Setelah lima hari berturut-turun dibayangi dengan wajah Genta, hari ini dan besok aku bisa bernapas lega. Melakukan hal yang aku sukai tanpa mengkhawatirkan sosok itu akan terus mengawasiku membuatku merasa begitu bahagia.
Walaupun sebenarnya di akhir pekan seperti ini, aku nggak punya kegiatan yang berarti. Setelah tadi pagi bangun kesiangan dan mendapat ceramah panjang lebar dari Papa, akhirnya aku bisa bernapas lega. Wajar sih jika Papa marah karena semalam aku pulang begitu larut. Bukan larut lagi sebenarnya, malah sudah hampir menuju subuh.
Aku hanya memberikan alasan nongkrong bersama teman-temanku, bukan memberikan alasan pulang telat karena menginap di rumah seorang pria. Bisa-bisa aku keburu dicambuk oleh Papa jika dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Genta sudah ingin turun dari mobil dan menyapa Papa kalau nggak aku yang melarangnya. Gila aja, di jam hampir mendekati subuh menyapa Papa yang sudah pasti akan semakin berpikir buruk saat melihatku pulang diantar teman pria. Dikiranya dia itu calon menantu apa? Sampai ingin menyapa Papa segala
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang saat aku baru saja selesai mandi. Papa dan Mama sudah pergi ke luar kota dari pagi tadi karena ada acara dari kantor Papa.
Aku nggak punya rencana khusus pagi ini, mungkin jalan-jalan ke pusat perbelanjaan bisa buat pikiranku sedikit tenang.
Belum juga aku memutuskan apa yang akan aku lakukan hari ini, ponselku mendadak berbunyi dan menampilkan nama Ranu. Aku mengernyit, apa yang mau dibicarakannya denganku setelah semalam membiarkan aku bersama Genta.
"Temani gue yuk," katanya tanpa basa-basi.
"Lo ke mana aja semalam? Kenapa gue bisa pulang sama Mas Genta?" tanyaku tanpa menghiraukan perkataannya tadi.
"Loh, bukannya lo sendiri yang mau pulang sama dia," sahut Ranu, nada bicaranya terdengar bingung.
"Kapan gue pernah ngomong kayak gitu?"
"Mas Genta yang bilang, katanya lo pusing banget dan pengen cepat pulang. Sedangkan gue sama Vino nggak bisa antar lo pulang karena yang lainnya aja belum ada niat mau pulang," jelasnya dan kemudian membuatku berpikir. Jadi permasalahan itu bermula dari si sok tahu Genta.
"Lo nggak diapa-apain sama dia kan?"
"Ngaco!" Ranu kemudian terkekeh dan membuat telingaku sakit mendengarnya
"Tadi lo bilang minta temanin ke mana?" tanya saat mengingat apa yang diucapkan Ranu di awal pembicaraan tadi.
"Temanin gue," ulangnya.
"Ke mana? Malas banget di hari libur kayak gini," balasku.
"Belum aja sampai ke inti pembicaraan, lo sudah nolak dulu." Aku tertawa mendengar perkataan Ranu.
"Mau ke mana memangnya?" tanyaku akhirnya.
"Ke acara nikahan teman kuliah gue," jawabnya dan membuatku berpikir.
"Ogah!" sahutku cepat.
"Masih banyak yang mesti gue kerjain selain nemanin lo," lanjutku.
"Please, sekali ini aja. Gue malas banget datang sebenarnya, tapi nggak gitu juga soalnya yang nikah teman dekat gue jaman kuliah dulu," pintanya dengan nada memelas.
"Nggak deh," kataku tetap ngotot.
"Ayolah, Jyan. Kita memang baru aja temanan, tapi gue yakin hati lo baik banget," rayunya lagi.
"Ajak yang lain aja, Andra atau Vino. Gue benaran lagi malas mau ke mana-mana." Apalagi ke acara nikahan, buat mood nggak bagus aja.
"Masa sama mereka sih. Kalau itu, gue yang malas malah. Gue traktir lo selama seminggu deh," tawarnya dan membuat otak pelitku berpikir. Hm, boleh juga.
"Oke. Lo mau jemput jam berapa?" kataku akhirnya
"Jam lima sore ya," sahutnya.
"Tapi nggak ada sandiwara-sandiwara seolah-olah gue pacar lo ya," kataku mengingatkan.
"Lo kebanyakan nonton sinetron deh sampai mikir kayak gitu. Ini benar-benar murni permintaan seorang teman yang merasa kesepian kalau ke acara pernikahan sendirian," ucapnya. Aku tersenyum membayangkan wajah Ranu saat mengucapkannya.
"Fix ya, jam lima gue jemput." Dan telepon pun berakhir. Masih lama hingga Ranu datang menjemput nanti, apa yang sebaiknya aku lakukan? Ide untuk ke pusat perbelanjaan pun sudah menguap entah ke mana mengingat karena mendadak aku jadi malas melakukan hal apa pun.
***
"Lo benar-benar kekurangan teman ya," komentarku saat berada di mobil Ranu.
"Nggak kurang sih, tapi kalau kita sudah kerja begini kan lingkaran pertemanannya sudah beda. Aku nggak mungkin ngajak teman-teman jaman kuliah atau sekolah dulu. Kesannya pasti jadi aneh karena sudah lama nggak saling berkomunikasi," sahut Ranu panjang lebar.
"Kalau gitu pergi aja sendiri. Kalau gue sih percaya diri aja, lagi pula katanya yang nikah teman kuliah lo," timpalku.
"Lebih tepatnya mantan pacar gue waktu kuliah," ujar Ranu sambil meringis. Aku kontan melirik ke arahnya, pantas aja dia ngotot banget aku harus ikut.
"Wah! Jadi ceritanya mau nunjukin kalau lo sudah move on?" tanyaku sambil terkikik.
"Nggak juga sih. Dia juga tahu kalau sampai saat ini gue belum punya pasangan. Senggaknya dengan bawa lo, gue nggak merasa sendirian saat diledek," ujarnya. Aku tersenyum masam, sungguh bukan pemikiran seorang lelaki dewasa.
"Jadi saat ini lo merasa sedih karena ditinggal nikah?" tanyaku penasaran.
"Nggak sih, biasa aja. Hubungan kami juga sudah lama berakhir. Jadi kalau sekarang dia mau nikah pun, sama sekali nggak ada pengaruh di gue" jawabnya. Mendadak aku jadi membayangkan apa yang aku rasakan jika mengetahui pernikahan Genta dengan Daya dulu. Sudah dipastikan aku nggak akan bisa setenang Ranu.
"Karena banyak tamu undangannya teman-teman kuliah gue yang sudah pasti tahu hubungan kami dulu, makanya gue malas datang sendiri," ucapnya. Aku tertawa geli mendengar penjelasan Ranu. Kalau aku di posisi Ranu, pilihan terbaikku adalah nggak datang ke acara pernikahan mantan. Walaupun katanya sudah biasa-biasa aja, tapi tetap aja saat melihat wajahnya yang sedang bahagia, perasaan pun sedikit terganggu.
"Sudah sampai nih," ucap Ranu tepat di depan salah satu hotel berbintang di Jakarta. Suasana memang terlihat ramai, beberapa kendaran keluar masuk.
"Parkir di dalam aja biar nggak susah keluar nanti," saranku pada Ranu untuk memarkirkan mobilnya di area khusus parkir tamu hotel.
"Wah, ramai banget ya. Jangan bilang lo minta pulang kalau sudah di dalam nanti," ledekku dan membuat Ranu menatapku dengan wajah masam.
"Suaminya anak salah seorang pejabat," ujar Ranu saat kami telah memasuki ballroom hotel.
"Lo nggak ngerasa iri gitu?" tanyaku sekenanya.
"Biasa aja, Jyan. Lagi pula kami putusnya baik-baik kok," sahutnya. Aku mengerling ke arahnya, dalam sejarah percintaan rasanya nggak masuk akal jika ada yang mengatakan berpisah baik-baik. Kalau baik-baik tentu saja nggak bakal berpisah. Setiap perpisahan pasti akan menyisakan rasa nggak baik.
Sepertinya aku terlalu banyak berpikir hari ini dan menjadikan diriku seolah-olah pakar percintaan. Padahal berpisah dengan Genta saja sudah hampir membuatku seperti orang nggak waras.
Kenapa aku malah memikirkan Genta lagi? Hush, pergilah kau sejauh mungkin!
"Wah...wah...wah, gue kira lo nggak bakalan datang." Seseorang menyapa Ranu dan menepuk-nepuk pundaknya.
"Nggak ada alasan gue buat nggak datang," sahut Ranu sambil tersenyum lebar.
"Ini siapa? Jangan bilang kalau pacar pura-pura lo," ledeknya.
"Gue teman kantornya Ranu," ucapku sebelum temannya itu memikirkan hal yang nggak benar tentangku.
