"Kau pasti mengetahui bukan, kalau aku tertarik pada sahabatmu, Vera. Jadi, kami akan melangsungkan pernikahan setelah operasinya berhasil."
Pernyataan Dante terdengar tak menyakinkan untuk didengarnya. Siapa yang akan percaya pada kalimat pria itu? Apalagi ia juga cukup terkenal di kota ini dengan sifatnya yang buruk.
Tak ada yang pernah berani untuk bersanding dengannya, meski pria itu terkenal juga dengan hartanya yang melimpah.
Daripada memikirkan sendiri dan membuat kepalanya terasa ingin pecah. Elma langsung menghampiri Vera di rumah sakit sambil menemani wanita itu yang pastinya sedang khawatir dengan kondisi Ibunya. Sampai disana, Vera tengah menundukkan kepalanya seraya mengepalkan tangan membentuk seperti doa.
"Ver," panggil Elma sembari menepuk pundaknya pelan.
Vera menoleh. Kantung matanya yang hitam dengan raut wajah yang lelah itu membuat hati Elma bergerak nyeri. Pertanyaan yang ingin ia bicarakan langsung di urungkan begitu saja.
Tanpa berucap, Vera langsung memeluk tubuh sahabatnya. Bahunya naik turun, diiringi isak tangis yang mulai mendominasi area tunggu operasi. Lampu juga terlihat masih berwarna merah.
"Aku takut operasinya gagal," gumamnya pelan.
Tangan Elma terulur, ia membalas pelukan sambil mengusap bahunya. "Jangan ngomong kayak gitu, Ver! Kita harus yakin, kalau operasinya akan berjalan lancar."
"Aku juga berharap seperti itu, tapi sudah dua jam lamanya. Dokter ataupun perawat, masih tak kunjung datang. Aku takut sesuatu hal terjadi di dalam sana."
"Kita doakan yang terbaik aja, Ver. Semoga Ibu selamat," ucap Elma dengan keyakinan penuh.
Vera mengangguk. Ia melepaskan pelukannya sembari mengusap air matanya yang jatuh meluncur bebas, dengan kasar.
"Aku juga berharap itu," ujar Vera pelan.
"Udah, kita duduk dulu. Aku akan menemani kamu disini, sampai ada kabar baik," Elma perlahan membawanya kembali duduk di kursi panjang. "Kamu juga udah makan belum?"
"Aku nggak nafsu makan," katanya seraya menggelengkan kepala.
Sejak tadi, Vera terus-menerus menundukkan kepalanya. Ia tak ingin melihat manik mata Elma yang mengkhawatirkan dirinya, tanpa tahu sesuatu yang besar akan terjadi pada diri sahabatnya.
Elma sontak bangkit dari tempat duduknya. Ia bergegas mengambil sesuatu dari tas yang ia bawa. "Makanlah, kamu harus mengganjal perutmu," tuturnya dengan tangan yang menyodorkan roti yang ia bawa dari toko tadi.
"Aku nggak nafsu, kamu aja yang makan," tolak Vera.
Elma menghela napas. "Vera, Ibu kamu pasti sedih kalau tahu kamu nggak menjaga diri. Sedikit saja, ya? Demi Ibu," bujuknya lembut.
Vera akhirnya menerima roti itu dengan enggan. Ia menggigitnya kecil, lalu mengunyahnya perlahan. Elma tersenyum tipis, lega sahabatnya mau makan meski sedikit.
Tiba-tiba, seorang dokter keluar dari ruang operasi. Wajahnya terlihat lelah, tapi senyum kecil tersungging di bibirnya. Vera langsung berdiri, menghampiri dokter itu dengan jantung berdebar. Elma pun ikut berdiri, menggenggam erat tangan Vera.
"Bagaimana keadaan Ibu saya, Dok?" tanya Vera cemas.
Dokter itu tersenyum lebih lebar. "Operasi berjalan lancar. Ibu Anda sudah melewati masa kritis dan sekarang sedang dalam masa pemulihan. Kalian bisa melihatnya nanti setelah dipindahkan ke ruang perawatan."
Vera langsung lemas dan terduduk kembali di kursi. Air mata haru mengalir deras di pipinya. Elma memeluknya erat, ikut merasakan kebahagiaan yang sama.
"Alhamdulillah," bisik Vera lirih.
"Sudah aku bilang, kan? Ibu pasti kuat," ucap Elma sambil mengusap punggung Vera.
Setelah beberapa saat, seorang perawat datang dan mengarahkan Vera ke ruang perawatan ibunya. Elma menunggu di luar, memberikan waktu bagi Vera untuk berbicara dengan ibunya.
Sambil menunggu, Elma memikirkan perkataan Dante. Ia tahu, ada sesuatu yang disembunyikan pria itu. Tapi, apa? Dan mengapa ia harus menikahi Vera setelah operasi ibunya berhasil? Apakah ini ada hubungannya dengan kondisi keuangan keluarga Vera?
Pikiran Elma berkecamuk. Ia merasa harus melakukan sesuatu untuk melindungi sahabatnya. Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Dante adalah pria yang berkuasa dan berbahaya.
Tiba-tiba, Vera keluar dari ruang perawatan dengan wajah yang lebih tenang. Ia tersenyum pada Elma.
"Ibu sudah sadar dan keadaannya stabil," kata Vera.
"Syukurlah," balas Elma. "Kamu sudah bicara banyak dengan Ibu?"
Vera mengangguk. "Iya. Ibu berpesan agar aku selalu menjaga diri dan tidak melupakanmu."
Elma tersenyum manis. Hatinya cukup terenyuh mendengar tiap kalimatnya. "Aku juga akan selalu ada untukmu, Ver," ujarnya. "Apapun masalah mu, kita harus bersama-sama terus."
Mata Vera langsung berkaca-kaca mendengarnya. Kalimat Elma benar-benar membuatnya seperti sahabat yang buruk. Ini semua salahnya, tapi satu sisi operasi Ibu lebih penting.
"Elma, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Vera tiba-tiba, raut wajahnya berubah serius.
Elma menatap Vera, menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Tuan Dante ... dia melamarku," kata Vera pelan.
Elma terkejut. Jantungnya berdegup kencang. Ia sudah menduga hal ini, tapi tetap saja ia merasa tidak siap mendengarnya.
"Apa? Kapan?" tanya Elma dengan nada tercekat.
"Tadi pagi, sebelum operasi Ibu," jawab Vera. "Dia bilang, dia akan menikahiku setelah operasi Ibu berhasil."
Elma terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Di satu sisi, ia senang karena Vera akhirnya mendapatkan kebahagiaan. Tapi di sisi lain, ia khawatir dengan masa depan sahabatnya bersama Dante.
"Kamu ... menerima lamarannya?" tanya Elma hati-hati.
Vera menunduk. "Iya, aku menerimanya," jawabnya lirih. Vera menatap Elma lamat-lamat, lalu melanjutkan dalam hati, dan kau yang akan menikah, Elma.
Tiba-tiba, suara gemeletuk langkah kaki terdengar cukup keras membuat Elma dan Vera menoleh. Lagi-lagi, pria menjengkelkan itu berada dimari bersama dua penjaganya yang selalu setia bersamanya.
Elma hampir saja memakinya, jika saja Dante bukanlah kekasih sahabatnya.
Tanpa basa-basi, pria itu langsung merangkul pundak Vera layaknya seorang sahabat seraya berujar, "Ibumu sudah siuman, bukan? Itu artinya, dalam dua hari lagi, pernikahan kita akan dilangsungkan, bukan begitu, Vera?"
Vera membeku dalam rangkulan Dante, tubuhnya bergetar halus seperti daun yang tertiup angin. Elma, yang sedari tadi diam, kini menatap Dante dengan tatapan menyelidik.
"Kenapa harus secepat ini? Pernikahan itu sakral, butuh persiapan yang matang. Terlalu terburu-buru seperti ada yang disembunyikan," cecar Elma, mencoba menyembunyikan nada curiga dalam suaranya.
Dante mengalihkan pandangannya pada Elma, tatapan gelap yang tadi terpancar kini berubah menjadi senyum tipis yang dingin. "Kau lupa dengan siapa kau berbicara, Elma? Aku, Dante, bisa mendapatkan apapun yang kuinginkan dalam sekejap mata. Dan lagi pula," Dante mendekatkan bibirnya ke telinga Vera, berbisik pelan namun sarat akan ancaman, "kami sudah saling mencintai, bukan begitu, Vera? Jadi, apa alasan untuk menunda kebahagiaan ini?"
Dante sengaja menyenggol Vera dengan bahunya, memberikan isyarat tersembunyi yang membuat Vera semakin pucat dan ketakutan.
"Elma," Vera kembali menatap Elma dengan senyum yang dipaksakan, "Besok, aku ingin kau menginap di rumah-ku. Temani aku hingga hari pernikahan kami tiba, ya? Aku ingin kamu selalu berada di sisiku."