Sebuah anak panah melesat di depan wajah Aikawa dan menancap di dinding kayu. Sepucuk surat diikatkan di anak panah tersebut, Aikawa melepasnya. “Aikawa, apabila engkau ijinkan aku untuk bertemu denganmu, aku akan menunggumu di tepi sungai.” “Ah siapa ini? Apa sebaiknya kubiarkan saja?” Aikawa memutuskan untuk menemui Riki tentang surat tersebut. “Wah, hal begini kau tanya padaku, kau punya penggemar rahasia, kenapa tidak kau cari tahu saja? Mungkin saja dia seorang wanita.” ucap Riki. “Seorang wanita mengirimkan surat dengan panah? Tidakkah itu aneh.” balas Aikawa. “Lho kenapa tidak? Tapi iya juga sih… bisa juga itu seorang pria.” balas Riki. “Tuan, anda jangan main-main.” “Aku tidak tahu, sudah kau pergi saja temui penggemar rahasiamu itu.” balas Riki. “Ya, baiklah kalau begitu.

