Siska mengajak Dava ke ruang tengah. Ia tak akan bisa berbicara dengan Dava di depan Ravi dan para pekerjanya. “Sayang, apa yang Ravi katakan tadi benar? kamu benar-benar hamil? Kita akan segera memiliki buah hati?” tanya Dava sambil menangkup kedua pipi Siska. Siska menurunkan kedua telapak tangan Dava dari pipinya. Ia lalu mengajak Dava untuk duduk di sofa, menggenggam tangannya. “Om, maafkan aku.” Dahi Dava mengernyit bingung. Kalau Siska memang beneran hamil, seharusnya di bahagiakan, bukan malah meminta maaf padanya. Pasti telah terjadi sesuatu saat dirinya pergi. Jangan bilang …. “Sayang, kamu gak keguguran kan?” tanya Dava masih dengan dahi mengernyit. Siska menggelengkan kepalanya. Ia bingung harus mulai bicara dari mana. Ia juga lupa, kalau saat dirinya tengah mengobrol den

