Aku masih terus mengamati mereka, dari gerak tubuh, Hendi sedang menjelaskan sesuatu, sedangkan Ratini sedang posisi seolah marah. Tak lama kemudian Hendi memegang tangan Ratini, aku kaget dan hanya dapat menutup mulut. Semenit kemudian Hendi merengkuh tubuh Ratini dalam pelukannya. "Bagaimana mungkin kakak sepupu semesra itu?" pikirku. Sejurus kemudian aku berinisiatif untuk mengambil ponsel dan merekam tindakan yang di luar nalar itu. Ketika kembali kebalkon, aku tak menemukan lagi kedua sosok itu, sepertinya mereka sudah kembali. "Ah! Aku terlambat, harusnya aku dapat bukti bahwa kedekatan mereka bukan kakak beradik tapi sepasang kekasih." *** "Umi, nanti malam kita hadiri pesta pernikahan rekan bisnis Abi. Kita berangkat pukul tujuh ya!" ucap Abi saat kami tengah sarapan. "Ba

