Bekasi, 23 September 2020
“Sayang makan dulu nanti kamu sakit”
“WOY KOK LU NYERANG GUE?!”
“Terus yah masa sih dia ngestalk semua medsos gue”
Jinora memasuki kelas dengan muka kesalnya, baru saja ia tinggal sebentar kelas ini karena lagi lagi ia di panggil ruang BK gegara masalah si bodoh Raziel yang untuk sekian kalinya membolos lagi dan sekarang entah ada di mana. Dan sekarang? Kelas ini yang awalnya hening dan tenang berubah menjadi tempat yang bisa Jinora sebut sebagai kehancuran. Bahkan sangking berisiknya suara kelas ini terdengar sampai Ruang BK di lantai dasar.
Jinora menarik napas Panjang mencoba bersabar walau kepalanya terasa sangat pusing dan mau pecah. Lihat saja kelas ini, d**a yang sedang bermesraan di pojokan, teriak teriak karena sedang bermain game, ngegibah, bahkan ada yang konser dadakan di depan kelas. Satu kata buat kelas ini, Berantakan.
Ia berjalan kearah seorang pria yang sedang asik membaca buku pelajar lalu mengambil buku tersebut yang membuat lelaki itu langsung menatapnya dengan sinis. Seseorang itu adalah seseorang yang sebenarnya memiliki tanggung jawab paling besar dengan kelas ini. Siapa lagi kalau bukan Davin, pria dingin yang kini menjabat sebagai ketua kelas dan pacar sahabat Jinora, Eliza.
“Apa?” Tanya Davin dengan dingin dan tanpa ekspresi seperti biasanya.
Apa? Apa katanya? Sumpah Jinora semakin naik pitam melihat pria yang sedang menatapnya dengan datar itu. Sungguh bodoh sekali ia dulu pernah menyukai lelaki tidak punya hati ini. Ia heran sampai sekarang bagaimana bisa lelaki ini menjadi pacar sahabatnya yang memiliki sifat sangat lembut dan sangat bertolak belakang dari orang itu.
“Apa?! Apa kata lu, lu tau gak sih ini kelas berisik dan gak kondusif banget bahkan ada yang bolos dan entah di mana sekarang. Dan lu ketua kelas mereka malah asik dengan dunianya sendiri” Omel Jinora yang membuat seluruh orang di kelas langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap kedua orang itu bertengkar.
“Terus? Masalah? Gue males lu ajalah, biasanya juga lu yang ngurusin hal gak penting beginian” Kata Davin dengan santai lalu mengambil kembali bukunya dari tangan Jinora.
Jinora benar benar sudah naik pitam saat ini, wajahnya berubah datar namun sorot matanya yang tajam memperlihatkan dengan jelas kalau gadis itu sudah di batas kesabarannya. Ingin sekali rasanya ia menonjok wajah datar itu dengan tangannya. Namun sebelum hal itu terjadi, ketiga sahabatnya datang memperai mereka berdua.
“Udah Jin, udah. Lu kaya gak tau aja Davin kaya gimana. Kita juga pada main soalnya tugasnya udah selesai” Bujuk Arjuna memisahkan mereka sambil mengelus elus kepala Jinora, memang sepertinya hanya Arjuna lah yang bisa menjinakan amarah Jinora.
“Tapi jangan sampai berisik dan kedengeran ke lantai dasar dong,yang kena imbasnya nanti gue-gue juga. Mana nih ketua kelas gak becus banget" Kata Jinora sambil menyindir Davin yang sedang di nasehati juga dengan Eliza, namun terlihat jelas pria itu tidak peduli sama sekali.
"Iya iya, kita bakal lebih tenang lagi kok. Ayok semuanya balik ke tempat asal" Kata Arjuna yang menenangkan ku sambil meminta semua orang untuk kembali ke tempat asalnya.
"Ngapain? Tugas kami belajar dan udah selesai, kenapa lu repot?"
Jinora langsung memalingkan pandangnya ke sumber suara, kali ini bukan Davin yang berbicara namun seorang pria jangkung yang sebenarnya Jinora cari cari saat ini. Es the di tangannya memperlihatkan jelas kalau pria itu habis membolos dari kantin bersama anak anak kelas lain.
Suasana kelas kembali mencekam, menandakan ada seseorang yang akan menjadi korban pelampiasan amarah Jinora lagi. Semua orang yang tadinya ingin berpindah tempat langsung diam membeku di tempat. Semuanya terasa hening dan fokus menonton pertengkaran mereka.
"Lu kenapa sih ganggu hidup gue terus? Bosen hidup? Ini juga udah kelas sebelas masih aja bolos kaya orang gak punya kerjaan, balik sana ke kelas masing masing! " Omel Jinora yang sekarang sangat kesal kepada orang orang menyebalkan ini terutama pria jangkung bernama Raziel itu tentunya.
Orang orang yang di suruh Jinora pergi itu langsung patuh dan mengikuti keinginannya. Namun saat mereka mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat ini Raziel langsung menahan mereka dengan tangannya, dan tentu hal itu membuat Jinora semakin kesal.
"Ngapain ngatur? Lu gak punya hak apa apa buat merintah mereka, bahkan di kelas ini lu tuh cuman wakil ketua kelas bukan ketua kelas ini malah, jadi lu gak punya hak buat ngatur mereka yang bahkan bukan anak kelas sini” Ucap Raziel menatang dengan wajah songongnya. Sungguh Jinora sangat ingin menampar mulut pria itu ratusan kali sekarang, bahkan ribuan.
“Heh bodoh, gimana pun gue juga pengurus kelas dan di minta sama Pak Fernan buat jaga kelas ini tetap kondusif”
“"Oh jadi maksud lu, lu cuman babu sekolah yang di suruh ngatur ngatur kita gitu" Ucapan singkat Raziel kini benar benar membuat emosi Jinora tak terkendali.
Gadis itu langsung mengambil kemoceng di atas meja guru lalu mulai memukul mukul tangannya sambil tersenyum dengan senyuman menyeramkan untuk menakuti lawannya, Namun lawannya masih pada ekspresi datar menatap remeh Jinora. Seketika semua anak langsung fokus menonton pertengkaran mereka dengan seru, bahkan Davin sekarang mulai mengalihkan pandangannya dari buku rumus rumus fisika yang mengisi hari harinya minggu ini.
“Denger yah cowok b**o, gue itu di suruh Pak Fernan jagain kelas biar kondusif dan gak ganggu kelas lain. Sampai sini paham?" Sarkas Jinora dengan nada yang halus namun menusuk sambil mendekat ke Raziel. Arjuna dan sahabat sahabatnya menyerah menenangkan Jinora, gadis itu sudah hilang kendali. Dan sekarang yang hanya bisa mereka lakukan adalah berdoa untuk keselamatan Raziel.
"Oh gitu? Terus gue peduli? Gue takut? Kalau emang lu bertugas jagain kelas, kenapa lu malah pergi ke ruang BK? Beralih profesi menjadi penjilat?"
BRAKK.. Jinora memukul kemoceng yang di tangan ke meja kosong di samping Davin sampai membuat bulu bulu dari kemoceng itu berterbangan. Semua orang sangat terkejut dan kaget kecuali Davin yang asik menonton mereka sambil memakan sandwitch bekal makan siangnya dan Raziel yang malah tersenyum remeh lalu mendekatkan wajahnya kepada Jinora.
“Kemampuan bicara lu cuman segini? Gue kira lu sekeren apa sampai orang orang pada takut sama lu, ternyata cuman cewek cupu penjilat aja” Ledek Raziel dengan jarak yang sangat dekat dengan Jinora, terlihat jelas ia memang sengaja memanasi Jinora.
Tanpa aba aba Jinora langsung menjewer telinga lelaki itu sampai ia meringis kesakitan. Semua orang semakin seru menonton pertengkaran mereka dan bersyukur kalau mereka tidak mengalamai hal yang sama dengan Raziel.
"Heh singa betina, sakit-sakit. Kuping gue kaya mau copot hei!!" Ringis Raziel yang wajahnya sudah memerah seperti telinganya. Rasakan itu lagian siapa suruh mengajak ribut Jinora sejak kemarin.
Jinora pikir Raziel akan menyerah, dan meminta maaf kepadanya. Namun tidak, pria itu terlalu memiliki banyak akal. Ia berakting berpura pura meminta tolong pada Pak Ferdian di depan pintu. Saat Jinora menoleh, Raziel langsung kabur dari Jinora. Jinora yang tidak kenal akan menyerah langsung mengejarnya, hingga akhirnya mereka kejar kejaran memutari kelas bahkan sampai menaiki meja dan kursi. Sedangkan orang orang sekitar mereka ramai menyoraki mereka bahkan ada yang bertaruhan untuk siapa yang akan selamat dan tertangkap.
Saat mengejarnya Jinora berhasil beberapa kali memukuli Raziel dengan kemoceng saktinya hingga Raziel meringis kesakitan dan terus mencoba kabur. Namun karena Jinora terlalu fokus untuk memukulnya , tanpa sengaja kakinya tersandung tali sepatunya lalu terjatuh dari atas meja. Jinora meringis pelan dan mencoba bangkit kembali, namun sayangnya kakinya terlalu sakit untuk di gerakan.
Semua orang kaget dan panik, bahkan senyuman lebar Davin langsung menghilang. Semua orang langsung mendatanginya karena khawatir, terutama Arjuna yang terlihat sangat panik takut sahabat serta orang yang di sukainya itu mengalami hal buruk. Jinora mencoba berdiri berkali-kali namun gagal karena kakinya sangat sakit.
"Nora kamu gak papa? Kaki kamu bisa di gerakin?" Tanya Arjuna yang langsung berlari ke arah Jinora. Pria itu memeriksa kaki Jinora dengan cara megangnya, dan benar saja kaki Jinora mengalami cedera.
"Nor ke uks aja yuk, sini kami gendong bareng bareng" Ucap Irina yang khawatir yang diikuti anggukan dua sahabatnya yang lain. Jinora mengeleng menolak bantuan mereka, ia paling benci merepotkan orang lain.
Tiba tiba badan Jinora terasa melayang dan seketika membuatnya kaget, namun ekspresi orang orang tidak kalah kaget saat melihat siapa yang mengendong Jinora. Ya orang itu adalah Raziel, penyebab utama pertikaian ini terjadi. Jinora memberontak menolak, ia tidak pernah di gedong sama orang lain selain keluarga dan sahabatnya. Dan hal itupun terjadi waktu ia masih kecil atau saat ia di kerjai teman temannya dengan cara lemparnya ke kolam renang tahun lalu karena saat itu ia sedang berulang tahun.
"Gak usah sok kuat Singa Betina, kalo lu paksain yang ada makin parah. Lu Rangking tiga Angkatan sini tapi kok b**o banget sih? heran" Peringat Raziel kepada Jinora sembari mengendongnya keluar kelas. Jinora yang sudah Lelah memberontak akhirnya pasrah saja lagipula kakinya terlalu sakit sekarang, semua tenaganya hilang seketika.
Semua orang di sana memandang takjub punggung Raziel yang sedang membawa Jinora ke luar kelas, kecuali satu orang, Arjuna. Pria itu terlihat lumayan kesal saat gadis yang di sukainya di gendong oleh pria lain.