Penguntit

1485 Words
Sheryl merealisasikan rencananya untuk memberikan pelajaran pada Gita. Bermodalkan nekat dan juga uang pinjaman dari Salsa menggunakannya surat perjanjian yang ia tanda tangani di atas materai. Sheryl meminjam sebanyak 50 juta rupiah pada Salsa untuk memuluskan semua rencananya. "Nih, sekarang transfer duitnya." Sheryl menyerahkan kertas yang baru saja ditandatangani olehnya. "Oke. Udah gue transfer duitnya," balas Salsa dengan memperlihatkan handphonenya sebagai bukti bahwa transaksinya sudah selesai. "Gila lu, gak kebayang gue." Kimmy masih saja menggelengkan kepalanya. "Bawel dih, tinggal liatin aja juga. Rencana gue berhasil lu berdua juga bakalan seneng," balasnya dengan kesal karena pikiran kolot Kimmy. Sheryl hanya ingin bermain sedikit dengan Gita. Rasa tidak terima karena diputuskan oleh Rian, yang menurutnya Gita lah penyebabnya. Sehingga Sheryl nekat berbuat hal yang membahayakan keselamatan Gita. "Terserah lu. Putus cinta bikin lu gila," seru Kimmy. Acara refreshing mereka dihabiskan hanya di dalam kamar dengan semua susunan rencana Sheryl. Berkali-kali Salsa dan Kimmy memperingati Sheryl untuk tidak keterlaluan, tapi tetap saja tidak didengarkan olehnya. Gita menjadi sasaran pelampiasan rasa marah dan kesalnya pada keadaan yang terjadi di dalam hidupnya. Ayahnya yang lebih mendengar perkataan wanita yang disebut sebagai ibu tirinya, yang telah merampas semua kebahagiaannya selama ini. Rian yang memutuskannya hanya karena ia protes pada sikapnya yang lebih memprioritaskan Gita, yang sebenarnya dari awal pun ia sudah tahu bagaimana perasaan Rian Padanya dan Gita. Dan semua itu ia lampiaskan pada Gita yang tidak mengetahui apapun. Didikan yang salah dari sosok yang dianggapnya sebagai ibu kandung menjadikannya gadis itu angkuh dan egois, apapun yang diinginkannya harus selalu terpenuhi tanpa memikirkan keadaan dan perasaan orang lain. Setelah seharian berada di dalam kamar, mereka bertiga memutuskan untuk kembali ke Jakarta, Sheryl ingin segera memulai rencananya. *** Malam ini Andra ingin sekali rasanya jalan-jalan berdua dengan Gita. Setelah putus mereka memang sangat jarang jalan berdua dan lebih banyak bersama Anak Onta lainnya. Kegiatan kuliahnya yang cukup menyita waktu. Pun dengan Gita yang selalu bekerja lembur, sehingga waktu untuknya hanya sedikit. Mereka tetap berkumpul seminggu tiga kali di manapun tempatnya, karena sekarang mereka memilih tempat yang random untuk tempat berkumpulnya. Tadi siang Andra sudah menghubungi Gita untuk mengajaknya jalan-jalan, dan beruntungnya Andra karena Gita langsung setuju. Andra sedang bersiap untuk menjemput Gita, memakai celana chinos mocca yang di padukan dengan kaos polos warna hitam, jam tangan dan juga topi menjadi aksesorisnya, sepatu snikers dengan brand A menjadi alas kakinya, menyemprotkan sedikit parfum agar tubuhnya wangi. Andra sudah siap dengan tampilannya, berjalan menuju keluar dan menuruni anak tangga satu persatu dengan bersiul kecil. Hatinya bahagia karena ajakannya diterima oleh Gita. Andra mengambil kunci mobilnya, berjalan dengan riang keluar rumah menuju garasi. BMW serie 6 yang sama seperti milik Kenn kali ini akan menemani jalan-jalannya bersama Gita. Sebelum berangkat Andra mengirimkan pesan terlebih dahulu pada Gita, karena itu atas perintah Gita agar ia segera bersiap. Me: Gue berangkat sekarang ya Kak. Andra tidak menunggu balasan dari Gita, setelah menekan tombol kirim ia bergegas masuk ke dalam mobilnya untuk segera pergi menuju tempat Gita. Sepanjang perjalanan Andra bernyanyi mengikuti musik yang berputar melalui audio mobilnya. Lagu Love Of A Life Time milik grup band Firehouse sedang mengalun dengan santainya. Tiga puluh menit perjalanan yang dibutuhkan untuk sampai ketempat Gita, karena terjadi kecelakaan yang membuat jalanan menjadi macet. Andra memarkirkan mobilnya, kali ini di depan hotel, bukan di sampingnya. Karena ternyata hotel itu milik teman ayahnya, yang baru Andra ketahui beberapa bulan lalu, saat ia menjemput Gita di siang hari dan kebetulan mereka bertemu, membuat sebagian karyawan hotel akhirnya mengetahui siapa Andra. Pemilik hotel yang bernama Setiawan pun meminta Andra untuk memarkirkan mobil di hotelnya saja, dan memberitahukan pada semua karyawannya tentang hal tersebut. Andra berjalan menuju kontrakan Gita, karena tadi siang hujan, jadi jalannya sedikit becek. Andra sedikit berjinjit untuk memilih jalan agar sepatunya tidak kotor. Untung saja malam ini tidak ada para pemuda depan yang selalu memandangnya dengan tatapan menilai, jadi Andra sedikit merasa santai. Bukan takut, Andra hanya tidak suka jika ditatap seperti itu. "Assalamualaikum, Sehat Teh?" Andra menyalami tangan Yola yang duduk di balim etalase konternya. "Waalaikumsalam, Alhamdulillah. Mau pergi ya?" tanya Yola. "Iya, Teh. Si Kakaknya udah siap belom ya?" "Masih di atas, panggil aja." "Ke kamar Mang Unang aja deh." "Ya udah." Andra masuk ke dalam menuju kamar Unang, sempitnya tempat dan bangunan yang pendek membuatnya harus menunduk. "Assalamualaikum, Mang." Sama seperti pada Yola, pada Unang pun Andra bersalaman dengan cara mencium tangannya. Kali ini bukan hanya Unang, tetapi ada juga teman-teman dan ponakannya yang sedang berkumpul. Asap rokok mengepul di ruangan sempit yang tidak memiliki ruang udara itu, membuat Andra sedikit menyesal menunggu Gita di kamar Unang. "Waalaikumsalam. Mau ke mana, Ndra?" tanya Unang. "Mau maen aja, Mang." "Di luar aja deh nunggunya, gak bakalan kuat kalo gak biasa mah." Unang yang mengetahui bahwa Andra tidak merokok merasa kasian, jadi ia memutuskan untuk mengusir Andra. "Iya deh, Mang. Andra keluar ya," pamitnya tanpa pikir panjang. Andra sangat berterimakasih pada Unang yang mengerti padanya. "Nonong! Lu lagi ngapain? Jangan dandan tebel-tebel, tar dikira mau mangkal lu. Si Andra udah nungguin," teriak Unang yang di dengar oleh Andra. Andra terkekeh mendengarnya. "Woles Bos! lagi bikin alis," jawab Gita asal. Padahal ia hanya sedang mencari sweater nya, karena tadi Gita baru saja melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Gita tidak mau jika nanti ia pulang malam dan malas melaksanakan sholat karena ngantuk, maka dari itu ia lebih memilih melaksanakannya di awal sebelum pergi. Gita turun setelah mendapatkan sweater yang di carinya, sweater pemberian Andra sebagai hadiah valentine nya. Jika orang lain memberikan coklat yang di artikan manis di hari yang disebut hari kasih sayang itu, maka berbeda dengan Andra yang malah memberikannya sweater. Alasannya adalah, Sweater itu melindungi diri dari hawa dingin, dan itu lebih berarti daripada hanya sekedar rasa manis yang akan habis setelah dimakan. Gita juga memakai sepatu snikers berwarna navy pemberian dari Getta dari salah satu brand ternama. Hampir semua barang-barang Gita adalah pemberian dari