#Kantin
"Si Niko tuh masih aja ya gangguin Nabila, aku ya kalau jadi Niko tuh malu, dan gak bakal deh deketin, apalagi maksa-maksa Nabila. Laki-laki kok gak ada harga dirinya!". Ujar Reyval kesal.
"Lah normal juga Lo capung!, kirain gue kelainan Lo. Haha". Ejek Evelyn seraya mentertawakan Reyval.
Mendengar ejekan Evelyn kepada Reyval membuat Nisa tertawa kecil seraya menutup mulutnya, Nabila yang sadar melihat sahabatnya tertawa langsung memberikan isyarat dengan bahunya seraya menyapa bahu sahabatnya untuk menghentikan tawanya.
"Hush!!". Tatap Nabila dingin kepada Nisa.
"Astaga Evelyn, buly aja terus". Kesal Reyval hanya dibalas juluran lidah Evelyn.
"Udah nyampe nih makannya, mending makan aja yuk nanti keburu dingin loh!". Pungkas Nabila menyudahi pertikaian Evelyn dan Reyval yang tiada habisnya.
"Bil! aneh gak sih, masa dipanggil ustadz ngajarnya psikologi dan analogi". Pungkas Nisa heran.
"Pak Imran juga di panggil ustadz kok". Bantah Nabila.
"Hehe iya juga sih". Balas Nisa cengengesan.
"Present Lo pending dong Bil?". Tanya Evelyn.
"Oh iya hari ini jadwal Bila presentasi ya?". Timpal Reyval.
"Mmh kasihan Bila ku, sudah datang kampus pagi-pagi buta malah gak jadi presentasi". Imbuh Nisa simpati dan menyandarkan kepalanya di bahu Nabila.
"Hah!!, serius Lo Bil datang pagi-pagi buat presentasi?". Tanggap Evelyn terkejut yang dibarengi tatapan Reyval tak kalah terkejutnya.
"Hehe, kirain gak ada dosen pengganti, jadi aku datang lebih awal berharap bisa lebih mantap lagi dengan materiku". Pungkas Nabila tersipu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Good job Nabila". Evelyn mengacungkan kedua jempolnya.
"Tapi kasihan Nabila, perjuangannya jadi sia sia deh karna dosen pengganti datang". Pungkas Reyval memelas.
"Hmptt". Singkat Nabila membuang nafas lesu.
***
"Dah, duluan ya!". Sapa Evelyn kepada dua sejoli yang sedang sibuk merapihkan buku catatan masing-masing.
"Dah Evelyn". Jawab Nisa yang dibarengi lambaian dan senyuman Nabila.
"Evelyn tunggu dong!!". Teriak Reyval
"Bodoh amat!". Cuek Evelyn meninggalkan kelas.
"Dah NASA. Vel tunggu..!!" Pungkas Reyval melambaikan tangan dan berlari mengejar Evelyn.
"Dah Reyval". Sapa Nabila dan Nisa berbarengan.
"Dah, hati-hati". Tambah Nisa.
"Nisa, kamu pulang duluan aja ya. Aku, masih ada keperluan nih".
"Ih mau kemana? Ikut dong!". Tanya Nisa penasaran.
"Ga usah! kamu duluan aja takutnya aku lama. Kamu mana suka nunggu". Pungkas Nabila masih sibuk mencari bahan presentasinya.
"Kamu mau setor presentasi ya Bil? Berarti setor ke ustadz Ibra dong??". Ucap Nisa berbinar.
"Ck, pikiranmu tuh ustadz Ibra terus". Nabila menghentikan aktifitasnya sebab celotehan un faedah Nisa seraya menatap sinis sahabatnya.
"Lah terus mau ada urusan apa dong??, sama siapa?". Buru Nisa dengan banyak pertanyaan.
"Kamu cocok deh jadi wartawan. Kenapa gak ambil jurusan komunikasi aja, hm?!" Kesal Nabila menatap tajam Nisa.
"Ye Bila, gitu aja sewot. Aku kan cuma tanya". Ucap Nisa memanyunkan bibirnya.
"Iya Nisa yang cantik, aku memang mau menanyakan status presentasi ku! tap-i, bukan berarti mau di setor ke ustadz Ibra. Jelas!". Jelas Nabila lembut menatap kembali sahabatnya seraya membekap kedua pipi Nisa dengan kedua tangannya.
"Jadi mau ketemu siapa dong?". Ucap Nisa masih penasaran.
"Hhufffttt, mau ketemu pak Imam!". Balas Nisa menghela nafas kasar dan kembali menatap materi presentasi miliknya.
"Pak Imam? Beliau kan baru aja masuk kelas Bil. Jadwal mengajarnya 2 jam loh! Kamu yakin mau nunggu??". Sentak Nisa terkejut.
"Ya!, aku tahu kok makanya aku suruh kamu pulang duluan". Datar Nabila masih membaca.
"Dua jam loh Bila!!!". Meyakinkan Nabila
"Hmm" Singkat Nabila sembari membolak-balik lembaran makalah presentasi.
"Yakin Bil mau nunggu selama itu??"
"Iyaa Nisa.." Jawab Nabila hampir hilang kesabaran.
"Baiklah, kalau gitu aku pulang ya, maaf gak bisa temani". Pungkas Nisa simpati.
"Mmh". Jawab Nabila singkat.
"Kalau ada apa-apa, dan kalau sudah sampai rumah kabari ya!".
"Iyaa"
"Jangan lupa loh!".
"Iya Nisa bawel".
"Selamat menunggu, dah Bila Assalamu'alaikum". Salam Nisa melambaikan tangan ke arah Nabila.
"Hm, dah wa'alaikumussalam. Hati-hati!".
Satu jam sudah Nabila menunggu Imam di depan kelas fakultas hukum Islam. Nampaknya Imam menyadari bahwa ada sosok wanita yang tak bergeming sedari tadi ia mengajar.
Dua jam berlalu...
"Baik semuanya saya akhiri pertemuan kita hari ini. Wabillahi Taufik wal hidayat, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarkatuh". Pungkas Imam mengakhiri.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarkatuh.." Seluruh siswa siswi serentak.
"Assalamu'alaikum!". Imam menyapa Nabila.
"Wa'alaikumussalam pak Imam". Jawab salam Nabila segera beranjak dari duduknya dan menyisipkan senyum canggung.
"Cari saya?".
"Betul pak".
"Dengan siapa?"
"Nabila pak, dari fakultas psikolog"
"Baik Nabila ada perlu apa?"
"Pak Imam boleh saya bertanya..??"
"Perihal?"
"Mengenai kelas pak Imran, maaf pak saya bertanya karena mungkin bapak tahu". Nabila memang tahu kalau Imam adalah wakil dekan, sementara Imran adalah ketuanya.
"Apa ada masalah dengan ustadz Ibrahim?" Tanya Imam serius.
"Oh, b-bukan pak, tidak ada masalah dengan ustadz Ibrahim. Hanya saja saya ingin menanyakan presentasi saya dengan pak Imran"
"Astaghfirullah saya lupa sampaikan kepada ustadz Ibrahim kalau hari ini ada jadwal presentasi. Tapi berhubung kamu membahas mari ikut saya ke ruang dosen".
"M-mmh b-baik pak". Pungkas Nabila bingung.
"Kenapa aku malah di ajak ke ruang dosen, apa jangan-jangan aku setor presentasi dengan pak Imam ya". Batin Nabila.
"Kemari Nabila". Pungkas Imam mengajak Nabila masuk ke ruangannya.
"Ini, jadwal ustadz Ibrahim, saya titip ke kamu tolong nanti kamu sampaikan kepadanya ya!". Tambahnya lagi seraya memberikan map bertuliskan name tag Ibrahim Yusuf El Ghazi. LC., M.Hum.
"Loh kok aku malah di titipkan jadwalnya ustadz Ibra!, aku kan bertanya untuk status presentasi ku, bukan menunggu untuk menerima barang titipan". Batin Nabila bergumam.
"Saya titipkan ke kamu, karena kamu ada hubungannya dengan ustadz Ibrahim"
"Hah?!". Ucap Nabila terkejut dengan mata yang sudah bulat sempurna.
"Hubungan? Hubungan siapa dengan siapa??" Batin Nabila dengan ekspresi wajah terkejut.
"Maksud saya hubungan antara presentasi kamu dengan ustadz Ibrahim loh. Matamu nakutin saya aja, hati-hati copot nanti". Celetuk Imam terkekeh menangkap mimik wajah Nabila yang terkejut mendengar kalimat ambigu.
"Eh-hehe". Kikuk Nabila menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Saya titipkan sebab saya sedang ada urusan. Ah sementara ustadz Ibrahim masih mengajar dan kebetulan kamu bertanya, jadi tolong sekalian sampaikan ini kepada beliau dan silahkan kamu bisa tanyakan langsung status presentasi kamu kepadanya ya".
"Baik pak". Ucap Nabila lemas.
"Baik gitu saja ya, terimakasih nak..?"
"Nabila pak".
"Aa.. Nabila. Apa ada yang mau di tanyakan lagi Nabila?"
"Tidak pak, kalau gitu saya permisi. Assalamu'alaikum". Ujar Nabila menyudahi percakapan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarkatuh"
"Hufttt, nunggu lagi deh". Batin Nabila bergumam, dilihatnya map bertuliskan name tag Ibrahim Yusuf El Ghazi lengkap dengan title sarjana Lc., M.Hum.
Ustadz Ibrahim lulusan Mesir?! Pantas mahir berbahasa Arab. Batin Nabila.
Sepanjang perjalanan Nabila berjalan merunduk sembari memandangi name tag Ibrahim yang terpampang di sampul depan map yang di genggam olehnya. Tak sengaja langkahnya menabrak seseorang yang tengah berdiri hendak menutup pintu kelas.
Bruk!
Nabila menabrak bahu yang membuat keningnya terasa sakit karena kekarnya bahu tersebut.
"Aak-, sakit. Perasaan aku jalan di tengah deh bukan di pinggiran, kok bisa nabrak tiang ya?!". Celetuknya mengusap kening belum menyadari sosok yang menabraknya.
"Maaf.."
"Loh tiang kok bisa ngomong". Batin Nabila.
Nabila langsung menghadapkan wajahnya pada asal suara tersebut. Ia berusaha mendongakkan kepalanya karena tingginya tak setara dengan postur Nabila, tatapannya hanya sampai di bahunya saja. Ketika netranya sampai pada sang empunya, matanya lagi-lagi terperangah mendapati wajah yang kini hanya satu inci dari pandangannya yang sudah menatapnya lekat.
"Rupanya kamu memang punya kebiasaan menabrak bahu ya?!". Ucapnya dengan suara lembut dan senyum tertancap di bibirnya.
"Ustadz.. Ibrahim Yusuf..."
Bersambung ❤️❤️