Obat Ngantuk

1121 Words
Andra uring-uringan seharian di dalam kelasnya karena tidak membawa HP, biasanya dikala pelajaran yang membosankan seperti ini, Andra akan mengirim pesan pada Gita. Mengirimkan banyak pesan konyol berisi pertanyaan untuk menghilangkan kantuknya. Pelajaran fisika yang tidak pernah disukainya, penjelasan dari rumus yang sedang dijabarkan oleh sang guru dengan predikat killer tidak masuk ke dalam otaknya. Di antara mereka, hanya Hendrik yang paling semangat jika berhadapan dengan fisika. Calon dokter itu memang memerlukan rumus fisika untuk cita-citanya nanti. Andra memperlihatkan bukunya pada Rian yang duduk di belakangnya dengan tulisan, "Nyet! Bosen Nyet!!" Rian yang membaca tulisan Andra langsung menoyor kepala nya. Andra kembali menulis di bukunya, "PINJEM HENGPON!" Rian memberikan HP-nya, langsung disambut oleh Andra. Andra menundukkan kepalanya, jarinya dengan cepat mengetikkan pesan untuk Gita. Emak Onta: Lagi ngapain, Kak?" Setelah menekan tombol send, Andra kembali menegakkan kepalanya. Guru killer-nya masih menjelaskan dengan serius. Membuat kepala semakin pusing. Guru yang membosankan bagi mereka semua. Kecuali untuk murid-murid yang selalu mengejar prestasi seperti Hendrik. Usia Hendrik dua tahun lebih muda dari anak Onta lainnya. Usianya sama dengan Gita hanya berbeda bulan. Tetapi untuk masalah kepintaran, Hendrik menempati posisi nomor satu dan disusul oleh Kenn. Di Sekolah Hendrik harus selalu fokus, karena Hendrik harus selalu mempertahankan nilainya. Beasiswa yang didapatnya tergantung nilai dan sikap. Maka dari itu, apapun pelajarannya maka Hendrik tidak pernah main-main seperti yang lainnya. Andra semakin kesal ketika Gita tidak menjawabnya. Padahal Andra mengetahui dengan jelas bahwa saat ini Gita sedang bekerja. Karena jam yang menunjukkan pukul 14. 35 wib. Sekolah mereka memang bersistem full day school masuk jam delapan pagi dan pulang jam tiga sore, dan libur di hari Sabtu dan Minggu. "Permisi, Bu. Mau ke toilet." Andra menginterupsi penjelasan gurunya dengan mengangkat tangan. "Silahkan," jawabnya tanpa melihat. Walaupun anak dari pemilik sekolah, tidak membuat Andra berbuat semaunya. Pun para guru yang tidak membedakan dalam memperlakukan Andra. Karena itu atas permintaan Andra sendiri. Andra keluar dari kelas untuk menuju toilet, kantung kemihnya perlu dikosongkan, juga untuk mencuci wajahnya agar tidak terlalu mengantuk. Tidak lupa membawa handphone milik Rian. Setelah selesai dengan urusan alamnya, Andra langsung menelpon Gita. Tidak peduli Gita sedang sibuk atau tidak. Karena Gita pernah berkata, jika ia tidak mengangkat teleponnya di jam kerja, berarti Gita sedang sibuk. Dering keempat Gita mengangkat telepon dari Andra, yang disambut dengan suara berisik dari mesin dan musik. "Assalamualaikum, Ta." Andra dapat mendengar dengan jelas suara mesin yang sedang menjahit, juga suara lagu dangdut yang ia tidak tahu judulnya apa dan siapa penyanyinya. "Waalaikumsalam, Kak. Sibuk ya?" balas Andra dengan diiringi pertanyaan. "Gak terlalu, lagi ngerjain buat order bulan depan sih, kenapa?" jawabnya jujur. "Gak kenapa-kenapa, cuma lagi bosen aja. Ngantuk banget," jawab Andra dengan nada yang menurut Gita manja. "Sekolah yang bener, yang rajin. Biar bisa jadi orang yang berguna." Nasihat Gita yang entah untuk ke berapa kalinya. "Siap, Tante. Tante juga, kerja yang bener, yang rapi, yang semangat. Biar bisa jajanin brondongnya," balas Andra dengan terkekeh geli. "Siap, Nak. Pulang mau Tante beliin apa?" balas Gita. "Mau es klim Tante. Hahaha," jawab Andra dengan menirukan suara anak kecil. "Gila gak usah ngajak-ngajak gue, Ta." Balas Gita dengan suara yang berisik akibat mesinnya yang kembali beroperasi. Karena tadi Gita berhenti sebentar untuk memotong jahitannya. Mereka tertawa bersama walaupun dengan pelan. Bagi Andra, hanya dengan mendengar suara Gita, sudah menjadi pengobat rasa kantuknya. Andra selalu bersyukur dan berterima kasih pada Nung yang telah mengenalkannya. "Orang gila teriak gila," balas Andra membuat mereka kembali tertawa. "Ya udah, gue mau masuk lagi. Makasih ya udah jadi aspirin buat gue." Bagi Andra Gita merupakan aspirin yang mengobati segalanya. "Sama-sama, gue juga tadi sempet ngantuk, untung lu telpon." Sama dengan Andra, Gita juga sempat merasakan kantuk akibat tidak ada teman ngobrol. Karena biasanya Gita dan Oncom akan mengobrol dengan tangan yang terus bekerja. "Ya udah, masuk sana. Semangat." "Semangat juga, sore gue jemput, gak ada penolakan." Tanpa menunggu jawaban dari Gita, Andra memutuskan sambungan teleponnya. Karena jika tidak, maka Gita akan berusaha untuk menolaknya. Andra kembali mencuci mukanya, setelah itu keluar dan kembali menuju kelasnya. Berjalan santai untuk memperlambat waktu. Andra berharap guru killer-nya sudah selesai dengan penjelasan yang membosankan. "Harusnya satu jam kemudian baru masuk kelas lagi." Sindir sang guru yang bernama Elisabeth saat Andra masuk kedalam kelas. Pelajarannya sudah selesai, dan dia sedang membereskan bukunya untuk keluar dari kelas Andra. "Kerjakan tugas dari saya, kumpulkan di pertemuan selanjutnya." Setelah mengatakan itu sang guru pergi meninggalkan kelas. Membuat semua murid bernapas lega, dan segera membereskan peralatan sekolah mereka, bersiap untuk pulang. "Setdah tuh guru. Menang cantik doang, killer-nya kaga ketulungan," ujar Kenn yang sedari tadi menahan kantuknya. "Berasa gak napas gue kalo lagi pelajaran dia," ucap Rian. "Ada yang paham sama penjelasannya?" tanya Wildan. "Palingan si Onta satu itu yang paham," tunjuk Getta pada Hendrik yang masih menyalin catatannya. Hendrik tidak akan memperdulikan teman-temannya, jika sedang menyalin dan kembali mempelajari pelajaran yang baru saja selesai. "Onta lu mau balik kaga?" tanya Getta pada Hendrik. "Bentar lagi, aelah. Tanggung ini." Hendrik menulis dengan cepat karena teman-temannya sudah bersiap. "Alhamdulillah," ujarnya setelah selesai. Walaupun beragama Kristen, Hendrik selalu mengucapkan kata -Alhamdulillah- jika pekerjaannya telah selesai. Hal itu terjadi setelah ia memperhatikan Rian dan Andra saat mereka selesai mengerjakan sesuatu. "Yuk balik," ajaknya dengan menyampirkan tas di punggungnya. Mereka semua beranjak dari bangku masing-masing, berjalan beriringan yang terkadang saling senggol dengan sengaja. "Halo kakak-kakak," sapa tiga orang gadis yang merupakan adik kelas mereka. Membuat mereka saling menoleh satu sama lain. "Kenalin Kak aku, Sheryl." Gadis berambut lurus dengan bando berwarna pink itu mengulurkan tangannya pada Rian. "Permisi kami mau pulang." Wildan berkata dengan datar pada tiga gadis tersebut. "Kami cuma pengen kenalan, Kak." Salsa Gadis berambut panjang dengan Curly di ujungnya kembali berkata. "Tapi kami tidak berminat," ucap Getta, dan mereka meneruskan kembali langkah mereka menuju parkiran. Meninggalkan ketiga gadis yang menatap penuh minat pada mereka. "Menarik, gue suka yang kayak gini. Gimana pun caranya, gue harus dapetin salah satu dari mereka." Sheryl berkata pada kedua temannya. Mereka semua mengangguk "Gue juga penasaran, apalagi gue denger yang namanya Hendrik itu paling pinter dari semuanya, dia bisa sekolah disini juga karena beasiswa." Salsa Dewanti, gadis yang berambut panjang dengan ujung Curly. "Kita harus gencar deketin mereka. Gue denger most wanted disini juga gak bisa naklukin mereka." Kimmy menimpali, gadis berambut sebahu dengan jepit lucu di sebelah kiri rambutnya. Mereka bertekad untuk mendekati para anak Onta nya Gita. Mereka akan menggunakan berbagai cara agar bisa dekat dengan para Onta. Mereka akan mencari tahu dan mengikuti keseharian kakak kelas yang menjadi incaran semua gadis di sekolah. Mereka begitu penasaran, apalagi mereka mendengar kabar bahwa para kakak kelasnya itu tidak pernah dekat dengan wanita yang ada di sekolah, apalagi memiliki hubungan khusus. Hal itu menjadikan tantangan tersendiri bagi mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD