Bab 7. Luka di Antara Kita

1194 Words
"Tidak. Saya tidak mau." Bara menolak keras saran Dokter Theo. “Jadi, kalian hanya ingin memaksakan semuanya tanpa menyentuh akar masalahnya?” Dokter Theo bersandar di kursinya, melipat tangan di d**a sambil menatap Bara dengan pandangan tajam. “Saya tidak mau ada kontak fisik dengan wanita manapun, Dokter. Yang saya inginkan hanya keturunan, dan Anda tahu itu. Kenapa sekarang Anda meminta saya untuk melakukan hubungan suami istri?” Bara menghela napas panjang, rahangnya mengeras. “Mau kamu paksakan berapa kali pun program inseminasi atau bayi tabung, keduanya akan gagal kalau kualitas s****a kamu tidak diperbaiki terlebih dahulu,” jawab Dokter Theo, nadanya tenang tapi tegas. “Kamu ingin hasilnya tidak sia-sia, bukan?” Bara mendengus pelan, menatap dokter itu dengan sinis. “Saya tidak ingin menyentuhnya.” "Saya juga tidak bisa, Dokter Theo." Mia yang duduk di samping Bara pun akhirnya angkat bicara. “Dalam perjanjian kami, tidak ada hubungan suami istri. Ini sudah jelas sejak awal.” Dokter Theo memijat pelipisnya, mencoba menahan kesabaran. “Terserah kalian aja deh. Pokoknya kalau kalian mau program ini berhasil, ego masing-masing harus diturunkan dulu. Kalau tetap keras kepala, lupakan saja tujuan kalian. Lebih baik cari dokter lain kalau tidak mau mendengarkan saran saya.” Suasana di ruangan itu semakin tegang. Bara diam beberapa saat, tampak menahan diri untuk tidak emosi. Namun, akhirnya ia berbicara dengan nada rendah tetapi tajam. “Saya akan pikirkan lagi. Terima kasih atas waktu Anda, Dokter.” Mia hanya mengangguk pelan, tidak menambahkan apapun. Hatinya terasa sesak, tapi ia tahu tidak ada gunanya memperpanjang perdebatan. Dokter Theo melirik mereka bergantian sebelum mengakhiri pembicaraan. “Keputusan ada di tangan kalian sekarang. Silakan pikirkan baik-baik. Saya masih punya banyak pasien yang menunggu, saya persilakan kalau kalian mau pulang sekarang." Mereka keluar dari ruang dokter, Bara melangkah cepat meninggalkan Mia. Namun, Mia mengejarnya, tidak ingin masalah ini dibiarkan menggantung begitu saja. “Pak Bara, tunggu!” panggil Mia tanpa menghentikan langkahnya. Bara berhenti, menoleh dengan wajah yang sulit ditebak. “Apa lagi, Mia?” “Kita harus bicara,” kata Mia tegas. “Ini bukan hanya tentang Anda. Saya juga berhak menyampaikan pendapat.” Bara mendengus. “Pendapat kamu sudah jelas tadi. Kamu tidak mau melakukannya. Sama seperti saya.” “Kalau begitu, kenapa kita harus terus memaksakan diri?” Mia balas menatap Bara tajam. “Kita tahu dari awal bahwa tidak ada hubungan suami istri dalam perjanjian. Kalau program ini tidak berhasil, apa artinya?” Bara mengepalkan tangannya, mencoba menahan emosi. “Artinya, kamu gagal memenuhi tanggung jawab kamu.” Mia tersentak, tetapi ia tidak mau menunjukkan kelemahannya. “Dan Anda pikir saya tidak berusaha? Saya sudah melakukan semua yang Anda minta, Pak Bara. Kalau Anda ingin menyalahkan seseorang, lihat diri sendiri dulu." Wajah Bara memerah karena marah, tapi ia tidak membalas. Kata-kata Mia seakan menghantamnya tepat di tempat yang paling menyakitkan. “Saya tidak ingin memperdebatkan ini lagi,” kata Bara akhirnya. “Kita lihat saja nanti. Kalau memang tidak ada jalan lain, kita harus berdiskusi lagi." Mia menghela napas panjang, merasa lelah dengan sikap Bara yang selalu mengedepankan egonya. “Baiklah. Saya harap Anda bisa mempertimbangkan ini dengan kepala dingin.” Tanpa menunggu jawaban, Mia berjalan pergi, meninggalkan Bara yang masih berdiri di lorong dengan ekspresi penuh emosi. *** Malam itu, suasana di rumah Bara masih diwarnai keheningan yang menyesakkan. Sejak pulang dari klinik Dokter Theo, Bara dan Mia tidak saling berbicara. Bara langsung masuk ke ruang kerjanya sementara Mia mengurung diri di kamarnya. Rumah itu terasa dingin, meski lampu-lampu menyala terang. Menjelang malam, Bara mendapat