Kalila terbangun dari lamunannya di depan layar komputer saat mendengar suara ponselnya yang bergetar. Mengambilnya dan kembali berdecak kesal saat pesan surel dari ‘Paper Pedia Publishing’ untuk yang ke ratusan kalinya.
“Issh!” Kalila membalasnya dengan berat hati. Selama ini selalu memgabaikan pesan tersebut, namun kali ini ia sudah tak tahan lagi.
To : Paper pedia.
Mohon maaf. Banyak pertanyaan yang tidak bisa saya utarakan disini. Jika benar menginginkan kerja sama, izinkan saya bertemu dengan CEO-nya.
Kemudian ia mematikan ponsel. Membaliknya ke atas meja “Maunya apa sih penerbit ini?”
Gadis itu kesal karena penerbit tersebut tak hentinya mengirimi pesan surel untuk bekerja sama sejak setahun belakangan. Penerbit tersebut juga bukanlah penerbit kaleng-kaleng. Ia merupakan penerbit raksasa tempat penulis beken terlahir, termasuk penulis misterius favoritnya yang tak pernah menampakkan wajahnya, namun memiliki karya romantis nan fantastis, Lelaki Hujan.
Dalam perjalanan dari gedung Meja.Olahraga tempatnya bekerja, gadis mungil berhijab itu pulang menuju stasiun MRT, Kalila kembali membuka ponselnya untuk mengabari sang nenek bahwa ia dalam perjalanan. Namun setelah layar ponsel tersebut menyala, Gadis itu mengerjap heboh, tiba-tiba terhenti “Hah?!” Sontak semua orang di sekitar tangga stasiun mendadak mengerem langkah akibatnya.
Issh apaan sih?—Kurang lebih seperti itu bisik-bisik mereka dengan sikap konyol Kalila. Pun gadis itu segera meminta maaf dan buru-buru menepi saat tau ada 7 panggilan tak terjawab dari nomor asing dan satu pesan yang membuatnya semakin terbelalak.
From : +62xxxxxxx
Selamat sore, saya CEO dari Paper Pedia Publishing, Jordan Fadhil.
PooPoo Cafe. Mari bertemu seperti yang anda mau disana.
“Poo-Poo Cafe?” Kalila mengerutkan kening, lalu menekan kode sherlock yang diberikan CEO tersebut.
***
Kalila membenarkan totebag-nya, mengambil tempat di paling ujung, tepat di samping jendela maha besar “Woah?! Baru tau ada kafe sebagus ini disini? Apa aku yang nggak sadar aja?”
Seorang pelayan datang membawa buku menu. Gadis itupun memesan strawberry frappuchino dan puding taro sembari menunggu yang katanya CEO dari penerbit tersebut. Selama itu ia bermain ponsel. Membuka sebuah akun i********: yang memiliki futuristik serba hitam gelap nan misterius milik Lelaki Hujan. Sebagian besar postingannya hanya berupa siluet.
“Uhmm.. kalau dilihat dari sosmed, cocoknya dia nulis novel horor, bukannya novel dan puisi-puisi romantis.” Celoteh Kalila tertawa tak habis pikir dengan keunikan penulis favoritnya.
“Lihat! Aku bakal cari novel limited edition lo kemarin!” Gadis itu menunjuk-nunjuk layar ponselnya kesal tanpa tau ada seseorang berdiri dihadapannya sedang memperhatikan.
“Oh?!”
Suara itu membuat Kalila mendongak. Menemukan seorang pria rupawan yang kini sedang menatapnya. Gadis itu mengerutkan kening, kemudian mengedarkan pandangannya saat mulai merasa tak nyaman, lantaran ada banyak wanita yang memperhatikan mereka berdua, sebab pria itu memang terlalu tampan.
“Lo yang semalem, kan?” Tanyanya, masih berdiri disana. Pria itu menghembuskan napasnya kasar saat Kalila berusaha mengingat “Aissh! ATM! Lo yang balikin kartu ATM gue, kan?”
“O-oh iya..” Kata Kalila lega sembari mengais hipotesa. Memperhatikan cara pria itu berpakaian. Setelan jas dan kaos, sneaker, seperti apa yang dilihatnya semalam “Oh, mas yang semalem.. ah~ saya baru inget.”
Tanpa bahasa dan tetap dengan wajah hambarnya, ia menarik satu kursi di depan Kalila “Nunggu orang?” Tanyanya, namun matanya tak menatap lawan bicara.
“Iya” Kalila menjawab bersemangat “Nggak tau kenapa belakangan ini saya selalu dicari sama orang-orang. Berasa jadi orang penting gitu tuh” Celotehnya sembari tertawa kepedean dan mengibaskan tangan di sekitar muka.
“Ah~ maaf.. maaf!” Kalila menghentikan tingkah konyolnya saat menyadari tatapan super dingin darinya, meneguk minuman untuk menutupi gurat rona canggung yang hanya disambut dengan ekspresinya yang tak berarti.
“Mas-nya juga lagi nunggu orang?” Tanya Kalila yang hanya disambut anggukan kepalanya. Pria itu menengok kesana-kemari menanti seseorang yang ditunggu, “ey.. dingin banget” sambung Kalila mengedikkan kedua bahu.
“Kalila!”
Panggilan itu membuat Kalila melambaikan tangan pada sosok yang baru saja tiba. Lelaki manis nan mungil itu menghampirinya.
“Alshad! Katanya lo di BSD?” Tanya Kalila.
“Kaga. Gua sekarang kerja dimari, namanya juga serabutan,” celotehnya, kemudian tertegun melihat seorang lelaki di hadapan Kalila, “eh siapa tuh cakep bener?”
“Ey! Itu orang lain” Bisik Kalila, kemudian tersenyum gemas pada Pria dihadapannya agar tak timbul kesalahpahaman.
“Oh kirain yang baru.. hahaha. Duluan, ya.. ntar ngobrol lagi!” Alshad membuat tos tinju yang dibalas oleh si cantik nan imut, Kalila. Kebetulan Kalila dan Alshad penah satu perguruan bela diri saat SMA dan dua tahun ini menetap di sebuah kos persis disamping kediaman Kalila.
“Jadi.. Lo Kalila?!” Tanpa Kalila tau, sejak Alshad memanggil, pria yang dihadapannya tak henti melepas pengawasan.
“Iya. Saya Kalila.” Tegas gadis itu.
“Kalila Shafiya?”
“Iya, saya Kalila Shafiya. K-kok... tau saya?”
Pria dingin itu membelalakkan mata kecil nan indah. Alis tebalnya nyaris menyatu. Mengais banyak hal sampai akhirnya ia mengeluarkan sebuah kartu nama yang langsung di sambut dengan respon serupa oleh Kalila.
Jordan Fadhil – CEO of Paper pedia publishing.
Kini keduanya saling menatap penuh tanya. Mata membulat dan saling tak percaya. Bagaimana bisa orang yang mereka tunggu, nyatanya sudah berada dihadapannya sejak awal. Bahkan sejak kemarin. De Javu?
Ingatan Jordan berputar.
Kemarin malam, Jordan keluar dari mobil SUV mewahnya. Melangkah tegap dan berwibawa. Kedua tangannya bertengger di dua sisi saku celana. Memasuki ruangan ATM untuk proses transaksi. Saat sedang menunggu prosesnya, ia hanya refleks mengamati setiap sudut ruangan, hingga satu pandangan mengejutkannya.
Ia terkesiap tanpa suara saat menemukan seorang perempuan berbalut hoodie menempelkan wajahnya di kaca pembatas. Hidungnya terlihat penyok. Anehnya, Jordan terus memperhatikan tingkah konyolnya. Yang lebih mencengangkan lagi, gadis itu menghembuskan napasnya di dekat kaca, hingga menimbulkan uap dan telunjuknya membentuk sebuah simbol hati.
Pria itu meneguk salivanya kasar. Perasaan dan pikirannya sudah tak mengenakkan. Ia buru-buru keluar dari ruangan ATM setelah lembaran uang berwarna merah itu keluar dari mesin.
“Mas.. mas!”
Suara seorang gadis memanggil. Mungkinkah dia gadis gila tadi? Pikirannya beradu kacau. Ia takut bilamana hal yang tak diinginkan terjadi.
“Mas?”
Dia memanggil lagi. Harus banget nih?.. Pria itu menimbang dalam hati sampai pada akhirnya ia berbalik sambil berpikir postif.
“Ini kartunya ketinggalan,” Gadis berbalut hijab itu memberikan sebuah kartu yang tertinggal. Pakaiannya nampak basah kuyup diguyur hujan, “Ini kartu punya mas, kan?"
Setelah kembali sadar akan ingatan kemarin, Jordan tak ingin mempercayai semua itu. Bahkan berharap orang yang ingin ditemuinya sejak lama, bukanlah gadis aneh seperti Kalila. Pria itu meliriknya yang sedang asyik makan. Jordan menepis pandangannya dengan segera. Gadis itu bahkan tampak sangat ceroboh.
***
Setelah pertemuannya dengan Kalila dirasa cukup, ia lebih dahulu pamit. Tampak Kalila yang asyik berbincang dengan salah satu pelayan disana yang merupakan temannya. SedangkanJordan langsung masuk ke dalam mobil. Menelepon seseorang. Merasa ada yang janggal dengan Kalila.
“Halo, Ray?”
"Ya, Bang? Udah ketemu?"
"Uhmm.." ujar Jordan sambil memijat kening, "Lo maksa gue terus buat ketemu cewek itu. Akhirnya gue temuin langsung."
"Trus gimana? Kalila mau terima tawaran itu?"
"Sebelum gue lanjutin, bisa gue minta penjelasan?"
“Penjelasan?”
“Gue tau, gue bukan orang yang dengan mudah menggunakan bisnis gue tanpa arah yang jelas. Gue turutin apa yang lo minta hanya untuk membalas budi apa yang sudah bokap lo lakuin ke perusahaan warisan nyokap gue ini. Tapi sebenernya siapa Kalila? Kenapa lo minta gue sebegitu besarnya untuk mengontrak orang aneh itu untuk menjadi penulis tetap di penerbit gue, sedang dia tak punya nama?”
Dari seberang sana tampak tak langsung menjawab. Suasana menjadi sekonyong hening dalam beberapa waktu. Sampai akhirnya terjawab dengan pasrah.
“Mantan.”
“Mantan pacar?”
“Kalila mantan istri gue, Bang Jordan.”