Setelah mengenalkanku pada temannya, mereka kemudian tertawa lagi dengan hebohnya. Karena nggak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, aku kemudian beranjak menjauh dari Ranu dan berkeliling mencari makanan yang bisa aku nikmati. Tentu saja aku harus mencari keuntungan karena diajak Ranu ke acara ini. Aku nggak boleh melewatkan sajian makanan yang terlihat menggugah selera.
Pesta pernikahan ini tergolong mewah. Terlihat jelas dari dekorasi bahkan hingga makanan yang disajikan, juga dari tamu undangan yang datang. Sepertinya kebanyakan tamu berasal dari kelas atas.
Ternyata nggak menyesal aku menerima permintaan Ranu. Selain bisa mengisi perutku dengan makanan, aku juga bisa sekalian cuci mata. Kapan lagi aku bisa menyegarkan mataku dengan pemandangan wajah-wajah lelaki tampan yang nggak bisa kulakukan di kantor karena ada Genta yang selalu menghantui setiap gerakku.
Tuhan yang Maha Kuasa, kenapa aku selalu memikirkan Genta di setiap saat?
Aku harus memanfaatkan dua hari di akhir pekan ini dengan sebaik-baiknya sebelum di hari Senin nanti akan kembali bertemu dengannya. Mungkin waktu yang akan membuatku terbiasa menghadapi Genta. Tapi entahlah, rasanya masih lama.
“Hai, sendirian aja?” Seorang lelaki tiba-tiba menghampiriku. Aku tercengang selama beberapa saat, kenapa lelaki ini memiliki senyum yang sama dengan senyuman Genta?
“Nggak, sama temanku,” sahutku sambil tersenyum lebar agar menghilang rasa kaget saat melihatnya. Tentu saja orang ini bukan Genta, mereka hanya kebetulan dua orang yang memiliki senyum yang mirip. Tapi jelas keduanya berbeda. Lelaki yang berdiri di hadapanku ini memiliki wajah lebih bersahabat dibanding dengan Genta.
Genta dan Genta lagi! Kapan aku akan bisa memusnahkan namanya dari pikiranku?
“Kalau aku jadi kamu pasti akan kesal karena ditinggalkan temanku di acara pernikahan seperti ini,” ujarnya.
“Nggak segitunya, lagi pula dia lagi sibuk sama teman kuliahnya,” sahutku.
“Sini biar aku yang ambilkan,” katanya saat tanganku kesulitan untuk menggapai potongan kue dengan topping buah segar.
“Kebetulan aku juga sedang sendirian, mungkin kita bisa berteman hingga temanmu datang dan mencarimu nanti,” ucapnya sambil menyerahkan sepotong kue padaku.
“Thanks,” ucapku.
Aku jarang sekali menilai lelaki di pertemuan pertama, hanya beberapa saja yang menarik perhatianku. Dan saat aku mulai melirik lelaki ini diam-diam, melihat warna kulitnya yang berwarna coklat eksotis atau saat mataku nggak sengaja bertatapan dengan bola matanya yang berwarna hitam pekat. Masih ada lagi, aku bahkan mengagumi bentuk tubuhnya yang terlihat bagus walaupun terbalut oleh baju batik dan juga celana panjangnya, menandakan jika lelaki ini rajin berolahraga. Aku jadi bertanya pada diriku sendiri, apa aku tertarik pada lelaki asing ini?
“Lo di sini rupanya!” Aku menoleh dan menemukan Ranu berdiri di belakangku.
“Arga, kan?” Mata Ranu terlihat membesar saat melihat lelaki asing yang berdiri di sebelahku. Mereka berdua kemudian tertawa dan saling bersalaman. Bisa dipastikan jika Ranu dan lelaki asing ini saling mengenal.
“Ini, Arga, salah satu teman kuliahku juga,” ucap Ranu mengenalkan kami. Aku tersenyum menyambut uluran tangannya, ternyata kami memang belum saling bertukar nama walaupun sudah berbicara panjang lebar dari tadi.
“Jyan,” sahutku.
“Jyan ini teman kantorku,” jelas Ranu.
“Yakin cuma teman, kan?” tanya Arga dengan wajah serius.
“Yakinlah. Masa gue bawa teman bohongan,” sahutnya sambil terkekeh.
“Bagus deh kalau gitu,” ucapnya.
“Kita bisa tukaran nomor ponsel, kan?” pintanya kemudian dan membuatku tersenyum geli. (*)