telepon dari seorang temannya. Dengan suara berat, Bara mengangkat panggilan itu. “Gimana, Bar? Udah ada kabar bagus soal program itu?” suara di seberang terdengar santai, seolah tidak ada beban. Bara menghela napas panjang sebelum menjawab, “Nggak bisa. Dokter bilang kualitas aku buruk. Harus diperbaiki dulu baru bisa coba inseminasi atau bayi tabung.” Temannya bernama Dimas terdiam sejenak, lalu berkata, “Ya udah, tinggal jalanin aja apa yang diminta. Minta obat yang paling bagus sama Dokter Theo. Selesai, kan?” Bara tertawa sinis. “Kalau masalah obat, udah pasti aku minta yang paling bagus. Tapi, masalahnya bukan cuma di obat, Dim. Dokter Theo bilang aku harus terapi." “Terapi apa?” tanya Dimas penasaran. “Terapi... hubungan suami istri.” Suara Bara merendah, jelas terdengar tidak nyaman. Di seberang sana, Dimas terkejut. “Wah, serius Kamu? Hebat juga nih, menang banyak dong!” Bara mengerutkan dahi. “Apanya yang menang banyak?” “Gila, Bar. Itu cewek kan masih virgin. Kamu nggak cuma dapet anak, tapi juga istri yang masih fresh. Udah, sikat aja! Malah itu bagus buat kamu.” Bara mendengus keras. “Enak aja! Menyentuh wanita itu? Menjijikkan. Aku nggak akan pernah mau melakukannya!” “Menjijikkan apanya? Mia itu cantik banget, loh. Malah lebih cantik dari Luna, apa lagi sifatnya. Beda jauh deh. Mana dia polos. Kamu bisa dapet semuanya. Anak, istri, sekaligus temen tidur. Mimpi apa kamu kemaren?” "Aku bilang nggak, ya nggak. Udahlah nggak usah bahas itu lagi." Bara membentak, nada suaranya penuh kemarahan. "Kalau nggak ada pilihan lain gimana?” Dimas bertanya pelan, mencoba menenangkan. “Aku nggak tau!” Bara menjawab dengan frustrasi. “Pusing aku mikirin ini!” Telepon itu berakhir dengan kesunyian yang kembali memenuhi ruangan. Bara menyandarkan tubuhnya di sofa, memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Kepalanya berat, pikirannya penuh dengan kebingungan. Setelah beberapa menit terdiam, Bara memutuskan untuk tidur. Ia bangkit dari sofa, berjalan menuju kamarnya. Namun, saat ia melewati tangga, langkahnya terhenti. Di sudut tangga, Mia berdiri, tubuhnya membeku seperti patung. Wajahnya pucat, dan matanya berkaca-kaca. Rupanya ia telah mendengar percakapan Bara dengan temannya tadi. “Menjijikkan?" Mia berbisik pelan, suaranya hampir tak terdengar. Bara menoleh, terkejut melihat Mia berdiri di sana. “Mia... Sejak kapan kamu di situ?” Mia mengangkat tatapan matanya, menatap Bara dengan luka yang mendalam. “Saya menjijikkan, ya? Begitu rendahnya saya di mata Anda sampai Anda mengatakan hal itu dengan teman Anda?” “Mia, dengar dulu.” Bara mencoba menjelaskan, tapi Mia memotongnya dengan suara gemetar. “Apakah saya benar-benar seperti sampah di mata Anda?” Mata Mia mulai basah oleh air mata. “Kalau saya memang sebegitu menjijikannya, kenapa Anda harus memasukkan saya dalam hidup Anda? Kenapa Anda membuat perjanjian itu dengan saya?” “Mia, saya nggak pernah bermaksud seperti itu." Bara melangkah mendekat, tetapiMia malah mundur selangkah. “Kalau Anda merasa saya menjijikkan, kenapa tidak mencari wanita lain saja? Cari yang lebih layak, yang tidak akan membuat Anda merasa seperti ini. Anda tahu saya hanya menerima perjanjian ini karena terpaksa. Tapi bahkan sekarang, saya dihina seperti ini. Terima kasih, Pak Bara. Terima kasih atas hinaan Anda!” Bara terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata Mia terasa seperti pisau yang menusuk ke dalam hatinya, tapi ia tidak bisa membantah. Air mata Mia mengalir, tapi ia mencoba tetap tegar. “Saya mungkin tidak sempurna, tapi saya juga manusia, Pak. Saya punya perasaan. Dan mendengar apa yang Anda katakan tadi... itu lebih menyakitkan daripada apa pun.” “Mia...” Bara mencoba lagi, tapi suaranya terdengar lemah. “Saya tidak mau mendengar apa pun lagi.” Mia berbalik, berlari menuju kamarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD