BAB 04: DISPEPSIA

1169 Words
Isla terbangun dari tidurnya, waktu masih menunjukkan pukul dua dini hari. Ia berjalan lemah seraya melingkarkan kedua tangan di perutnya. Sampai di kamar mandi, Isla memuntahkan cairan apapun yang mengisi perutnya. Ya, hanya cairan, karena sudah lebih dari 24 jam ia tak memasukkan makanan padat apapun ke dalam sana. Isla terduduk lemas di depan pintu kamar mandi, menyandar ke dinding. Ia sangat sadar, jika membiarkan dirinya di kamar ini seorang diri, mungkin esok pagi ia akan ditemukan tak bernyawa. Perutnya panas, sakit, dan mulutnya terasa pahit. Bahkan tubuhnya demam, pandangannya berputar dan kepalanya begitu nyeri. Dengan sisa tenaga yanga ada Isla berdiri, meraih dompet dan cardigan rajut panjang berwarna dusty pink yang tersangkut di balik pintu kamar. Ia melangkah pelan, berkali-kali menarik napas dalam, berteriak di dalam benaknya agar jangan pingsan sebelum tiba di rumah sakit. Ingin rasanya Isla meminta pertolongan, tetapi semua pintu kamar di kosan itu tertutup, dan sudah terlalu larut untuk mengganggu mereka yang terlelap pulas sementara esok hari kesibukan sudah menanti. ‘Coba lo lagi di sini, Ger,’ lirih Isla dalam benaknya. Isla membuka gembok kosan, perlahan membuka kunci selot agar deritnya tak membangunkan siapapun. “Neng Isla?” tegur seorang staf keamanan yang sedang mengitari lingkungan itu. “Eh, Mas Paijo.” “Mau kemana jam segini Neng? Saingan sama kunti?” Isla tak menjawab, hanya tersenyum samar, rasanya tak ada tenaga yang tersisa sama sekali. “Neng Isla sakit?” Anggukan lemah yang mewakili jawaban Isla. “Mau saya antar ke dokter?” “Mas bukannya lagi tugas?” “Ga apa-apa. Ada Bokir di pos. Ayo Neng, sekalian lewat pos bilang si Bokir.” “Beneran?” “Iya. Buruan Neng, udah pucat banget itu. Nanti kalau pingsan saya malah bingung bawanya.” Isla mengangguk, naik ke atas sepeda motor yang dikendarai Paijo. Jika dalam keadaan waras dan sehat, jarak dari kosan Isla ke rumah sakit terdekat tidaklah jauh. Hanya tiga kilometer, dan Isla biasa menempuhnya dengan berjalan kaki. Tetapi dalam keadaan seperti ini, ditambah dini hari, rasanya berjalan kaki hanya akan menimbulkan masalah pelik, sepelik kisah cintanya. “KIR!” pekik Paijo begitu mereka tiba di pos keamanan paling depan kompleks perumahan tempat kosan Isla berada. “Apaan?” Pria yang dipanggil Bokir itu gegas mendekat. “Gue nganter Neng Isla dulu ke rumah sakit! Lo jaga sendiri ga apa-apa kan?” “Oh, kenapa Neng?” tanya Bokir pada Isla yang sudah merebahkan kepalanya di punggung Paijo. “Jangan ditanya, kalau pingsan gue bawanya malah bingung. Gue nganter doang. Yang penting udah di rumah sakit. Kasian ini cewek, ga ada keluarganya di sini. Si banci lagi pulang kampung kata Neng Isla, cowoknya kan tadi kita liat sendiri malah bawa cewek baru.” “Oh, oke ma bro!” “Jangan molor lo!” “Siap!” Sekitar sepuluh menit kemudian motor Paijo sudah menepi di depan pintu IGD. “Neng Isla?” “Hmm.” “Gimana nih Neng? Kuat ga? Aduh kok ga ada satpam, pada kemana ya?” “Ga apa-apa. Bisa.” Isla memegang erat pundak Paijo, perlahan turun dari jok penumpang dengan lutut yang bergetar. “Hati-hati, Neng.” Sementara Paijo masih berusaha memposisikan motornya agar diam di tempat karena kendaraan itu tak lagi memiliki penyangga samping, Isla menyeret langkah masuk ke dalam rumah sakit. Kepala Isla serasa ditimpa batu besar, pandangannya berkunang, telinganya pun berdenging. Ia benar-benar tak tau kemana melangkah. Saat pintu otomatis terbuka, aroma desinfektan menyerbu indera penciuman Isla. Ia melanjutkan langkah. Sayangnya, tepat ketika akan melewati pintu kaca itu, Isla tersandung kakinya sendiri. Keseimbangannya hilang seketika, tubuhnya tertarik gravitasi, menjorok ke depan. Saat nyaris mencium lantai marmer, Isla merasa tubuhnya tertahan. Ia tak lagi sanggup mengangkat pandangannya untuk melihat siapa yang menolongnya. Yang Isla tau, wangi parfum yang menyatu dengan aroma maskulin menggantikan bau desinfektan. Wangi pria ini begitu menenangkan, seolah Isla sedang berada di tepi danau, di tengah hutan, di pagi hari saat embun masih menetes dari setiap pucuk daun. “Hey!” ujarnya. Isla tak lagi mampu menangkap utuh ucapan pria itu selanjutnya, telinganya masih saja berdenging. “Astaghfirullah!” ujar pria itu lagi. Isla tau apa sebabnya ia mengucap istighfar. Islalah penyebabnya. Ia memuntahkan lagi isi perutnya ke tubuh pria itu. “Maaf,” lirih Isla tanpa membuka kedua matanya. Dunia berputar terlalu cepat jika ia mengangkat kelopaknya. Tak ada tanggapan sama sekali. Yang Isla rasakan hanya tubuhnya melayang, lalu tersangga. Menit-menit selanjutnya tak ada lagi yang bisa Isla tangkap dengan utuh. Yang terdengar hanyalah suara-suara samar dan gerakan-gerakan yang mengabur. “Ranitidine intravena, dua ml,” hanya satu kalimat itu yang mampu didengarnya tanpa denging. *** “Selamat pagi Isla,” sapa Kane saat Isla membuka matanya pagi itu. “Hey Dok,” jawab Isla. Isla menurunkan pandangannya, menyadari jika ia tak lagi mengenakan piyamanya sendiri. “Lo muntah, baju lo diganti, tenang bukan gue kok pelakunya!” jelas Kane. Isla terkekeh pelan menanggapi candaan Kane. “Lo ada keluarga di sini, La?” Isla menggeleng lemah. “Cuma Gary,” jawabnya. “Udah gue telpon, katanya dia lagi mudik. Nyokapnya sakit.” “Iya.” “Ya udah, nanti pulang gue antar. Shift gue sejam lagi selesai.” Isla mengangguk pasrah. Toh iya tak punya alasan apapun untuk menolak tawaran Kane dan pulang sendiri dalam keadaan payah seperti itu. “Dok?” “Apa?” “Semalam gue muntah.” “Emang!” “Muntahin orang.” Entah mengapa Kane malah terkekeh mendengar pengakuan Isla. “Serius ih Dok. Malah ketawa.” “Iya, gue tau. Kan gue yang jaga di sini semalam.” “Emang gue muntahin lo?” tanya Isla, ragu. “Ngga. Bukan gue.” “Siapa dong yang gue muntahin?” “Emang lo ga lihat siapa yang lo muntahin, ngangkat lo, meriksa lo, sampai masang cannula di pembuluh darah lo?” Isla kembali menggeleng. “Tiap kali dispepsia gue kambuh, vertigo gue ikutan kambuh, Dok.” “Jadi lo tau kalau lo dispepsia?” “Tau.” “Terus kenapa ga ada jejak makanan sama sekali di muntahan lo? Cuma cairan lambung, La. Lo lagi demo mogok makan?” Lagi, Isla menggeleng. Tak mungkin kan ia menceritakan bahwa ia baru saja dicampakkan mantan tunangannya? Kane berdiri dari tempatnya duduk, menarik selimut tipis agar menutupi tubuh Isla hingga ke batas pinggang. Menatap iba pada pasiennya itu. “Yang pasti bukan lo, Dok,” lirih Isla lagi. “Apa?” “Orang yang gue muntahin.” “Katanya lo vertigo?” “Parfumnya beda.” Kane kembali terkekeh pelan. “I see,” responnya seraya mengangguk dan beranjak menjauh dari ranjang Isla. “Jadi siapa Dok? Gue muntahin siapa? Orangnya marah ga? Ya Allah, ga enak hati banget gue, Dok!” “La, infusnya habisin dulu. Kalau nanti masih mual, terpaksa disuntik lagi. Oke?” “Iya. Paham! Jawab dong Dokter Kane,” rajuk Isla dengan suaranya yang masih terdengar sangat lemah. “Ji Sung!” ujar Kane seraya menutup tirai bilik pemeriksaan tempat Isla terbaring lemah. ‘Kelar sudah hidup gue!’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD