Chapter 2

1154 Words
Si playboy Varo mulai beraksi. Hari ini, ia kembali mendatangi tempat Fani. Dengan berkedok membeli kopi untuk menemaninya bekerja hari ini. “Kayaknya kamu akan jadi costumer tetap, ya,” ucap Fani seraya terkekeh. “Bukan kayaknya lagi, Fan.Tapi kenyataannya gue akan menjadi pembeli tetap di sini,” sahut Varo. “Dia benar-benar pandai dalam berucap,” pikir Fani. Setelah kopinya selesai disiapkan, Varo pun pergi setelah ia membayar. Lelaki itu tidak lupa untuk menyunggingkan senyumannya untuk Fani. Saat Varo tiba di depan gedung kantornya, ia bertemu dengan Leanna. Gadis itu langsung merangkul pergelangan tangan Varo seraya menampakkan jejeran gigi rapinya pada kekasihnya itu. “Tumben pagi-pagi sudah ke sini,” ucap Varo yang kemudian berjalan memasuki kantor . “Hari ini aku cuti. Sampai minggu depan baru masuk kerja lagi,” jawab Leanna. “Kamu beli kopi di mana? Harumnya beda.” “Tuh, di sebrang,” jawab Varo apa adanya. Leanna mengernyitkan dahinya. Nama kafe dan resto yang ada di sebrang kantor sang kekasih membuatnya merasa tidak asing. “Siapa nama ownernya?” “Steffani,” jawab Varo. Saat itu juga, Leanna teringat siapa Steffani. “Kamu kenal dia?” tanya Varo. “Banget. Dia teman kuliah aku dulu,” jawab Leanna. Varo hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Bagi Varo, akan sedikit sulit memutuskan Leanna dan beralih ke Steffani yang ternyata keduanya memiliki status pertemanan. Akan ada hal yang dilakukan Varo untuk memutuskan Leanna. Tentu saja bukan dengan caranya memutuskan kekasihnya yang sudah-sudah. Yang di mana ia selalu memutuskan hubungan dengan alasan bosan. ... “Ed, bantuin gua dong,” pinta Varo saat ia dan teman-temannya duduk bersama di ruang kerja Varo. “Bantu apa?” tanya Edwin dengan santai. “Gua mau putus dengan Leanna,” jawab Varo. “Lo serius minta bantuan kami?” tanya Gara yang sudah tidak bisa menahan tawanya. “Tau lo!” Edwin menyambar. Kedua teman dekat Varo ini memang paham betul bagaimana Varo. Mereka merasa Varo sedang membuat lelocun sekarang. “Gua serius!” sargah Varo. Melihat raut wajah Varo yang nampak serius, Gara dan Edwin pun menghentikan gelak tawa mereka. “Alasannya apa? Biasanya elo selalu dengan gampangnya memutuskan hubungan dengan cewek.” Varo pun melempar sebuah kaleng soda ke arah Edwin yang baru saja berucap seperti itu. “Leanna adalah teman sekampus cewek yang baru aja menjadi target baru gua,” jawab Varo. “Nama cewek barunya siapa?” tanya Gara. “Steffani,” jawab Varo. “Kalian lihat Stanna kafe and resto yang ada di sebrang, itu miliknya.” Gara dan Edwin langsung berdiri di kedua sisi Varo yang sedang berdiri di balik jendela kaca ruangannya yang mana jendela kaca itu menghadap langsung dengan kafe dan restoran milik Steffani. “Pasti orangnya cantik,” gumam Edwin. “Jelas lah. Namanya aja cantik banget,” sahut Gara. Varo yang mendengar ucapan kedua temannya itu, tangannya terasa gatal hendak menarik telinga Edwin dan Gara yang masih berdiri di kedua sisi tubuhnya. Gara dan Edwin yang merasakan bahwa mereka akan segera mendapat jeweran maut dari Varo, mereka berdua segera menjauh dari Varo. “Lo mau gue godain Leanna nggak?” tawar Gara. “Si Gara nyari gara-gara, ya?” “Kalau bicara yang jelas sediki, Ed,” timpal Varo. “Benar kok gua ngomong tadi,” sahut Edwin. Varo, Edwin dan Gara bergumul cukup panjang untuk menemukan solusi atas kesusahan yang dialami