoba mencari alasan yang pasti hingga gadis ini harus dikawal orang BIN. Seharusnya, mengingat posisi tinggi sang ayah, tidak sulit untuk membuat Kirana mendapat satu-dua pengawal pribadi dari prajurit ayahnya.
Jendral Dedi terkenal memiliki pasukan yang luar biasa. Pasukannya adalah elit TNI sekelas Kopasus. Tentu ia tidak akan kesulitan menemukan pengawal untuk putri tercintanya itu.
"Dena kan belum mulai kerja, nanti untuk sementara antar jemput Kirana dulu ya?" tawar Mayang disela makan.
Sebenarnya ini juga rencana yang sudah disiapkan, ia akan mengantar jemput Kirana ke sekolah. Hal ini karena beberapa kali Kirana sempat diikuti orang asing saat pulang naik angkutan umum bersama teman-temannya.
"Kirana mau kan, Nak?" tanya Mayang pada putrinya. Kirana sebenarnya lebih suka pulang sendiri, ia menikmati hidup bebasnya ketika pulang sekolah, tidak ada tuntutan untuk pulang cepat, atau momen menyebalkan menuggu jemputan yang terlambat. Tapi melihat raut wajah ibundanya yang penuh harap, tentu saja Kiara tidak mampu menolak.
Maka Kirana tersenyum sambil mengangguk patuh, dalam hati ia berdoa semoga kakak sepupunya itu tidak membuat kehidupannya sulit.
"Nanti kamar kosong di sebelah kamar Kirana bisa kamu pakai, kemarin sudah dibereskan sedikit. Kalau ada yang kurang nyaman, kamu bisa bilang sama Bibi ya," kata Mayang sambil menatap Dena penuh perhatian.
Mungkin orang mengira itu adalah kebaikan Mayang sebagai seorang bibi, tapi Dena tahu pasti jika tatapan itu adalah ratap permohonan agar ia selalu berada di dekat Kirana dan memastikan keamanan gadis tersebut.
Makan siang itu berjalan dengan lancar. Jendral Dedi yang masih harus berkerja kembali ke kantor dengan mengendarai mobilnya sendiri, sementara Dena langsung ikut di mobil Mayang yang akan langsung menuju ke rumah.
Sepanjang perjalanan diisi dengan suara Mayang yang menjelaskan jadwal sekolah Kirana, sementara Kirana asyik bermain ponsel sambil sesekali menjawab sekenanya atau meralat jika sang bunda salah memberikan jadwal kegiatannya.
Kirana merasa asing dengan kakak sepupunya itu, ia memang jarang bertemu dengan keluarga besarnya. Hanya sesekali saat hari besar, itupun kadang harus dilewatkan karena Ayahnya masih harus hadir di pemerintahan.
Dena tampak fokus pada kemudi dan ucapan Mayang, padahal ia sesekali menengok Kirana yang duduk di bangku belakang. Mencoba membaca raut wajah remaja itu, Dena masih merasa janggal dengan ketenangan luar biasa yang tersimpan di mata gadis itu.
Kirana baru berusia 15 tahun, sedang dalam fase utama pertumbuhan remaja. Harusnya gadis itu memiliki sorot nakal dan penuh ingin tahu serta pencari perhatian layaknya remaja pada umumnya.
Dena membuat memo dalam otaknya untuk menyelidiki latar belakang Kirana lebih mendetail lagi. Lagipula apa yang tertulis di kertas tidak selalu benar, terutama kertas itu ditulis oleh manusia-manusia yang berada di divisi 01. Dena merasa ada hal lain yang ditutupi dari Kirana.