Bara melangkah perlahan menuju halaman belakang, di mana Mia terduduk di bangku kayu dekat kolam ikan hias. Wajahnya tersembunyi di balik kedua tangannya yang gemetar, isak tangisnya terdengar lirih, cukup untuk menghancurkan hati Bara. Pria itu berhenti sejenak, mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya mendekatinya. “Mia." Bara memanggil pelan, tetapi wanita yang dipanggil itu pun tidak mengangkat wajahnya. "Aku tahu kamu kecewa dan aku tahu permintaan maafku nggak akan pernah cukup.” Bara duduk di sampingnya, menjaga jarak sejenak, memberi ruang. Mia akhirnya menoleh. Matanya merah dan sembab, seperti sudah lama menangis. Tatapannya dingin, dan ada luka mendalam di sana. “Kamu nggak perlu minta maaf, Mas. Aku tahu posisiku. Aku tahu aku nggak pernah pantas diterima oleh keluargamu. A

