"Nih." Tari menyodorkan sebuah undangan yang berwarna biru langit. Undangan itu penuh estetika. Ada pita kecil di tengah-tengah undangan. Jadi kalau mau membuka undangan itu, harus menyingkirkan pita itu dulu. Mata Raihana melebar. Undangan itu begitu memikat hatinya. "Undangan dari siapa, Tar?" "Lihat dulu. Pasti setelahnya kamu bakal tau." "Oke." Penuh antusias, Moza mengambil amplop tersebut dan membukanya. "Eh, benar kamu yang bakalan menikah?" Tari mengangguk dengan sebilah senyum di bibirnya. "Iya, betul. Kamu datang ya. Awas lho kalau tidak datang?" Raihana melirik tanggal yang tercantum di sana. Seminggu dari sekarang. Itu artinya sebelum hari resepsi pernikahannya. Raihana memberikan jempolnya. "Sip! Aku bisa. Aku pasti datang kok." "Benar ya? Awas lho tidak datang?" "Insy

