Neina masuk ke dalam kamar setelah ia mengenyangkan perutnya yang keroncongan. Ia tidak melihat Mas Farraz di kamar dan kemungkinan pria itu masih di kamar mandi. Neina kemudian memilih untuk naik ke atas kasur lalu mengambil selimut dan menutupi setengah tubuhnya. Punggungnya ia sandarkan pada headboard kasur. Tangannya meraih remote televisi dan menghidupkannya agar suasana tidak terlalu canggung karena ini pertama kalinya bagi Neina berada dengan seorang pria di kamar berduaan. Ia benar-benar takut dan berharap malam ini mereka tidak melakukan apa pun karena saat ini pun kakinya benar-benar sakit. Pintu kamar mandi terbuka dan Neina terpaku pada sosok manusia yang begitu sempurna. Handuk yang melingkari pinggang pria itu membuat wajah Neina lagi-lagi merona. Dilihatnya Mas Farraz ki