para Anak Onta nya. Sedangkan uang hasil kerjanya di berikan pada orangtuanya. Rambutnya ia kuncir tinggi yang menyerupai ekor kuda. Berjalan keluar, dan melihat Andra sedang mengobrol dengan Kakak Iparnya. "Ayo, Ta!" ajaknya pada Andra. Andra menghentikan obrolannya, "Tumben lama?" "Mau pada ke mana?" tanya Dodo. Suami Yola. Dodo tipe orang tenang, santai, humoris dan pintar. Tipe orang yang sangat tepat untuk di ajak mencari solusi, karena Dodo selalu bisa menempatkan diri dalam situasi apapun. "Paling ke daerah PIK, A." Andra sebenarnya belum tahu mereka akan kemana. "Jangan pulang malem-malem," peringatan darinya. "Kalo pagi boleh?" canda Andra membuat mereka tertawa. "Boleh banget," balas Dodo. "Ya udah berangkat dulu, A." Setelah bersalaman dengan Dodo, Gita dan Andra berjalan bersisian. Andra mengaitkan jari nya pada jari Gita dan mengangkatnya ke atas. "Udah lama ya kita gak jalan berdua," katanya ketika sampai di belokan gang. "Iya, sekarang kita banyakan ngumpul soalnya." "Lu nya gak pernah mau sih," balas Andra. Selama ini Gita memang sangat jarang jalan berdua dengan para Anak Onta, Gita lebih memilih berkumpul bersama. "Gak enak aja, Ta. Kalo jalan cuma berdua. Gue berasa kayak playgirl tau gak, yang gonta-ganti cowok tiap malemnya." Gita terkekeh sendiri dengan ucapannya. "Pikiran lu kejauhan," balas Andra dengan mengacak pelan rambutnya. "Onta ih! Kebiasaan," kesal Gita. "Kalo di gerai cantik tau, dikuncir mulu, Gak bagus tau." Gita memang tidak menyukai rambutnya di gerai. Gita bahkan pernah berpikir untuk membotaki rambutnya agar tidak gerah. "Gerah, Ta. Pengen banget gue botakin ini," balas Gita cuek. "Gak usah macem-macem, Kak. Masa cantik-cantik botak," kata Andra. "Seriusan, Ta." "Jangan pokoknya." Mereka sampai di hotel tempat Andra memarkirkan mobilnya, Andra membukakan pintu untuk Gita, menutupnya kembali setelah memastikan Gita duduk dengan nyaman, lalu ia berjalan memutari mobil, masuk dan duduk dibalik kemudi. Setelah memasang sabuk pengaman Gita dan juga dirinya, Andra memencet salah satu tombol, seketika Kap atas mobil terbuka. Setelah itu barulah Andra menjalankan mobilnya menuju daerah PIK. Malam biasa seperti ini jalanan tidak terlalu ramai, juga di kawasan PIK juga tidak akan terlalu ramai, sehingga tidak terlalu lama dijalan. "Ini mobil si Kenn ya?" Tanya Gita ketika menyadari mobil yang dibawa Andra saat ini sama dengan mobil yang digunakan Kenn saat pergi ke Anyer hanya berdua dengannya. "Bukan, Kak. Gue, Kenn, Getta sama Wildan emang belinya bareng." Mereka memang membeli mobil dengan model dan brand yang sama. Sedangkan untuk Rian dan Hendrik tidak membelinya, karena orang tua mereka tidak sekaya orang tua ke empat Anak Onta lainnya. "Oh! Kirain gue ini mobil si Onta," balas Gita polos. "Kita mau ke mana?" "Lu maunya ke mana?" "Dih! Gaje banget sih." "Maen Gokart mau gak?" "Malem, lagian gue gak bisa-bisa." Gita pernah beberapa kali bermain Gokart dengan para Anak Onta nya, tapi Gita tidak pernah bisa. "Belajarnya yang serius." "Buat apaan?" "Buat hobi." "Gak mau, itu hobinya orang berduit." "Dasar." Andra membelokkan setir mobilnya memasuki kawasan PIK. Tanpa mereka sadari Sheryl mengikuti mereka dengan mobilnya dari mulai parkiran hotel, Sheryl juga telah memerintahkan orang bayarannya untuk menyusulnya. Malam Ini Sheryl ingin semua kekesalannya terbayarkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD