Mas Afzan berjalan mendekat dengan raut wajah yang terlihat mengerikan sesaat setelah mempermalukan aku dengan cara membentak diriku di hadapan wanita tak tahu malu ini. Lihatlah, sudah berapa kali dia meninggikan suara selama aku menjadi istrinya. Apakah tujuannya menikahiku hanya untuk dibentak setiap hari? Itukah tujuannya? "Maaf kalau kedatangan Mama sudah sangat mengganggu ketenangan kalian, Mama minta maaf." Dadaku bergemuruh semakin hebat saat melihat wanita munafik itu mulai menitikkan air mata ketika menggenapkan kalimatnya. Mau apa dia? Apakah dia juga tengah berupaya mengais simpati suamiku? Sama seperti yang dilakukan Gina kemarin? Begitukah? Dasar! Sampah tak tahu diri! Mas Afzan yang berdiri di sampingku, menggelengkan kepala sambil menahan napas. Seperti sedang menyi