oleh salah satu diantara mereka. Walau Edwin dan Gara tahu bahwa Varo adalah seorang playboy, tapi menurut mereka, selagi Varo masih dibatas wajar dalam berpacaran, mereka akan tetap mendukung apa yang dilakukan oleh Varo. “Mau ke sana nggak?” tawar Varo. Tawaran itu membuat Edwin dan Gara saling bertukar pandangan. “Lo seriusan? Ngajak kami? Hampiri Steffani?” tanya Gara dan Edwin bersamaan. Varo menganggukkan kepalanya dengan yakin. “Kalau kalian enggak mau, biar gua aja yang ke sana,” ucap Varo sebelum ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang kerjanya. Tidak ingin membuang waktu, Edwin dan Gara pun segera mengikuti langkah Varo. “Ekspektasi elo apa soal Steffani?” tanya Edwin yang berjalan di sebelah kanan Varo. “Dia akan mudah didapatkan. Seperti mantan-mantan gua yang sebelumnya,” jawab Varo. “Lo mau koleksi berapa mantan?” tanya Gara. “Sampai gua rasa kalau gua menemukan cewek yang tepat untuk gua jadikan istri,” sahut Varo. Edwin dan Gara pun bertepuk tangan secara bersamaan. Keduanya benar-benar merasa bangga dengan pola pikir si playboy ini. ... Sampailah ketiga sekawan itu di kafe dan resto milik Fani. Ketiganya langsung berjalan menuju lantai 3 atas rekomendasi dari Varo yang pernah ke sana. “Mana orangnya?” tanya Edwin yang penasaran. “Gua juga belum lihat,” sahut Varo. “Mau pesan apa, Mas?” tanya salah seorang karyawan yang ditugaskan Fani untuk stay di lantai 3. “Kopi pahit 3 gelas, Mbak,” sahut Gara. “Lo kira kalau gua ini makhluk astral?!” kesal Varo. Gara hanya tertawa. “Gua mau machiatto panas, kalian berdua apa?” “Samain aja,” jawab Edwin dan Gara secara bersamaan. “Kompak banget kalian berdua hari ini,” gumam Varo. “Machiatto panas, 3 gelas, Mbak,” ucap Varo. “Ada lagi, Mas?” “Itu saja,” jawab Varo. “Mbak, Fani mana, ya?” “Kak Fani sedang di ruang kerjanya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?” “Boleh nggak kalau panggil ke sini?” pinta Varo. “Bilang aja Varo yang cari.” “Ada kepentingan apa, ya? Soalny, Kak Fani kalau sudah di ruang kerjanyaa, itu tandanya dia banyak kerjaan.” “Apa, Bro?” Varo meminta pendapat dari kedua temannya. “Ganti, Mbak. Bilang ke Fani kalau band yang mau tampil malam ini sudah datang,” ucap Varo. “Kalian mau membohongi saya?” tanya Fani yang sudah berada di lantai 3. “Bidadari, Bro,” gumam Gara. “Ada kali 1 lagi buat gua,” gumam Edwin. Varo langsung menatap kedua temannya itu secara bergantian dengan mata yang melotot. “Balik kerja sana,” perintah Fani pada karyawannya. “Iya, Bu.” Setelah karyawannya itu pergi, Fani pun menarik sebuah kursi yang ada di samping Varo. “Ada apa?” “Teman-teman gua mau kenalan sama elo,” jawab Varo dengan santai. “Setelah kenalan, mau apa?” tanya Fani ;agi. “Temenan dong,” timpal Gara. “Yakin mau temenan dengan saya?” tanya Fani seraya menatap Gara. Raut wajah Fani saat ini nampak sangat dingin. “Jangan bikin gua deg-degan dong,” ucap Gara. Berbeda dengan Gara yang mengambil tindakan dengan ucapan, Edwin malah langsung mengulurkan tangannya ke hadapan Fani. “Nama gua Edwin.” Fani menjabat tangan Edwin dan ia pun juga memperkenalkan dirinya. “Duhhh, jiwa playboy Varo nampaknya sudah turun ke Edwin,” sungut Gara. “Saya banyak pekerjaan. Jika tidak ada perihal penting, maka saya permisi,” ucap Fani. “Perasaan tadi pagi enggak begini nada bicaranya,” gumam Varo. To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD