pagi ini aku sudah bersiap siap, ayam untuk pesanan semua sudah siap tinggal membakar saja,
"hallo dede gemoyy mama berangkat dulu yaa baik baik yaa main sama lilik puput dan mbah" godaku pada zifa bulan depan dia sudah mulai mpasi
"Assalamualaikum"
"waalaikumsalam ton, udah nganter zahranya ton?"
"udah dong mbaa, pesanan sudah tinggal bakar sama packing ya mba?"
"iya ton, eti sama agus juga sudah di belakang"
"bu,mba puput hana berangkat dulu yaa"
"iya mba hati2,dadah mama..."jawab mba puput seraya memegang tangan zahra untuk berdadah kepadaku
"hati hati han, han bukankah sebaiknya kamu berhenti bekerja ? pesanan juga sudah mulai banyak"ucap ibu
"iya bu nanti hana pikirkan, hana pamit ya bu assalamualaikum"
lalu aku mulai menjalankan motorku ke tempat oma,
***
"assalamualaikum oma"
"waalaikumsalam han, kamu datang? Sini duduk sama oma"
Lalu aku duduk di kursi samping oma
"han, bisnismu sudah sangat bagus, kenapa masih mau bekerja bersama oma?"tanya oma sambil membelai rambutku
"karena oma sangat baik, sebenernya hana ingin fokus untuk jualan dan anak anak tapi oma sangat baik pada hana, hana tak sampai hati untuk meminta keluar oma" jawabku
"tidak apa apa han, fokus dengan bisnismu saja ya, anak anak juga masih sangat membutuhkan perhatian darimu, tapi tolong sering sering main kesini ya han, kamu sudah oma anggap seperti cucu oma sendiri begitupun anak anak kamu oma juga sangat menyayanginya tentukan yang terbaik han, demi anak anak"
"baik oma,"
Setelah berbincang bincang sebentar aku mulai bekerja lagi, membereskan semuanya, aku memang sudah tidak terlalu lelah karena sudah ada bi iyem yang bekerja menginap di sini, beliau juga sangat baik sekali, katanya dulu beliau juga pernah bekerja di sini tapi berhenti karena sesuatu hal
"bi iyem, hari ini hari terakhir hana bekerja di sini yaa, bibi yang betah ya, oma dan pak widu orang yang sangat baik,"
"loh loh mba hana mau keluar to? Kenapa mbak?"
"mau fokus anak anak dan juga jualan sudah mulai ramai bi alhamdulillah"
"alhamdulillah mba hana, sering sering main kemari ya"
"iya bi"
Aku dan bi iyem berbincang bincang saat masak untuk makan malam, tidak terasa hari sudah sore
Setelah selesai masak aku berpamitan untuk pulang
"oma, pak widi, hana pulang dulu yaa,"
Oma langsung berhambur memeluku
"han, sering sering main kesini ya sama anak anak"
"oma jangan nangis, hana pasti sering main kesini" jawabku
"han,gaji bulan ini sudah saya transfer yaa, nanti untuk catering acara kantor saya juga akan pesan sama kamu saja" ucap pak widi
"iya baik pak terimakasih, hana pamit ya pak"
Lalu aku pulang, sedih rasanya berpisah dengan orang orang baik seperti mereka
Aku melajukan motorku, tidak lupa mampir ke supermarket untuk membeli keperluan rumah, zahra dan zifa yang sudah akan habis sepertinya
***
"assalamualaikum, ton ini mobil siapa? Ada tamu ya?" tanyaku pada tono, dia juga akan pulang sepertinya
"waalaikumsalam mba hana, itu mantan mertua mba hana, mas dimas dan istri barunya mba, sebaiknya mba langsung masuk aja" ucap tono
"baiklah, apa kamu akan pulang?"
"iyaa mba, semua udah selesai saya pamit pulang dulu ya mba"
"oke ton"
Aku berlalu ke dalam
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam" orang yang sedang di dalam menjawab dengan serempak
"wah belanjaanmu banyak sekali han," tanya mantan ibu mertua
"iya bu ini persediaan kebutuhan anak anak dan rumah. hana pamit ke belakang ya bu mau menaruh belanjaan dulu"
Setelah menaruh belanjaan aku keluar lagi untuk bertemu dengan mereka
"ada apa ya bu, pak?"
"begini han kita langsung ke intinya saja, biarkan kami membawa zahra pulang. di rumah sangat sepi sekali tanpa anak anak nanti jika tari sudah siap untuk hamil kami akan mengantar zahra kemari lagi," ucap bapak mertua
"maaf pak tidak bisa, aku tidak keberatan jika kalian menengoknya kemari, tapi untuk membawanya kesana hana tidak bisa" jawabku dengan ramah
"tapi han, zahra kan anak aku juga, kamu jangan egois lagipula apa kamu bisa menghidupi mereka berdua hanya dengan berjualan ayam?"ucap mas dimas dengan sedikit sewot
"maaf mas tidak bisa, lagipula kenapa tari tidak siap untuk mengandung? Bukankah dia sudah sah jadi istri kamu mas? Ibu juga ingin cucu laki laki kan?" ucapku beralih pada ibu mertua
"hana! Kamu jangan egois aku bukan tidak mau mengandung anak dari mas dimas, tapi karir aku tidak memperbolehkan untuk hamil dan memiliki anak" kini tari juga ikut membuka suara
"wah perusahaan macam apa yang punya peraturan seperti itu? Jika mertua dan suamimu menginginkan anak kenapa kau tidak keluar saja dari pekerjaanmu?"jawabku lagi
"sudahlah han, berikan zahra pada kami jangan memancing keributan" ucap ibu mertua
"bukankah kalian yang mencari keributan? Lagi pula kenapa kalian menginginkan zahra karena menantu kalian belum ingin hamil, dan akan mengembalikan zahra saat dia sudah mau hamil? Kenapa aku harus kehilangan anakku juga? Kenapa aku harus ikut mengurusi menantu kalian? Dia tidak ingin hamil bukankah itu masalah kalian kenapa kalian justru membawanya kemari?"ucapku dengan mata berkaca kaca
"hana!!! Jangan egois kamu dia juga anaku! Lagipula apa kamu mampu menghidupi nya dengan layak?" ucap mas dimas sinis
"layak? Bisa mas sangat bisa, kenapa kalian meminta anakku dengan cara seperti ini? Apa dia barang?"
"hana, lagipula bagaimana kamu bisa menghidupi mereka dengan hanya berjualan ayam"
Mereka terus mengatakan hal hal yang menyakitkan
"kamu bisa berbelanja sebanyak itu uang dari mana han? Sedangkan ibu kamu juga orang miskin janda pula, apa jangan jangan kamu jual diri ya?"sinis tari
Hatiku bergemuruh aku menghampiri tari yang sedang duduk di samping mas dimas ku lihat mereka juga tampak mesra sekali bergandengan tangan" plakk" kali ini aku tidak bisa diam, ku tampar pipi wanita itu dengan sangat keras
"hana!!! Apa apaan kamu" mas dimas berteriak dan menamparku juga
"dasar wanita kampung, wanita tidak tau diri wanita bar bar urakan sekali tingkahmu"
Aku hanya diam mematung di depan mereka yang menyuumpah serapahiku dengan kata k********r,
"pergiii, pergi kalian jangan ganggu mamaku!" teriakan zahra membuyarkan lamunanku, aku menoleh dan berlari kearahnya,
"maafin mama nak, maafin mama" aku menangis sejadi jadinya di pelukannya
"ayah sudah tidak boleh pukul mama lagi, pergi ayah. Zahra tidak masalah tidak punya ayah, teman zahra juga ada tidak punya ayah"
Mereka tidak menjawab apapun sampai akhirnya tari keluar rumah dan di ikuti oleh mas dimas dan mantan mertuaku,
Ibu yang sedari tadi hanya diam saja juga ikut menangis, memeluk kami
"maafkan hana bu, karena hana ibu juga jadi ikut di hina dan di rendahkan seperti ini"
Ku kira semuanya sudah berakhir saat mantan suamiku menikah lagi, tapi malah semakin menyakitkan karena setelah menghancurkan rumah tangga, mereka juga merusak mentalku dan anak anakku seperti ini
"ya Allah kuatkan hatiku, jangan biarkan mentalku rusak karna mereka, masa depan anak anakku masih sangat panjang, jangan biarkan aku jatuh ya Allah" doaku dalam hati