Hamidah berjalan menghampiri Ibrahim, putra semata wayangnya itu.
"Mmmhh, anak umi lagi kasmaran toh rupanya". Goda Hamidah menyadarkan Ibrahim yang tengah senyum senyum sendiri.
"Um- tidak umi, ini bukan apa-apa kok. Tidak seperti apa yang umi pikirkan". Elak Ibrahim.
"Yusuf, Yusuf, ini tuh umi, bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi. Lagipula kamu itu gak bisa bohongi umi!" Pungkas Hamidah mencubit kecil kedua pipi putranya.
Ibrahim tersenyum seraya memejamkan matanya menghindari netra sang ibu yang hendak mencari cari kejujuran dalam bola matanya.
"Wanita mana yang sudah meluluhkan hati putra umi?!"
"Seperti apa wanita itu?"
"Apa ia cantik??"
"Ah- tidak masalah, yang penting hati dan akhlaknya baik! Umi tidak akan menolak jika putra umi yang memilih. Siapapun dia, umi percaya pilihan mu sudah pasti yang terbaik". Pungkas Hamidah dengan banyak pertanyaan yang menggetarkan hati Ibrahim.
"Masya Allah umi, semangat banget sih nanyanya, sampai aku gak di kasih cela untuk bicara". Balas Ibrahim lembut seraya merangkul bahu Hamidah.
"Hahaha". Tawa malu Hamidah menepuk pelan d**a bidang putranya.
"Intinya umi, apa yang umi lihat tadi tidak ada sangkut-pautnya dengan yang umi pikirkan. Jadi sudah ya, jangan salah paham dan mengajukan pertanyaan aneh seperti itu!". Jelas Ibrahim.
"Masa sih?! Tapi kenapa wajahmu jadi pucat gitu? Kalau dilihat-lihat jelas sekali seperti orang yang takut ketahuan, haha". Ejek Hamidah kembali menggoda Ibrahim.
"Takut ketahuan apa umi, memangnya Yusuf mencuri, hm!?" Tukas Ibrahim.
"Takut ketahuan, kalau putra umi sedang kasmaran. Hahaha". Ujar Hamidah seraya berlalu meninggalkan kamar Ibrahim.
"Umi.." Ujar Ibrahim bernada teguran
"Apa benar yang dikatakan umi, kalau aku kasmaran".
"Enggak mungkin, umi pasti salah sangka. Haha". Ujar Ibrahim dengan tertawa yang dibuat-buat
Ibrahim meletakan tangannya di d**a mencoba memastikan detak jantungnya seraya memejamkan matanya sejenak.
"Ekhem,, ekhem".
"Nabila"
"Deg"
Ibrahim sontak membuka matanya terkejut dengan respon jantungnya yang berdegup kencang tatkala ia menyebutkan nama Nabila.
"Tidak benar!, ini pasti salah!"
"Pasti kebetulan saja berdegup kencang"
"Tidak mungkin kan!?. Masa iya aku...??"
"Enggak, enggak pasti bukan. Itu hanya kebetulan saja!"
"Iya, benar. Itu pasti kebetulan!".
"Sudah, jangan pernah mencobanya lagi ini yang pertama dan yang terakhir kali".
Pungkas Ibrahim berbicara sendiri dan menepis sinyal-sinyal cinta yang direspon oleh detak jantungnya. Nyatanya sosok Nabila memang telah hadir mengisi relung hati Ibrahim.
Keesokan harinya di Kampus..
Seperti biasa aura kharismatik Ibrahim menjadi pusat perhatian siswi-siswi Amar Maruf tak terkecuali siswi psikologi yang sudah siaga menantikan perjumpaan dengan dosen idaman mereka.
"Guys, guys ustadz Ibra datang!" Ucap semangat seorang siswi yang baru masuk ke ruang kelas.
Beberapa dari mereka mempersiapkan penampilan terbaiknya di depan Ibrahim. Ada yang memoles bibirnya dengan lipstik, ada yang menata rambutnya macam-macam tingkah para siswi hanya Nabila yang terlihat sibuk membaca.
Dimana Nisa kenapa dia belum sampai? Batin Nabila bergumam sembari celingukan mencari sosok sahabatnya. Diraihnya benda pipih di dalam tasnya. Dilihatnya sudah terdapat beberapa pesan masuk dari Nisa.
?..
Khairunnisa ??
Assalamu'alaikum, Nabila tolong izinkan aku ya hari ini aku gak ikut kelas.
Khairunnisa ??
Aku meriang Bila, tolong salami kepada kang mas ustadz ya kalau adinda Nisa sedang tidak enak badan.
Khairunnisa ??
Makasih Bila ku sayang ?
Yah Nisa gak masuk. Batinnya bergumam
"Hiks, mmh..". Nabila meringis kesakitan seraya tangannya menekan-nekan perutnya.
"Nabila Radya Zalka! Silahkan ke depan sampaikan presentasinya". Seru Ibrahim dengan mantap memanggil namanya.
Nabila dengan rasa nyeri di perutnya mecoba bangun dari duduknya dengan langkah kaki yang tertatih.
Ibrahim menangkap sorot mata Nabila yang cemas dengan wajahnya yang sudah pucat.
"Nabila, apa ada masalah?" Selidik Ibrahim
"Tidak ustadz!". Balas Nabila singkat menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu yakin?!" Tanya Ibrahim khawatir.
"Mmh!". Ujar Nabila mengangguk pelan.
"Baik, kalau gitu silahkan sampaikan materinya!". Perintah Ibrahim seraya menjauh kan diri dari sisi Nabila pindah ke sisi penonton.
Niko yang dari tadi sudah memperhatikan Nabila sebelum jam pelajaran di mulai, menatap siaga khawatir akan terjadi sesuatu pada diri Nabila.
#Flashback.
Niko menghampiri Nabila yang tengah meringis menata langkah kaki dengan di bantu berpegangan pada tembok-tembok kelas dengan satu tangannya. Sisi lain tangannya yang bebas terus meremas-remas pinggangnya yang ramping.
"Nabila!" Pekik Niko berlari ke arah Nabila yang sudah dekat dengannya.
Acuh Nabila mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
Itu Niko!!! Abaikan saja Nabila jangan di tanggapi!.
"Ada apa denganmu? Apa kamu sakit?!". Timpalnya lagi khawatir seraya menangkap bahu Nabila dengan sigap saat posisinya sudah sampai tepat di sebelah Nabila.
"Singkirkan tangan jahat mu dari bahu ku Niko!". Pungkas Nabila sinis seraya menggerakkan bahunya risih.
"Apa yang kamu katakan?? Aku hanya ingin membantumu. Kamu tenang aja ya, aku gak akan macam-macam, aku hanya ingin membawamu ke UKS".
"Lepas Niko!" Kesal Nabila menatap jengah Niko.
Keduanya menghentikan langkahnya
"Kamu paham 'batasan'?!. Jika mengerti menjauh-lah dan singkirkan tanganmu dari ku! Dengar Niko jangan coba-coba mendekat lagi padaku!".
Imbuh Nabila memperingati niko dan melanjutkan langkahnya.
"Bila sampai kapanpun aku akan tetap seperti ini! Sekeras apapun kamu menjauh, sekeras itu pula aku akan terus mendekatimu!".
"Sinting kamu Niko!". Pungkas Nabila sinis meninggalkan Niko dan masuk kedalam kelas.
"Ya aku memang sudah gila Bila, aku tergila-gila denganmu. Aku menginginkan mu apapun caranya aku akan tetap berusaha tuk menjadikanmu milikku!" Ujar Niko tak mengejar langkah Nabila, hanya memandang punggung Nabila yang menjauh dari hadapannya.
#Flashback off
Sepanjang presentasi Nabila terus saja meringis seraya meremas-remas pinggangnya.
"Interupsi!". Niko mengangkat tangannya seraya beranjak dari duduknya.
Suara Niko yang berat membuat seisi ruangan langsung menatapnya.
"Sudah cukup presentasinya! Saya sudah tidak tahan lihat Nabila yang terus menahan sakit. Lihat wajahnya pun sudah pucat". Perintah Niko menghampiri Ibrahim.
Ibrahim menatap wajah Nabila yang sudah pucat pasi, dan terheran kenapa Niko yang buka suara.
Apa hubungan laki-laki ini dengan Nabila? Mengapa ia begitu khawatir terhadapnya?? Bahkan ia berani meminta ku tanpa ragu!.
"Sudah cukup Nabila, ayo kita ke UKS. Aku akan mengantar mu!". Bujuk Niko menghampiri Nabila.
Kamu yang cukup Niko! Mengapa kamu tidak punya rasa malu menghentikan ku bak pahlawan kesiangan!!!. Batin Nabila membuang pandangannya sembarangan.
"Tidak perlu aku bisa sendiri". Bantah Nabila tak mengindahkan uluran tangan Niko.
Bruk!!
"NABILA!!!". Teriak Ibrahim dan Niko berbarengan yang kemudian di ikuti Evelyn dan Reyval.
Seketika Nabila tumbang dan terbujur kaku di atas lantai kelas.
Ya Allah rasanya aku ingin menangis saja. Aku malu!!! Kenapa aku bisa pingsan di saat seperti ini, terlebih lagi ini terjadi karena haid.
Haid di hari pertama memang sebuah bencana terbesar bagiku!.
Bersambung..❤️❤️❤️