Setelah malam itu, Sheryl dan Salsa mencoba merenungi ucapan Kimmy, untuk mencoba memahami akan kehadiran mereka yang hanya status saja. Namun sayangnya, Sheryl dan Salsa tidak sedewasa Kimmy, mereka kerap kali bertengkar dengan Rian dan Getta, lebih tepatnya protes terhadap sikap mereka berdua yang selalu mengutamakan Gita.
Sedangkan untuk Kimmy, ia lebih memilih mengabaikan. Selama hubungannya dengan Hendrik baik-baik saja, walaupun Hendrik bersikap cuek dan terkesan dingin jika bersamanya.
Mereka jarang sekali berkencan secara pribadi dengan Anak Onta, karena setiap mereka memintanya selalu ada Gita dan Anak Onta nya yang lain. Menurut mereka Gita mudah sekali di intimidasi, Sheryl dapat melihat kecanggungan pada Gita jika Sheryl menatapnya dengan kesal.
Hal itu selalu dimanfaatkan Sheryl untuk mengintimidasi Gita, membuat Gita tidak nyaman. Gita berusaha untuk menghindar, selain merasa insecure, Gita juga bermaksud menjaga perasaan kekasih Anak Onta yang lainnya.
"Lu, menghindar dari kita, Kak?"
Rian bertanya ketika menjemput Gita. Setelah putus dari Andra mereka justru posesif terhadap Gita, seperti jika mau ke mana pun Gita, harus dengan salah satu Anak Onta, dan setiap berkumpul pun Gita harus dijemput, dan jadwal jemputan pun bergilir.
"Menghindar gimana?" tanya Gita dengan pura-pura bingung.
"Satu minggu loh, Lu nolak kita semua buat jemput lu," jawab Rian.
"Gue bukan nya menghindar Ta. Gue cuma lagi berusaha buat jaga perasaan cewek lu semua, gue nggak mau liat lu semua berantem mulu sama cewek lu!" jawaban dari Gita hanya disambut dengan kata -Oh- dari Rian.
"Lu tau kenapa Gue, Hendrik sama Getta sampe pacaran sama tuh tiga Cere. Kita gak mau lu menghindar kayak gini, jangan pernah ngerasa kalo mereka lebih berarti daripada lu buat kita semua."
Rian melajukan mobilnya untuk menuju tempat biasa. Malam ini Rian yang bertugas menjemput Gita. Hubungannya dengan Sheryl sudah berjalan selama lima bulan lamanya, tidak ada perkembangan malah semakin buruk, dan Gita selalu merasa itu karenanya.
"Gue pikir lu semua bisa terima mereka loh. Apasih kurangnya mereka?" tanya Gita heran pada Para Anak Onta nya yang tidak bisa menerima tiga Cere dengan tulus. Padahal mereka bisa dikatakan sempurna.
"Gak bisa di jelasin, Kak. Perasaan nyaman itu datang bukan karena kita liat fisik mereka yang sempurna. Perasaan itu hadir yang kita sendiri gak tau berasal dari mananya."
"Itu semua karna lu gak nyoba buat tulus nerima mereka," sanggah Gita.
"Gak usah dibahas, Kak. Pokoknya gue gak mau lu menghindar lagi," tegas Rian tidak mau dibantah.
"Gue gak menghindar loh, serius. Gue juga 'kan punya pacar sekarang."
Gita memang sudah mempunyai kekasih sekarang, dan jangan berpikir bahwa Para Onta nya tidak tahu, mereka tahu, bahkan Andra sudah mengetahui semua tentang pacar baru Gita yang bernama Niko.
Andra menugaskan orangnya untuk mencari informasi tentang pacar baru Gita. Laki-laki yang sepertinya minta di beri pelajaran khusus oleh Anak Onta karena sifat mesumnya. Ya Niko memang m***m, bahkan teramat. Gita belum mengetahuinya, karena baru satu bulan mereka berpacaran.
"Lu tau siapa pacar lu?" tanya Rian memastikan.
"Ya si Niko," jawab Gita polos.
"Kelakuannya?"
"Emang kenapa?"
Sekarang Gita sudah tidak heran jika mereka mengetahui apapun sebelum dirinya, bahkan untuk orang yang mereka tidka tahu sekalipun.
"Cowok lu itu m***m tingkat akut. Gue bukan nakutin, cuma mau ngasih tahu. Kalo gak percaya lu boleh tanya ke si Onta, yang nyuruh anak buahnya buat nyari tahu siapa si Niko dan kelakuannya."
Gita merubah posisi duduknya untuk menghadap ke arah Rian, agar ia bisa dengan jelas menyimak informasi yang akan diberikan oleh Rian.
"Lu pernah diapain aja sama dia?" tanya Rian, bukan bermaksud curiga,Rian hanya memastikan saja.
"Diapain gimana maksudnya?" Gita tidak mengerti dengan pertanyaan Rian.
"Ya lu pernah di pegang-pegang gak sama dia?"
"Gue ketemu aja cuma sekali 'kan Sama si Joe, jadi selama ini gue cuma telponan doang."
Satu bulan menjalin hubungan dengan Niko memang hanya melalui telepon, karena Gita yang selalu tidak mau jika di ajak berkencan.
"Bagus deh."
Rian bernapas lega mendengarnya. Sebenarnya ia bukan tidak tahu, Rian hanya memastikan Gita jujur apa tidaknya.
"Semua cewek yang pacaran sama dia itu, paling lama dua minggu udah harus tidur bareng sama dia. Dan itu dari jaman dia SMP sampe sekarang, dan lu termasuk hebat juga karena belum di apa-apain sama dia." Gita melongo mendengar penuturan Rian.
"Serius lu?" tanyanya tidak percaya. "Gue sih emang gak pernah ketemuan lagi ya sama dia, tapi selama ini juga dia gak pernah ngomongin hal-hal kayak gitu deh. Bahkan untuk sekedar kiss phone juga gak," sanggah Gita yang belum percaya dengan penjelasan dari Rian.
"Ya karna lu belum tau aja sifatnya kayak gimana, lagian lu juga 'kan belum ketemu lagi. Liat aja ntar pas ketemu lagi," balas Rian yang kini membelokkan mobilnya ke gerbang komplek perumahan Getta.
Malam ini mereka akan berkumpul di rumah Getta, karena tadi Kenn menelponnya untuk memutar haluan pergi ke rumah Getta.
"Gue aja males ketemuan."
"Lu kenapa coba nerima dia jadi pacar? Padahal ada kita loh disini yang mau pake banget jadi pacar lu," gerutu Rian yang tidak habis pikir dengan pikiran Gita.
"Bosen gue sama lu pada, mau nyoba sesuatu yang baru," jawab Gita enteng. Rian berdecak sebal mendengarnya. "E, tapi serius itu kelakuannya kayak gitu?"
"Lu tanya aja sih sama si Joe, dia 'kan temennya tuh."
Rian membelokkan setirnya ke gerbang rumah Getta. Malam ini Oncom tidak ikut karena harus menemani Kakaknya.
"Cere pada ikut gak nih?"
Sebenarnya Gita malas sekali harus bertemu dengan ketiga Cere itu, tapi jika mereka tidak ikut Gita takut mereka salah paham.
"Ikut," jawab Rian acuh.
"Kenapa lu malah jemput gue sih? Bukan jemput cewek lu aja," gerutunya yang kembali tidak habis pikir.
"Mereka punya kendaraan sendiri, buat apa gue jemput. Lagian ya, males banget tau gak sama sikap manjanya. Kalo gue jemput tar dia ngerengek sepanjang jalan buat jalan berdua."
Sifat Sheryl yang manja membuat Rian jengah sebenarnya, Rian tidak pernah menjemputnya di rumah, selalu Rian menunggunya di seberang jalan rumahnya. Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja Rian tidak mau ada drama dirinya di tahan di rumah oleh Sheryl dan tidak jadi berangkat. Hal yang membosankan bagi Rian.
Pernah untuk pertama kalinya Rian menjemput di rumahnya, kebetulan ada orang tuanya, dan Sheryl bersikap sangat manja seolah-olah Rian benar-benar mencintainya, Sheryl dan kedua orangtuanya menahannya agar tidak keluar rumah dan membatalkan janji dengan Gita juga Anak Onta. Membuat Rian kapok dan tidak pernah mau kembali menjemputnya di rumah, melainkan di seberang jalan saja, walaupun Sheryl protes di sepanjang jalannya. Namun bukan Rian namanya jika harus memperdulikan hal tersebut.
"Cewek, Ta. Wajar minta di prioritasin," balas Gita mencoba membuka pikiran Rian.
"Lu cewek, 'kan? Kenapa lu gak mau di prioritasin?" tanya Rian membalikkan omongan Gita.
"Ngapain juga lu prioritasin gue? Emang gue siapa lu?" tanya Gita polos.
"Iya, ya. Lu 'kan gak pernah jadi siapa-siapa gue." Rian tersenyum sinis untuk itu.
"Yoyoi bro!" balas Gita santai.
Gita tidak pernah mau menanggapi hal serius tentang perasaan Anak Onta padanya.
"Ampun gue mah sama lu, Kak. Apa sih kurangnya kita buat lu?"
Hal yang selalu mencokol dalam pikiran Rian adalah apa kurangnya para Anak Onta dimata Gita? Disaat banyak wanita yang mendekati mereka, Gita justru seolah ingin menjaga jarak dengan mereka.
"Lu semua terlalu sempurna buat gue yang kurang warna," jawab Gita dengan dramatis.
"Jawaban lu dramatis banget," cibir Rian sambil membuka pintu mobilnya.
"Itu mobil cewek lu 'kan ya?" tanya Gita yang melihat satu Toyota Yaris berwarna merah menyala di depan rumah Getta.
"Maybe," jawabnya acuh.
"Dih! Sama cewek sendiri kok begitu, Bang?" ledek Gita.
Rian tidak menjawabnya dan lebih memilih merangkul Gita untuk masuk ke dalam rumah Getta. Mengabaikan protesan dari Gita yang tidak mau dirangkulnya. Di dalam sana sudah berkumpul Anak Onta dan tiga Cere.
Sheryl melipat tangan di bawah dadanya, melihat Gita dengan pandangan mengintimidasi, membuat Gita jengah. Selama ini Gita bukannya takut, ia hanya tidak mau ribut, Gita tidak seperti Oncom yang lebih memilih mengibarkan bendera perang dibandingkan harus berdamai, menurutnya ketiga Cere itu jika dibiarkan akan ngelunjak. Maka dari itu Oncom sangat suka menyalakan api untuk membakar hati ketiga Cere.