“Oh, jadi dia suami kamu?” tanya Pandu dengan hati yang hancur. Arina mengangguk berat. “Iya. Dia memang suamiku, Pan.” “Itu artinya selama ini kamu membohongi aku?” Arina menggeleng. “Tidak. Aku tidak bermaksud membohongi kamu, Pan. Secara tiba-tiba aku dijodohkan oleh kedua orangtuaku. Bahkan aku tidak mengenal pria itu sebelumnya. Aku tidak bisa menolak karena aku dikurung sampai hari pernikahan itu tiba. Dan akhirnya, seperti ini. Aku jadi istri dia dan dia adalah suamiku.” “Itu artinya kamu menikah tanpa cinta dengan pria itu?” Arina mengangguk. “Iya. Aku dan dia menikah tanpa cinta.” “Berarti kamu masih mencintaiku?” Arina mengangguk kembali. “Iya. Tentu saja begitu.” Wajah Pandu langsung terlihat berseri ketika Arina mengatakan itu. Mungkin dia masih memiliki harapan. “Kal

