Duapuluh tiga : Suryabasa

899 Words
Rintik hujan turun dengan rinai yang beraturan. Membasahi bumi gersang dengan tanah busuk yang makin menelan suara tentang teriakan keadilan. Tempat berpihak semua jenis manusia berperasa dengan kisah mereka yang tak sama. Satu hari itu ada ribuan hal terjadi, ribuan perasaan yang diungkapkan juga sengaja dipendam diam-diam. Germisi telah usai, di luar sana hawanya cukup dingin sebab angin berembus sepoi menerpa kulit tubuh yang menggigilkan. Namun, dalam apartemen mewah lima belas lantai ini, sepasang insan masih panas bergumul di bawah selimut. Pendingin ruangan yang sengaja di setel dalam kamar luas yang didominasi warna putih terang itu, menyisakan cahaya kecil dari lampu tidur yang tak jauh dari ranjang. Kasur mahal berukuran besar itu menjadi saksi tempat dua insan saling menyatu dalam diam, dalam kelamnya malam. Menciptakan dosa sebab melakukannya tanpa ikatan yang menjadikan hubungan mereka suci. Remang lampu menambah suasana semakin panas, masing-masing dari meraka telah basah oleh keringat. Akan tetapi, suara pintu kamar yang dibuka secara paksa itu membuat keduanya terhenyak dari sana. Seorang pria tinggi berpawakan kurus berdiri di depan pintu mengabadikan perbuatan mereka menggunakan kamera ponsel. "Berengsek! Apa yang kau lakukan di sini?!" teriak lelaki bertubuh tambun menahan napasnya yang naik turun. Gejolak panas itu membakar seluruh darah yang mulai mendidih, apalagi setelah kegiatan panas yang belum mencapai puncak itu dihentikan secara paksa. Si wanita menggigil di bawah selimut tak berani menampakkan diri. Abas—pria tinggi—yang datang tak diundang masih memamerkan senyum iblis pada raut wajahnya yang selalu terlihat garang. "Lanjutkan saja! Atau, kau ingin aku yang menyelesaikannya?" tawar pria itu santai. Tak ada jawaban selain raut merah padam dari lelaki paruh baya itu, menandakan ia bisa saja meledak sewaktu-waktu. "Jangan kurang ajar kau, b******n. Kau itu hanya sampah. Siapa kau berani mengancamku? Huh!" Dengan kepalan tangan yang menggengam ponsel erat-erat. Pria itu mengeluarkan sekitar rokok dari saku celana dan menghisapnya sebatang. Mengepulkan asap beracun dalam ruangan dingin yang membuat sesuatu dalam dirinya, ingin dilepaskan. Sesuatu yang liar dan ... mematikan. "Sampah katamu?" kekeh Abas. "Ucapkan kalimat ajaib sebelum kau menyesali perbuatanmu, Tuan." Langkah kaki panjang itu menuju sudut ruangan kamar yang luas. Seolah-olah kamar itu adalah hunian miliknya yang setiap hari ia singgahi. Tepat di depan sebuah tongkat bisbol, ia berhenti, kemudian meraih tongkat tersebut dan memainkannya dengan wajah tengil sambil menghisap tembakau, pria itu tertawa. "Berhenti main-main, cepat keluar dari sini!" teriaknya. Namun, sama sekali tak digubris oleh Abas. Lelaki itu justru mengayunkan tongkat bisbol ke sembarang arah. Mengenai guci mahal hingga hancur, almari kaca, juga benda-benda yang berada dalam kamar tersebut hingga sepenuhnya porak poranda. Terakhir, setelah kamar itu hancur tak berhentuk, suara ribut itu berhenti termasuk teriakan si cantik yang menggigil ketakutan, juga u*****n dari pemilik kamar itu mendadak bungkam. Meninggalkan tawa Abas di sana menggema di ruangan itu. "Kau ... harus membayar perbuatanmu!" ~A k s a m a~ Menaikkan celana dan menarik retsleting itu hingga ke ujung. Ia menghela napas lega. Tertawa menyaksikan keindahan yang baru saja ia ciptakan. Pria itu meraih sekotak rokok dan membawanya ke balkon kamar. Sebelum sempat ia berbisik, "Berterima kasihlah, karena aku tak membunuhmu malam ini." Satu bungkus gulungan tembakau itu hampir habis dalam waktu semalam. Menyisakan dua batang yang masih menghuni kotak kecil dari kertas yang sarat akan aroma tembakau. Kepulan asap membumbung malam itu, dibiarkan pergi bersama angin yang berembus pelan membeli wajahnya yang tajam. Masih sisa setengah, rokok dalam apitan jari ia pelintir ke dalam asbak hingga padam. Lalu meneguk wine dalam botol hingga tandas. Menciptakan aliran sungai yang menganak pinak di sela-sela bibirnya yang gelap. Segelap jalan yang ia lewati sampai kini. Suryabasa. Sebuah nama yang mestinya memiliki banyak makna positif. Mencerminkan terangnya cahaya matahari yang bersinar hangat saat pagi menyapa. Namun, tak demikian dengan kisah hidup si pemilik nama. Jalannya selalu kelam, tak peduli sebanyak apa pun ia berusaha. Ia hanya akan disuguhi hal-hal menjijikkan, yang kemudian memaksanya melakukan sebuah usaha untuk melindungi diri sendiri. Salah satunya dengan menghabisi nyawa manusia hanya untuk mendapatkan kepuasan. Abas—begitu ia disapa—adalah seseorang lelaki yang amat mencintai rasa sakit. Saking cintanya, ia amat sangat bahagia menciptakan luka pada sesama. Ah, tidak. Abas punya sebutan lain untuk mereka. Makhluk tak berperasa. Iya. Begitu katanya. Hanya karena satu kesalahan kecil ia dibuang begitu saja tanpa mendapatkan imbalan yang semestinya. Maka jangan salahkan Abas, jika ia melakukan sendiri hal-hal yang akan membuatnya merasa lebih baik dan lega. Sebab, ia juga hanyalah seseorang yang sedang mencoba bertahan untuk hidup. Bukankah begitu? Karena itu pula sekarang ia bisa duduk di balkon apartemen mewah, sambil menggemggam botol wine mahal bahkan mencicipi rasanya. Pria itu menoleh ke belakang dengan sebuah senyum miring yang mengerikan. Mendapati ruangan yang berantakan serta seorang pria yang terkapar di lantai bersimbah darah. "Kau sudah membayar hutang kecilmu hari ini," desisnya. "Ah, benar. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu." Abas kembali mengepulkan asap dari bibirnya yang hitam. "Pramoedya! Lelaki sialan itu, sepertinya mempunyai nyawa kucing. Kau tau ...," ucap Bara menggantungkan kalimatnya. Lelaki yang terkapar bersimbah darah itu mengerang pelan, kesadarannya mulai berkurang, tetapi ucapan Abas masih terdengar sempurna di telinga. "Dia masih hidup!" Bersamaan dengan potongan silabus yang keluar dari bibirnya, kilat menyambar angkasa. Jantung yang hampir sekarat itu seperti dihentikan mendadak. Hujan menyusul turun diiringi gemuruh petir yang menyambar. Seperti ikut memeriahkan suasana tegang yang ada dalam kamar apartemen tersebut. "Haruskah, aku menghabisinya sebanyak dua kali ... Tuan Wayan Wijaya?" tawar Bara menajamkan sepasang mata elangnya. BERSAMBUNG!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD