Bahkan kaki ini sudah tidak kuat lagi untuk menopang beban tubuhku. Aku tersipu didepan pintu. Aku menangis sejadi-jadinya, aku benar-benar sangat terluka ketika semua orang menghujatmu karena kekuranganku sebagai seorang wanita yang tidak bias memberi keturunan.
Perlahan aku meraih kertas dari mama, aku mulai membacanya. Aku menangis karena sebentar lagi aku akan berpisah dengan Arka. Bahkan sampai saat ini aku masih belum bisa mencerna dengan kisah cintaku yang sangat tragis ini. Aku mencintai Arka begitupun Arka sebaliknya tapi semua berubah karena kekuranganku.
Mengingat kekuranganku sebagai wanita, bahkan sangat sulit untuk memaafkan diriku sendiri. Di tengah air mataku yang masih terus saja mengalir, tiba-tiba ponselku berdering sangat keras sampai mengganggu pendengaranku.
Perlahan aku mengambil ponsel yang berada didalam tas, segera aku menerima telepon tersebut dan terdengar disana adalah asisten pribadiku yang mengingatkan bahwa pelanggan yang ingin fitting baju sudah datang.
Lalu dengan cepat aku segera menghapus air mataku dan mulai merias wajahku kembali. Bahkan mataku masih saja terlihat sangat sembab. Kebetulan apartemen dan butikku tidak terlalu jauh jaraknya.
Mungkin pelangganku sudah menunggu kurang lebih 30 menit. Aku segera masuk ke dalam ruang kerjaku, dan betapa terkejutnya aku ketika pelanggan itu adalah Aldi. Aku memicingkan mataku karena rasa terkejutku.
"Aldi, apa itu benar kau?" Aldi hanya menadahkan tangannya saja mengisyaratkan bahwa memang itulah yang terjadi.
Aku segera melihat keberbagai sudut ruangan. Akan tetapi aku tidak menemukan satu orangpun kecuali aku dan Aldi.
"Terus dimana calon istrimu al?" Tanyaku ke Aldi.
"Dia tidak bisa ikut karena ada urusan yang sangat penting." Jelas Aldi.
"Terus bagaimana dengan ukurannya, tidak bisa dong kalau calonnya tidak diajak."Jelasku kembali dengan panjang lebar.
"Kau tidak perlu khawatir lun, apa begini cara kau melayani pelanggan-pelanggan. Datang terlambat eh malah diomelin." Sindir Aldi kepadaku.
"Tentu saja tidak! aku begini karena aku peduli padamu sebagai sahabatku." Jawabku sembari melirik Aldi dengan tatapan penuh ancaman.
"Oya, benarkah begitu. Kalau aku sahabatmu?" Sindir Aldi kepadaku.
Mendengar sindiran Aldi aku spontan langsung cemberut dan melempar bolpoin yang tadi berada dimeja kerjaku.
"Jadi kapan kau akan melayaniku?" Tanya Aldi kembali sembari menghampiriku.
"Wanitaku persis seperti kamu, tinggi dan bentuk tubuhnya sama seperti kamu." Jelas Aldi kembali dengan menatapku penuh makna. Entah ada setan apa yang tiba-tiba membuat jantungku berdegub sangat kencang setelah mendengar penjelasan Aldi.
Lalu aku bangkit dari tempat dudukku untuk berjalan menuju ruangan-ruangan dimana ada banyak koleksi baju pengantin rancangan mama dan aku.
"Bagaimana, sudah ada referensi yang cocok apa belum?" Aku bertanya antusias pada Aldi.
"Emm, sebenarnya aku kurang paham dengan selera wanita harus seperti apa, aku nurut sama kamu saja yang paling bagus dan spesial dibutik ini." Jelas Aldi jujur.
Lalu aku berfikir sejenak, mungkin Aldi memang butuh baju yang sangat spesial di hari bahagianya. Akhirnya aku menunjukan salah satu buku yang berisi berbagai desain wedding dress.
"Sebenarnya ada satu wedding dress yang sangat spesial, cuma masih butuh waktu 2 bulan untuk menyelesaikannya, itu belum pernah aku tunjukkan kepada pelanggan manapun. Rencana ini dress mau saya ikutkan di acara fashion show tiga bulan lagi." Jelasku pada Aldi dengan panjang lebar.
Dan di akhiri setelah aku menunjukkan rancangan Aldi menyetujuinya, bahkan Aldi memberikan DP yang sangat fantastis. Awalnya aku menolak DP dari Aldi,tetapi setelah perdebatan yang cukup panjang dengan berat hati aku menerima DP tersebut. Sebenarnya hal itu sangat membantuku di masa-masa sulitku saat ini. Aku hanya berharap semoga badai ini segera berlalu.
Flashback on
"Sayang apa kau bahagia?" Arka yang bertanya kepadaku dengan tatapan cintanya.
"Tentu saja." Jawabku singkat.
"Aku berjanji padamu akan selalu membuatmu bahagia sayang. Kau tahu? kalau kamu adalah wanita satu-satunya di dunia ini yang berhasil merebut hatiku." Ucap Arka kembali.
"Gombal." Ledekku singkat.
"Apa kau meragukan cintaku sayang?"
"Eemm... Sedikit." Jawabku menggoda Arka.
"Benarkah?" Tiba-tiba Arka langsung meraih tengkukku dan menciumnya dengan lembut. Bibir Arka sangat manis, dan juga sangat memabukkan. Sekarang kami sedang berada di pinggir pantai, lebih tepatnya kami disalah satu resort VVIP yang di sewa Arka untuk bulan madu kita di Bali.
Arka adalah laki-laki yang sangat sempurna, wajahnya yang tampan dan d**a bidangnya yang kokoh membuatku selalu betah dipeluknya. Menghirup aroma tubuhnya benar-benar memabukkan sekali.
"Ke kamar yuk?" Ajak Arka kepadaku.
"Mau ngapain? Bahkan kita baru satu jam disini. Enggaklah aku masih betah disini." Kekehku menolak ajakan Arka.
"Aku mau bermain-main lagi denganmu sayang, nih juniorku sudah bangun lagi. Kau harus bertanggung jawab sayang." Jawab Arka dengan tatapan mesumnya.
"Dasar m***m!" Jawabku sambil berlari berusaha untuk menjauhi Arka. Karena biasanya Arka akan langsung memaksa dan menggendongkku. Bahkan tatapan Arka sudah terlihat sangat ganas sekali.
"Ayolah sayang. Kalau kau tidak mau ya sudah. Aku akan menggendongmu dengan paksa." Ancam Arka kepadaku dan benar saja Arka langsung mengejarku dengan cepat kilat bahkan usahaku sia-sia saja Arka yang berhasil menggendongku dengan tubuh kekarnya seperti karung beras. Dan berakhirlah dengan kegiatan pergumulan kami dikamar yang sangat nyaman.
Arka menjatuhkan tubuhnya disamping tubuhku. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang tanpa sehelai benangpun menempel ditubuhku. Arka kembali menarik pinggangku dan memelukku dengan posesive.
"Tidurlah sayang, nanti aku akan membangunkanmu 2 jam lagi, aku akan berenang sebentar setelah kau benar-benar terlelap tidur." ucap Arka yang aku jawab dengan anggukan. Karena aku memang sudah sangat lelah dan ngantuk karena perbuatan Arka.
Flashback off
Suara apa itu, serasa mataku di paksa untuk segera terbuka. Bahkan rasanya aku sangat berat sekali untuk membukanya.
Tiba-tiba mataku langsung terbelalak setelah melihat sosok Arka yang tiba-tiba sudah ada dikamarku, bahkan dia dengan sengaja membangunkanmu dengan bunyi jam beker yang sangat mengganggu gendang telingaku.
Dengan cepat aku bangkit, bahkan dia menatapku dengan tatapan kebencian yang sangat dalam.Tapi aku masih menemukan tatapan cintanya dimanik bola matanya yang indah.
Aku membalas menatap Arka dengan tatapan kerinduan. Iya aku benar-benar merindukannya. Aku benar-benar sudah terperangkap dalam cintanya yang terlalu dalam. Selama 5 tahun aku hidup bersama dengan Arka. Dan itu sangat indah juga sangat bahagia. Iya aku akui aku bahagia hidup dengan Arka sebelum ada badai ini.
Aku segera mengalihkan pandanganku setelah mengingat tentang masalah yang sedang terjadi diantara aku dan Arka.
Belum juga aku mengucapkan sepatah kata apapun Arka sudah menyodorkan sebuah kertas. Aku lihat itu sebuah cek.
"Kau tulis saja berapa jumlah nominalnya, aku akan membeli apartemenmu ini dengan semua isinya." Dengan wajah datarnya Arka mengatakan hal itu.
"Aku tidak mau, aku tidak akan menjual apartemenku ini. Sebaiknya kau pulang saja, dan jangan kau ganggu aku lagi." Jawabku sembari aku bangkit dari tempat tidur milikku.
"Apa kau tidak bisa menurut untuk hal ini Luna!" Jawab Arka dengan lantang padaku.
Aku berhenti sejenak setelah mendengar semburan Arka. Rasanya isi kepalaku akan meledak seperti di hantam bom atom.
"Apa! Kau bilang aku tidak menurut! Selama ini aku selalu menuruti kemauan kamu dan mamamu Arka. Dan aku sangat tersiksa, kalian seenaknya saja membuat hidupku sangat menderita. Dan kalian juga sangat jahat, menghinaku setiap saat. Apa salahku sebenarnya? Kalau memang sudah tidak suka dengan keberadaanku, tapi tolong jangan hina aku dengan kekuranganku. Kalian sangat jahat sekali padaku. Dan satu lagi yang harus kau tahu, sampai kapanpun aku tidak akan membeli apartemen hasil jerih payahku ini meski kau membelinya dengan harga yang sangat fantastis aku tetap tidak akan menjual!"
Tangisku kembali pecah dan Arka malah justru meninggalkanku begitu saja dengan meninggalkan selembar cek yang bertuliskan 20 miliar.
Tapi aku tidak akan goyah dengan pendirianku. Meski apartemen ini bukan apartemen yang mewah dan harganya tidak begitu mahal. Tapi ini adalah jerih payahku selama menjadi desainer. Dan ini aku beli sebelum aku menikah dengan Arka untuk investasi. Bahkan banyak sekali kenangan yang tersimpan disini bersama Arka.